Sunday, November 20, 2011

Hati-hati Jilbab Seperti Punuk Unta

Akibat Korban Mode

Sudah berjilbab saja masuk neraka, apalagi yang enggan memakai jilbab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا


“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:
1. Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan,
2. Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)






Beradab Sebelum Berilmu

Pentingnya Adab sebelum Ilmu

Allah telah menganugrahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat yang besar dengan diutusnya Rasul yang paling mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, da'i yang menyeru kepada Allah dengan idzin-Nya, dan sebagai lampu yang menerangi, yang telah diturunkan Al-Qur`an kepadanya, sebagai kitab yang memberi petunjuk, mengajarkan ilmu dan yang memperbaiki keadaan manusia. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
(Al-Jumu'ah:2)

Maka dakwahnya Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam mencakup tiga hal utama, sebagaimana diterangkan dalam ayat yang mulia ini. Tiga hal itu adalah At-Tabliigh (menyampaikan ilmu), At-Tazkiyyah (pensucian jiwa) dan At-Ta'liim (mengajarkan ilmu). Adapun at-tazkiyyah maka yang dimaksud adalah mendidik jiwa agar menerapkan Islam, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta berakhlak dengan akhlak-akhlak yang utama dan adab-adab yang tinggi.

Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melaksanakan tugas ini yaitu mendidik dan mensucikan jiwa para shahabatnya dan mengajarkan kepada mereka adab-adab Islam sehingga berubahlah mereka yang tadinya keras, kaku dan kasar menjadi orang-orang yang lembut, luas akhlaknya dan baik dalam pergaulannya serta secara umum berakhlak dengan akhlaknya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai panutan ummat Islam, yang mana akhlak beliau adalah Al-Qur`an.

Para shahabatpun senantiasa melaksanakan tugas yang agung ini dalam menyebarkan Islam, di mana mereka bersungguh-sungguh dalam menyampaikan adab sebelum ilmu kepada murid-murid mereka dari kalangan tabi'in, dan mengarahkan mereka kepada akhlak dan adab pada dirinya, keluarganya, gurunya, teman-temannya serta seluruh manusia yang ada di sekitarnya, yang semuanya ini selayaknya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agar berpegang teguh dengannya.

Kemudian hal ini pun berpindah kepada tabi'in, di mana mereka menjadi para pengajar yang menjadi panutan dalam masalah adab dan ilmu bagi murid-muridnya. Dan demikianlah dari satu generasi ke generasi berikutnya, mereka senantiasa mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu agama itu sendiri.

Ucapan Para Imam tentang Pentingnya Adab

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dari Al-Imam Malik bin Anas, beliau berkata: Berkata Ibnu Sirin: "Mereka (para shahabat dan tabi'in) mempelajari al-huda (petunjuk tentang permasalahan adab dan yang sejenisnya) sebagaimana mereka mempelajari ilmu." (Al-Jaami' li Akhlaaqir Raawii wa Aadaabis Saami', 1/79)

Dari Al-Imam Malik juga, dari Ibnu Syihab, beliau berkata: "Sesungguhnya ilmu ini adalah adabnya Allah, yang telah Allah ajarkan kepada Nabi-Nya dan demikian juga telah diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya; amanatnya Allah kepada Rasul-Nya agar beliau melaksanakannya dengan semestinya. Maka barangsiapa yang mendengar ilmu maka jadikanlah ilmu tersebut di depannya, yang akan menjadi hujjah antara dia dan Allah 'Azza wa Jalla." (Ibid. 1/79)

Dari Ibrahim bin Hubaib, beliau berkata: Berkata ayahku kepadaku: "Wahai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka serta ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai untukmu daripada memperbanyak hadits." (Ibid. 1/80)

Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: "Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits." (Ibid. 1/80)

Hal ini dikarenakan kalau seseorang sibuk memperbanyak hadits dan menghafalnya akan tetapi tidak beradab dengan adab-adab yang telah dipraktekkan oleh para ulama niscaya ilmu tadi tidak akan bermanfaat. Akan tetapi orang yang belajar adab niscaya dia akan terus mencari tambahan ilmu dengan diamalkan dan diterapkan adab-adab yang telah dipelajarinya.
Dari Zakariyya Al-'Anbariy, beliau berkata: "Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad." (Ibid. 1/80)

Dari Malik bin Anas bahwasanya ibunya berkata kepadanya: "Pergilah ke Rabi'ah lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya." (Tanwiirul Hawaalik Syarh Muwaththa` Al-Imaam Maalik, hal.164)

Diambil dari Aadaabu Thaalibil 'Ilmi hal.23-25 dengan beberapa perubahan.
Buletin Al Wala' Wal Bara' Edisi ke-22 Tahun ke-3

Friday, November 18, 2011

Ciri Pengikut Nabi dan Sahabat


Muqadimah

Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara ringkas ciri-ciri utama Ahlus Sunnah wal Jama'ah yaitu pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan Sahabatnya radhiyallahu anhum. Semoga kita termasuk manusia yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala ciri-ciri tersebut dan menjadikan kita istiqomah di atasnya, insya Allah.
بسم الله الرحمن الرحيم

1) Berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dalam segala perkara khususnya ketika terjadi perbedaan pendapat.
Allah berfirman :

“Maka jika kalian berbeda pendapat dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”
( QS. An Nisa : 59 )



2) Memahami Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak dipahami sesuai dengan hawa nafsu maupun tokoh tertentu.
Allah berfirman :

“Generasi pertama shahabat muhajirin dan anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridloi mereka dan merekapun ridlo kepada Allah dan Allah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya itulah keberuntungan yang besar”
( QS. At Taubah : 100 )

3) Tetap istiqomah di atas kebenaran Al Quran dan As Sunnah walaupun dihina dan dijauhi oleh masyarakatnya, Rasulullah bersabda :

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang terang-terangan di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menghina mereka sampai datang perintah Allah (angin dingin yang mencabut nyawa setiap orang yang memiliki keimanan menjelang kiamat)”
( HR. Imam Muslim )

4) Tidak taqlid kepada madzhab atau tokoh tertentu tetapi melihat dalil yang dipakai. Bila sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, diterima. Bila tidak, maka ditolak siapapun yang mengucapkannya.

Imam Malik, Rahimahullah berkata :

“Setiap orang bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak kecuali Nabi ”
( Minhaj Al Firqoh An Najiyah : 10 )

5) Tidak pilih-pilih syariat, semua perintah Allah dan Rasul-Nya dilaksanakan semampunya dan semua larangan ditinggalkan tanpa terkecuali.

Allah berfirman :
“Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian maka ambillah dan apa saja yang dilarang maka tinggalkanlah”
( QS. Al Hasyr : 7 )

6) Hanya menggunakan hadits - hadits shahih dan tidak menggunakan hadits - hadits dloif ( lemah ) dan maudlu’ ( palsu ), karena yang dloif ( lemah ) dan maudlu’ ( palsu ) itu merupakan bentuk berdusta atas nama Rasulullah . Beliau bersabda :

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah menempati tempat duduknya di neraka”
( HR. Imam Muslim dan lainnya )

7) Menegakkan seluruh jenis tauhid dan memberantas segala jenis syirik, karena ini adalah inti dakwah para Nabi dan Rasul .
Allah berfirman :

“Sungguh kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk menyeru ( kepada umatnya ) beribadahlah hanya kepada Allah ( tauhid ) dan jauhilah sesembahan selain Allah ( syirik )”
( QS. An Nahl : 36 )

8) Menegakkan Sunnah ( ajaran Rasulullah ) dan memberantas segala jenis kebid’ahan, Rasulullah bersabda :

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah dengan gigi geraham ( pegang erat-erat dan jauhilah perkara-perkara baru yang tidak diajarkan agama, karena hal itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat )”
(HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dishohihkan syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ )

9) Mendidik generasi umat dengan pendidikan yang sesuai dengan pendidikan Rasulullah dan para shahabatnya .

10) Giat menuntut ilmu syariat. Karena mereka yakin dengan ilmu ini dapat mengetahui dan mencontoh seluruh ajaran Rasulullah secara terperinci.
و الله أعلم بالصواب

Penulis: Al Ustadz Abu Ilyas Su’aidi As Sidawi

Sumber artikel darussalaf.or.id dengan muqadimah dari admin blog.

Kedustaan Abu Muhammad Al Maqdisi



MEMBONGKAR KEDUSTAAN AL – MAQDISIY DALAM KITABNYA PEMBONGKARAN YANG JELAS ATAS PENGKAFIRAN NEGERI SAUDI

OLEH: Asy – Syeikh Abdul ‘Aziz Ar Royyis

Penerjemah: Abu Ammar as – Salafi

Editor dan Peneliti: Mujahid as – Salafi

PENGANTAR REDAKSI

Segala puji bagi Alloh yang telah mencipkan gelap dan terang, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Akhir zaman Muhammad bin Abdulloh, para keluarga dan shahabatnya, serta orang – orang yang mengikuti jejak langkah mereka dalam berjuang di jalan Alloh. Telah beredar sebuah kitab dengan judul Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) karya Abu Muhammad al – Maqdisiy Ishom Burqowi yang mana kitab tersebut berisikan racun – racun yang meracuni otak para kawula muda yang bermodal semangat dalam din tanpa bermodal ilmu. Karena itu dengan memohon pertolongan kepada Alloh kami akan menghadirkan bantahan kitab tersebut kepada para pembaca di Blog kami ini secara berseri. Dan kami katakan ”HAK PENERBITAN BUKU INI BEBAS BAGI SIAPA SAJA DAN DIPERBOLEHKAN BAGI SETIAP ORANG UNTUK MENCETAKNYA, MENTERJEMAHKANNYA SERTA MENYEBARKANNYA DALAM RANGKA MEMBUAT GERAM MUSUH-MUSUH ALLOH DARI KALANGAN KHOWARIJ PENERUS DZUL KHUWASIROH, DENGAN SYARAT TIDAK MELAKUKAN PERUBAHAN SEDIKITPUN TERHADAP ISINYA”, bagi pembaca yang ingin mendapatkan naskah asli dari kitab bantahan ini silahkan download disini.(Mujahid As – Salafi)

MUQODDIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته…….. أما بعد

Sesungguhnya sikap adil dan sikap tengah tengah, serta sikap tidak berlebih lebihan dan tidak pula sikap mengurang-ngurangi adalah merupakan sikap yang dicintai dan diridloi oleh Alloh. Alloh berfirman:

Dan berlaku adillah sesungguhnya Alloh itu mencintai orang – orang yang berbuat adil….

Dan sesungguhnya sikap berlebih – lebihan di dalam syariat islam itu adalah harom hukumnya. Yang mana keharomannya itu lebih dasyat daripada keharomannya sikap mengurang – ngurangi dan sikap yang kaku/kering. Oleh karena itulah syariat islam sungguh telah berbicara dengan sangat tegas dan keras dalam perkara seputar Khowarij dan ahlul bida’ melebihi sikap tegas dan kerasnya dalam berbicara menyikapi terhadap orang – orang yang berbuat maksiat secara umum dari orang – orang yang cenderung mengikuti syahwat.
Dan sungguh pada perkara ini ada sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu bahwa sikap berlebih – lebihan itu memang dari jiwa yang berperasaan ini bisa menerima sikap berlebih – lebihan. Karena sikap berlebih – lebihan tersebut berbingkis dengan bingkisan agama dan dengan penuh rasa kesemangatan diatas sikap berlebih – lebihan yang dibingkis atau dihiasi dengan atas nama agama tersebut. Yang demikian itu memang akan sangat mudah untuk bisa diterima oleh jiwa seseorang selama seseorang tersebut tidak terbentengi dengan ilmu atau orang tersebut enggan untuk keluar dari perkataan – perkataan pembesar – pembesar Ahlul – Ilmi(Ulama’).

