Tuesday, January 6, 2009

Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul : Wasiat Nabi kepada Ibnu 'Abbas
Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka at Taqwa
Cetakan : kedua, Februari 2008
Halaman : vi+110


Buku ini menjelaskan wasiat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam kepada seorang anak muda yang bernama Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma. Banyak wasiat yang diberikan oleh Rasulullah kepadanya. Diantaranya adalah wasiat untuk menjaga Allah.

Pada ringkasan ini hanya saya kutipkan sebagian wasiat yang dijelaskan di buku tersebut. Tidak semuanya. Yaitu hanya wasiat untuk menjaga Allah. Saya kutipkan dengan meringkasnya.



[JAGALAH ALLAH!!]
---------------------------
Maksudnya menjaga batas batas Allah, hak hak Nya, serta menjaga perintah perintah dan larangan larangan Nya. Yang dimaksud dengan menjaga batas batas Allah adalah dengan melaksanakan hal hal yang diwajibkan dan meninggalkan hal hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta menjaga hak hak Allah, sedangkan hak Allah yang terbesar atas para hamba Nya adalah mereka beribadah hanya kepada Nya dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu dan bentuk apa pun. Inilah asas amal, yaitu tauhid kepada Allah Ta'ala.

Orang orang yang menjaga batas batas Allah adalah orang orang yang terpuji. Allah telah menyebutkan hal ini dalam firman Nya (yang artinya):

"Mereka itu adalah orang orang yang bertaubat, yang beribadat, memuji (Allah), yang mengembara (demi ilmu dan agama), yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum hukum Allah. Dan gembirakanlah orang orang mu'min itu." (At Taubah: 112).

Melalui ayat ini, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa orang orang yang menjaga batas batas Allah termasuk orang orang yang beriman dan orang orang yang dijanjikan memperoleh Surga. Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):

"Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan peraturan Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat." (QS. Qaaf: 32-33).

Makna "hafiizh" di sini bermakna "haafizh", yaitu orang orang yang menjaga (melaksanakan) perintah perintah Allah atau orang orang yang menjaga diri dari dosa dosanya dengan selalu bertaubat kepada Allah.



[ALLAH AKAN MENJAGAMU]
-----------------------
Hal ini termasuk balasan dari jenis amal (al jazaa' min jinsil 'amal) seperti firman Allah Ta'ala (yang artinya):

"Dan penuhilah janjimu kepada Ku, niscaya Aku penuhi janji Ku kepadamu; dan hanya kepada Ku lah kamu harus tunduk (patuh)." (QS. Al Baqaraah: 40).

Juga dalam firman Nya (yang artinya):
Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku niscaya Aku akan ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat Ku." (QS. Al Baqarah: 152).

Penjagaan Allah kepada para hamba Nya yang selalu menjaga batas batas Nya ada dua macam:

Pertama,
Allah akan menjaga para hamba Nya dalam masalah / urusan duniawinya. Seperti penjagaan Allah atas badan, harta, anak, dan keluarga dari para hamba Nya.

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):
"Bagi manusia ada Malaikat Malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah." (QS. Ar Ra'd: 11).

Allah akan menjaga anak keturunan orang orang shalih yang menjaga batas batas Nya, sebagaimana firman Nya (yang artinya):

"Dan ayah kedua (anak ini) adalah orang shalih." (QS. Al Kahfi: 82).

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Di dalam (ayat ini) terdapat dalil bahwa seorang yang shalih akan senantiasa dijaga keturunannya oleh Allah, juga mencakup barakah ibadahnya untuk mereka (anak keturunannya) di dunia dan di akhirat."

Dengan kata lain, seorang anak akan dijaga oleh Allah Ta'ala dengan sebab ibadah orang tuanya.


Kedua,
Bahwa Allah akan menjaga para hamba Nya dalam masalah/urusan agama dan keimanannya, menjaga dirinya dari syubhat syubhat dan dari bid'ah bid'ah yang menyesatkan, serta Allah akan menjaganya dari syahwat yang diharamkan. Allah akan menjaga agamanya hingga ia meninggal dunia dalam keadaan memeluk agama Islam.



[PERSONAL VIEW]
---------------
Dari penjelasan ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas di buku ini, kita mengetahui bahwa yang dimaksud dengan menjaga Allah adalah dengan menjaga batas batas Allah, hak hak Nya, serta menjaga perintah perintah Nya dan larangan larangan Nya. Kita harus berupaya semaksimal mungkin semampu kita, disertai dengan meminta pertolongan Nya agar bisa menjaga batas batas Nya.

Dan bila kita sudah menjaga Allah maka Allah akan menjaga kita.

Dan Allah akan menjaga anak keturunan orang orang shalih yang menjaga batas batas Nya.


Demikian semoga bermanfaat.






Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
Jum'at mubarak, 26 Desember 2008 ketika maag dan gejala tipes
Semoga Allah mencintai saya

Kisah Umar bin Abdul Aziz

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul : Kisah-Kisah Teladan Umar bin Abdul Aziz
Penulis : Syaikh Usamah Na'im Musthafa
Penerbit : Daar An Naba'
Halaman : 192



Buku ini memuat kisah kisah teladan dari seorang khalifah Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah dari Bani Umayyah yang paling melarat. Beliau memerintah dengan adil selama sekitar 29 bulan. Pada masanya seluruh rakyatnya hidup makmur.

Beliau wafat pada tahun 101 Hijriyah pada hari Jum'at di Hams dalam usia tiga puluh sembilan tahun enam bulan.

Berikut ini saya kutipkan sebagian dari kisah kisah tersebut. Semoga bisa menginspirasi para pembaca untuk meneladani perjalanan hidup Umar bin Abdul Aziz.



[Kisah Tentang Pakaian Umar yang Hanya Satu]
---------------------------------------------
Maslamah bin Abdul Malik mengisahkan:
Suatu hari saya masuk ke kamar Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit untuk menjenguknya. Saat itu, saya melihatnya memakai baju yang lusuh, maka akupun berkata kepada Fatimah (istrinya), "Hai Fatimah binti Abdul Malik... hai Fatimah, cucilah pakaian Amirul Mukminin ini."

Fatimah menyahut, "Insya Allah kami akan melakukannya."

Kemudian saya kembali, namum keadaan pakaian tersebut masih tetap seperti semula. Maka akupun kembali berkata kepada Fatimah, "Hai Fatimah, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mencuci pakaian Amirul Mukminin? Sebab orang-orang akan menjenguknya."

Fatimah menjawab, "Demi Allah, dia tidak mempunyai baju lagi selain itu."



[Kisah Umar Bersama Salah Seorang Keluarganya
Dalam Masalah Buah Apel dan Penyuapan]
-------------------------------------------
Amir bin Muhajir mengisahkan bahwa suatu hari Umar bin Abdul Aziz ingin sekali makan apel. Lalu salah seorang lelaki dari anggota keluarganya menghadiahkan apel kepadanya.

Umar berkata, "Betapa harum dan enaknya apel ini." Setelah itu, dia berkata, "Wahai pelayan, kembalikan apel itu kepada orang yang telah memberikannya dan sampaikan salam kepada tuanmu, katakan kepadanya: "Hadiahmu telah sampai kepadaku sebagaimana yang engkau inginkan.'"

Saya (Amir bin Muhajir) pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, yang memberikan ini adalah anak lelaki pamanmu yang adalah salah seorang lelaki dari keluargamu. Bukankah engkau juga sudah mendengar kalau Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga memakan hadiah yang diberikan kepadanya?"

Umar berkata, "Celaka kamu. Hadiah pada masa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam adalah memang benar benar hadiah, sedangkan hadiah pada hari ini bagi kami adalah penyuapan."



[Kisah Orang Terkaya di Masa Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz]
--------------------------------------------------------------
Seorang anak lelaki Zaid bin Al Khathab mengisahkan:
Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah selama dua setengah tahun. Dia meninggal dunia disaat rakyat semua dalam keadaan sejahtera, sampai sampai saat seorang lelaki datang kepada kami untuk menyerahkan harta yang banyak dengan pesan, "Bagikan harta ini kepada orang yang kamu anggap miskin", maka kami tidak menemukannya. Dia terus menerus mencari orang miskin, namun tetap saja tidak menemukan sehingga dia kembali lagi sambil membawa hartanya.

