Tuesday, July 26, 2011

Mandi-mandi menjelang Ramadhan (Padusan, Megengan)


Di daerah lain, satu hari menjelang Ramadhan ada dikenal sebuah tradisi bernama Balimau, yaitu sebuah prosesi mandi bersama di sungai, campur-aduk antara laki-laki dan perempuan, konon dalam rangka mensucikan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ini di Jawa disebut megengan atau padusan (hari pemandian). Kabarnya di Klaten Jawa Tengah ada tempat berkumpulnya orang-orang lelaki dan perempuan, di sebuah umbul (mata air) Cokro Tulung. Tradisi itu juga tidak ada tuntunannya dalam Islam.



Jenis-jenis Mandi

Mandi atau membersihkan badan itu ada yang wajib yakni untuk menghilangi hadats besar, dan ada yang sunnah. Jenis-jenisnya sebagai berikut:

( أَمَّا أَنْوَاعُ الْغُسْلِ فَتِسْعَةٌ ) ثَلَاثَةٌ مِنْهَا فَرِيضَةٌ وَهِيَ الْغُسْلُ مِنْ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ , وَوَاحِدٌ وَاجِبٌ وَهُوَ غُسْلُ الْمَوْتَى كَذَا فِي مُحِيطِ السَّرَخْسِيِّ .

الْكَافِرُ إذَا أَجْنَبَ ثُمَّ أَسْلَمَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْغُسْلُ فِي ظَاهِرِ الرِّوَايَةِ , وَلَوْ انْقَطَعَ دَمُ الْكَافِرَةِ ثُمَّ أَسْلَمَتْ لَا غُسْلَ عَلَيْهَا .

الصَّبِيَّةُ إذَا بَلَغَتْ بِالْحَيْضِ فَعَلَيْهَا الْغُسْلُ بَعْدَ الِانْقِطَاعِ وَفِي الصَّبِيِّ إذَا بَلَغَ بِالِاحْتِلَامِ الْأَصَحُّ وُجُوبُ الْغُسْلِ . كَذَا فِي الزَّاهِدِيِّ وَالْأَحْوَطُ وُجُوبُ الْغُسْلِ فِي الْفُصُولِ كُلِّهَا . كَذَا فِي فَتَاوَى قَاضِي خَانْ .

وَأَرْبَعَةٌ سُنَّةٌ وَهِيَ غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَيَوْمِ الْعِيدَيْنِ وَيَوْمِ عَرَفَةَ وَعِنْدَ الْإِحْرَامِ , وَوَاحِدٌ مُسْتَحَبٌّ وَهُوَ غُسْلُ الْكَافِرِ إذَا أَسْلَمَ وَلَمْ يَكُنْ جُنُبًا . كَذَا فِي مُحِيطِ السَّرَخْسِيِّ .

Macam-macam mandi itu ada sembilan. Yang tiga fardhu yaitu mandi dari janabat (hadats besar, bersetubuh, atau keluar mani), haidh, dan nifas. Yang satu wajib yaitu mandinya mayit. Demikian dalam Kitab Muhith As-Sarakhsiyyi.

Orang kafir ketika sedang junub kemudian masuk Islam maka dia wajib mandi, menurut lahiriyah riwayat. Seandainya wanita kafir berhenti darah haidhnya atau nifasnya lalu masuk Islam maka tidak wajib mandi.

Gadis apabila baligh dengan haidh maka dia wajib mandi setelah terputusnya darah haidh. Jejaka apabila baligh dengan mimpi (keluar mani) maka yang lebih shahih adalah wajib mandi. Yang lebih hati-hati adalah semua rincian itu tadi wajib mandi. Demikian dalam fatwa Qadhi Khan.

Empat macam yang mandi sunnah, yaitu mandi hari Jum’at, hari raya, hari ‘arafah, dan ketika ihram. Dan satu yang mustahab (disukai) yaitu mandinya orang kafir ketika masuk Islam dan dia dalam keadaan tidak junub. Demikian dalam Kitab Muhith As-Sarakhsiyyi. (Al-Fatawa Al-Hindiyah, Lajnah Ulama, juz 1.)