Dan sesungguhnya robb kita Alloh yang Maha suci telah memperingatkan dari sikap berlebih – lebihan yang menjerumuskan kepada meninggalkan sebuah kebenaran. Alloh berfirman:

Wahai Ahli Kitab janganlah kalian berbuat berlebih – lebihan di dalam agama kalian, dan jangan pula kalian berkata atas nama (agama)Alloh mlainkan dengan kebenaran

Dan termasuk dari deretan kitab – kitab yang memiliki sikap berlebih – lebihan adalah sebuah kitab yang berjudul “Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)” yang pengarangnya adalah Abu Muhammad Al – Maqdisiy (‘Ishom Al Burqowi). Pensifatanku terhadap kitab tersebut dengan sifat berlebih – lebihan adalah merupakan dari suatu ahakan yang mana mari saya mengajakmuy kepada penelitian dalam keterangan/penjelasan isi kitab tersebut. Dan itu sebagaimana apa – apa yang terdapat dalam sampul kitab ini-yaitu kitab yang ada pada kedua tangan anda- dengan dalil dalil dan hujjah – hujjah serta kenyataan – kenyataan dan penukilan dari ahlul ilmi yang terdahulu maupun yang sekarang.

Maka apa – apa yang diserukan dan yang ditetapkan oleh pengarang kitab “Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)” dari celaan – celaan dan pengkafirannya yang jelas terhadap ulama’ – ulama’ kita, seperti Al – Imam Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Baz dan al – Imam Muhammad bin Sholeh al – Utsaimin serta selain keduanya dari kalangan para imam-imam Ahlus Sunnah-yang semoga Alloh selalu merohmati mereka baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal-. Dan dari pengkafirannya pula teradap para penguasa kita-yang semoga Alloh selalu membimbing mereka agar selalu mendapat petunjuk-Nya-, bahkan tidak hanya itu penulis kitab tersebut juga selalu menganjurkan dari sebuah penganjurannya atas pembunuhan dan pengrusakan di negara Al – Haromain (Saudi)-yang semoga Alloh menjaganya-. Semua ini yaitu apa yang diserukan oleh Abu Muhammad al – Maqdisiy (Ishom Burqowi) diatas adalah merupakan besarnay kejahatan, karena terkumpul padanya antara kerusakan agama dan juga kerusakan dunia*), oleh karena itu membantah kitab “Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)” ini adalah merupakan suatu keharusan dalm rangka untuk menjelaskan apa-apa yang ada dalam kitab ini dari sebuah kejelekan – kejelekan, kekejian – kekejian dan dari kesombongan – kesombongan, serta perkataan – perkataan yang mengada- ada yang memeras atas sebagian Ahlus Sunnah –yang semoga Alloh menjaga mereka dari setiap Syubhat dan Syahwat- terlebih bagi para kawula mudalah yang diinginkan dan diincar oelh musuh – musuh, yang mana para musuh – musuh tersebut menjadikan kawula muda sebagai alat yang bisa dipakai untuk menyalakan api fitnah, dimana perasaan jiwa kawula muda akhirnya menjadi sangat tersibukkan dengan setiap fitnah bersamaan dengan rasa semangat yang berkobar – kobar dan berapi – api yang mereka nisbahkan kepada Agama. Yang mana para kawula muda itu pada hakekatnya dalam kondisi sedikit ilmu, meskipun mereka berjumlah banyak. Dan terlebih lagi kita ditimpa oleh suatu cobaan dengan keruwetan dan kekacauan “INTERNET” yang mana internet itu akhirnya menjadi suatu yang sangat berharga bagi orang – orang yang mempunyai kepentingan dan internet pun menjadi sebuah sarana untuk memamerkan syubhat – syubhat mereka (Ahlul Bathil) terhadap kaum muslimin.Maka ketika kitab ini yakni kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) menjadi sebuah kitab rujukan dan sebagai pedoman oleh kebanyakan orang – orang yang tertipu oleh mereka sebagai pemikiran dari kalangan orang – orang yang gemar mengkafirkan, dan menjadilah pemikirang tersebut saling dinukil oleh sebagian kelompok dari orang – orang bodoh yang hanya mengedepankan perasaan(Syahwat), kemudian mereka membawa dan menenggelamkan apa – apa yang ada dalam kitab tersebut dari sebuah racun terhadap kaum muslimin. Akhirnya sayapun meminta pertolongan kepada Alloh robb semesta alam untuk membantah kitab ini, yang bertujuan sebagai nasehat dan sebagai arasa takut serta khawatir terhadap orang – orang yang bertauhid, jika sampai syubhat – syubhat yang bertebaran lagi serampangan yang terdapat dalam kitab tersebut mengena dan memeras (hati dan pikiran) sebagian orang – orang yang bertauhid, yang mana setan dari golongan manusia dan jin senantiasa menghiasi dan mempercantik syubhat – syubhat yang berterbangan lagi serampangan tersebut sebagai tipu daya dan kedustaan yang menyesatkan. Oleh karena itu aku menamai kitab bantahan ini dengan judul “TABDIIDU KAWASYIFIL ‘ANIIDI FII TAKFIRIHI LIDAULATIT TUHID”. Dan aku menjadikan kitab bantahan ini menjadi beberapa bagian sebagai berikut:
  1. Pengkafiran kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) Abi Muhammad al – Maqdisiy (Ishom Burqowi) terhadap dua imam yaitu imam Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Baz dan imam Muhammad bin Sholeh al – Utsaimin.
  2. Membongkar lima syubhat Abu Muhammad al – Maqdisiy dalam pengkafirannya terhadap negeri Saudi-semoga Alloh menjaganya-
  3. Diskusi atas sebagian perkataan Abu Muhammad al – Maqdisiyyang lemah lagi tak berguna yang terdapat didalam kitabnya Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)
  4. Sikap yang benar sesuai syar’I dalam mensikapi pemerintah.
  5. Sikap para Ulama’ as sunnah, para sastrawan dan Sejarahwan terhadap negara Saudi—semoga Alloh selalu menjaganya.
  6. Penutup.
Akhirnya saya memohon kepada Alloh untuk menjadikan bantahan ini sebagi petunjuk bagi orang – orang yang tersesat dan sebagai penjagaan bagi orang – orang yang mendapat petunjuk serta sebagai penolong untuk Tauhid dan para Muwahhidun (orang – orang yang bertauhid). Dan sebagai suatu kebenaran yang apabila telah memuntahgkan atas suatu kebatilan. Maka kebenaran tersebut pasti akan mengalahkan serta melenyapkan kebatilan itu, sebagaimana Alloh berfirman:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Dan bahkan kami muntahkan dengan suatu kebenaran atas kebatilan, maka kebenaran tersebut mengalahkan dan melenyapkan kebatilan itu, maka jadilah kebatilan itu lenyap dan binasa. Dan kalian mendapatkan celaka dari apa – apa yang kalian sifatkan.

Dan sebelum permulaan bantahan ini maka sesungguhnya Aku memuji Alloh atas apa yang telah Alloh anugrahkan dengan bantahan ini berupa muqoddimahnya dari Asy – Syeikh Sholeh al – Fauzan, yang mulia Asy – Syeikh Abdul Muhsin al Abiikan dan juga yang mulia Asy – Syeikh Abdulloh al – Abiilan-semoga Alloh senantiasa menjaga mereka- untuk kitab ini.

Dan aku bersyukur kepada mereka atas muqoddimah ini dan atas apa yang telah memberikan faedah – faedah padanya dari sebuah pengarahan dan sebagai pengetahuan. Sesungguhnya saya telah menetapkan didalam catatan kaki sebuah catatan – catatan koreksi milik Asy – Syeikh al – Fauzan bersamaan dengan menisbahkan catatan – catatan koreksi tersebut kepada beliau…….. dan merupakan dari sutu hal yang saya tidak melupaknnya adalah ketika aku memperlihatkan kitab bantahan ini kepada syeikh kami al – Fauzan, maka beliau menyebutkan bahwa beliau memang senantiasa menantikan bantahan atas kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) milik al – Maqdisiy. Maka segala puji bagi Alloh yang telah memberikan taufiq serta kesuksesan untuk membantah kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) milik al – Maqdisi tersebut.

*)Berkata Syeikh Fauzan dalam memberi catatan: dan kenapa dia khususkan Negara Saudi diantara negara – negara arab yang lain?!, apakah karena negara saudi itu paling jeleknya negara – negara Arob, ataukah karena negara Saudi merupakan pusat Negara untuk dunia Islam?, ataukah karena dia itu Abu Muhammad al – Maqdisiy (Ishom Burqowi) dibayar oleh musuh – musuh Negara Saudi ini sebagai rasa hasad dan kezholiman?!

BANTAHAN POINT I “PENGKAFIRAN AL MAQDISIY TERHADAP SYEIKH BIN BAZ DAN SYEIKH UTSAIMIN”

Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuni berkata :”Tanda yang palling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah. [Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 14]

Maka petunjuk dan bimbingan dari ahlus sunnah adalah mereka menimbang dan mengukur orang-orang selain mereka itu dengan bagaimana sikap orang-orang tersebut terhadap ulama’ assunnah ahlul atsar pada zaman mereka. Jikalau sikap orang-orang tersebut adalah menentang ulama’ sunnah maka mereka pun membid’ahkannya dan tidak ada kehormatan.

Mereka juga menghajernya dan memperingatkan darinya kerena cacian dan cercaan serta penentangan dan merendahkan ulama’ assunnah adalah merupakan merendahkan assunnah, karena ulama’ assunnah adalah pembawa assunnah dan penjaga assunnah yang mana ulama’ asssunnah mereka berjalan meniti jejak dari assunnah.

Dan demikian halnya dengan keadaan Al Maqdisi ini seorang yang sangat durhaka (Ishom Al Barqowi). Maka dia sungguh telah mencerca dan mencela terhadap ulama’-ulama’ kita yang besar seperti Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin – semoga Alloh merohmati keduanya – pada beberapa tempat dari kitabnya ( ), dan termasuk dari cercaan dan celaannya adalah bahwasanya dia berkata: Dan engkau mengetahui kedustaan negara yang keji ini (yakni negara Saudi) yang mana negara Saudi ini telah merusak agama manusia dan telah menjadikan buruk tauhid manusia, serta engkau juga mengetahui kedustaan dan kesesatan pelayan-pelayan negara Saudi ini dari kalangan ulama’-ulama’ para penguasa. Engkau jangan mereka aneh dengan tidak adanya penistaan/pengembalian asal ke halaman-halaman kitab kawaasyif, karena kitab Al-Kawaasyif tersebut tidak mempunyai tampilan yang resmi autentik, bahkan kitab tersebut hanyalah ada di dalam internet, dan halaman-halamannya berubah-rubah seiring berbuahnya barisan tampilannya yang diturunkannya oleh setiap orang, oleh karena itu pengarang / Ishom Al-Barqowi tidak meletakkan halaman-halaman pada daftar isi, tapi dia hanya mencukupkan judul-judul/pokok-pokok bahasan.