Saat dia berniat memberikan hartanya kepada orang yang biasa membagikannya (amil zakat) kepada para fakir miskin, ternyata dia sudah tidak menemukannya sehingga diapun kembali sambil membawa harta yang ingin dia bagikan.

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membuat manusia merasa berkecukupan (menjadi kaya) melalui kekuasaan Umar bin Abdul Aziz.


[PERSONAL VIEW]
---------------
Khalifah Umar bin Abdul Aziz hidup dalam kesederhaan yang amat sangat. Padahal beliau adalah seorang khalifah, amirul mukminin, seorang pemimpin negara dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas, tetapi kehidupannya sangat sederhana. Amat jarang pemimpin yang seperti ini.

Saya pernah membaca pada sebuah harian ibu kota yang mengulas kehidupan seorang pemimpin di negara Amerika Latin. Wartawannya berdecak kagum dengan kesederhanaan pemimpin negara tersebut. Sayangnya dia tidak melihat kehidupan para pemimpin Islam yang adil seperti Umar bin Abdul Aziz. Bila dia melihatnya, tentu dia akan lebih berdecak kagum dengan kehidupan Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah yang hanya mempunyai satu baju yang tidak bisa dicuci karena hanya itu yang dia punya.

Kemudian beliau meninggalkan rakyatnya dalam keadaan berkecukupan hidup makmur. Seperti beliau lah seharusnya profil seorang pemimpin sejati.

Ya Allah, semoga suatu saat akan lahir putera Islam yang memimpin dengan adil seperti Umar bin Abdul Aziz. Semoga ada anak cucu keturunan kita yang menjadi pemimpin yang adil. Semoga Allah mengabulkan do'a ini.





Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
Di akhir tahun 2008 yang penuh hikmah, kami berbaik sangka kepada Mu, ya Rabb..
Semoga Engkau mengokohkan kami..

Wednesday, November 26, 2008

Bekal Menanti Si Buah Hati

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul : Bekal Menanti Si Buah Hati
Penulis : Yusuf bin Mukhtar As Sidawi
Penerbit : Cv. Media Tarbiyah
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Halaman : 76


Banyak hal yang perlu dipelajari dan diketahui oleh kaum muslimin untuk menjadi bekal bagi mereka agar menjadi ayah atau pun ibu yang sesuai dengan ajaran Islam. Ada beragam hal, mulai dari mencari pasangan, upaya mendapatkan anak, tahnik, aqiqah, menyusui, memberi nama, khitan, perkara pendidikan anak dan seterusnya. Hal- hal tersebut perlu diketahui agar tidak salah dalam mengasuh anak. Agar tujuan mendapatkan anak yang sholeh atau sholehah bisa terwujud.

Buku yang ringkas ini, kiranya menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui untuk menjadi bekal bagi mereka yang akan menjadi ayah atau ibu.

Berikut ini saya kutipkan sebagian isi dari buku tersebut dari pasal aturan pemberian nama di dalam Islam. Yang tentunya dengan meringkasnya.



[ M E M B E R I N A M A ]
---------------------------
Selanjutnya hendaknya diperhatikan adab-adab memberi nama sebagai berikut:
1. Hendaknya memilihkan nama-nama yang baik seperti 'Abdullah dan 'Abdur Rahman.

Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu'anhuma berkata:
"Rasulullah shallallahlu'alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya sebaik-baik nama kalian di sisi Allah adalah 'Abdullah dan 'Abdurrahman.'" (HR. Muslim no. 2132).

Hadits ini menunjukkan keutamaan nama 'Abdullah dan 'Abdur Rahman. Syaikh Bakr bin 'Abdullah rahimahullah menjelaskan susunan nama yang utama sebagai berikut:
a. Nama 'Abdullah dan 'Abdur Rahman.
b. Setiap nama yang disandarkan kepada nama Allah seperti 'Abdul 'Aziz, 'Abdul Malik, dan lainnya.
c. Setiap nama para Nabi seperti Adam, Ibrahim, Yusuf, 'Isa, Musa, dan sebagainya.
d. Setiap nama orang-orang shalih seperti nama pada Shahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.


2. Hendaknya mewaspadai nama-nama yang dilarang dalam Islam.
Sewajibnya bagi kaum muslimin untuk memperhatikan nama-nama anak mereka sehingga tidak bertentangan dengan syari'at dan tidak keluar dari kaidah bahasa Arab. Adapun nama-nama asing hasil impor dari negara kafir, maka ini merupakan kemaksiatan yang nyata, semisal: Jacklyn, Yuli, Diana, Susan, Vali, Victoria, Clara, Lara, atau Linda.

Demikian juga harus diwaspadai dari nama-nama yang jelek dan dilarang.
Diantaranya:
a. Setiap nama yang dihambakan kepada selain Allah, seperti: 'Abdur Rasul, 'Abdu 'Ali, 'Abdul Husain, dan juga 'Abdul Muththalib menurut pendapat yang shahih.
b. Setiap nama orang kafir yang khusus kalangan mereka.
c. Setiap nama dari Nama-Nama Allah seperti ar-Rahman, ar-Rahim, al-Khaliq, dan lainnya.
d. Setiap nama dari nama-nama patung sesembahan selain Allah seperti Lata, 'Uzza, Nailah, Hubal, dan lainnya.


3. Hendaknya mengubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang bagus.
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam seringkali menerapkan hal ini dalam beberapa riwayat seperti Barrah diganti Zainab, Hazn diganti Sahl, Ashiyah diganti Jamilah, Syihab diganti Hisyam, dan lain sebagainya.

4. Tidak mengapa memberi nama bayi dengan kun-yah.
Kun-yah yaitu nama yang diawali dengan "Abu" jika laki-laki dan "Ummu" jika perempuan. Hal ini merupakan suatu penghormatan dan kemuliaan.

Dari 'Urwah bahwasannya 'Aisyah radhiyallahu'anha pernah berkata kepada Nabi shallallahu'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, seluruh istrimu mempunyai kun-yah selain diriku." Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Berkun-yahlah dengan Ummu 'Abdillah." Setelah itu 'Aisyah selalu dipanggil dengan Ummu 'Abdillah hingga meninggal dunia, padahal dia tidak mempunyai seorang anak pun. (HR. Ahmad VI/107, 151).

Hadits ini menunjukkan disyari'atkannya kun-yah sekalipun belum punya anak. Maka hendaknya kaum muslimin menerapkan Sunnah ini baik kaum pria maupun wanita. Karena hal ini termasuk adab Islam yang tidak ada dalam agama-agama lainnya, sepengetahuan kami. Sungguh amat disayangkan banyak diantara kaum muslimin yang melupakan sunnah ini. Amat jarang sekali kita menjumpai orang yang berkun-yah padahal dia mempunyai banyak anak, apalagi yang belum punya anak!

Hanya saja tidak diperkenankan bagi kaum laki-laki berkun-yah dengan Abul Qasim,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ia berkata:
"Abul Qasim shallallahu'alaihi wa sallam berkata, "Pakailah namaku dan jangan berkun-yah dengan kun-yahku." (HR. Al Bukhari no. 3539).



[PERSONAL VIEW]
---------------
Memberi nama di dalam Islam mempunyai aturan. Inilah yang perlu diketahui oleh para calon ayah dan para calon ibu. Sudah seharusnya mereka memperhatikan aturan ini agar tidak salah dalam memberi nama kepada anak-anaknya.

Bila mereka ingin memberi nama, baiknya mereka mengetahui seluk-beluk nama tersebut. Misalnya, sudahkah sesuai dengan kaidah bahasa Arab? Atau bila mereka mengambil nama dari nama tokoh-tokoh di dunia ini, sudahkah mereka mengenali nama tokoh-tokoh tersebut? Tidak jarang mereka mengambil nama dari para tokoh-tokoh yang mereka kira memperjuangkan Islam, ternyata sebaliknya.

Demikian semoga bermanfaat.
Semoga Allah Jalla wa 'Ala mencintai saya dan Anda. Amiin.


Ringkasan buku ini dibuat oleh seseorang dengan kunyah Abu 'Isa
di Depok, 08 November 2008

Saturday, October 4, 2008

Jadwal Waktu Shalat Abadi

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul : Jadwal Waktu Shalat Abadi Menurut Al Qur'an dan As Sunnah
Penulis : Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin
Penerbit : Maktabah Al Hanif
Cetakan : Januari 2006
Halaman : 68



Allah berfirman (yang artinya):
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman". (An Nisa': 103).