Dari sembilan macam mandi itu ternyata tidak ada mandi untuk menyambut Ramadhan. apalagi dengan diadakan secara beramai-ramai, campur aduk laki-laki dan perempuan, maka sudah merupakan maksiat. Berbeda dengan kalau mandi biasa uantuk menyucikan badan, tidak pakai dikait-kaitkan dengan waktu ataupun tempat yang tidak ada ajarannya, maka kembali kepada hukum asal, yaitu Allah menyukai orang yang membersihkan diri.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ(222)

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs Al-Baqarah: 222).

Di daerah lain ada tradisi berbeda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, yaitu tradisi memukul bedug atau kentongan bertalu-talu selepas shalat Ashar, dalam rangka menandai mulai berakhirnya bulan Sya’ban sekaligus menyambut masuknya bulan Ramadhan. Apa hubungan itu semua dengan bulan Ramadhan? Tidak bisa dijelaskan secara logis apalagi syar’i.

Dikirim ulang oleh Anwar Baru Belajar dari tulisan Akhi Abu Muhammad Herman



Monday, July 25, 2011

Mengadakan Perayaan di Kuburan, Mereka Makan Bersama ( Islam dilarang Tasyabbuh )

Prosesi upacara di kuburan itu dilakukan terutama bagi umat Hindu yang masih mempunyai tetaneman atau mayat yang sudah dikuburkan, namun keluarganya belum bisa melakukan upacara ngaben.

 

PERAYAAN hari Pagerwesi di Buleleng, terutama di Kota Singaraja, memang berbeda dengan daerah lain di Bali. Jika di daerah lain, warga merayakan dengan santai, umat Hindu di Bumi Panji Sakti ini menjalani perayaan dengan sangat istimewa dan unik. Selain melakukan persembahyangan di pura dan merajan, umat di Kota Singaraja ternyata juga ramai-ramai mendatangi kuburan. 

Sejak sekitar pukul 05.00 wita, Rabu (14/11) kemarin, sejumlah kuburan atau setra milik desa adat di kawasan Kota Singaraja dan sekitarnya terlihat begitu ramai. Seperti yang tampak di setra Desa Adat Buleleng di Jalan Gajah Mada, setra Desa Adat Banyuasri di Jalan Sudirman, setra di Desa Adat Banyuning, Desa Adat Baktiseraga dan sekitarnya. Warga datang ke kuburan lengkap dengan anggota keluarganya. Selain menghaturkan banten bagi leluhurnya, di kuburan yang rata-rata memang lapang itu para keluarga mengadakan kegiatan makan bersama.
Selain membawa banten, warga juga membawa perbekalan makan. Mereka akan duduk-duduk di sekitar nisan tempat jasad orangtua, kakek, nenek atau kerabat mereka dikuburkan. Jika dilihat sepintas, kegiatan mereka persis seperti kegiatan orang rekreasi atau berlibur di sebuah kebun raya. Hanya bedanya, mereka berpakaian adat dan membawa bermacam-macam sesajen.
Kegiatan heboh seperti itu di Bali Selatan, seperti Gianyar, Tabanan, Badung dan sekitarnya, tentu saja akan susah ditemukan. Sebagian besar masyarakat di Buleleng tak bisa menjelaskan secara rinci, sejak kapan dan kenapa Pagerwesi di Bali Utara itu dirayakan lebih meriah dibandingkan kabupaten lain di Bali. Bahkan, diisi dengan kegiatan ritual di kuburan.
Gede Pastika dari Bale Agung mengatakan kegiatan ritual di setra itu sudah dilakoninya sejak ia masih kecil. Prosesi upacara di kuburan itu dilakukan terutama bagi umat yang masih mempunyai tetaneman atau mayat yang sudah dikuburkan, namun keluarganya belum bisa melakukan upacara ngaben. "Di kuburan, umat biasanya menghaturkan sodaan, punjung atau sesajen," katanya.
Menurut Klian Desa Pakraman Buleleng, kegiatan Pagerwesi di Buleleng terutama di Desa Adat Buleleng memang lebih istimewa dibanding di daerah lain. Yang paling istimewa, memang proses ritual di kuburan yang dilakukan umat secara turun-temurun. Selain menghaturkan sodaan dan punjung, di sesajen yang dihaturkan di setra itu juga dilengkapi dengan sarana upacara guru piduka yang dihaturkan di Pura Prajapati.
"Ini biasanya dilakukan bagi umat yang memiliki tetaneman lebih dari tujuh tahun dan belum bisa melaksanakan upacara ngaben. Tujuannya, agar arwah leluhur tidak berubah menjadi Buta Cuil. "Buta Cuil inilah yang bisa ngerubeda atau menyakiti keluarga," katanya. (ole)
Sumber:


PANDANGAN ISLAM

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:

لاَ تَجْعَلُواْ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا. وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِى عِيْدًا (رواه أبوداود


“Janganlah engkau jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (sepi dari ibadah) dan jangan engkau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan (HR. Abu Dawud).