Demikianlah Ishom Al-Barqowi, dia mensifati ulama’-ulama’ kita dan diantara mereka (para ulama’) yaitu Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan Al-Fauzan, bahwa mereka adalah pendusta dan sesat dan terkadang dia juga mensifati bahwa tauhid mereka adalah tauhid yang berubah, dan di tempat yang lain juga dia menuduh mereka bahwa sesungguhnya mereka adalah ulama’-ulama’ yang jelek, dan juga dalam perkataan dia terhadap negara Saudi dan fitnah Al-Harom / Masjidul Harom juga menukilkan omongan Juhaimin dalam Jarh dan celaannya terhadap Asy Syaikh Ibnu Baz, dan dia / Ishom Al Barqowi pun menetapkan omongan Juhaimin yang menjarh dan mencela Asy Syaik Ibnu Baz tersebut, dan dia Ishom Al Barqowi tidak mengingkarinya.

Dan dia / Ishom Al Barqowi menyatakan di tempat yang lain dengan nama Ibnu Baz dan juyga Ibnu Utsaimin – semoga Allah merohmatinya – dimana dia (Barqowi) mengatakan: Dan mereka para penguasa Saudi Arabia menyetir / menggiring ulama’, dan menjadikan sebagian dari ulama tersebut sebagai binatang ternak yang lembut dan nurut dan dengan tabir tutup tebal ini yang mereka para penguasa telah mengambilnya dari mereka para ahli ibadah dan para pendeta untuk menjadikan negara mereka sebagai negara Attauhid dan sebagai negara ilmu dan negara ulama’. Coba perhatikanlah bagaimana para syaikh ada di setiap tempat, inilah Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan syaikh-syaikh yang lainnya semuanya mereka bersama negara, pegawai negara dan mereka yang membela-bela dan melindungi negara ini (negara Saudi) …. Lantas apa yang kalian inginkan sesungguhnya tentang Al-Islam dan At-Tauhid…!! Demikianlah negara Saudi di dalam menyesatkan para rakyat.
- kemudian dia Barqowi berkata – : Sekarang tinggallah seorang yang bertauhid itu dapat mengetahui bagaimana sikap dari para ulama’ yang sesat yang mengeluarkan argumen dan bantahan membela pemerintahan Saudi Arabia. Para ulama yang tidur di dada pemerintahan Saudi Arabia, para ulama’ yang menyusu / menetek dari susu pemerintahan Saudi Arabia …. Maka dengarkanlah semoga Alloh selalu memberimu petunjuk padamu untuk agar selalu konsisten di atas kebenaran yang kita yakini dan kita beragama kepada Alloh dengan kebenaran yang kita yakini tersebut, dan tidaklah menyedihkan kita ocehan cercaan orang yang mencela jikalau kita selalu bersama kebenaran yang kita yakini, dan tidak pula menyedihkan kita kedustaan orang yang mengada-ada berkata palsu…. Maka sikap yang benar adalah bahwa para ulama’ tersebut harus dijahr / ditinggalkan, dan tidak menuntut ilmu dari mereka, dan mereka itu jangan dimintaki fatwa, karena ilmu itu sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf adalah agama, maka perhatikan lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian, bahkan yang wajib adalah memperingatkan mereka dan menghajer mereka sehingga mereka kembali dan melepaskan dari sikap mudahanah / penjilat / mengambil muka para penguasa dan dari sikap condong kepoada para penguasa, dan juga dari sikap membantah mengeluarkan argumen membela para penguasa…. – kemudian Barqowi berkata – : Adapun jika mereka para ulama Saudi tersebut masih terus menerus selalu di atas keadaan mereka yang telah dirubah dan dibenci seperti demikian itu, maka wajiblah para ulama Saudi tersebut dihajer dan tidak boleh berhubungan bersama mereka ! (selesai perkataan Barqowi).

Maka ternyata demikianlah pandangan dan sikapnya Barqowi terhadap ulama sunnah di zamaannya, maka dia (Barqowi) adalah seorang mutbadi’ sesat dan tidak ada kehormatan untuknya, maka lalu lantas bagaimana apabila engkau pun mengetahui bahwa ternyata dia (Barqowi) tidak hanya berpandangan dan mensikapi ulama sunnah sebatas pensikapan kedholiman dan kejahatan seperti yang telah engkau ketahui itu akan tetapi ternyata justru dia (Barqowi) mensikapi para ulama sunnah tersebut kafir melebihi Yahudi dan Nashroni dengan anggapan karena ulama sunnah tersebut telah keluar dari agama Islam secara total.

Dia (Barqowi) telah berkata dalam risalahnya yang berjudul “Singkirkanlah Keledai Ilmu ke dalam Tanah”2 / catatan kaki Risalah ini dimaktabahnya di mimbar At Tauhid wal Jihad : Sungguh aku telah membaca surat kabar Arro’yu Al Urduniyah pada tanggal 16 SHofar 1417 Hijriyah yang bertepatan 2/7/1996 Masih ada sebuah berita yang berjudul (Hai’ah Kibarul Ulama di Negara Saudi Menjadi Susah dan Sedih Dengan Adanya Peristiwa Peledakan) dan datang di dalam berita tersebut (Hai’ah Majlis Kibarul Ulama di Kerajaan Arab Saudi telah sedih dan susah / terpukul terhadap adanya sebuah keterangan yang dinukilkan oleh surat kabar kerajaan kemarin tentang kejadian peristiwa peledakan dalam sebuah berita… – kemudian Barqowi berkata – Maka saya (Barqowi) katakan : Sungguh Alloh telah membuka kejelekan perkara kalian dan membongkar tabir kalian wahai ulama sesat…. Demi Alloh sekarang sungguh telah datang pada kami suatu hari yang dahulu kami menahan lisan-lisan kami dari masuk terjun ke dalam urusan kalian, dan kami menjaga diri kami dari menyibukkan dengan urusan perkara kalian, karena rasa takut kami dari kelirunya banyak berbicara dari perlawanan kami dan penyelewengan dari metode cara dakwah kami…. Dan kami dahulu itu hanya mencukupkan dengan memperingatkan para pemuda dari kesesatan kalian …. Sampai sehingga dikafirkan oleh orang yang telah mengkafirkan kami dikarenakan kami meninggalkan masuk terjun ke dalam mengkafirkan kalian…. Dan dahulu itu sungguh kami benar-benar mengharapkan agar kalian kembali atau agar kalian berubah, atau kalian mengganti, atau agar kalian, atau kalian membandingkan tentang kalian sama serupa dengan hadits Nabi Sholallohu Alaihi Wasalam, “Biarkan mereka, agar manusia tidak berbicara bahwa Muhammad itu telah membunuh sahabatnya”. Akan tetapi kalian sungguh amat sangat disayangkan justru kalian tidaklah bertambah melainkan hanyalah kesesatan dan kesewenang-wenangan, dan penyelewengan dari kebenaran dan berlepas diri dari At Tauhid, dan menggiring kepada thogut-thogut dan kepada kesyirikan dan tandingan…. – kemudian dia (Barqowi) berkata – Maka tempat kembali kalian jika kalian tidak bertaubat dan tidak mengadakan perbaikan dan juga menjelaskan kebenaran, adalah sebagaimana tempat kembali orang yang telah Allah katakan tentangnya :
Yang artinya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia ikuti oleh syaithon sampai dia tergoda maka jadilah dia termasuk orang-orang yang tersesat. Dan kalau kami menghendaki sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia justru cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaan dia seperti anjing jika kamu membawanya maka diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia pun tetap menglurukan lidahnya juga. Demikianlah itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Maka ulama sunnah dan tauhid Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin dan Al Fauzan dan Al Ghodyan dan Ali Syaikh – semoga Alloh selalu merohmati mereka yang masih hidup atau yang sudah meninggal – mereka telah berlepas diri dari At Tauhid dan mereka adalah kafir menurut Al Barqowi, hanya saja Barqowi tidak menampakkan pengkafirannya terhadap mereka karena untuk menjaga kemaslahatan sebagaimana Nabi Sholallohu Alaihi Wassalam menjaga kemaslahatan dengan tidak membunuh orang-orang munafiq “Sehingga manusia tidak berbicara bahwa Muhammad itu telah membunuh sahabatnya”.
Maka semoga Alloh menjelekkan dan menghinakan Al Barqowi dan juga semoga Alloh menjelekkan dan setiap orang membela Al Barqowi setelah orang tersebut mengetahui bahwa keadaan Al Barqowi sangat jelek dan hina seperti ini. Dan sesungguhnya pengetahuan pembaca yang sunni terhadap apa-apa yang telah berlalu ini adalah cukuplah untuk agar tidak menghitung atau menganggap keilmuan dan penukilan dan pencelaan Al Maqdisi ilmu adalah agama yang tentu tidak boleh diambil dari orang sangat pembohong dan pendusta yang mencakar seperti Abu Muhammad Al Maqdisi ini dan juga ada sesuatu yang akan saya suguhkan kepadamu wahai pembaca tentang keadaan Abu Muhammad Al Maqdisi ini, saya bawakan dari suatu kejadian yang diketahui oleh orang yang telah berkawanan dan bermajlis dengan Abu Muhammad Al Maqdisi ini, dia adalah (Ihsan Al Utaibiy)1 catatan kaki Ihsan Al Utaibiy ini ma’ruf / dikenal oleh banyak tempat Islam dan dia punya para pengikut, maka jaminan dan tanggungan atasnya dalam apa yang saya nukil ini. Maka dia Ihsan Al Utaibiy telah menyebutkan tentang Abu Muhammad Al

Maqdisi sesuatu perkara perbuatan maksiat, inilah sebagiannya :
1. Sesungguhnya Abu Muhammad Al Maqdisi tidak mau sholat di belakang kaum muslimin, akan tetapi dia justru bersembunyi di dalam WC-WC sehingga sampai manusia / kaum muslimin selesai sholat.
2. Dia Abu Muhammad Al Maqdisi tidak membolehkan sholat di belakang Al Hudzaifi (imam masjid Nabawi) dan As Sudais(Imam masjidil Haram).
3. Dia Abu Muhammad Al Maqdisi berpendapat bahwa harta polisi adalah halal untuk diambil atau dicuri, dan dia pun telah mencuri senjata dan harta salah satu seorang polisi muslim.
4. Dia Abu Muhammad Al Maqdisi berpendapat bolehnya mengkoyak kehormatan wanita-wanita muslim, karena wanita-wanita muslimin itu adalah budak, dan tentunya pendapat ini kembali pada karena pengkafirannya terhadap wanita-wanita muslimin.

Dan setelah muqodimah Syaikh kami Alallaamah Sholih Al-Fauzan – semoga Alloh selalu memberi taufiq padanya – untuk kitab ini (tabdlidu kawaasyifil ‘aniidi fii takfiirihi lidaulatid tauhiidi) maka beliau meminta pada saya untuk agar saya mencari tambahan dari data-data tentang keadaan Al Maqdisi ini, terlebih lagi dalam seputar ilmu syar’i, maka telah sampai pada saya bahwa Asy Syaikh ABdulloh As Sabt – semoga Alloh selalu memberinya taufiq – beliau sangat mengetahui tentang keadaan Al Maqdisi ini. Maka aku pun menelponnya dan terjadilah saling menjawab bersamaku – semoga Alloh membalas padanya kebaikan – dan beliau pun mengirimkan kepadaku biografi Muhammad Al Maqdisi ini yang mencangkup / memuat seputar apa-apa yang menunjukkan atas kebodohan agamanya dan sesungguhnya hanyalah angin syubhat-syubhat mengamuk bertiup keras dengannya ke kanan dan ke kiri – kita minta kepada Allah kesehatan dan kekuatan.

Berkata Syeikh Abdul Aziz ar Royyis:
Setelah saya menulis surat kepada Syeikh Abdulloh As Sabt, kemudian sayapun memnulis kembali surat kepada beliau yang isinya adalah sebagai berikut:
Kepada yang Mulia
 Asy Syeikh Abdulloh as Sabt-semoga Alloh senantiasa menjadikan beliau sebagai pembela sunnah-
As Salamu ‘alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh….