Berdasarkan ayat yang mulia ini, perlu bagi kaum muslimin untuk mengetahui waktu-waktu shalat wajib. Alhamdulillah buku yang ditulis oleh Syaikh Utsaimin Rahimahullah sangat gamblang dan jelas memaparkan tentang waktu-waktu shalat tersebut. Dengan berdasar kepada Al Qur'an dan As Sunnah.

Berikut saya kutipkan sebagian dari buku tersebut semoga bisa menjadi penjelasan yang ringkas buat para pembaca. Pasal-pasal lainnya dalam buku tersebut tidak saya sertakan semata-mata untuk ringkasnya tulisan ini.


[PENJELASAN TENTANG WAKTU-WAKTU SHALAT]
-----------------------------------------
Alhamdulillah, Allah Ta'ala telah menjelaskan waktu-waktu ini dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wa sallam secara gamblang dan tuntas. Penjelasan yang terdapat dalam Kitabullah terdapat dalam firman-Nya Ta'ala (yang artinya):

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (Al Isra': 78).

Adapun dalil dari Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, telah disebutkan dalam Shahih Muslim dari 'Abdullah bin Amr bin al 'Ash Radhiyallahu'anhuma bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda (artinya):

"Waktu Zhuhur jika matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama tinggi dengan seseorang itu selama belum masuk waktu 'Ashar. Waktu 'Ashar sampai matahari berwarna kuning. Waktu shalat Maghrib selama sinar matahari belum hilang. Waktu shalat 'Isya' sampai tengah malam. Waktu shalat Subuh mulai terbitnya fajar selama matahari belum terbit."

Dalam salah satu riwayat disebutkan:
"Dan waktu 'Isya' sampai tengah malam dan beliau tidak membatasi dengan ausath (tengah-tengah)."

Berdasarkan ayat dan Sunnah Nabawiyah yang mulia di atas baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, tampaklah dengan jelas bahwa waktu-waktu shalat wajib adalah sebagai berikut:

1. Waktu shalat Zhuhur mulai matahari zawal, yaitu matahari telah melewati tengah-tengah langit, hingga panjang bayangan sesuatu sama dengan tingginya.

Penjelasannya adalah bahwa apabila matahari semakin naik, maka bayangan sesuatu sedikit demi sedikit akan menjadi semakin pendek hingga matahari condong ke arah barat. Apabila matahari telah condong ke arah barat, maka bayangan itu akan kembali memanjang. Ini berarti waktu shalat Zhuhur telah masuk. Demikian pula apabila bayangan sesuatu itu kembali memanjang hingga menjadi sama dengan panjang sesuatu itu, berarti waktu shalat Zhuhur telah
keluar (habis).


2. Waktu shalat 'Ashar dimulai ketika panjang bayangan sesuatu sama dengannya sampai matahari menguning atau memerah.

Adapun waktu daruratnya adalah sampai matahari terbenam. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwasannya Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda (artinya):

"Barangsiapa mendapatkan satu rakaat shala Shubuh sebelum matahari terbit, maka dia telah mendapatkan shalat Subuh, dan barangsiapa mendapatkan satu rakaat shalat 'Ashar sebelum matahari tenggelam, maka dia telah mendapatkan shalat 'Ashar". Muttafaq'alaih.


3. Waktu shalat Maghrib mulai terbenamnya matahari hingga hilangnya syafaq, yaitu cahaya kemerah-merahan.


4. Waktu shalat 'Isya yang akhir mulai hilangnya syafaq hingga tengah malam. Waktu shalat 'Isya' tidak sampai terbitnya fajar. Allah Ta'ala berfirman dalam al Qur'an (artinya): "Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam", Allah tidak mengatakan: "sampai terbitnya fajar". As Sunnah juga telah menjelaskan bahwa waktu 'Isya' berakhir hingga tengah malam sebagaimana tersebut dalam hadits 'Abdullah bin 'Amr Radhiyallahu'anhuma.


5. Waktu shalat Fajar (Subuh) mulai terbitnya fajar kedua - yakni munculnya cahaya putih yang membentang di ufuk timur, yang sesudah itu tidak ada gelap lagi - sampai terbitnya matahari.



[PERSONAL VIEW]
---------------
Berdasarkan firman Allah (yang artinya):
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman". (An Nisa': 103).

Maka sudah seharusnya kita mengetahui waktu-waktu shalat yang diwajibkan Allah kepada kita kaum muslimin. Penjelasan tentang waktu-waktu shalat tersebut ada pada ayat yang lainnya
yaitu Surat Al Isra': 78 dan perinciannya ada pada hadits-hadits diantaranya hadits dari 'Abdullah bin 'Amr bin al 'Ash Radhiyallahu'anhuma yang telah disebutkan di atas.

Alhamdulillah, dari membaca buku karya Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin ini, kita bisa memahami bahwa tidak mungkin seorang muslim hanya berpegang kepada Al Qur'an semata. Tetapi harus juga berpegang kepada As Sunnah (hadits). Kalau seorang muslim hanya berpegang kepada Al Qur'an semata, tentu dia akan kebingungan dengan waktu-waktu shalat yang diperintahkan dalam Al Qur'an. Penjelasan yang rinci tentang waktu-waktu shalat tersebut ada pada Sunnah Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam. Berkata Syaikh 'Utsaimin dalam buku ini

"Keduanya -yakni Al Qur'an dan Sunnah- berasal dari sisi Allah Ta'ala." (hal. 14).

Kemudian Syaikh membawakan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam (artinya):

"Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al Kitab (al Qur'an) dan sesuatu yang serupa dengan itu bersamanya (yakni as Sunnah)." (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad shahih).



Demikian, semoga ringkasan ini bermanfaat. Amiin.
Terima kasih kepada Maktabah al Hanif atas ijinnya membuat ringkasan ini.






Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
di Depok, 05 Syawal 1429 H / 05 Oktober 2008

Monday, September 15, 2008

Inti Dakwah Syaikh Al Albani

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul : Inti Dakwah Syaikh Al Albani
Penulis : Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi
Cetakan : Pertama, Mei 2008
Halaman : x+123


Risalah yang ada di buku ini pada asalnya adalah muhadharah ilmiyyah manhajiyyah yang disampaikan oleh Syaikh Albani rahimahullah di kota Mufriq, Yordania. Kemudian Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari menyusunnya menjadi sebuah buku dan memberi catatan kaki padanya.

Banyak hal yang dapat kita ambil manfaatnya dari ceramah beliau yang dibukukan ini. Diantaranya adalah kewajiban berpegang kepada Al Qur'an, Sunnah Rasulullah, dan pemahaman Salafush Shalih. Inilah tiga pilar dakwah yang diserukan oleh Syaikh Al Albani.

Berikut ini saya kutipkan sebagian isi dari buku ini tentang berpegang kepada ketiga pilar tersebut. Saya kutipkan dengan meringkasnya.



[BERPEGANG KEPADA KITABULLAH, SUNNAH RASUL,
DAN PAHAM SALAFUSH SHALIH]
-------------------------------------------

...
Firman Allah (yang artinya):
"Katakanlah apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu?" (QS. Az Zumar: 9).

"Allah Meninggikan derajat orang orang yang beriman diantara kalian dan orang orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al Mujadillah: 11).

Lalu ilmu apakah yang Allah memuji para pemiliknya tersebut, dan para pemakainya dan orang-orang yang menempuh jalannya?

Jawabannya adalah seperti yang dikatakan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah


Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasul-Nya
dan perkataan para shahabat, bukanlah kepalsuan

Ilmu bukanlah suatu upaya bodoh
untuk membuat pertentangan

Antara Rasul dan pendapat seorang ahli fiqih.
Sekali-kali tidak! Ilmu tidak untuk mengingkari sifat
Allah dan menafikannya agar terhindar dari tamtsil dan tasybih.



Jadi, definisi ilmu kita ambil dari kalimat dan dari syair di atas yang jarang kita dengar dari perkataan para penyair, karena syair ulama berbeda dengan syair para penyair. Beliau (Ibnul Qoyyim) adalah seorang ulama dan pandai bersyair dan beliau juga bersyair:

Ilmu adalah Allah berfirman, di tingkat pertama
Rasulullah bersabda, di tingkat kedua
Shahabat berkata, di tingkat yang ketiga


...
Yang sudah diketahui oleh para da'i bahwa Islam adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan ini adalah benar. Tidak diragukan lagi. Namun bagaimana cara memahami kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya? Kekurangan inilah yang diisyaratkan oleh Ibnul Qoyyim dalam syairnya di atas. Beliau sebut setelah Al Qur'an dan Sunnah adalah Shahabat.