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا


Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

---------------
Sahabatmu;
Anwar Baru Belajar





Monday, July 18, 2011

Dilarang Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban Di Dalam Kitab Durratun Nasihin, Karena Itu Perbuatan Bid'ah.




Kitab Durrratun Nasihin adalah termasuk salah satu kitab yang menjadi pegangan utama para saudara kita muballigin dari Nahdlatul Ulama (NU). Bagi anda yang mungkin memiliki kitab tersebut .....Silahkan dilihat dan dibaca Kitab Durratun Nasihin pada Pengajian Ke-Lima Pulah Enam. KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN YANG DIAGUNGKAN. Juz 3 halaman. 69 - 83. Bagi yang memiliki kitab aslinya yg berbahasa Arab terbitan Beirut, Libanon silahkan dilihat pada halaman. 204 atau 198.

Menghidupkan yang dimaksud adalah mengkhususkan ibadah tertentu hanya tepat pada pertengahan bulan tersebut (biasanya puasa khusus nisfu sya'ban pada siang harinya dan setelah sholat magrib dilanjutkan membaca surat Yasin sebanyak 3 kali secara berjama'ah dll)

Berikut di bawah ini saya kutibkan mulai dari alinea ke 7 pada halaman terakhir dari  pembahasan dalam kitab tersebut;

Maka seyogyanya bagi orang yang lemah agar supaya menghindari perbuatan yang mungkar itu (Nisfu Sya'banan) dengan tidak mengunjungi jama'ah dimalam pertengahan bulan Sya'ban, bahkan mencukupkan shalat di rumah saja kalau tidak dia dapatkan masjid yang terhindar dari perbuatan bid'ah tersebut. Dan memperbanyak jumlah besar golongan bid'ah itu dilarang, sedang meninggalkan yang dilarang itu wajib; dan mengerjakan yang wajib itu sudah jelas suatau keharusan, terutama bagi orang yang sudah masyhur berilmu dan berlaku zuhud. Maka wajib bagi dirinya untuk tidak mengunjungi masjid yang sudah terbukti terdapat sesuatu yang mungkar. Karena mengunjunginya tanpa pengingkaran menimbulkan persangkaan bagi orang awam bahwa perbuatan tersebut adalah dibolehkan atau malah dianggap sunnah mendatanginya. Maka kunjungan tersebut menjadi perbuatan syubhat yang besar (dosanya) yang menurut perkiraan orang awam bahwa perbuatan tersebut dianggap baik menurut syara' (agama).

Apabila dia meninggalkan kebiasaannya dan tidak mau datang ke masjid pada malam itu serta dia ingkar dalam hatinya karena dia tidak mampu merobah dengan tangan / kekuasannya dan lisannya, maka dia selamat dari dosa dan orang lainpun tidak akan mengikutinya, bahkan sementara orang berperasaan / menganggap bahwa tidak hadirnya dia itu menunjukkan bahwa perbuatan itu tidak diridhai' oleh Allah Ta'ala dan itu adalah perbuatan bid'ah yang tidak dibimbing oleh syara' dan tidak disukai pula oleh orang yang beragama.

Bahkan mungkin sementara orang yang melarang hal itu, maka ia mendapat pahala dengan sebab dia telah melakukan perbuatan semampunya untuk menghindarkan yang mungkar dengan hatinya dan tidak mau mengunjunginya.

Pokoknya, bahwa sesungguhnya malam itu (malam Nisfu Sya'ban) meskipun telah ada beberapa hadits yang berbilang akan tetapi tidak seharusnya seseorang mengagung-agungkannya sebab ia dicela oleh Allah serta Diapun melarangnya.