Adapun sesudah itu:
Saya sungguh berterimakasih kepadamu atas apa yang telah anda bersedia dengannya yaitu berupa keterangan – keterangan tentang seorang yang gila yakni “Abu Muhammad al Maqdisiy Ishom al Burqowiy”-semoga Alloh mencukupkan kaum muslimin dari kejelekannya-. Karena itu berikut ini adalah sebagian pertanyaan yang saya senang dan berharap anda bersedia memerikan jawaban atasnya:

Pertanyaan ke 1       : bagaimana   keadaan  Abu Muhammad  al Maqdisiy secara
  keilmuan,  apakah  dia  telah menimba Ilmu dari salah  satu
  seorang ulama’ disaat dia tinggal di Kuwait?

Pertanyaan ke 2       : apa dampak     negative        (Abu Muhammad al Maqdisiy)
  terhadappara    saudara – saudara di Kuwait dan umumnya
  bagi dunia Islam termasuk Negara Saudi?

Pertanyaan ke 3       : apakah  anda mengira bahwa Abu Muhammad al Maqdisiy
  Adalah   orang yang mengarang kitab Al Kawasiful Jaliyyah
  fii Kufri Daulatis Su’udiyyah?
 
Saya mohon kepada anda agar memberikan sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Dan semoga jawaban anda menjadi suatu dasar sebagai tempat pengambilan keterangan tentang orang gila ini. Semoga Alloh membalas anda dengan sutu kebaikan……

Kemudian beliau nengirimkan kepada saya pertanyaan tersebut, inilah konteks jawabannya:

Bismillahir rohmanir rohim
Saudaraku yang mulia Asy Syeikh Abdul Aziz Ar Rosyyis-semoga Alloh selalu memberikan taufiq padanya-. Amin
Wa’alaikum salam wa rohmatullohi wa barokatuh:
Selanjutnya: saya senang untuk menyebutkan apa yang saya ketahui terkhusus tentang Abu Muhammad al Maqdisiy dengan menyandarkan terhadap pembahasan yang telah lalu.

Jawaban atas pertanyaan ke 1 anda :
a.    Terkait apa yang saya ketahui bahwa sesungguhnya laki – laki ini (Abu Muhammad al Maqdisiy) belum pernah menimba ilmu disisi para Masyayikh di Kuwait, akan tetapi puncak dari belajarnya adalah kepada Muhammad Surur dan tidaklah diketahui pula bahwa dia belajar kepada Masyayikh pembawa Aqidah salafiyyah di Kuwait.
b.    Setelah dia kembali dari Afghonistan, dia langsung berhubungan dengan sisa – sisa kelompok Juhaiman di Kuwait dan mereka tidak menimba Ilmu bahkan kebanyakan mereka berbicara tentang (kejelekan) penguasa serta kebanyakan mereka berbicara masalah pergerakan dan pembangkitan (keterpurukan Islam). Mereka sungguh disayangkan dalam pokok permasalahan al wala’ wal Baro’, mereka tenggelam pada pengkokohan dan dukungan untuk Ikhwanul Muslimin, dan mereka memerangi para Salafiyyin dengan tuduhan bahwa mereka adalah pegawai sebuah sitem aturan.
c.    Orang laki – laki ini(Abu Muhammad al Maqdisiy) bukanlah seeorang penuntut ilmu. Oleh karena itu sesungguhnya ilmu yang ia dapatkan dari Muhammad Surur dan dari semisalnya hanyalah ilmu As Siyasah Al Hauja’(politik yang berjalan cepat) yang ilmu tersebut sebenarnya tidak pantas dan tidak layak bagi ummat ini .
Dan ringkas perkataan sesungguhnya mereka itu adalah suatu kelompok dari kalangan orang – orang yang mengetahui dan mempunyai pemikiran As Siyasah al Hauja’ ini. Mereka tidaklah termasuk para penuntuk ilmu, akan tetapi mereka hanya sekedar menghafal beberapa kumpulan nash – nash/dalil – dalil kemudian mereka mengambil sebagiannya untuk apa yang mereka inginkan tanpa kembali pada keterangan ahlul ilmi dan ini merupakan cirri khas mereka, baik kelompok takfir di Mesir atau selainnya atau juga pada kelompok Juhaiman.

Jawaban pertanyaan yang ke 2:
Adapun pengaruh orang sesat ini di Kuwait seungguh lemah, dikarenakan beberapa perkara diantaranya:
a.    Sesungguhnya Abu Muhammad al Maqdisiy telah meninggalkan Kuwait semenjak waktu yang lama sebelum nampak pemikiran takfir pada dirinya dan sebelum Nampak pula pemikiran takfir pada kelompok sisa – sisa Juhaiman.
b.    Sesungguhnya pengaruh pemikirannyaa itu pada pemuda Palestina secara khusus, dikarenakan dia adalah orang Palestina sehingga ia tidak biasa menyebarluaskan pemikiran takfiri di Negara Kuwait sebagaimana selain dia dari kalangan orang – orang asal Kuwait juga ikut andil dalam menyebarluaskan.
c.    Sesungguhnya yang paling utama dan penting bahwa barisan Salafi yang berhubungan dengan Ulama’ sangatlah kuat di Kuwait-segala puji hanya milik Alloh- maka keutamaan daerah – daerah Kuwait berisi penuh dengan saudara – saudara kami para salafiyyin dari kalangan penceramah – penceramahdan dari kalangan pengajar, karena itu hal ini menghalangi tersebarnya pemikiran takfiri. Oleh karena itu para Qutbiyyun (para pengikut sayyid Quthb) dan kelompok Harokah Ilmiyyah yang berasal dari Kuwait tidak berani menampakkan dengan jelas dan terang madzab mereka dalam hal memberontak kepada penguasa dan mengkafirkannya, akan tetapi mereka hanyalah menyesatkan manusia yang kondisi mereka bodoh dan suka marah.
d.    Akan tetapi tidak diragukan bahwa mereka memiliki pengaruh atas sebagian pemuda, akan tetapi saya yakini bahwa pengaruh mereka di Negara Saudi sangatlah lemah. Karena itu mereka yang mengharumkan dan memelihara manhaj Sayyid Quthb disana hanyalah menyandarkan perkataan semisal ini dan itu    kepada sayyid Quthb, kalau tidak seperti itu maka sangatlah sulit.

Jawaban pertanyaan ke-3:
Adapun kitab Al KawaSyiful Jaliyyah Fii Kufri Daulatis Su’udiyyah, maka sungguh ketika saya pertama kali meneliti kitab tersebut dan kesepakatan para orang yang membaca pada saat tersebarnya di Afghonistan, menyimpulkan bahwa kitab Al Kawasyiful Jaliyyah Fii Kufri Daulatis Su’udiyyah ini adalah hasil karya dari kalangan Masyayikh Su’udiyyah dan selainnya yang berpemikiran takfir serta kitab tersebut belum dinisbahkan kepada Abu Muhammad al Maqdisiy kecuali pada saat akhir – akhir ini.
Barang siapa yang mendalami padsa konteks – konteks kitab Al KAwasiful Jaliyyah tersebut tentu akan Nampak baginya dengan jelas bahwa pengarang kitab tersebut lebih dari satu orang, sebagaimana pula keadaan kitab “Ma’alimul Intholaaqotil Kubro” yang tersebar pada masa itu. Setiap orang yang meneliti cara – cara metode penulisan pada kitab Al Kawasyiful Jaliyyah dan meneliti kitab al Maqdisiy yang lain maka akan Nampak jelas baginya suatu keadaan antara dua ungkapan.

Oleh karena itu saya memastikan bahwa kita Al Kawasyiful Jaliyyah dibikin tanpa meminta pendapat pihak yang yang menyiarkan pada saat itu dan kitabnya (Al Kawasyiful Jaliyyah itu) merupakan hasil dari orang – orang Jaziroh araob. Pemastian dan penetapanku mengenai hal ini semenjak dahulu sebelum nampaknya fitanh ini.

Sebagaimana saya juga telah memastikan dan menetapkan bahwa kitab Rof’ul Iltibas yang disandarkan kepada Juhaiman juga bkan merupakan karangan Juhaiman.

Sesungguhnya cara metode penulisan pada kitab Al Kawasyiful Jaliyyah adalah metode yang sangat memuaskan dan tulisn – tulisan yang jelas menunjukkan bahwa pengarang kitab Al Kawasyiful Jaliyyah adalah seorang yang kokoh dalam mendalami berita penduduk Nejd, sedangkan data – data pengetahuan ini tidak terpenuhi oleh Abu Muhammad al Maqdisiy dan juga tidak terpenuhi pula oleh Muhammad Surur waktu itu.

Maka ringkasnya bahwa kitab Al Kawasyiful Jaliyyah ini ditulis oleh anak – anak Jaziroh arob dari kalangan orang – orang yang dendam terhadap Negara Saudi dan sepertinya orang yang member data – data secara terbuka dan penyiaran – penyiara mengenai Negara Saudi adalah orang yang bernama “Faqih”. Oleh karena itu orang yang membaca kitab Al Kawasyiful Jaliyyah akan mendapatkan penggabungan dua metode penulisan.

Inilah apa yang dapat saya sampaikan dalam perkara ini, dan hanyalah kepada Alloh saya meminta agar menolong Ahlul Haq untuk membongkar para pengekor hawa nafsu. Sungguh membongkar aib – aib dan kejahatan mereka adalah Jihad di jalan Alloh.
والله هادي للحق
كتبه محبكم
أبو معاوية/ عبد الله السب
Dan Alloh-lah dzat yang member petunjuk kepada kebenaran
Telah menulisnya orang yang mencintaimu Abu Mu’awiyah/Abdulloh As Sabt

Sikap Ulama Salaf Terhadap Penentang Sunnah


Dari Abu Qatadah berkata: Kami pernah di sisi 'Imran bin Hushain rodhiyallahu 'anhu dalam suatu rombongan dan di antara kami terdapat Busyair bin Ka'b. Maka 'Imran berbicara kepada kami pada suatu hari, dia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam: "Malu itu baik semuanya" atau beliau bersabda: "Malu itu adalah semuanya baik." Maka berkata Busyair bin Ka'b: "Sesungguhnya kami mendapati di sebagian kitab atau hikmah bahwa dari malu itu ada yang merupakan ketentraman dan penghormatan kepada Allah, tetapi pada malu itu juga ada kelemahan." Maka 'Imran pun marah sampai merah kedua matanya dan berkata: "Tidakkah kamu melihat aku, aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kamu menentangnya!!" (HR. Al-Bukhariy no.6117, Muslim no.37 dan lafazh ini milik Muslim)
 
Dari 'Abdullah bin Mughaffal rodhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk melempar dengan batu dan beliau bersabda: "Sesungguhnya melempar dengan batu itu tidak akan mendapatkan buruan dan tidak akan dapat mengalahkan musuh, tetapi hanya akan membutakan mata dan memecahkan gigi." Maka berkatalah seseorang kepada 'Abdullah bin Mughaffal: "Apa jeleknya hal ini?" Maka 'Abdullah bin Mughaffal berkata: "Sesungguhnya aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan seperti ini, maka Demi Allah... Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!" (HR. Al-Bukhari no.5479, Muslim no.1954 dan lafazh ini milik Ibnu Baththah di dalam Al-Ibaanah hadits ke-96)