...
Mereka (shahabat) adalah generasi pertam dari tiga zaman yang dipersaksikan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dengan kebaikan. Oleh Ibnul Qoyyim digabungkan setelah Kitab dan Sunnah. Namun apakah penggabungan ini berasal dari sekadar pikiran ijtihad dan istinbath beliau? yang memungkinkan terjadi kesalahan di dalamnya?


Jawabannya adalah tidak. Bahwa yang disampaikan oleh Ibnul Qoyyim bukan sekedar istinbath (mengambil kesimpulan hukum) dan juga bukan ijtihad yang masih ada kemungkinan kesalahan padanya, akan tetapi itu adalah i'timad (penyandaran langsung) atas Kitab Allah Ta'ala dan hadits Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.

Adapun dari Kitab Al Qur'an adalah (yang artinya):

"Barangsiapa yang menentang Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan kami masukkan ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali." (An Nisaa: 115).

Dalam firman Allah Ta'ala: "Dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin." Allah tidak mencukupkan Firman-Nya pada kata-kata: "Barang siapa yang menentang Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam setelah jelas kebenaran baginya," kemudian langsung menyebut: "...kami biarkan ia dalam kesesatan..." Tidak demikian redaksi ayatnya.

Akan tetapi Allah berfirman setelahnya: "... dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman..." untuk sebuah hikmah dan maksud yang dalam.

...
Dan jika orang-orang yang menentang Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, diancam dengan adzab neraka, maka begitu pula sebaliknya: Orang-orang yang mengikuti jalan kaum mukmin mereka dijanjikan dengan surga.

...
Maka dari itulah kami katakan, khususnya pada zaman ini, zaman di mana pendapat dan pemikiran, madzhab-madzhab, partai-partai dan jama'ah-jama'ah simpang siur saling bertentangan sampai-sampai banyak para pemuda yang hidup dalam kegamangan tidak tahu kepada jama'ah apa ia akan bergabung dan dari sini akan datang jawaban dalam ayat dan hadits yang telah disebutkan; "... ikutilah jalannya orang-orang beriman...!" Namun apakah maksudnya orang-orang yang beriman di zaman sekarang kita ini?

Jawabnya tidak! Akan tetapi mengikuti orang-orang yang beriman pada zaman awal Islam yaitu zaman shahabat Salafush shalih. Merekalah yang seharusnya menjadi qudwah (contoh) kita dan bukan selain mereka di muka bumi ini, dengan demikian dakwah kami ditegakkan di atas tiga rukun utama yaitu di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dengan mengikuti pemahaman Salafush Shalih.

...

Saya yakin sebab dari banyaknya perselisihan yang terus diwariskan dari firqoh-firqoh zaman dahulu yang sudah dikenal, dan perselisihan zaman sekarang adalah mereka tidak merujuk kepada sumber yang ketiga yaitu pemahaman Salafush Shalih, dan semua mengklaim berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul!

Banyak saya dengar hal ini dari pemuda-pemuda yang bingung. Para pemuda itu berkata:
"Wahai saudaraku mereka mengatakan: 'Al Kitab dan As Sunnah' dan yang lain juga mengatakan 'Al Kitab dan As Sunnah!' Lalu bagaimana kita bisa memilah dan memilih yang benar?"
Jawabannya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul dengan pemahaman Salafush Shalih.

Barang siapa yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul tanpa berpegang kepada pemahaman Salafush Shalih maka ia sebenarnya tidak berpegang kepada Kitabullah dan tidak pula berpegang kepada Sunnah Rasulullah, akan tetapi ia berpegang, berpedoman kepada akalnya, kalau tidak saya katakan kepada hawa nafsunya!




[PERSONAL VIEW]
---------------
Alhamdulillah, penjelasan dari Syaikh Albani di buku ini begitu jelas dan runut. Yang saya kutipkan pada ringkasan ini adalah kewajiban untuk berpegang kepada pemahaman para Salafush Shalih sebagaimana ditegaskan dalam surat An Nisa: 115. Dalam ayat tersebut dinyatakan keharusan mengikuti jalannya orang-orang beriman.

Siapakah orang-orang beriman pada ayat tersebut? Tidak lain adalah para shahabat. Karena ketika turunnya ayat tersebut (An Nisaa: 115) tidak ada orang-orang yang beriman selain dari para shahabat.

Maka inilah yang menjadi pilar yang ketiga, setelah berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul. Yaitu berpegang kepada pemahaman para shahabat, para salafush shalih. Barang siapa yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul tanpa berpegang kepada pemahaman salafush shalih, maka ia sebenarnya tidak berpegang kepada Kitabullah dan tidak juga berpegang kepada Sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.



Demikian semoga bermanfaat.
Semoga Allah Jalla wa 'Ala mencintai saya dan Anda. Amiin.


Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
di Depok, 15 Ramadhan 1429 H/ 15 September 2008

Wednesday, April 16, 2008

Kebeningan Amal Tersembunyi

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com/

Judul : Al Akhfiya' Al Manhaj was Suluk
Penulis : Walid bin Sa'id Bahkam
Penerjemah : Kathur Suhardi
Edisi Indonesia : Kebeningan Amal Tersembunyi
Penerbit : Darul Falah
Cetakan : Pertama, Oktober 2002 M
Halaman : 120 halaman


Buku ini banyak memuat kisah-kisah para salafush shaleh yang suka menyembunyikan amal shalih mereka, tidak suka pamer, mencari ketenaran, dan tidak pula ujub. Mereka inilah yang tidak dikenali oleh penduduk bumi, tetapi sangat dikenal oleh para penghuni langit. Berikut saya kutipkan sebagian kisah-kisah dari buku tersebut. Semoga bermanfaat.


[DALIL KEDUDUKAN AMAL YANG DISEMBUNYIKAN]
----------------------------------------------------------
Diantaranya adalah firman Allah Jalla wa 'Ala (yang artinya) :

"Jika kalian menampakkan shadaqah (kalian), maka itu adalah baik sekali. Dan, jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian. Dan, Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan." (Al Baqarah: 271).

Ibnu Katsir berkata dalam menafsiri ayat ini, "Firman Allah, 'Jika kalian menampakkan shadaqah (kalian), maka itu adalah baik sekali', artinya jika kalian menampakkannya, maka itulah harta yang paling baik. Sedangkan firman-Nya, 'Dan, jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian'; disini terkandung dalil bahwa menyembunyikan shadaqah itu lebih baik daripada menampakkannya, karena hal itu lebih jauh dari riya', kecuali jika menampakkannya mendatangkan kemaslahatan yang kuat, seperti agar orang-orang mengikuti jejaknya, sehingga menampakkannya lebih baik daripada menyembunyikannya.


[AMAL YANG DISEMBUNYIKAN DALAM LAPANGAN JIHAD DAN PEPERANGAN]
-------------------------------------------------------------
Maslamah bin Abdul Malik bersama pasukannya mengepung salah satu benteng Romawi. Sementara tidak ada jalan masuk ke dalam benteng kecuali satu pintu. Setelah pengepungan berlalu sekian lama, Maslamah berseru di tengah pasukannya, "Siapa yang berani menerobos pintu, maka jika dia mati saat menerobosnya, maka dia akan mendapatkan surga, insya Allah. Jika dia selamat, maka tanah yang ada di balik pintu itu patut diserahkan kepadanya, lalu dia harus membuka pintu itu agar pasukan Islam dapat masuk ke dalam benteng sebagai pemenang."
Ada seorang prajurit berdiri, yang mukanya ditutup kain, seraya berkata,"Aku akan melakukannya wahai Amir."
Selama tiga hari Maslamah bin Abdul Malik bertanya-tanya, "Siapakah orang yang mengenakan tutup muka? Siapakah yang telah membuka pintu benteng?" Tak seorang pun yang bangkit.
Pada hari ketiga dia berkata, "Aku bersumpah agar orang yang mengenakan tutup muka menemui aku, kapan pun waktunya, siang atau malam."

Maka pada tengah malam ada yang mengetuk pintu tendanya. Maslamah bertanya,"Engkaukah orang yang mengenakan tutup muka?"Orang itu menjawab, "Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya.""Apa itu?" tanya Maslamah.

"Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kepada orang-orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apa pun dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai orang yang memiliki keistimewaan," kata orang itu. Dengan kata lain, dia tidak menginginkan apa-apa."Aku terima," kata Maslamah. Orang itu berkata, "Memang akulah orang yang mengenakan tutup muka itu."

Maka Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Maka di antara doa Maslamah, "Ya Allah, himpunkan aku bersama orang yang mengenakan tutup muka. Ya Allah, himpunkan aku bersama orang yang mengenakan tutup muka.

Ke pundak orang-orang semacam itulah Allah Azza wa Jalla melimpahkan barakah-Nya.


[AMAL YANG DISEMBUNYIKAN DALAM LAPANGAN IBADAH]
-----------------------------------------------
Amr bin Qais Al Mala'y berpuasa selama dua puluh tahun, sementara keluarganya tidak mengetahuinya. Dia mengambil makan siangnya lalu pergi ke tokonya, lalu dia menshadaqahkan makan siangnya itu dan dia sendiri berpuasa, sementara keluarganya tidak mengetahui hal itu.


[DALAM HAL MERAHASIAKAN AMAL KEBAJIKAN]
---------------------------------------
Dari Abu Hamzah Ats Tsumaly, bahwa Ali bin Al Husain membawa roti di atas punggungnya pada malam hari lalu mencari orang-orang miskin di kegelapan malam. Dia berkata, "Sesungguhnya shadaqah yang diberikan pada kegelapan malam dapat memadamkan kemurkaan Allah."
Dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata, "Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu, sementara mereka tidak tahu siapa yang telah memberi makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin Husain meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam hari."
Dari Amr bin Tsabit, dia berkata, "Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang melihat bekas punggungnya, yaitu bekas kantong makanan yang biasa dia panggul untuk diberikan kepada para wanita janda."
Syaibah bin Nu'amah berkata, "Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang mendapatkan seratus keluarga yang dia santuni. Karena itulah dia dianggap orang bakhil. Pasalnya, dia menyalurkan infaq secara rahasia, sementara keluarganya mengira dia menumpuk dirham. Sebagian diantara mereka berkata, "Kami tidak pernah kehilangan shadaqah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi hingga Ali meninggal dunia."


[PERSONAL VIEW]
---------------
Membaca kisah-kisah di dalam buku ini, akan membuat kita terkagum-kagum dengan para salafush saleh yang beramal dengan niat ikhlash menjauhi dari riya'. Amal shaleh yang mereka kerjakan mereka sembunyikan, sampai-sampai orang-orang terdekatnya tidak mengetahuinya. Semua dilakukan untuk Allah semata. Agar menjadi rahasia antara dirinya dengan Allah saja.


Demikian semoga bermanfaat.
Semoga Allah Jalla wa 'Ala mencintai saya dan Anda. Amiin.


Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
di Depok, 16 April 2008

Monday, March 24, 2008

Tafsir Surat al Mulk

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com/

Judul : Tafsir Al Mulk
Penulis : Al Imam al Hafizh 'Imaduddin Abul Fida' Isma'il bin Katsir ad Dimasyqi
Penerjemah : Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf, LC
Penerbit : Media Tarbiyah
Cetakan : Pertama, Oktober 2007
Halaman : 76


Buku ini cukup ringkas yang memuat tafsir Surat Al Mulk karya Imam Ibnu Katsir yang kemudian diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf, LC.

Berikut sebagian dari isinya yang bisa saya kutipkan buat Anda.


KEUTAMAAN SURAT AL MULK]
------------------------------------
Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Muhammad dan Ibnu Ja'far, keduanya berkata: Telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Qatadah dari 'Abbas al Jusyami dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwa sallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya ada satu surat yang berjumlah tiga puluh ayat yang memberikan syafa'at kepada yang menghafalkannya sampai ia diampuni, itu adalah surat at Tabarak (Al Mulk)."
Hadits di atas diriwayatkan oleh penyusun kitab Sunan yang empat dari hadits Syu'bah. Dan Imam at Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, kitab ash Shalah bab Ayat AyatAl Qur'an (II/57, no. 1400); at Tirmidzi dalam Sunannya, kitab Keutamaan Al Qur'an bab Keutamaan Surat Al Mulk (V/151, no. 2890); an Nasa-i dalam Sunannya, kitab 'Amalul Yaum wal Lailah bab Keutamaan Membaca Surat at Tabaarak (al Mulk), hal. 433, no. 310; Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Adab, bab Pahala al Qur'an (II/1244, no. 3786), Ahmad dalam Musnad (II/299), al Hakim dalam al Mustadrak (II/398), dan beliau berkata, "Hadits ini sanadnya shahih hanya saja Imam al Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkannya."Dan disepakati oleh Imam adz Dzahabi).

Imam ath Thabrani dan al Hafizh adh Dhiya' al Maqdisi meriwayatkan dari jalan Salam bin Miskin dari Tsabit dari Anas, ia berkata, "Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

'Ada satu surat dalam Al Qur'an yang akan berdebat membela yang menghafalkannya sehingga akan bisa memasukkannya ke dalam Surga, yaitu surat at Tabaarak (al Mulk).'"
Hadits ini disebutkan oleh Imam as Suyuthi dalam ad Durrul Mantsur (VI/246), al Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-id (VII/1231) dari Anas bin Malik. Beliau berkata, "Diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dalam al Mu'jamush Shaghiir dan al Mu'jamul Ausath dan para perawinya adalah para perawi shahih.").



[PERSONAL VIEW]
---------------------
Untuk menetapkan sesuatu itu memiliki keutamaan, perlu ada dalilnya, baik dari al Qur'an atau dari hadits Nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Dari hadits ini kita dapat mengetahui bahwa surat al Mulk mempunyai keutamaan, seperti yang telah disebutkan pada hadits di atas. Untuk itu patut bagi kita agar dapat menghafal surat al Mulk ini. Apalagi melihat ganjaran yang begitu besar bagi para penghafalnya. Tentunya menghafal semata dirasa tidak cukup. Kita pun perlu memahami makna dan tafsirnya.

Demikian semoga bermanfaat.


Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak
di Depok, 21 Maret 2008

Monday, February 4, 2008

Kedudukan Jihad dalam Islam

... Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com

Judul : Kedudukan Jihad dalam Syari'at Islam
Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka At Taqwa
Cetakan : Kedua, April 2007
Halaman : ii + 46


"Barangsiapa yang berperang supaya kalimat Allah tinggi, maka ia fii sabiilillaah (di jalan Allah)." [HR. Al Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad(IV/392, 397, 402, 405, 417) dari Abu Musa al Asy'Ari radhiyallahu'anhu.]

Berikut saya kutipkan sebagian isi dari buku tersebut dengan meringkasnya. Footnote pada buku tersebut tidak saya sertakan semata-mata untuk ringkasnya tulisan ini.


[KEUTAMAAN JIHAD]
-----------------
Keutamaan jihad sangat banyak sekali, diantaranya adalah:
1. Geraknya mujahid (orang yang berjihad di jalan Allah) di medan perang itu diberikan pahala oleh Allah.
2. Jihad adalah perdagangan yang untung dan tidak pernah rugi.
3. Jihad lebih utama daripada meramaikan Masjidil Haram dan memberikan minum kepada jama'ah haji.
4. Jihad merupakan satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid).
5. Jihad adalah jalan menuju surga.
6. Orang yang berjihad, meskipun dia sudah mati syahid namun ia tetap hidup dan diberikan rizki.
7. Orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa tidak berbuka dan melakukan shalat malam terus-menerus.
8. Sesungguhnya Surga memiliki 100 tingkatan yang disediakan Allah untuk orang yang berjihad di jalan-Nya. Antara satu tingkat dengan yang lainnya berjarak seperti antara langit dan bumi.
9. Surga di bawah naungan pedang.
10. Orang yang mati syahid mempunyai 6 keutamaan: (1) Diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, (2) dapat melihat tempatnya di Surga, (3) akan dilindungi dari adzab kubur, (4) diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari kiamat, (5) diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, dan (6) dapat memberikan syafa'at kepada 70 anggota keluarganya.
11. Orang yang berjihad di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.
12. Orang yang mati syahid, ruhnya berada di qindil (lampu/lentera) yang berada di Surga.
13. Orang yang mati syahid diampunkan seluruh dosanya, kecuali hutang.