Dan sementara ulama berkata : "Tidak ada ketetapan untuk mengerjakannya sedikitpun baik dari Nabi 'alaihi shalatu wassalam atau para sahabatnya".

Maka seharusnya bagi seorang muslim di zaman sekarang ini berhati-hati dari tipu daya dan dari kecondongan kepada perbuatan bid'ah atau hal yang baru (tidak berdasarkan dari Allah dan RasulNya) meskipun hanya sedikit, bahkan seharusnya dia menjaga agamanya dari segala macam bid'ah yang dia senangi atau yang dia bisa tumbuh di dalam bid'ah itu.

Karena sesungguhnya perbuatan bid'ah atu adalah ibarat racun yang membunuh, yang sedikit sekali orang bisa selamat dari bencananya; padahal telah jelas baginya perkara yang hak. Dan memang perbuatan bid'ah itu dirasakan manis dihati pelakunya serta dibaikkan oleh tabiatnya shingga mereka tidak mau meninggalkannya. (Ini dari Majelis Ar Ruumy)

Sahabatmu
Anwar Baru Belajar






Sunday, July 10, 2011

Perkataan Para Ulama Salaf Tentang Tercelanya Bid'ah


1. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:
اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah. (Riwayat Ad-Darimi)


dan beliau juga berkata:
اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimi no. 211 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qoyyim)
2. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)
3. Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:
فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ
Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)
4. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada Utsman bin Hadhir:
عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ
“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi no. 141)
5.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.
6. Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam kitab beliau Ushulus Sunnah:
أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.
7. Sahl bin ‘Abdillah At-Tasturi rahimahullah berkata:
مَا أَحْدَثَ أًحَدٌ فِي الْعِلْمِ شَيْئًا إِلاَّ سُئِلَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَإِنْ وَافَقَ السُّنَّةَ سَلِمَ وَإِلاَّ فَلاَ
Tidaklah seseorang memunculkan suatu ilmu (yang baru) sedikitpun kecuali dia akan ditanya tentangnya pada hari Kiamat ; bila ilmunya sesuai dengan sunnah maka dia akan selamat dan bila tidak maka tidak”. (Lihat Fathul Bari: 13/290)
8. Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:
أَمَّا بَعْدُ, أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِقْتِصَادْ فِي أَمْرِهِ, وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ, وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ
Amma ba’du, saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan bersikap sederhana dalam setiap perkaraNya, ikutilah sunnah NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tinggalkanlah apa-apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang mengada-adakan setelah tetapnya sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. (Riwayat Abu Daud)
9. Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah berkata:
مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ, وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ
Barang siapa yang menguasakan sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan hikmah, dan barang siapa yang menguasakan hawa nafsu atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan bid’ah”. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 10/244)




Saturday, July 9, 2011

Tradisi Menaburkan Beras Kuning. Persamaan Antara Tradisi Hindu dan Yahudi

Tradisi menghamburkan beras kuning pada beberapa acara adat


Tepung tawar: terdiri dari beras berwarna putih, beras berwarna kuning kunyit, dan daun dapdap yang dicincang halus. Beras berwarna putih dan kuning kunyit adalah lambang dari keseimbangan hidup manusia, terutama perwujudan rwa bhineda, misalnya: siang-malam, baik-buruk, lelaki-perempuan, dst.http://stitidharma.org/lis/



Di bawah ini adalah potongan dialog antara seorang penganut agama Hindu dan seorang Yahudi.
Orang Hindu berkata;
We also have corresponding festivals. In the Jewish tradition, you have Yom Kippur, and we have Navaratri; we fast and pray and do special prayers at the time. The festivals of Purim and Holi, coming in the springtime, signify triumph of good over evil are in both traditions. When we do a blessing, we use rice as the symbol of fertility. Both, Hindus and Jews, do penance and fasting. In the past, it is said that Jews used to rub ash on the body to purify themselves. We have two important rivers: Jordan and Ganga
Kami juga memiliki festival yang berkesesuaian. Dalam tradisi Yahudi, Anda memiliki Yom Kippur, dan kami Navaratri, kita berpuasa dan berdoa dan melakukan doa khusus pada saat itu. Festival Purim dan Holi, datang di musim semi, menandakan kemenangan kejahatan atas baik di kedua tradisi. Ketika kita lakukan berkat, kita menggunakan beras sebagai simbol kesuburan. Kedua, Hindu dan Yahudi, melakukan silih dan puasa. Di masa lalu, dikatakan bahwa orang Yahudi menggunakan abu untuk digosokan pada tubuh untuk menyucikan diri. Kami memiliki dua sungai penting: Yordania dan Gangga.
Orang Yahudi berkata;
It is also our custom to throw rice on the bride and groom in the expectation that they will be fecund and productive. There is even a custom of putting ashes on the forehead of the groom to remember the destruction of the temple, and to pray for its reconstruction.
Hal ini juga kebiasaan kami untuk menaburkan beras pada pengantin dengan harapan bahwa mereka akan subur dan produktif. Bahkan ada kebiasaan menempatkan abu di dahi pengantin pria untuk mengingat kehancuran Bait Allah, dan berdoa untuk rekonstruksi.