Dari Abil Makhariq berkata: 'Ubadah bin Ash-Shamit rodhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Maka berkatalah seseorang: "Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa asalkan tangan dengan tangan (kontan)." Maka 'Ubadah berkata: "Aku berkata: "Telah bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan kamu mengatakan: "Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa", (maka) Demi Allah... Tidak akan menaungi aku dan kamu satu atap pun selama-lamanya!!" (HR. Ibnu Majah no.81, Ad-Darimiy no.443 dan lafazh ini milik Ad-Darimiy. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy)
Dari Salim bin 'Abdullah bahwa 'Abdullah bin 'Umar rodhiyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian ke masjid jika mereka meminta ijin kepada kalian untuk ke sana!"
Berkata Salim: Berkatalah Bilal bin 'Abdullah: "Demi Allah, kami akan melarang mereka."
Berkata Salim: "Maka 'Abdullah menghadap kepadanya (anaknya yaitu Bilal bin 'Abdullah) kemudian mencaci-makinya dengan suatu caci-makian yang jelek, yang aku belum pernah mendengar caci-makian seperti itu sama sekali. Kemudian 'Abdullah berkata: "Aku khabarkan kepadamu dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan: "Demi Allah, kami akan melarang mereka!!" (HR. Muslim no.442)
 
Dari 'Atha` bin Yasar: Bahwa seseorang menjual pecahan emas atau mata uang dengan yang lebih banyak dari ukuran nilainya. Maka berkatalah Abu Darda` rodhiyallahu 'anhu kepadanya: "Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam melarang dari hal yang seperti ini kecuali dengan yang senilai. Maka orang itu pun berkata: "Aku berpendapat yang seperti ini tidak apa-apa." Maka berkatalah Abu Darda`: "Siapakah yang bisa memberikan alasan kepadaku dari si fulan ini, aku mengatakan: "Dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan dia mengatakan kepadaku dari pikirannya, aku tidak akan tinggal di negeri yang kamu berada padanya!" (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-94)

Dari Al-A'raj berkata: Aku pernah mendengar Abu Sa'id Al-Khudriy rodhiyallahu 'anhu berkata kepada seseorang: "Tidakkah kamu mendengar aku, aku mengatakan dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Janganlah kalian menjual dinar dengan dinar, dirham dengan dirham kecuali dengan yang senilai dan janganlah kalian menjual darinya, yang segera (kontan) dengan yang ditunda!", sedangkan kamu berfatwa dengan apa yang kamu fatwakan, maka Demi Allah... tidak akan menaungi aku dan kamu selama aku hidup kecuali masjid." (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-95)

Dari Qatadah berkata: "Ibnu Sirin pernah mengajak bicara kepada seseorang dengan hadits dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, maka orang tersebut berkata: "Si Fulan telah berkata demikian dan demikian!" Maka Ibnu Sirin berkata: "Aku mengatakan kepadamu dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kamu mengatakan: "Si Fulan dan si Fulan telah berkata demikian dan demikian...!" Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!!" (Sunan Ad-Daarimiy no.441)

Berkata Abus Sa`ib: "Kami pernah di sisi Waqi', maka dia berkata kepada seseorang yang berada di sisinya, yang termasuk orang yang berpendapat dengan ra`yu: "Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah melakukan Isy'aar (yaitu merobek salah satu sisi pundak (punuknya) hewan (unta) sehingga mengeluarkan darahnya dan hal itu dijadikan sebagai tanda bagi hewan tersebut yang dengannya akan diketahui bahwasanya itu adalah hewan qurban, lihat An-Nihaayah 2/479)."
Berkatalah orang tersebut: "Bahwasanya telah diriwayatkan dari Ibrahim An-Nukha'iy, bahwa dia berkata: "Isy'aar adalah menyakitkan."
Berkata Abus Sa`ib: "Maka aku melihat Waqi' marah dengan marah yang sangat dan berkata: "Aku telah berkata kepadamu: "Telah bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan kamu berkata: "Telah berkata Ibrahim", (maka) tidaklah ada yang menghalangi kamu agar kamu ini dipenjara kemudian tidak dilepaskan sampai kamu menarik kembali dari ucapanmu ini!!" (Jaami'ut Tirmidziy 3/250)

Dari Kharzadz Al-'Abid berkata: "Abu Mu'awiyyah Adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun Ar-Rasyid suatu hadits: "Adam dan Musa saling berhujjah." (HR. Al-Bukhariy no.3409 dan Muslim no.2652 dari Abu Hurairah -pent.)
Maka berkatalah seorang bangsawan dari Quraisy: "Di mana dia (Adam) bertemu dengannya (Musa)?"
Maka Harun pun marah dan berkata: "(Untuk) orang yang berlebih-lebihan adalah pedang, seorang Zindiq yang mencela hadits." Maka Abu Mu'awiyyah pun terus berusaha menenangkannya (Harun) lalu berkata: "Jangan terburu-buru, Ya Amirul Mu`minin..." dan dia tetap belum paham, sampai (akhirnya) dia tenang. (Taariikh Baghdaad 41/7 dan Siyar A'laamin Nubalaa` 9/288)

Ikutilah Jejak Salafush Shalih!
Inilah nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tentang pengagungan terhadap Sunnah. Dan inilah sikap Salafush Shalih (shahabat dan tabi'in) terhadap orang-orang yang menentang Sunnah. Kamu lihat padanya terdapat kekuatan, keseriusan dan kekerasan terhadap orang yang muncul darinya sesuatu yang di dalamnya terdapat penentangan terhadap Sunnah.

Berkata Ibnul Qayyim: "Sesungguhnya Salafush Shalih sangat keras pengingkaran dan kebencian mereka terhadap orang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dengan akal atau qiyas atau istihsaan (menganggap baik sesuatu) atau dengan pendapat seseorang siapa pun orangnya. Dan mereka mengisolir terhadap orang yang melakukan hal tersebut serta mengingkari atas orang yang menjadikan bagi beliau tandingan-tandingan. Dan tidaklah mereka melakukan hal ini, melainkan hanya karena keterikatan dan ketundukan (mereka) kepada beliau serta menerimanya dengan pendengaran dan ketaatan, dan tidak pernah terbetik di dalam hati mereka untuk berhenti dari menerimanya.... (I'laamul Muwaqqi'iin 4/244)

Maka bandingkanlah antara sikap Salafush Shalih terhadap orang yang menentang Sunnah dengan sikap orang sekarang terhadap orang yang mengolok-olokkan Sunnah!!!

Dan sebelum itu lihatlah (terlebih dahulu) perkataan-perkataan mereka (Salafush Shalih), kemudian lihatlah perkataan-perkataan orang-orang sekarang. Adapun mereka (Salafush Shalih), kamu telah melihatnya. Sedangkan mereka, orang-orang sekarang, maka lihatlah contoh-contoh atas pengolok-olokan mereka (terhadap Sunnah):

1. Sebagian mereka ada yang menolak suatu hadits. Ketika dikatakan kepadanya: "Bahwasanya hadits tersebut terdapat di dalam Shahiih Muslim!" Maka orang itu berkata: "Letakkan hadits itu di bawah kakimu!!!" (Karena menurutnya bertentangan dengan Al-Qur`an, padahal tidak akan pernah As-Sunnah bertentangan dengan Al-Qur`an -pent.)

2. Berkata salah seorang di antara mereka dengan sangat kurang ajarnya -mengomentari terhadap hadits masalah lalat-: "Saya akan mengambil ucapan dokter kafir dan tidak aku ambil ucapan Rasul !!"

3. Berkata yang lain: "Apabila hadits bertentangan dengan akal, maka tolaklah hadits tersebut!" Maka dikatakan kepadanya: "Walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy?!" Dia berkata: "Ya, walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy dan tidak ada kemuliaannya!!!"

Demikianlah mereka memperolok-olokkan dan melecehkan Sunnah!
Maka bagaimanakah sikap orang-orang di zaman kita ini terhadap mereka (yang mengolok-olokkan Sunnah)? Dan bagaimanakah memperlakukan mereka, apakah dengan mengisolir, mencerca dan memutuskan hubungan dengan mereka?!
"Tidak... tidak demikian.... Bahkan orang-orang di zaman kita ini telah menganggap mereka ini sebagai para da'i, para 'ulama dan para mujaddid (pembaharu Islam)!!!"

Alangkah mengherankan...?!! Apabila telah demikian keadaan para da'inya, maka bagaimana pula dengan keadaan mad'unya (orang-orang yang diserunya)?!!"

Berkata Ibnu Baththah: "Ambillah pelajaran oleh kalian... Wahai orang-orang yang memiliki pandangan.... Alangkah jauhnya perbedaan antara mereka, orang-orang yang memiliki akal, para tokoh, orang-orang yang baik dan orang-orang pilihan (yakni Salafush Shalih), yang hati-hati mereka dipenuhi dengan ghiirah (kecemburuan) terhadap keimanan mereka dan marah kalau agama dicela atau dikurang-kurangi, dengan mereka (orang-orang) di zaman kita yang kita hidup di dalamnya, kita berada di antara punggung-punggung mereka (hidup bersama mereka)?!

Inilah 'Abdullah bin Mughaffal -shahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan tokohnya para tokoh mereka- memutuskan silaturrahmi dan meninggalkan kawan dekat/kekasihnya, ketika kawan dekatnya tersebut menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan dia juga telah bersumpah untuk memutuskan hubungan kepadanya dan meninggalkannya, dalam keadaan dia mengetahui apa-apa yang terdapat di dalam masalah silaturrahmi dan memutuskan hubungan kekeluargaan!

Begitu juga 'Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Darda` -Rasulullah telah menamakan beliau sebagai hakim ummat ini- serta Abu Sa'id Al-Khudriy, mereka semua pergi dari tempat tinggal mereka dan pindah dari negeri mereka serta menampakkan kepergian mereka kepada kawan-kawan mereka hanya dikarenakan ada seseorang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan tidak mau mendengarkan Sunnah!

Duhai kiranya.... Bagaimanakah keadaan kita nanti di hadapan Allah 'Azza wa Jalla, yang kita selalu bertemu dengan orang-orang yang menyimpang di waktu pagi dan sore, mereka selalu mengolok-olokkan ayat-ayat Allah dan menentang Sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, mereka menjauhkan diri dari Sunnah tersebut dan mengingkarinya?! Semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari penyimpangan dan ketergelinciran." (Al-Ibaanah hal.259)

Wahai Saudaraku.... Sesungguhnya memperolok-olokkan Sunnah dan mencemoohkannya adalah suatu kejelekan yang betul-betul kejelekan!!
Berkata 'Abdullah Ad-Dailamiy: "Telah sampai kepadaku bahwa pertama kali hilangnya agama ini adalah dengan ditinggalkannya Sunnah, akan hilang agama ini satu Sunnah demi satu Sunnah sebagaimana tali akan lapuk satu kekuatan demi satu kekuatan." (Sunan Ad-Daarimiy 1/58 dan Al-Laalikaa`iy 1/93)

Oleh karena itu.... Kembalilah wahai para da'i kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaful Ummah (Salafush Shalih).
"Maka setiap kebaikan itu di dalam mengikuti Salafush Shalih dan setiap kejelekan itu ada pada bid'ahnya orang-orang Khalaf (yang menyelisihi Salafush Shalih)."