[TUJUAN DISYARIATKANNYA JIHAD]
------------------------------
Jihad memerangi musuh Islam tujuannya agar agama Allah tegak di muka bumi, bukan sekedar membunuh mereka.

Allah Al 'Aziiz berfirman (yang artinya):
"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah saja. Jika mereka berhenti (dari memerangi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim." (Al Baqarah: 193).

Ibnu Jarir ath Thabari rahimahullah berkata: "Perangilah mereka sehingga tidak terjadi lagi kesyirikan kepada Allah, tidak ada penyembahan kepada berhala, kemusyrikan dan ilah-ilah lain. Sehingga, ibadah dan ketaatan hanya ditujukan kepada Allah saja tidak kepada yang lain." (Tafsiiruth Thabari (II/200).

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah ... " (HR. Al Bukhari no. 25 dan Muslim no. 22 dari Ibnu 'Umar radhiyallahu'anhuma).

Abu 'Abdillah al Qurthubi rahimahullah berkata: "Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa sebab 'qital' (perang) adalah kekufuran."

Syaikh as Sa'di rahimahullah berkata:
"Maksud dan tujuan dari perang di jalan Allah bukanlah sekedar menumpahkan darah orang kafir dan mengambil harta mereka, akan tetapi tujuannya agar agama Islam ini tegak karena Allah di atas seluruh agama dan menghilangkan (mengenyahkan) semua bentuk kemusyrikan yang menghalangi tegaknya agama ini, dan itu yang dimaksud dengan 'fitnah' (syirik). Apabila fitnah (kemusyrikan) itu sudah hilang, tercapailah maksud tersebut, maka tidak ada lagi pembunuhan dan perang."

Jadi, jihad disyariatkan agar agama Allah tegak di muka bumi. Karena itu sebelum dimulai peperangan diperintahkan untuk berdakwah kepada orang-orang kafir agar mereka masuk Islam. (Muhimmatul Jihad oleh 'Abdul Aziz bin Rais ar Rais).



[PERSIAPAN SYAR'I]
------------------
Jihad syar'i harus memiliki persiapan syar'i dan persiapan itu terbagi menjadi dua:
Pertama, persiapan pembinaan keimanan sehingga umat dapat menegakkan hakekat ibadah kepada Allah Rabb semesta alam, melatih jiwa mereka di atas Kitabullah, mensucikan hati mereka di atas Sunnah Nabi-Nya shallallahu'alaihi wa sallam sehingga mereka dapat menolong agama Allah 'Azza wa Jalla dan syariat-Nya.

Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya (yang artinya):
"Dan sungguh Allah pasti menolong siapa saja yang menolong (agama)-Nya." (Al Hajj: 40).

Kedua, persiapan fisik, yakni mempersiapkan jumlah pasukan dan perlengkapannya untuk melawan musuh-musuh Allah dan memerangi mereka.

Allah Jalla Jalaaluh berfirman (yang artinya):
"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (al Anfaal: 60).

Menghidupkan kewajiban jihad dengan segala ketentuan syariatnya adalah wajib dengan memenuhi syarat-syaratnya.

Memberikan sifat kepada orang-orang yang menghidupkan jihad yang fardhu (wajib) -menurut ketentuan syariat- dengan kata-kata terorisme adalah kesalahan yang besar, fitnah, tuduhan yang tidak benar dan kesalahan yang fatal serta kebodohan yang sangat.

Adapun melakukan kekacauan (anarki), menteror orang, melemparkan bom, bunuh diri dengan bom mobil, menakut-nakuti orang yang aman atau orang-orang yang dijaga keamanannya oleh negara, membunuh anak-anak, wanita dan orang tua dengan nama jihad dari agama ini adalah tidak benar, perbuatan ini menentang Allah Ar Rafiiq, Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa sallam dan kaum mukminin. Mereka telah keluar dari jalannya ulama yang pemahaman ilmunya sangat mendalam.



[PERSONAL VIEW]
----------------
Berkata Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam penutup di buku ini:
"Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini dapat menambah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta dapat meluruskan beragam pemahaman kaum Muslimin yang salah dan keliru tentang masalah jihad." (hal. 43).

Dan semoga ringkasan ini pun dapat meluruskan pemahaman yang keliru tentang jihad.

"Barangsiapa yang berperang supaya kalimat Allah tinggi, maka ia fii sabiilillaah (di jalan Allah)." [HR. Al Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad(IV/392, 397, 402, 405, 417) dari Abu Musa al Asy'Ari radhiyallahu'anhu.]



Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 01 Februari 2008

Thursday, January 3, 2008

Menyongsong Fajar Kemenangan Islam

.. Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com

Judul : Menyongsong Fajar Kemenangan Islam
Penulis : Al Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah
Penyusun : Syaikh Salim bin 'Ied al Hilali
Penerjemah : Abu Sumayyah Beni Sarbeni, LC
Penerbit : Media Tarbiyah
Cetakan : Pertama/ November 2007
Halaman : 125

Seperti telah kita ketahui bersama bahwa kaum muslimin sekarang ini telah ditimpa oleh kehinaan yang menyebabkan kaum muslimin lemah dihadapan umat yang lain. Padahal kondisi seperti ini tidak seharusnya terjadi. Menarik untuk diselidiki bagaimana kehinaan bisa menimpa kaum muslimin? Apa
penyebabnya? Setelah kita mengetahui penyebabnya, maka diharapkan kita bisa memberikan solusi atas keterpurukan ini. Untuk kemudian bisa melepaskan kehinaan yang menimpa kaum muslimin dan membawa kaum muslimin ke alam kejayaan sebagaimana telah dialami oleh generasi sebelumnya.

Buku ini merupakan karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah yang kemudian disusun ulang dan diberi catatan oleh murid beliau yaitu Syaikh Salim bin 'Ied al Hilali. Di dalamnya dijelaskan tentang penyebab keterpurukan yang dialami oleh kaum muslimin. Selanjutnya Syaikh memberikan solusi untuk mengatasi keterpurukan tersebut.

Syaikh Albani menerangkan di buku tersebut bahwa keterpurukan ini telah disketsakan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dalam sebagian hadits-hadits tsabit, diantaranya:

"Jika kalian telah berjual beli dengan cara 'inah, kalian pun telah mengikuti ekor-ekor sapi, ridha terhadap pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, yang (kehinaan tersebut) tidak akan bisa dicabut hingga kalian kembali kepada agama kalian." (As Silsilah Ash Shahiihah no. 11).

Syaikh Albani melanjutkan tentang penyebab keterpurukan ini,
"Dalam hadits ini dapat kita ketahui bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyebutkan beberapa penyakit yang menyebar, bahkan meliputi kaum muslimin. Dalam hadits di atas beliau menyebutkan dua penyakit sebagai permisalan bukan untuk membatasi:

Penyakit pertama: Terjatuhnya kaum muslimin ke dalam berbagai perbuatan haram dengan berbagai siasat, padahal ia mengetahuinya.

Penyakit kedua: Dari perkara yang diketahui dan disepakati oleh kaum muslimin tentang penyimpangannya dari syariat Islam."

Untuk penyakit yang pertama, Syaikh Albani menyebutkan contohnya adalah 'inah, yang pada hakikatnya adalah pinjaman dengan tambahan. Dengan demikian termasuk dalam riba. Dalam hal ini Syaikh Albani berkata,

"Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyebutkan jual beli 'inah, hal ini hanya merupakan contoh, bukan pembatasan. Dengannya, beliau Shallallahu'alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa setiap perbuatan haram yang dilakukan oleh seorang muslim, lalu ia menganggapnya sebagai
amalan halal dengan berbagai jalan takwil, maka akibatnya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghinakannya, dan Allah pun akan menghinakan kaum muslimin apabila perbuatan tersebut telah merebak dan menyebar di kalangan mereka."

Untuk penyakit yang kedua Syaikh Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sibuk dengan usaha dan berjalan di belakang gemerlapnya dunia. Kemudian lupa dengan kewajiban dan tenggelam dalam pertanian, peternakan, dan usaha yang lainnya. Dan diantara kewajiban yang dilupakan itu adalah
jihad di jalan Allah. Ini adalah penyebab kaum muslimin tertimpa kehinaan. Dan solusinya adalah
"Hingga kalian kembali kepada agama kalian" sebagaimana disebut dalam hadits Nabi di atas.