Dikirim ulang oleh Anwar Baru Belajar
Sumber: Similarities Between Hindu and Jewish Traditions





Friday, July 8, 2011

Ulang Tahun Asalnya Adalah Pengagungan Terhadap Dewi Artemis

Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengajak untuk melempar jauh ingatan ke belakang, ketika saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau ketika masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Ketika hari itu datang, manusia pun kembali mengangkat jemarinya, untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan “ Hari Ulang Tahun “. 
Namun sebenernya dari mana asal perayaan ulang tahun itu sendiri muncul, hingga tidak sedikit ummat muslim merayakannya , pertanyaan ini yang mungkin sebelumnya tidak pernah terfikirkan, mari kita telusuri sekilas .
Ulang tahun atau Milad (dalam bahasa arab) pertama kali dimulai di Eropa. Dimulai dengan ketakutan akan adanya roh jahat yang akan datang pada saat seseorang berulang tahun, untuk menjaganya dari hal-hal yang jahat, teman-teman dan keluarga diundang datang saat sesorang berulang tahun untuk memberikan do’a serta pengharapan yang baik bagi yang berulang tahun. Memberikan kado juga dipercaya dapat memberikan rasa gembira bagi orang yang berulang tahun sehingga dapat mengusir roh-roh jahat tersebut.
Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Ada sedikit penjelasan mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue.
Artemis Diana Salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil DEWI BULAN, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Cerita lainnya tentang kue ulang tahun yang bermula di Jerman yang disebut sebagai “Geburtstagorten” adalah salah satu tipe kue ulang tahun yang biasa digunakan saat ulang tahun. Kue ini adalah kue dengan beberapa layer yang rasanya lebih manis dari kue berbahan roti.
Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun di atas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke Dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan (gibbons, 1986). Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga.
Saat ini banyak orang hanya mengucapkan pengharapan di dalam hati sambil meniup lilin. Mereka percaya bahwa meniup semua lilin yang ada dalam satu hembusan akan membawa nasib baik. Pesta ulang tahun biasanya diadakan supaya orang yang berulang tahun dapat meniup lilinnya.
Ada juga mitos yang mengatakan bahwa ketika kita memakan kata-kata yang ada di atas kue, kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan. Jadi dengan memakan “Happy Birthday” akan membawa kebahagiaan.
Tradisi mengirimkan kartu ucapan itu sendiri dimulai di Inggris sekitar 100 tahun yang lalu (Motomora, 1989). Pada awal mulanya hanya raja saja yang dirayakan ulang tahunnya (mungkin disinilah awal mulanya tradisi topi ulang tahun bermula). Seiring waktu berlalu, anak-anak juga di ikutsertakan dalam pesta ulang tahun. Pesta ulang tahun untuk anak-anak pertama kali terjadi di Jerman dan dinamakan “kinderfeste”.
Dapat disimpulkan bahwa melalui sejarahnya perayaan ulang tahun ini adalah ritual kaum kuffar ( paganism ) terhadap DEWI BULAN ( Artemis ), namun ironis sekali ada sebagian bahkan kalangan umum ummat islam menjadikan hari ini ( ulang tahun ) sebagai ritual wajib tiap tahunnya. . .

SIAPAKAH DEWI ARTEMIS ???