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab di dalam risalahnya (Nawaaqidhul Islaam/ Pembatal-pembatal Keislaman):
"Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa-apa yang dibawa oleh Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam, walaupun dia beramal dengannya, maka dia telah kafir!! Dalilnya firman Allah Ta'ala: "Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (Al-Qur`an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amalan-amalan mereka." (Muhammad:9)
"Dan barangsiapa yang memperolok-olokkan sesuatu dari agama Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam atau pahala Allah atau siksaan-Nya, maka dia telah kafir!!" Dalilnya firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: "Apakah dengan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian cari alasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah:65-66)

Berkata Sulaiman bin 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdul Wahhab: "Para 'ulama telah sepakat atas kafirnya seseorang yang melakukan sesuatu dari hal itu (membenci atau istihzaa`), maka barangsiapa yang memperolok-olokkan Allah atau Kitab-Nya atau Rasul-Nya atau Agama-Nya, maka dia telah kafir secara ijma' (kesepakatan 'ulama) walaupun dalam keadaan bersenda gurau, tidak bermaksud benar-benar untuk memperolok-olokkannya." (Taisiirul 'Aziizil Hamiid hal.617)

Wahai Para Da'i.... Sesungguhnya perkara ini adalah sangat berbahaya sekali. Maka sesungguhnya kalian seandainya mau membandingkan antara apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut (dari kalangan munafiq -pent.) di dalam Perang Tabuk yang dengan sebabnyalah turunnya ayat ini (At-Taubah:65-66), dengan apa yang telah dikatakan oleh sebagian orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah pada hari ini, niscaya kalian akan mendapatkan bahwa perkataan mereka (orang-orang sekarang ini) lebih besar dan lebih keras lagi (kejelekannya) daripada perkataan mereka (orang-orang yang di zaman Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam). Wallaahul Musta'aan.

"Ya Rabb kami.... Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)." (Aali 'Imraan:8). Wallaahu A'lam.

Diringkas dari kitab "Ta'zhiimus Sunnah" karya 'Abdul Qayyum As-Sahaibaniy hal.35-53.
Sumber: Buletin Al Wala' Wal Bara' Edisi ke-30 Tahun ke-2

Monday, November 14, 2011

19 Tanda Ahlul Bid'ah, Waspadalah...



Kami akan sampaikan apa yang telah ditulis oleh Syaikh Dr. Ibroohim bin Muhammad bin ‘Abdillah Al Buraikan dalam kitab beliau: Ta’rif Al Khalaq Bi Manhaj As Salaf, dimana dalam kitab tersebut kita temukan sangat banyak identitas dan karakter para Ahlul Bid’ah, tidak kurang dari 19 macam.
Tanda-Tanda Ahlul Bid’ah tersebut adalah:

1.
Ahlul Bid’ah sangat memusuhi, menghina dan menganggap enteng kepada mereka pembawa berita dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Hal itu bisa kita temukan dalam apa yang diriwayatkan oleh Imaam Ash Shoobuuny رحمه الله dalam kitab beliau: ‘Aqiidatussalaf Ashaabul Hadiits.
Kata beliau رحمه الله  , dengan sanadnya dari Ahmad bin Sinaan Al Qaththoon, “Tidak ada di dunia ini seorang pun Mubtadi’ (seorang Ahli Bid’ah), kecuali dia yang membenci Ahlul Hadiits (Pembawa Hadits). Maka jika seseorang melakukan kebid’ahan, akan dicabut rasa lezatnya Hadits dari dirinya. Ciri Ahlul Bid’ah adalah mereka mencela, menghina, dan memusuhi Ahlul Atsar (Ahlul Hadits, Ahlus Sunnah).”

Kalau dari mereka ada yang mengaku Ahlus Sunnah, sebetulnya mereka jahil (tidak tahu / bodoh) terhadap apa itu Ahlus Sunnah. Kita harus secara jujur dan ‘ilmiah menyampaikan ‘ilmu kepada kaum muslimin tentang apa sebenarnya Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah menurut versi Ahlus Sunnah, bukan menurut versi Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah menurut mereka Ahlul Bid’ah adalah diantaranya Mujassimah. Maka kalau ada orang mengatakan Mujassimah itu Ahlus Sunnah, maka sebetulnya ia bukan lah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Mujassimah itu adalah menyatakan, meyakini bahwa Allooh سبحانه وتعالى berbentuk jism (fisik). Mereka mengatakan Allooh سبحانه وتعالى punya tangan, punya mata, punya hidung dstnya, dimana mereka mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, mereka disebut Mujassimah, dan mereka bukanlah termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meng-imani bahwa Allooh سبحانه وتعالى  itu baik Dzat-Nya maupun sifat-sifat-Nya adalah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Karena tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, sehingga Allooh سبحانه وتعالى tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan-Nya.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meyakini sebagaimana yang diberitakan dalam QS. Al Asy Syuroo (42) ayat 11 bahwa Allooh سبحانه وتعالى:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menetapkan bagi Allooh سبحانه وتعالى, apa yang Allooh سبحانه وتعالى  tetapkan untuk diri-Nya, dengan penetapan tanpa tamtsil (tanpa menyerupakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya) dan menyucikan tanpa ta’thiil ( mengingkari ).

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menetapkan bagi Allooh
سبحانه وتعالى pendengaran, penglihatan, ilmu, kekuasaan, kebersamaan (ma’iyyah), telapak kaki, betis, tangan dan lain-lain dari sifat-sifat yang telah Allooh سبحانه وتعالى sifatkan sendiri untuk diri-Nya dalam Al Qur’an dan melalui lisan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم dengan kaifiyyah yang hanya Allooh سبحانه وتعالى saja lah yang mengetahuinya, sedangkan kita tidak mengetahuinya, karena Allooh سبحانه وتعالى tidak mengkhobarkan kepada kita tentang kaifiyyah-Nya.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Fath (48) ayat 10 :
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
Artinya:
…. Tangan Allooh di atas tangan mereka…”

Dan firman Allooh سبحانه وتعالى  dalam QS. Al Qomar (54) ayat 14:
تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا
Artinya:
Yang berlayar dengan pengawasan Kami…”

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berbeda dengan Mujassimah
, karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak boleh men-tasybiih (menyerupakan) Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk. Sehingga kalau ada orang mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى adalah jism dan fisik dengan mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى itu dengan makhluk-Nya, maka ini bukanlah perbuatan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

2.
Ciri Ahlul Bid’ah adalah mencela dan menyalahkan Hadits dan Atsar, peninggalan-peninggalan yang diriwayatkan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabat beliau.

Sikap mereka terhadap Hadits, bukannya mengagungkan, menghormati, mengamalkan atau memperjuangkan demi tegaknya Hadits, tetapi mereka justru malah mencela. Yang mengatakan demikian adalah Imaam Al Barbahaary رحمه الله, dalam kitabnya Sarhussunnah,  kata beliau: “Jika engkau mendengar seseorang mencela peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atau menolaknya, atau menginginkan selain yang ditinggalkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jelas ia adalah Ahlul Hawa dan Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah).”
Maka bila terdengar dalam masyarakat, ada orang yang kepada Hadits itu sikapnya justru tidak senang, atau sikapnya adalah ingin mengubah, tidak suka, membenci, memusuhi dan sebagainya; maka ketahuilah bahwa orang itu bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, walaupun ia mengaku atau mengatas-namakan dirinya sebagai Ahlus Sunnah. Tetapi sebenarnya ia adalah Ahlul Bid’ah. Itulah yang dikatakan oleh Imaam Al Barbahary رحمه الله dalam kitabnya diatas.

Imaam Al Barbahary رحمه الله wafat pada tahun 329 Hijriyah, berarti perkara ini sudah diperingatkan dari hampir 900 tahun yang lalu.
Lalu dilanjutkan oleh Abu Nadhr bin Salaam Al Faqiih dalam kitab beliau ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits, kata beliau: “Tidak ada sesuatu yang dirasakan paling berat atas orang-orang yang menyeleweng dari Islam, tidak juga ada yang paling mereka benci, melainkan dari mendengarkan Hadits, riwayat Hadits dan Isnad Hadits.”

Maksudnya, jika Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم disampaikan, dibahas maka mereka justru tidak suka dan membenci, maka mereka itu adalah Ahlul Ilhaad.
Ahlul Ilhad adalah orang yang menyeleweng dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan termasuk dari Ilhad (berpaling dari kebenaran) adalah ta’thil (mengabaikan), tahrif (menyimpangkan), takyf (memvisualisasikan) dan tamtsil (menyerupakan) sifat-sifat Allooh, dengan tanpa berpedoman pada apa yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Padahal, tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allooh سبحانه وتعالى melainkan Allooh سبحانه وتعالى sendiri.

Allooh سبحانه وتعالى  berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 140:
قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ
Artinya:
Katakanlah: ‘Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allooh…’”

Dan tiada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allooh سبحانه وتعالى, setelah Allooh, daripada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atas izin-Nya. Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An-Najm (53) ayat 3-4 tentang beliau صلى الله عليه وسلم:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴿٤
Artinya:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

3.
Menamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan julukan-julukan yang rusak

Al Imaam Abu Haatim
رحمه الله dalam kitab ‘Aqiidatussalaaf, oleh Imaam Ash Shobuny رحمه الله dikatakan: “Ciri dari orang Zanadiqoh (orang-orang zindiq), mereka orang kaafir yang masuk kedalam Islam tetapi berpura-pura, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Sebenarnya ia munaafiq. Orang-orang tersebut menamakan Ahlus Sunnah sebagai Hasawiyah.” Yang dimaksudkannya adalah mereka ingin menolak peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Sedangkan Qodariyyah, ciri-cirinya adalah mereka itu menjelek-jelekkan Ahlus Sunnah sebagai Mujbiroh (artinya: orang pesimistis).
Tentang Qodariyyah, contohnya adalah dalam sebuah buku yang ditulis oleh Harun Nasution, dimana buku tersebut sekarang menjadi kurikulum di UIN. Dalam buku tersebut, mereka membuat pernyataan bahwa Ahlus Sunnah membuat mereka menjadi mundur, karena menurut prinsip mereka bahwa Ahlus Sunnah itu selalu pesimis.

Ini mengejutkan. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak lah seperti yang mereka sebutkan.

Sebenarnya yang pesimis adalah Jabariyyah, bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jadi ada kekeliruan atau salah menempatkan julukan di dalam buku tersebut. Kesalahan penempatan julukan itu dimungkinkan, karena yang dilihat oleh penulis buku tersebut (Harun Nasution) adalah realitas dalam kehidupannya, dimana notabene dalam masyarakatnya diajarkan tentang pesimistis. Itu sama sekali tidak benar, dan ia pun juga salah dalam menempatkan julukan. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak berpaham Jabariyyah dan tidak pula berpaham Qodariyyah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang tidak pesimistis sekali, tetapi juga orang yang tidak optimistis sekali. Melainkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang berada ditengah-tengah, diantara keduanya (Ahlul Kasab). Dan itu dibahas panjang lebar diantaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله dalam banyak tulisan beliau.

Kata beliau juga: “Tanda dari Jahmiyyah (kelompok dari Jahm bin Sofwaan), adalah mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat.” Karena menurut mereka, kalau Allooh سبحانه وتعالى mempunyai nama dan sifat maka berarti Allooh سبحانه وتعالى menjadi seperti makhluk. Agar Allooh سبحانه وتعالى tidak sama dengan makhluk, maka menurut mereka Allooh سبحانه وتعالى semestinya tidak punya nama dan sifat. Dan mereka menuduh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai Mutasyaabihah (orang yang mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya), dan pemahaman mereka (kelompok Jahmiyyah) tersebut adalah pemahaman yang keliru, ekstrim dan tidak sesuai dengan dalil.

Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman bahwa Allooh سبحانه وتعالى mempunyai Asmaaul Husna (nama-nama yang baik), dan sifat-sifat yang mulia. Dia lah Allooh سبحانه وتعالى yang memiliki semua sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan. Dia lah Allooh سبحانه وتعالى yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut. Perhatikan firman-Nya dalam QS. Al A’roof ayat 180:
وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Artinya:
Hanya milik Allooh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti yang dikatakan oleh ‘Ulama ‘Abdullooh bin Al Mubaarok رحمه الله, beliau menghukumi kelompok Jahmiyah tersebut sebagai orang kaafir, murtad, keluar dari Islam karena mereka telah kufur terhadap banyak ayat Al Qur’an. Bahkan ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menghukumi kelompok Jahmiyah sebagai orang-orang yang menghamba dan beribadah kepada sesuatu yang tidak ada. Kalau tidak punya nama, tidak punya sifat, berarti tidak ada. Padahal segala sesuatu itu punya nama, walaupun manusia ada yang belum tahu namanya. Karena Allooh سبحانه وتعالى sudah berfirman dalam Al Qur’an bahwa Allooh سبحانه وتعالى  telah mengajarkan kepada Nabi Adam عليه السلام seluruh nama.

Perhatikan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 31:
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Adapun jika ada orang yang belum tahu nama dari sesuatu, bukan berarti sesuatu itu belum ada namanya.

Sedangkan ciri-ciri dari orang Raafidhoh (Syi’ah) adalah mereka mengatakan bahwa Ahlus Sunnah adalah orang yang menempatkan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه sebagai Khaliifah, padahal menurut mereka (Syi’ah) semestinya bukan Abu Bakar رضي الله عنه, melainkan menurut mereka yang seharusnya menjadi Khaliifah adalah Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه. Pendapat itu berdasarkan suatu kedengkian, dan pemahaman tersebut adalah tidak benar.

Orang-orang Raafidhoh (Syi’ah) berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bila Raafidhoh terjatuh pada mencela dan mengkafirkan para shohabat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, bahkan yang termasuk Khulafaa Ar Roosyidiin seperti Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه akibat kedengkian mereka; maka sebaliknya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengajarkan untuk mencintai para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم karena para shohabat رضي الله عنهم adalah orang-orang pilihan Alooh سبحانه وتعالى untuk menemani Rosuul-Nya. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman bahwa Alooh سبحانه وتعالى meridhoi para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana yang Alooh سبحانه وتعالى sendiri firmankan dalam QS. At Taubah (9) ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allooh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allooh dan Allooh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
Janganlah kalian mencaci para shohabatku, janganlah kalian mencaci para shohabatku! Demi Allooh yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang diantara kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan mencapai satu mud pun (dari yang mereka infaqkan), tidak sampai pula setengahnya.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6651 dan Imaam Al Bukhoory no: 3673 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Sehingga dalam pandangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap orang-orang Raafidhoh : “Kalau saja mereka meyakini suatu keyakinan, yang keyakinan itu dibangun diatas khurofat (karena tidak bersambung kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena semua shohabat beliau mereka kafirkan termasuk Khulafaa Ar Roosyidiin, kecuali beberapa orang saja dari para shohabat), maka mereka sudah kaafir, sehingga mereka tidak berhak lagi untuk didengar riwayatnya.”
Dengan demikian maka seluruh hadits dari mereka (Raafidhoh) akan tidak bisa diriwayatkan dan tidak berhak untuk diyakini isinya, karena mereka telah menunjukkan kufur terhadap Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

4.
Ciri Ahlul Bid’ah adalah mencela para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

Seperti telah dijelaskan diatas, Raafidhoh (Syi’ah) itu selalu mencela shohabat Rosuul صلى الله عليه وسلم kecuali hanya beberapa orang diantara mereka saja. Maka hendaknya harus berhati-hati didalam membeli buku-buku dien, karena buku-buku Syi’ah tersebut sekarang banyak diterbitkan dan dijual di pasaran.
Imaam Al Barbaahary رحمه الله dalam kitab Sarhussunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ketahuilah olehmu bahwa orang tersebut telah mengeluarkan perkataan yang buruk dan ia adalah pengikut hawa nafsu.

Dan menurut Imaam Maalik رحمه الله, beliau berkata: “Jika engkau melihat seseorang yang mencela salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ketahuilah bahwa orang tersebut adalah munafiq, zindiq (kaafir tetapi berpura-pura Islam).”

Ada film CD yang telah beredar di tokoh-tokoh tentang kisah ‘Uthbah bin ‘Aamir رضي الله عنه, salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang dikisahkan dalam film CD itu bukanlah tentang kepahlawanan dan kepiawaian shohabat ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه, justru diceritakan bahwa ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه adalah orang yang arogan karena memaksa orang agar orang membayar pajak (istilah dalam film itu adalah ‘pajak’). Padahal ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه adalah orang yang adil. Demikianlah cara mereka menjelek-jelekkan shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

5.
Ciri Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah di masjid

Mudah-mudahan kita tidak termasuk ciri-ciri tersebut. Sholat Jum’at saja mereka enggan melaksanakannya, apalagi sholat fardhu berjama’ah secara rutin di masjid tentunya mereka lebih enggan lagi. Mereka hanya sholat berjama’ah tahunan saja, yaitu ketika sholat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.
Yang paling mengenaskan adalah sholat fardhu berjama’ah. Dalam suatu masjid, paling banyak hanyalah satu shaf ketika sholat Shubuh. Lalu dimana jama’ah yang jumlahnya banyak dikala sholat Jum’at dan sholat ‘Ied tersebut? Berarti sebagian besar orang masih suka melaksanakan sholat berjama’ahnya adalah pekanan atau tahunan saja. Padahal sholat pekanan itu ibaratnya seperti orang Nasrhoni, dimana hal itu tidaklah dibenarkan. Maka sekali lagi, hendaknya diingat bahwa meninggalkan sholat Jum’at dan meninggalkan sholat fardhu berjama’ah di masjid tanpa udzur adalah ciri-ciri Ahlul Bid’ah.
Imaam Al Barbahary رحمه الله dalam kitabnya mengatakan bahwa, “Siapa yang meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah tanpa udzur, maka orang tersebut adalah Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah). Tanpa udzur misalnya adalah karena sakit, atau takut dengan penguasa yang dzolim; maka selain daripada itu tidaklah disebut udzur.”

6.
Mendo’akan kejelekan terhadap penguasa

Imaam Al Barbahary
رحمه الله mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan kejelekan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah Ahlul Bid’ah.”

7.
Duduk bersama Ahlul Bid’ah, setelah tahu bahwa mereka adalah pelaku Bid’ah

Imaam Al Barbahary
رحمه الله mengatakan, “Jika ada orang yang duduk bersama Ahlul Bid’ah setelah ia mengetahui bahwa mereka adalah pelaku Bid’ah, maka hindarilah ia karena ia adalah Shoohibul  Hawaa (pengikut hawa nafsu), dalam hal ini adalah Ahlul Bid’ah.”

8.
Menyeru untuk memerangi pemimpin kaum muslimin dan menghalalkan darah orang lain

Imaam Al Barbahary
رحمه الله mengatakan, “Ketahuilah bahwa hawa nafsu itu semuanya jelek. Karena mereka menyeru / mengajak kepada pedang (pembunuhan). Dan yang paling jelek dan paling kaafir adalah Raafidhoh (Syi’ah), Mu’tazilah dan Jahmiyah. Sebab mereka menginginkan agar manusia melucuti aqidah yang baik dan kembali kepada kemunafiqan.”

9.
Menyepelekan hal-hal yang fardhu berkenaan dengan hidup berjama’ah

Kata Imaam Al Barbahary رحمه الله: “Jika engkau melihat seseorang yang menyepelekan hal-hal yang fardhu yang semestinya berlaku dalam suatu jama’ah betapapun bersama penguasa, ketahuilah bahwa orang tersebut adalah pelaku Bid’ah.”

10.
Menisbatkan sesuatu makalah kepada makalah-makalah yang keluar dari Sunnah (seperti Qodariyyah, Jahmiyyah, Murji’ah, Raafidhoh, dll)

Qodariyah
adalah golongan yang mengaku dirinya muslim, umat Muhammad صلى الله عليه وسلم, tetapi keyakinan mereka rusak. Karena mereka meyakini bahwa di dunia ini mereka lah yang berwenang mengatur diri mereka sendiri, tanpa ada campur tangan dari Allooh سبحانه وتعالى.
Murji’ah adalah golongan orang yang menganggap bahwa amalan itu boleh dikebelakangkan, kata mereka “yang penting kan hatinya…”. Dan yang seperti ini adalah banyak di masyarakat kita. Kalau melihat kemunkaran, mereka membiarkannya saja, tidak mau melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kata mereka, “Nafsi-nafsi saja lah…”, “Urusan dia adalah urusan dia, kita tidak perlu ribut...”, dan yang senada dengan perkataan-perkataan tersebut.
Padahal sebagaimana kita tahu bahwa kemunkaran itu sudah semestinya diubah.

Shohabat Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »
Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu pula maka dengan hatinya; dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 186 dari Abu Sa’iid Al Khudry رضي الله عنه)

Kapan kemunkaran itu akan hilang jika kita tidak mau melakukan tindakan konkrit untuk mengubah kemunkaran tersebut.

Jadi Murji’ah adalah orang yang mengatakan bahwa Iman itu cukup didalam hati saja, bukan dengan lisan dan bukan pula dengan perbuatan. Dan pendapat mereka ini keliru.

Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah senantiasa memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (amar ma’ruf nahi munkar). Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 110:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allooh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan dakwah dengan cara yang lembut, baik berupa perintah maupun larangan; dan menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nahl (16) ayat 125:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan wajibnya bersabar atas semua gangguan manusia dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam QS. Luqman (31) ayat 17:
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“… Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allooh).”

11.
Berwala’ kepada pernyataan yang mereka yakini

Imaam Ibnul Qayyim Al Jauziah
رحمه الله mengatakan dalam kitabnya Mukhtashor Ashowaa’iqil  Mursalah : “Ahlul Bid’ah itu loyalitasnya, permusuhannya dibangun diatas pernyataan yang mereka yakini.”
Dengan kata lain bahwa pernyataannya adalah subyektif, bukan berdasarkan dalil, melainkan berdasarkan pemahaman diri mereka sendiri. Dan yang seperti ini adalah tidak benar, dan yang demikian adalah ciri Ahlul Bid’ah.
Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menerima, mengambil dalil dan mengikuti (ittiba’) terhadap dalil yang datang dari Kitabullooh (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم yang shohiih baik secara dzahir maupun bathin, serta berserah diri (tasliim) kepada Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 36:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
Artinya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allooh dan Rosuul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allooh dan Rosuul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Juga Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allooh dan ta’atilah Rosuul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allooh (Al Qur’an) dan Rosuul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allooh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda,
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku tinggalkan dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu: ‘Kitabullooh’ dan ‘Sunnah Rosuul-Nya’.” (Hadits Riwayat Imaam Maalik dalam kitab Al Muwaththo’ no: 3338, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Misykaatil Mashoobiih)

Jadi Al Qur’an itu bergandengan dengan As Sunnah, karena Allooh سبحانه وتعالى mewajibkan semua hamba-Nya untuk taat kepada Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم, dan As Sunnah menjelaskan makna yang dikehendaki oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam Kitabullooh (Al Qur’an) tersebut.

