Monday, November 7, 2011

Isbal Bukan Pada Celana (Kontroversial)

Oleh : Anwar Baru Belajar

Berbicara mengenai isbal adalah berbicara masalah agama, berbicara masalah agama bukanlah masalah yang  main-main, sebab konsekwensinya adalah berhubungan ففي النار  (neraka). Maka jujur saja, tidak ada seorangpun yang ingin masuk ke neraka akibat meremehkan hadits-hadits nabi tentang larangan isbal.
Dalam pembahasan ini, kita tidak sama sekali membahas antara sombong dan tidak sombong. Karena sifat sombong adalah sifat yang sangat buruk. Dan tidak seorangpun yang berakal sehat dan mengerti agama dengan baik akan bersikap sombong dan menolak kebenaran sebuah hadits yang shahih yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hanya saja kita mencoba membuka wawasan tentang isbal yang selama ini sangat sering diperdebatkan. Para ulama-pun berselisih pendapat tentang hukum isbal jika bukan karena sombong, namun jika orang yang melakukan isbal karena sombong, seluruh ulama sepakat atas keharamannya. Dan saya sendiri (Anwar Baru Belajar: red) sangat menyetujui sikap kehati-hatian para ikhwan sekalian dalam berpakaian dan menjaga dirinya agar tidak terjatuh dalam isbal, dan bagi saya itu adalah sikap yang sangat baik dan perlu dicontoh karena merupakan sebuah keutamaan. Adapun yang mempunyai sikap atau pendapat yang berseberangan janganlah mengolok-olok dengan olokan yang tidak terpuji. 

Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). [ Qs. 49: 11].

Pembaca yang budiman, ulama dahulu telah berbeda pendapat dalam masalah isbal (memanjangkan pakaian sampai menutup mata kaki bagi laki-laki). Namun khilaf di sini jika orang yang melakukan isbal itu tidak berniat sombong, adapun jika karena sombong, ulama sepakat atas keharamannya.
Silahkan dibaca buku "Salafi antara Tuduhan dan Kenyataan" (Bantahan Ilmiyah Terhadap Buku "Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi" karya Syaikh Idahram), halaman. 111-113. Penulis ; Sofyan Chalid Bin Idham Ruray. Toobagus Publishing, 2011.

Isbal terdapat pada sarung, baju gamis ataupun sorban bukan pada celana

Sebagaimana tertera dalam hadits ini;

 عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الإسبال في الإزار والقميص والعمامة, من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. (رواه أبو داود وغيره وقال الألباني صحيح)

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Isbal terdapat pada sarung, baju gamis ataupun sorban  . Barangsiapa menyeret salah satu darinya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan mau melihat kepadanya” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Albany mengatakan: Hadits ini shohih).

Saya mengajak ikhwan sekalian untuk memperhatikan benar-benar redaksi hadits-hadits berikut dan perhatikan hadits-hadits di bawah ini, hampir secara keseluruhan di dalam matan hadits tertuliskan  الإزار atau sarung. Dan tidak ada satupun yang memuat  سَرَاوِيلَ  atau celana. Padahal celana sudah ada pada jaman Rasulullah, dan itu terbukti dengan banyaknya hadits shahih yang menerangkan tentang celana. Beliau berkata-kata dengan kalimat yang sangat jelas dan tegas.
 
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya akan dapat menghafal (kata-katanya)".(Diriwayatkan oleh Humaid bin Mas’adah al Bashriyyi, dari Humaid al Aswad, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah radhiyallahu'anha.)


“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Abu Qutaibah –Muslim bin Qutaibah-. dari `Abdullah bin al Mutsani, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu.)


Silahkan dilihat hadits-hadits tsb pada bagian bawah artikel ini.