Artemis (bahasa Yunani: Ἄρτεμις) dalam mitologi Yunani adalah dewi perburuan, alam liar, hewan liar, perawan, dan perbukitan. Dia adalah pembawa dan penghalau penyakit pada perempuan serta merupakan Dewi yang menolong dalam proses kelahiran. Dia merupakan putri dari Zeus dan Leto, serta saudari kembar Apollo. Dia digambarkan sebagai pemburu dan membawa busur dan anak panah. Rusa dan pohon siprus dikeramatkan baginya. Menurut beberapa pendapat, Artemis berasal dari masa pra-Yunani. .
Pada perkembangan selanjutnya, Artemis dihubungkan dengan Selene, dewi bulan Yunani yang sering digambarkan dengan bulan sabit di kepalanya. Pada akhir masa Hellenistik, dia juga dianggap sebagai dewi kelahiran (diadaptasi dari tugas Eileithyia). Dalam mitologi Romawi dia dikenali sebagai Diana, dan dalam mitologi Etruska dia dikaitkan dengan dewi Artume. Selain itu, dia juga dikaitkan dengan dewi Hekate.
Artemis disembah sebagai dewi kelahiran dan kesuburan (seperti dewi Eileithyia) di beberapa tempat. Dia disembah seperti itu karena dia ikut membantu ibunya dalam melahirkan Apollo. Pada masa klasik di Athena, Artemis dihubungkan dengan Hekate. Artemis juga dikaitkan dengan dewi Karyatis.
Artemis adalah dewi utama bagi orang - orang Hyperborea, Arkadia dan juga wanita - wanita Amazon yang dikenal ganas dan gemar serta handal dalam berperang. Di Arkadia, ia dipuja sebagai Soteira (penyelamat) dan Agrotera (pembur) dan merupakan dewi pemimpin Para Nymph yang merupakan pelayan setianya juga penjaga dari segala hal yang ada di alam liar seperti pohon dan sungai. Di Arkadia terdapat sebuah gunung yang diberi nama Artemisios yang dipuncaknya terdapat sebuah kuil untuk memuja Artemis yang sangat menggemari olahraga di gunung. Arkada pun menjadi tempat sakral dkarenakan di sanalah Artemis sering berburu, berlatih, serta bertemu dengan Pan untuk mendapatkan anjingnya. ( Selengkapnya : http://id.wikipedia.org/wiki/Artemis )
Lihatlah siapa sebenarnya artemis ??? Apakah pantas kita ummat muslim mengikuti tradisi kaum kuffar ( paganisme ) dengan meniru ritual;-ritual mereka ???
Rasulullah pernah bersabda:
"Kamu akan mengkuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk kedalam lobang biawak kamu pasti akan memasukinya juga". Para sahabat bertanya,"Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?"Rasulullah menjawab:"Siapa lagi jika bukan mereka?!".

Sikap Yang Islami Menghadapi Hari Ulang Tahun

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah.
Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]
Perlu diketahui juga, bahwa orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits:
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)
Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا
“Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]
Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya hanya ada 3 saja, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam 3 macam tersebut, maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan milik kaum muslimin.
Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]
Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya:
والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما
“Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]
Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan adakan di masa Jahiliyah.
Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]
Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahllah- menjelaskan :
“Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.
Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id]
Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Wallahu’alam. (Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0 ; http://www.saaid.net/Doat/alarbi/6.htm )
-----------------------------------------------------------

Fatwa Ulama :

Apa hukum merayakan berlalunya satu atau dua tahun atau lebih atau kurang dari dua tahun dari kelahiran seseorang yang biasa disebut ulang tahun atau meniup lilin. Dan apa hukumnya menghadiri pesta perayaan ini. Apakah bila seseorang diundang pada acara tersebut wajib menghadirinya ataukah tidak. Berilah kami jawaban. Dan semoga Allah memberi pahala bagi Anda.