Berkata Syaikh Albani,
"Sungguh, kita telah terjangkiti penyakit ini yang akhirnya menjadikan kita sakit, yakni kita berada dalam kehinaan. Karenanya, hendaklah kita mengambil obat yang disifati dan dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, bahwa jika kita kembali kepadanya niscaya kehinaan itu akan Allah
lenyapkan."

Untuk kembali kepada agama bukanlah perkara yang mudah. Bahkan ini perlu kerja keras.

Syaikh Albani melanjutkan,
"Jadi, saya tegaskan bahwa satu-satunya jalan adalah kembali kepada agama, namun -seperti diketahui oleh semua, khususnya orang-orang faqih- banyak sekali masalah dalam agama ini yang diperdebatkan, dan perbedaan ini tidak hanya terbatas pada sedikitnya masalah cabang, bahkan sebaliknya, perbedaan
ini banyak terjadi dalam masalah 'aqidah ..."

Berkata Syaikh Albani menjelaskan yang dimaksud dengan kembali kepada agama,
"Lalu, agama bagaimana yang mesti dijadikan tempat kembali?! Apakah agama yang berdasarkan madzhab si fulan, atau madzhab lainnya? Dan perhatikanlah perbedaan yang terjadi diantara madzhab yang empat, yang kita katakan sebagai madzhab Ahlus Sunnah. Kemudian, agama manakah yang menjadi solusi agar kehinaan tersebut dilenyapkan dari kita? Padahal jika kita kembali kepada salah satu madzhab,
maka kita akan mendapati beberapa masalah-masalah -bahkan puluhan atau ratusan masalah- yang menyelisihi Sunnah, jika sebagiannya tidak dikatakan menyelisihi Al Qur'an. Karenanya, kami melihat bahwa perbaikan -yang harus dilakukan oleh setiap da'i dan orang-orang yang menyerukan tegaknya daulah Islamiyah dengan ikhlas- adalah memberikan pemahaman kepada diri mereka sendiri terhadap
Islam sebagai langkah pertama.
Langkah kedua, memberikan pemahaman kepada umat akan hal itu, dan tidak ada jalan untuk kembali kepada Islam yang hakiki seperti yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan MEMPELAJARI AL QUR'AN DAN ASSUNNAH".

Pada beberapa halaman berikutnya Syaikh Albani menegaskan,
"Maka kembali kepada agama adalah kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah, karena itulah yang dimaksud agama berdasarkan kesepakatan para Imam, dan itulah jaminan agar kita tidak menyimpang dan tidak juga terjerumus ke dalam kesesatan. Oleh karena itu Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Aku telah tinggalkan dua hal bagi kalian di mana kalian tidak akan tersesat setelah (berpegang teguh kepada) keduanya; yaitu Kitabullah dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang kepadaku di haudh (telaga)." (Shahiihul Jaami' no. 2937)."

Kemudian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata,
"Ungkapan terakhir dari saya tentang "Kembali kepada Agama" adalah:
Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan dan terlepas dari segala kehinaan, maka tidak cukup dengan mewujudkan langkah yang telah saya isyaratkan sebelumnya, yakni tidak cukup hanya dengan meluruskan pemahaman, atau dengan melenyapkan berbagai pendapat yang menakwilkan dalil-dalil syar'i di
kalangan para ulama dan ahli fiqh."

"Bahkan ada perkara lain yang sangat penting dari proses pemurnian, yaitu amal, karena sesungguhnya ilmu adalah media dalam mencapai pengamalan. Jika Anda mengenal seseorang yang berilmu dan ilmunya pun bersih lagi jernih, akan tetapi ia tidak mengamalkannya, maka sangat logis jika kita mengatakan bahwa ilmunya tidak berbuah. Oleh karena itu ilmu haruslah disertai pangamalan. Dan wajib bagi para ulama membina generasi muslim yang baru di bawah naungan ajaran Al Qur'an dan As Sunnah. Maka, tidak dibenarkan mereka membiarkan manusia berada di atas ajaran yang mereka dapat dari berbagai pemahaman yang salah, sebagian darinya merupakan kebathilan yang disepakati, dan sebagian lainnya diperdebatkan walaupun secara ijtihadi terdapat sisi kebenaran, akan tetapi sebagian dari ijtihad tersebut bertentangan dengan Sunnah."
"Pembinaan inilah yang akan membuahkan masyarakat Islam yang murni, dan pada akhirnya Daulah Islamiyah bisa ditegakkan. Tanpa dua pendahuluan ini, yaitu ilmu dan tarbiyah yang benar menuju pengamalan, maka mustahil -menurut keyakinan saya- Islam atau Daulah Islamiyah bisa tegak."


[EPILOG]
---------------
Membaca dan memahami dari apa yang diterangkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah, bahwa agar kaum muslimin bisa mencapai kejayaannya, tidak bisa ditempuh kecuali dengan kembali kepada agama Islam. Dan hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan kembali kepada Al Qur'an dan
As Sunnah. Tentu saja yang dimaksud dengan As Sunnah adalah hadits-hadits yang sah yang bisa dijadikan pegangan.
Kemudian, bila kita telah sepakat untuk kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah, tentu kita harus meninggalkan pendapat-pendapat dari madzhab yang bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Pada ringkasan ini tidak saya sertakan contoh-contoh yang dibawakan oleh Syaikh Albani, semata-mata untuk ringkasnya tulisan ini.

Demikian secara sangat ringkas apa yang bisa saya kutip dari buku Menyongsong Fajar Kemenangan Islam. Saya berharap agar apa yang saya tuliskan ini mempunyai nilai di sisi Allah Jalla wa 'Ala dan mempunyai andil untuk kemenangan yang kedua setelah kemenangan yang pertama di tangan Muhammad al Fatih al Utsmani yang membebaskan negeri Konstantinopel. Amiin.

Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 02 January 2008

Monday, December 3, 2007

Ikhlas - Syarat Diterimanya Ibadah

.. Ringkasan Buku ...
http://buku-islam.blogspot.com



Judul : Ikhlas - Syarat Diterimanya Ibadah
Penulis : Husain bin 'Audah al 'Awayisyah
Penerjemah : Beni Sarbeni
Pengedit Isi : Arman bin Amri, Lc
Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir
Cetakan : Kedua - Januari 2006
Halaman : xviii + 242



Upaya untuk menjadikan suatu ibadah yang kita lakukan itu bernilai ikhlas
hanya untuk Allah merupakan perkara yang tidak mudah. Bahkan lebih berat
daripada amal ibadah itu sendiri. Padahal keikhlasan merupakan salah satu
syarat diterimanya suatu ibadah sebagaimana banyak diterangkan dalam ayat Al
Qur'an dan hadits Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam. Bisa jadi pada saat
kita beribadah, kita telah mengikhlaskan segalanya untuk Allah. Tetapi di
lain waktu, karena terdorong riya' kita pun membeberkan ibadah yang telah
kita sembunyikan untuk Allah semata. Hanya kepada Allah kita meminta
pertolongan.


Buku ini menerangkan banyak hal kepada kita. Agar kita bisa beramal dengan
ikhlas dan menghindari dari sifat riya'. Simaklah persyaratan agar amal
diterima Allah; Perintah untuk ikhlas dan peringatan agar terhindar dari
riya'; Renungkan pula apa yang dimaksud dengan mengosongkan hati hanya untuk
Allah semata. Perlu juga Anda ketahui macam-macam riya' dan kesalahan
sebagian masyarakat yang menganggap suatu amal sebagai riya' padahal bukan
riya', atau yang dianggap ikhlas padahal bukan ikhlas. Dengan memahami buku
ini semoga Anda bisa mengetahui bagaimana caranya agar dapat beramal secara
ikhlas hanya untuk Allah semata.



Berikut saya kutipkan sebagian dari buku tersebut dengan meringkasnya.



[MACAM-MACAM RIYA']
--------------------
1. Riya' badan
Yaitu dengan memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar orang lain
melihat bahwa dia adalah orang yang rajin dalam beribadah, sangat takut akan
akhirat, atau dengan suara yang lembut, menampakkan mata yang cekung atau
dengan menampakkan kelayuan badan agar menunjukkan bahwa dia adalah orang
yang selalu rajin di dalam berpuasa.