Pengertian Izar إِزَار   adalah sarung / kain bawahan ihram , bukan termasuk celana adalah sebagaimana bunyi hadits مَنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ sangat jelas ada kata "izar" dan "sarawil" dua subtansi yang berbeda, terlihat dalam gambar di bawah sebagaimana keterangan hadits berikut;
صحيح البخاري ٥٣٥٧:

 حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ

Shahih Bukhari 5357:

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Barangsiapa tidak mendapat sarung (ketika berihram), hendaknya ia mengenakan celana panjang, dan siapa yang tidak mendapatkan sandal, hendaknya ia mengenakan sepatu."
Gambar Izar إِزَار   atau sarung


Dalam Kamus Al Munawwir disebutkan kain, sarung dan celana dalam bahasa Arab;
اَْلقُمَاشُ   :Kain
إزار  : Sarung
 Celana : بنطلون /  سروال

Hadits-Hadits Tentang Isbal

[HADITS PERTAMA]

.    عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال: ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم. قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثلاث مرارا. قال أبو ذر: خابوا وخسروا من هم يا رسول الله؟ قال: المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب  (رواه مسلم
Dari Abu Dzar, dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ada tiga golongan, -yang pada hari kiamat nanti- Allah  tidak bicara dengan mereka, tidak melihat mereka, tidak membersihkan (dosa) mereka dan bagi mereka siksa yang pedih”. Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mengulangi sabdanya itu tiga kali. Abu dzar mengatakan: “Sungguh celaka dan merugilah mereka! wahai Rasulullah, siapakah mereka?”. Beliau menjawab: “Orang yang isbal, orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim)

 [HADITS KEDUA]

2.     عن محمد بن عقيل سمعت ابن عمر يقول: كساني رسول الله صلى الله عليه وسلم قبطية،  وكسا أسامة حلة سيراء. قال: فنظر فرآني قد أسبلت فجاء فأخذ بمنكبي, وقال: يا ابن عمر! كل شيء مس الأرض من الثياب ففي النار. قال: فرأيت ابن عمر يتزر إلى نصف الساق (رواه أحمد وقال الأرناؤوط: صحيح لغيره وهذا إسناد حسن)

Dari muhammad bin ‘aqil aku mendengar ibnu umar bercerita: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah memberiku baju qibtiyah dan memberikan kepada usamah baju hullah siyaro. Ibnu Umar mengatakan: ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihatku isbal beliau datang dan memegang pundakku seraya berkata: “Wahai Ibnu Umar! semua pakaian yang menyentuh tanah, (nantinya) di neraka”. Ibnu Aqil berkata: “Dan (setelah itu) aku melihat Ibnu Umar selalu memakai sarungnya hingga pertengahan betis” (HR. Ahmad. al-Arnauth mengatakan: Derajat haditsnya shahih lighairihi, sedang sanad ini hasan)

Perhatikan kalimat : yang menyentuh tanah, artinya sampai menyentuh tanah. Bagaimana yang tidak menyentuh tanah ? 

 [HADITS KETIGA]

3.    عن عبد الرحمن بن يعقوب قال: سألت أبا سعيد الخدري عن الإزار, فقال: على الخبير سقطت! قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين, ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار, من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه. (رواه أبو داود وقال الألباني صحيح)

Dari Abdur Rahman bin Ya’qub berkata: aku pernah bertanya kepada Abu Sa’id al-Khudri tentang sarung, maka dia menjawab: “Kamu menepati orang yang tahu betul masalah ini! Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: ‘Sarung seorang muslim adalah sebatas pertengahan betis, dan tidak mengapa sarung yang berada antara batas tersebut hingga mata kaki. Adapun yang lebih rendah dari mata kaki, ia di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret sarungnya karena takabur, maka Allah tidak akan mau melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)”. (HR. Abu Dawud, dan Albany mengatakan: shohih)

 [HADITS KEEMPAT]

4.    عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الإسبال في الإزار والقميص والعمامة, من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. (رواه أبو داود وغيره وقال الألباني صحيح)

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Isbal terdapat pada sarung, baju gamis ataupun sorban. Barangsiapa menyeret salah satu darinya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan mau melihat kepadanya” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Albany mengatakan: Hadits ini shohih)

 [HADITS KELIMA]

5.    عن المغيرة بن شعبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا سفيان بن سهل! لا تسبل, فإن الله لا يحب المسبلين! (رواه ابن ماجه وصححه الألباني)


Dari Mughiroh bin Syu’bah berkata: Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu isbal! Karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap mereka yang isbal” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Albany)
 [HADITS KEENAM]

6.    عن أبي جري جابر بن سليم الهجيمي قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: ارفع إزارك إلى نصف الساق, فإن أبيت فإلى الكعبين. وإياك وإسبال الإزار, فإنها من المخيلة, وإن الله لا يحب المخيلة. (رواه أبو داود وغيره  وصححه الألباني)