Setelah itu, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti apa yang ditempuh oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dari kalangan Muhajirin dan Anshor secara umum dan Khulafaa Ar Roosyidiin secara khususnya. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan kepada ummatnya agar mengikuti para Khulafaa Ar Roosyidiin lalu mengikuti generasi berikutnya, yakni tiga generasi pertama yang dimuliakan (Shohabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in). Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaa Ar Roosyidiin yang telah mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru (dalam urusan dien), karena sesungguhnya segala sesuatu yang baru (dalam urusan dien) adalah Bid’ah dan segala yang Bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Al ‘Irbaadh bin Saariyah رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Al Albaany)

Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merujuk pada pemahaman para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Dan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tidak ada sesuatu  apa pun dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohiih itu dipertentangkan dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyaf (penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghoib), pendapat syaikh (guru, kyai, Ustadz) maupun imam; karena Dienul Islam telah sempurna semasa hidup Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS Al Maa’idah (5) ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً…
Artinya:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”

Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mendahulukan ucapan seseorang atas Kalamullooh (Al Qur’an) dan sabda Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم (As Sunnah). Karena mendahului Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya  صلى الله عليه وسلم adalah termasuk mengatakan atas nama Allooh  سبحانه وتعالى tanpa didasari oleh ‘Ilmu, dan itu adalah tipuan syaithoon.

Perhatikan peringatan Allooh سبحانه وتعالى dalam QS Al Hujuroot (49) ayat 1:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allooh dan Rosuul -Nya dan bertakwalah kepada Allooh. Sesungguhnya Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Sesudahnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merujuk kepada Ijma’ ulama yang mu’tabar dan bertumpu padanya, karena Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا يجمع الله أمتي على ضلالة أبدا و يد الله على الجماعة هكذا فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار
Sesungguhnya Allooh tidak mengumpulkan ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allooh diatas jama’ah. Barangsiapa yang menyimpang, maka ia akan menyendiri dalam Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 396 dan Imaam At Turmudzy, dari Ibnu ‘Umar, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

12.
Mendustakan terhadap kebenaran, dan mengkafirkan manusia dan jika ditegakkan kepada mereka hujjah baik itu dari Al Qur’an maupun As Sunnah, maka mereka justru kembali kepada mengisolasi Sunnah dan menghukum orang-orang yang berpegang kepada Sunnah jikalau mereka itu berkuasa.

Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. Al Isroo’ (17) ayat 46:
وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُوراً
Artinya:
“… dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.”

Maka jika di masyarakat terdapat arogansi seperti itu, tidak memberikan kebebasan kepada orang-orang yang jelas-jelas mempunyai argumentasi dari firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah identitas dari Ahlul Bid’ah.

13.
Mengambil Sunnah hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Seperti terdapat dalam QS. Az Zumar ayat 45:
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Artinya:
Dan apabila hanya nama Allooh saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allooh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.”
Jadi diantara ciri-ciri Ahlul Bid’ah adalah mengambil Sunnah hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, baik yang shohiih maupun yang dho’iif. Kata mereka, biarpun dho’iif, tetapi itu kan Hadits. Itu termasuk ciri-ciri Ahlul Bid’ah. Dan mereka meninggalkan hadits-hadits yang shohiih karena tidak sesuai dengan selera mereka.

14.
Meninggalkan apa yang terdapat dalam nash terhadap pernyataan orang.

Padahal, yang seharusnya dijadikan dalil adalah nash Al Qur’an maupun Sunnah, tetapi Ahlul Bid’ah ini justru menjadikan pernyataan/ perkataan orang sebagai dalil.

Berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang mempunyai pemahaman bahwa: Perkataan orang, siapa pun dia, tidak bisa dijadikan dalil, kalau ia bukan dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Imaam Maalik رحمه الله menyatakan:
كل يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر . وأشار إلى قبر النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
Setiap perkataan boleh diambil dan boleh ditolak kecuali jika berasal dari yang ada dalam kuburan ini.” Sembari beliau mengisyaratkan pada kuburan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Jadi, setiap orang boleh kita ambil perkataannya dan boleh kita tolak, tidak ada hak untuk memaksa seseorang mengambil apa yang ia katakan; asal saja itu bukan Hadits atau Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang shohiih.
Kalau sudah jelas itu bersumber dari Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم, maka tidak boleh ada orang yang memilah dan memilih. Harus diambil, karena itu adalah Wahyu dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau meninggalkannya berarti ingkar terhadap Sunnah Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم.

Ibnu Qoyyim al Jauziyah
رحمه الله mengatakan dalam kitabnya: “Ahlul Bid’ah meninggalkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah, hanya sekedar untuk menjadikan perkataan orang sebagai dalil dan argumen, kemudian Al Qur’an dan As Sunnah dikebelakangkan.”

15.
Menolak Sunnah, membenturkan Sunnah kepada pernyataan dan pendapat orang.

Ciri-ciri Ahlul Bid’ah adalah menolak Sunnah dan membenturkan Sunnah dengan pernyataan dan pendapat orang. Kalau sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka terima. Dan jika tidak sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka tolak. Penolakan itu adalah dengan meninggalkannya atau dengan cara men-ta’wil-kan Al Qur’an dan Sunnah tersebut.

Penyimpangan dalam aqidah bisa muncul dari berbagai hal, sehingga muncullah paham Mu’tazilah, yang mendahulukan akal daripada Wahyu (Al Qur’an dan Sunnah).

Demikian pula dengan orang Sufi, yang mendahulukan mimpi dan rasa daripada Wahyu (Al Qur’an dan Sunnah). Sehingga sebagai contoh, pernah muncul beberapa tahun yang lalu dengan apa yang disebut “Auraad Muhammadiyah”. Yang mengalami mimpi adalah Ashari Muhammad, tokoh Al Arqom di Malaysia. Menurut mereka, membaca dan mewiridkan Auraad adalah bagian dari ibadah. Dan itu bukanlah dalil, karena hanya berasal dari mimpi.
Juga dalam masyarakat yang sangat yakin dengan kata-kata kyai / ajeungan. Menurut mereka, tidak mungkin ajeungan itu salah. Mereka menganggap ajeungan itu ma’shum dan Al Qur’an maupun Sunnah mereka kebelakangkan. Sesungguhnya pemahaman mereka itu keliru dan sesat, dan mereka telah menyimpang dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sementara, Ahlu Sunnah Wal Jama’ah tidak meyakini adanya orang yang ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan) selain Rosuulullooh  لى الله عليه وسلم, dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendapat bahwa seseorang itu boleh ber-ijtihad dalam permasalahan yang tersembunyi (samar) sebatas kebutuhan darurot. Meskipun demikian, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidaklah fanatik terhadap pendapat seseorang, sehingga pendapat tersebut berkesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka berkeyakinan bahwa setiap mujtahid bisa benar dan bisa salah. Jika benar maka baginya dua pahala yaitu pahala ijtihad dan pahala kebenaran ijtihad-nya. Dan jika salah, maka baginya satu pahala yakni pahala ijtihad-nya saja. Sehingga hal ini tidak mengharuskan terjadinya permusuhan dan saling menjauhi, akan tetapi satu sama lain saling mencintai, walaupun ada perbedaan diantara mereka pada sebagian permasalahan Furu’ (cabang, dan bukan pada masalah yang Pokok). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mewajibkan seseorang dari kaum Muslimin untuk taklid pada madzhab fiqih tertentu, namun tidaklah mengapa jika atas dasar ittiba’ (mengikuti) dalil yang Syar’i. Karena itu, setiap muslim hendaknya berpindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain karena mengikuti dalil yang kuat. Karena, bagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mereka ikuti itu sebenarnya adalah dalilnya (yang datang dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) dan bukan madzhab-nya.

16.
Ahlul Bid’ah mengajak dan menyeru untuk menjadikan pendapat orang dan apa yang masuk kedalam akal mereka sebagai pemutus perkara.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa akal dan pendapat mereka layak menjadi pemutus perkara atas problem atau permasalahan di muka bumi ini; maka ketahuilah bahwa mereka bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, melainkan Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu mengatakan bahwa yang disebut dalil adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau bukan berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah maka bukanlah dali. Lalu bagaimana dengan Qiyas? Qiyas adalah juga dalil, tetapi pada urutan ke-empat; dan itu pun dalam masalah tertentu (masalah Khilaafiyah / Furu’ / cabang) dan bukan dalam masalah Pokok (‘Aqidah). Tidak ada Qiyas dalam urusan ‘Aqidah. Sedangkan dalil urutan ke-tiga adalah Ijma’ ush Shohaabah (Ijma’ Shohabat). Ada dalil yang mendukungnya seperti misalnya: Al Aql, Al His dan Al fitroh. Dan ketiganya merupakan pendukung saj, dalam arti: Jika ia memperkuat dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka pembuktian penguatannya diterima. Tetapi, jika tidak memperkuat dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka tidak diterima karena bertentangan dengan dalil.

17.
Ahlul Bid’ah lari dari da’wah yang menyeru pada Sunnah

Kalau mereka disuruh kepada Sunnah, maka mereka enggan dan lari daripadanya. Hal ini sudah dijelaskan dalam QS. Al Isroo’ ayat 46 dan QS. Az Zumar ayat 45, sebagaimana telah dibahas pada poin 12 dan 13 diatas.
18. Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang Bid’ah, yang tidak pernah Allooh سبحانه وتعالى turunkan.

Mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat. Jelas ini adalah Bid’ah.

Ada pula sebagian orang yang berkata-kata seperti ini: “..Mungkin Tuhan mulai bosan..”, maka itu adalah kata-kata Bid’ah. Tuhan dalam kata-kata itu maksudnya siapa? Kalau Tuhan adalah Allooh سبحانه وتعالى, berarti mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى bosan, dan bosan itu adalah negatif. Mustahil Allooh سبحانه وتعالى mempunyai sifat bosan.

Lalu mereka juga mengatakan, “Pendengaran Allooh sama dengan pendengaran kita,” jelas ini adalah pernyataan yang keliru, karena bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Asy Syuroo (42) ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:
“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”
Pernyataan-pernyataan yang menyimpang itu disebabkan oleh kejahilan mereka, dan yang seperti itu adalah tidak boleh. Hal ini telah dibahas dalam Tauhid Al Asma Wash Shifaat.

19.
Perpecahan dan Perselisihan

Diantara ciri Ahlul Bid’ah adalah Perpecahan dan Perselisihan. Jadi kalau banyak muncul perpecahan dan perselisihan, maka bisa jadi bukan lah tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tetapi masih Ahlul Bid’ah.
Perhatikan pernyataan Al Imaam Abul Qoosim Al Assahaany رحمه الله yang dinukil dari kitab beliau : “Adapun jika engkau perhatikan Ahlul Hawa dan Ahlul Bid’ah, maka akan engkau dapati mereka berpecah-belah, berselisih, berkelompok-kelompok, ber-hism (bergolongan/ berpartai) sehingga hampir-hampir saja engkau tidak temui ada dua orang dimana dua orang itu berjalan diatas satu jalan, baik itu dalam masalah Aqidah maupun dalam masalah lainnya. Justru satu sama lain saling mem-Bid’ahkan, bahkan sampai mengkafirkan satu sama lainnya. Engkau lihat mereka selamanya dalam keadaan perselisihan, kebencian, perpecahan dan habis umur mereka dalam keadaan tidak bersatu. Karena mereka bukanlah kaum yang berakal.”

Demikianlah tanda-tanda dan ciri-ciri serta karakter-karakter dari Ahlul Bid’ah, mudah-mudahan kita bisa mengetahuinya dan kita bisa mewaspadai; karena mereka bukannya mendekat kepada Sunnah, melainkan menjauhi Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Dikutip dari artikel: Tanda-Tanda Ahlul Bid'ah
Penulis:ust. Achmad Rofi'i Lc
Sumber url: ustadzrofii.wordpress.com