Alhamdulillah. Dalil-dalil syariat dari kitab dan sunnah menunjukkan bahwa perayaan hari ulang tahun termasuk bid'ah yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada asalnya dalam syariat yang suci dan tidak boleh memenuhi undangan tersebut karena hal itu berarti mendukung dan mendorong kepada kebid'ahan dan Allah Ta'ala berfirman:
"Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan syariat bagi mereka berupa agama yang tidak diizinkan oleh Allah."
Dan firman Allah:
"Kemudian Kami jadikan kamu di atas syariat dari urusan itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka tidak akan dapat menolak dari kamu dari siksa Allah sedikitpun. Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Dan Allah adalah Pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa." (Q.S Al Jatsiyah : 18).
Dan Allah berfirman:
"Ikutilah olehmu apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan janganlah kamu mengikuti penolong lain selain-Nya. Sedikit sekali di antaramu yang mengambil pelajaran."
Ada hadits yang shahih dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bahwa sesungguhnya beliau bersabda:
"Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak."
Dikeluarkan oleh Muslim di dalam shahihnya.
Dalam hadits lain beliau bersabda:
"Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam . Dan sejelek-jelek urusan adalah hal yang diada-adakan dan setiap kebid'ahan adalah sesat."
Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.
Kemudian perayaan ini selain bid'ah munkaroh yang tidak ada asalnya dari syariat juga di dalamnya terkandung tasyabbuh (menyerupai) dengan Yahudi dan Nashara tentang peringatan hari lahir. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah bersabda mewanti-wanti dari sunnah dan jalan hidup mereka:
"Kalian pasti akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun pasti kalian akan memasukinya." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashara ?" Beliau menjawab: "Siapa lagi ?" Dikeluarkan oleh Bukhari Muslim daalam Shahihain.
Dan makna " Siapa lagi ?" artinya merekalah orang-orang yang dimaksud dengan perkataan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam ini.
Semoga ini bisa menyadarkan kita semua bahwa perayaan ulang tahun ini tidak memberi faedah sedikitpun bagi kita yang ada malah kekufuran, Ingatlah saudaraku syari'at islam ini telah sempurna, maka sempurnakanlah ibadah kita dengan aturan dan ketentuan yang telah diterangkan dengan terang benderang Dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri MEMPERHATIKAN apa yang telah diperbuatnya UNTUK HARI ESOK (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

-Sahabatmu-
Thifal Izzah Ramadhani
Catatan : Tulisan ini atas permintaan seorang sahabat, yang sayang terhadap sahabatnya, dan semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayahnya pada kita semua. . .Aamiin.

Sejarah Kue Ulang Tahun

History of Birthday Cake
Origin of Birthday Cakes dates back to ancient times but the cake of then was very different from what we have today. The word ‘cake’ is said to have coined as early as 13th century and is said to have derived from ‘kaka’- an Old Norse word.

Definition of Birthday Cake
In Western culture Birthday Cake is defined as a pastry or dessert served to a person on his or her birthday. Birthday cakes are usually decorated with person’s name and carry a message of congratulations. Candles equal to the number of year’s a person has been alive are also placed on the cake. There is also a tradition to place one extra candle to bring good luck. Birthday cakes are usually spongy and the most popular flavour in cakes is chocolate.


Birthday Cake History
History of Birthday Cake can be traced back to the ancient Greeks who made round or moon shaped honey cakes or bread and took it to the temple of Artemis -the Goddess of Moon. Some scholars, however, believe that the tradition of Birthday cake started in Germany in Middle Ages. Sweetened bread dough was given the shape of baby Jesus in swaddling cloth and was used to commemorate his birthday. This special birthday cake later reemerged in Germany as a Kinderfest or the birthday celebrations of a young child. Germans also baked another special kind of a cake called Geburtstagorten as it was baked in layers. This was sweeter that the coarse and bread like cake that were usually made at that time.

Why is Birthday Cake Round?
In earlier times, Birthday cakes were mostly round in shape. Scholars associate religious beliefs and technical compulsions for the same. Greeks offered round shape cake to the Goddess of Moon - Artemis as it signified moon. They even placed candles on the cake to make the cake glow like the moon.

Some scholars opine that cake in the ancient world has association with the annual cycles. Round shapes of cakes were preferred as these represented the cyclical nature of life. Most specifically, the sun and moon.

Technical reason given for the roundness of the cake is that most cakes we know off advanced from the bread. In ancient times breads and cakes were made by hand. Typically, these were fashioned into round balls and baked on hearthstones or in low, shallow pans. Hence, these naturally relaxed into round shapes. With the progress of times baking pans of various shapes were developed and today we see cakes in imaginative shapes and sizes.