2. Riya' dari segi perhiasan
Dengan membuat bekas sujud pada muka, atau dengan memakai hiasan khusus,
yang sebagian kelompok menganggapnya bahwa dia adalah seorang ulama, dia
memakai pakaian tersebut agar disebut sebagai seorang alim.

3. Riya' dengan ucapan
Ini paling banyak dilakukan oleh ahli agama ketika memberikan nasihat, dan
menghafal suatu riwayat ketika berbicara, menampakkan keluasan ilmu,
menggerakkan dua bibir dengan dzikir di hadapan orang lain, menampakkan
kemarahan ketika mengingkari kemungkaran di hadapan orang lain dan
memelankan suara dan melembutkannya ketika membaca al Qur'an agar hal
tersebut menunjukkan rasa takut, sedih dan kekhusyu'an.

4. Riya' dengan perbuatan
Seperti riya' orang yang melakukan shalat dengan lama berdiri, ruku' dan
sujud, dan dengan menampakkan kekhusyu'an. Riya' dengan puasa, berperang,
haji, shadaqah, juga yang lainnya.

5. Riya' dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya
Seperti orang yang berusaha untuk mengundang para ulama atau ahli ibadah ke
rumahnya agar dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya si fulan telah mengunjungi
si fulan," atau dengan mengundang banyak orang ke rumahnya agar dikatakan
kepadanya, "Bahwa ahli agama selalu datang dan pergi kepadanya."



[YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN RIYA'
DAN SYIRIK PADAHAL BUKANLAH DEMIKIAN]
--------------------------------------
1. Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik.
Diriwayatkan dari Abu Dzarr radhiyallahu'anhu, beliau berkata:
"Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam ditanya, "Bagaimana menurut baginda
tentang orang yang melakukan suatu perbuatan baik, lalu orang lain
memujinya?" Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, "Itu adalah
kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan." (HR. Muslim no 2642
(166)).

2. Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah.
Al Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (ha. 234),
"Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang ahli di dalam bertahajjud,
lalu dia melakukan shalat pada kebanyakan malam, padahal kebiasaan dia
melakukan shalat hanya dalam satu jam saja, dia menyesuaikan dirinya dengan
mereka, dan dia berpuasa ketika mereka melakukan puasa. Jika bukan karena
mereka, niscaya tidak akan timbul di dalam dirinya kegiatan seperti ini.
Sebagian orang menyangka bahwa sikap seperti ini merupakan riya', bahkan
secara umum hal ini sama sekali bukanlah riya', akan tetapi di dalamnya ada
perincian, yang bahwa setiap mukmin pada dasarnya sangat senang untuk
melakukan ibadah-ibadah kepada Allah, akan tetapi berbagai kendala telah
menghalanginya, begitu pula banyak kelalaian yang telah melupakannya,
mungkin saja menyaksikan orang lain telah menyebabkan kelalaian tersebut
lenyap."

Kemudian beliau berkata,
"Dia harus menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di
mana dia dapat melihat orang lain sedangkan orang lain tidak dapat
melihatnya, jika dia melihat jiwanya yang tenang dengan beribadah, maka
itulah hati yang ikhlas, sedangkan jika jiwanya itu tidak tenang, maka
ketenangan jiwanya ketika beribadah di hadapan orang lain adalah sebuah
sikap riya', dan kiyaskanlah yang lainnya kepadanya.

3. Memakai pakaian atau sandal yang baik.
Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu
Mas'ud radhiyallahu'anhu dari Nabi shallallahu'alaihi wa sallam,
sesungguhnya beliau bersabda:

"Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar
atom," lalu seseorang berkata, "Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian
yang indah dan sandal yang indah," Rasul bersabda, "Sesungguhnya Allah indah
dan menyukai yang indah, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan
meremehkan orang lain." (HR. Muslim no. 91 (147), at Tirmidzi no. 1999).

4. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya.
Secara syara' ini merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, sebaliknya
seseorang tidak diperbolehkan untuk menampakkan kemaksiatan, hal ini
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:

"Semua umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara
terang-terangan, dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara
terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada malam
hari, dan Allah subhanahu wa ta'ala telah menutupinya, kemudian pada waktu
pagi hari dia mengatakan, 'Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan
itu,' padahal Allah telah menutupinya sedangkan pada pagi hari dia membuka
apa-apa yang telah Allah tutupi." (HR. Al Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990
(52)).

5. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta.
Al Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal.
218), "Yang tercela adalah seorang manusia yang mencari ketenaran, sedangkan
keberadaannya yang merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala tanpa
dicari, maka hal tersebut sama sekali tidak tercela, akan tetapi
keberadaannya merupakan fitnah bagi orang-orang yang lemah."



[MENGOBATI PENYAKIT RIYA'
DAN BERLEPAS DIRI DARINYA]
-------------------------------
1. Mengetahui keagungan Allah subhanahu wa ta'ala, Nama-Nama-Nya,
Sifat-Sifat-Nya dan penuh perhatian terhadap ketauhidan sesuai dengan
kemampuan.
2. Mengetahui siksa dan nikmat kubur.
3. Mengetahui hadits-hadis yang menjelaskan tenang adzab Neraka.
4. Mengetahui segala sesuatu yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang
yang bertakwa di Surga sesuai dengan kemampuannya.
5. Mengingat kematian dan pendeknya harapan.
6. Mengetahui nilai dunia dan kefanaannya.
7. Do'a.
8. Rasa takut bahwa riya' tersebut adalah kesempatan terakhir bagi amal
Anda.
9. Banyak melakukan amal kebaikan yang tidak disaksikan oleh orang lain, dan
tidak memberitahukannya kepada orang lain kecuali jika dibutuhkan.
10. Bersahabat dengan orang yang tampak di pandangan Anda bahwa mereka
adalah orang-orang yang selalu melakukan keikhlasan, amal shalih, dan
ketakwaan.
11. Takut melakukan riya'.
12. Menjauhi celaan Allah.
13. Lebih cinta diingat oleh Allah daripada diingat oleh makhluk.
14. Mengetahui segala sesuatu yang dapat mengusir syaitan.



[YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN
IKHLAS AKAN TETAPI TIDAKLAH DEMIKIAN]
--------------------------------------
1. Terkadang keikhlasan bercampur dengan sesuatu keinginan jiwa, seperti
orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan
kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang, ini
sama sekali bukan kesempurnaan ikhlas kepada Allah.

3. Terkadang seseorang melakukan riya tidak dengan menampakkan ibadahnya
dengan ucapan, baik secara sendirian maupun terang-terangan, akan tetapi
dengan tanda-tanda, seperti menampakkan kelesuan, muka pucat, suara
dilemahkan, bekas air mata dan banyak mengantuk sebagai akibat dari
banyaknya shalat malam.

5. Terkadang seseorang merasa berat untuk melakukan tahajjud setiap malam,
tetapi ketika datang kepadanya seorang tamu, maka dia akan merasa ringan dan
mudah untuk melakukannya.

7. Terkadang seseorang datang kepada suatu undangan, karena pengetahuannya
bahwa makanan di tempat tersebut akan lebih baik daripada makanan di
rumahnya, artinya yang mendorong dirinya untuk mendatangi undangan tersebut
adalah kesenangan akan makan dan bukan karena melaksanakan ketaatan kepada
Allah dalam memenuhi undangan.



[PERSONAL VIEW]
------------------
Ada dua syarat agar amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah Jalla wa
'Ala. Yang pertama adalah ikhlas dan yang kedua adalah sesuai dengan
syari'at Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.
Bagaimana jadinya bila amal ibadah yang kita lakukan tidak disertai dengan
niat ikhlas untuk Allah? Allah Jalla wa 'Ala menjelaskan,

"... Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu...."
(QS. Az Zumar: 65).

Dalam buku ini menjelaskan pentingnya untuk ikhlas dalam beribadah
kepada-Nya, sehingga jerih payah kita dalam beribadah tidak sia-sia.
Termasuk yang perlu untuk diketahui oleh kita adalah apa-apa yang dianggap
sebagai ikhlas dan apa-apa yang dianggap sebagai riya' dan syirik. Jangan
sampai karena kelalaian kita, kita menganggapnya sebagai ikhlas, tetapi
sebenarnya adalah riya', atau sebaliknya. Maka sudah sepatutnya kita
memahami masalah ikhlas ini.

Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya
semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam:


"... Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku
termasuk orang-orang yang sesat." (QS. al An'aam: 77).






Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 02 Desember 2007