Tradition of Putting Candles on Birthday Cake
Tradition of placing candles on Birthday cake is attributed to early Greeks, who used place lit candles on cakes to make them glow like the moon. Greeks used to take the cake to the temple of Artemis-the Goddess of Moon. Some scholars say that candles were placed on the cake because people believe that the smoke of the candle carried their wishes and prayers to Gods who lived in the skies. Others believe that the custom originated in Germany where people used to place a large candle in the centre of the cake to symbolize ‘the light of life’.

In present times too, people place candles on Birthday cakes and a silent wish is made before blowing out the candle. It is believed that blowing out all candles in one breath means the wish will come true and the person with enjoy good luck in the coming year. Some also smear out the name of the person before slicing of the cake to bring good luck.

Traditions and Superstitious Beliefs Related to Birthday Cake
In medieval times people of England used to place symbolic objects like coins, rings and thimbles in the batter of the cake. It was believed that those who found coin in the cake would be wealthy while the unlucky finder of the thimble would never marry. Wedding was signified for the person who found the slice of cake with ring. Even today some people follow the tradition and place small figures, fake coins and small candies inside the cake.

If the cake fell while baking it was considered to be a bad omen and signified bad luck for the person in the coming year.

Technical Advancement in Making of Birthday Cake
In the beginning the cakes used to be similar to bread. They were sweetened with honey and enhanced with nuts and dry fruits. According to food historians, ancient Egyptians were the first to show evidence of advanced baking skills. Medieval European bakers used to make fruitcakes and gingerbread that could last for months. Around the middle of 17th century, Europeans had made considerable advancement in the art of making cakes. They began to make what can be called precursor to modern cakes that were round and had icing. This was mainly due to the development of technology that made available reliable ovens, food moulds and refined sugar. At that time cake hoops - which were round wooden or metal moulds for shaping cakes were placed on flat pans to effect the shape.

First icing that was used in cakes were usually a boiled composition of finest available sugar, egg whites and flavors. Then icing used to be poured on the cake and then the cake was put back into the oven for a while. When the cake was taken out, the icing cooled quickly to form a hard glossy ice-like covering. Mouled cakes and fancy ices reached their zenith in Victorian times.

With the time, the art of baking cakes kept progressing and it was not until the middle of the 19th century that the cake we know of today developed. Taste and appearance of the cake was enhanced with extra-refined white flour and the use of baking powder instead of yeast.

Wednesday, July 6, 2011

Haulan Kematian Versi Yahudi

Kata 'Haul' diambil dari kata Bahasa Arab حا ل - يحول - حولا Haala-Yahuulu-Haulan yang mempunyai makna 'setahun', atau 'masa yang sudah mencapai satu tahun'. Pada perkembangannya, kata 'haul' kemudian seringkali dimaknai sebagai kegiatan ritual keagamaan tahunan untuk memperingati hari meninggalnya orang yang dicintai atau orang yang diagungkan.


Di bawah ini adalah sebagian gambar orang Yahudi yang memperingati haul orang-orang yang mereka cintai.

Yahudi Ortodoks






Orang Yahudi membaca kitab suci mereka di kuburan




Bandingkan dengan Haul yang biasa diperingati oleh sebagian umat Islam


Sebagian umat Islam ada juga yang membaca kitab suci Al Qur'an di kuburan

JADWAL PERINGATAN HAUL HABAIB SEJAWA

Sumber :


___________________________________________________


Nabi shalallahu 'alahi wassalam pernah bersabda:


إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِي مِنْكُمْ خَلِيْلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي
خَلِيْلاً، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِي...ْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أ...ُمَّتِي خَلِيْلاً لاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.


"Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku boleh menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. Muslim (no. 532 (23)


لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَلاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْراً وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ
“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat peringatan (haul /'id) dan janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan dan dimanapun kalian berada bershalawatlah kepadaku sebab shalawat kalian akan sampai kepadaku.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2/367, Abu Dâud no. 2042 ( Ahkâmul Janâ`iz dan Min Bida’il Qubûr )


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا


"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

“Sungguh, kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu, bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya. Sampai kalaupun mereka masuk ke lubang dhob (Biawak padang pasir) niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasranikah?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selengkapnya klik dan baca link di bawah ini;


Inilah Potret Mereka Yang Beribadah Di Kuburan [Kuburiyyun].