Dari Abu Jari, Jabir bin Sulaim al-Hujaimy: Bahwa Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menasehatinya: “Angkatlah sarungmu sampai tengah betis! Tapi jika kau tidak berkenan, maka hingga batas mata kaki. Dan jangan sekali-kali meng-isbal-kan sarungmu! Karena isbal adalah termasuk perbuatan sombong, dan Allah tidak menyukai perbuatan sombong. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albany)

[HADITS KETUJUH]

7.    عن جبير بن مطعم : أنه كان جالسا مع ابن عمر, إذا مر فتى شاب عليه حلة صنعانية يجرها مسبل قال : يا فتى هلم! قال له الفتى : ما حاجتك يا أبا عبد الرحمن؟ قال : ويحك أتحب أن ينظر الله إليك يوم القيامة؟ قال: سبحان الله وما يمنعني أن لا أحب ذلك؟ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لا ينظر الله إلى عبد يوم القيامة يجر إزاره خيلاء. قال : فلم ير ذلك الشاب إلا مشمّرا حتى مات بعد ذلك اليوم. (قال الألباني: رواه البيهقي بسند صحيح)

Jubair bin Muth’im mengisahkan: Dia pernah duduk bersama Ibnu Umar. Ketika ada seorang pemuda yang musbil berjalan dengan baju hullah shon’aniyah yang diseret, Ibnu Umar berkata: “Wahai pemuda, kemarilah!” Pemuda tersebut menimpali: “Apa yang engkau inginkan, wahai Abu Abdirrohman (panggilan kesayangan Ibnu Umar)?” (Ibnu Umar) menjawab: “Celakalah kamu! Tidak senangkah kau seandainya Allah melihat padamu di hari kiamat nanti?” Pemuda itu menimpali: “Subhanallah, adakah yang menghalangiku hingga aku tidak menyenanginya?!” Ibnu Umar berkata: Aku telah mendengar Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat kepada hamba yang menyeret sarungnya karena sombong”. Jubair bin Muth’im mengatakan: “Setelah hari itu, pemuda tersebut tidak pernah terlihat, kecuali ia mengangkat pakaiannya hingga pertengahan betis, sampai meninggalnya”. (Albany mengatakan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)

 [HADITS KEDELAPAN]

8.    عن عمرو بن فلان الأنصاري قال : بينا هو يمشي وقد أسبل إزاره إذ لحقه رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد أخذ بناصية نفسه وهو يقول : ” اللهم عبدك وابن عبدك ابن أمتك ” قال عمرو : فقلت : يا رسول الله إني رجل حمش (دقيق) الساقين فقال : ” يا عمرو إن الله عز و جل قد أحسن كل شيء خلقه يا عمرو ” وضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم بأربع أصابع من كفه اليمنى تحت ركبة عمرو فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم ضرب بأربع أصابع تحت الموضع الأول ثم قال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم وضعها تحت الثانية فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” (رواه أحمد وصححه الألباني والأرناؤوط)

Amr bin Fulan al-Anshory mengisahkan dirinya: Ketika ia berjalan dengan meng-isbal-kan sarungnya, tiba-tiba Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menghampirinya, dan beliau telah meletakkan tanganya pada permulaan kepala beliau seraya berkata: “Ya allah (lihatlah) hambamu, putra hamba laki-lakiMu dan putra hamba perempuanMu!”. ‘Amr beralasan: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku seorang yang betisnya kurus kering”. Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Wahai ‘Amr, sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan baik seluruh ciptaan-Nya!
Maka Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- meletakkan empat jari dari telapak kanannya tepat di bawah lututnya ‘Amr, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”. Kemudian beliau mengangkat empat jarinya, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang pertama, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”. Kemudian beliau mengangkat empat jarinya lagi, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang kedua, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung” (HR. Ahmad. Dishohihkan oleh Albany dan al-Arnauth)
 [HADITS KESEMBILAN]

9.    عن حذيفة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : موضع الإزار إلى أنصاف الساقين و العضلة ، فإذا أبيت فمن وراء الساقين ، و لا حق للكعبين في الإزار. (رواه أحمد والنسائي وصححه الألباني)

Hudzaifah berkata, Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tempat sarung adalah sampai pertengahan dua betis dan pada tonjolan dagingnya, tetapi jika kamu tidak menghendakinya maka (boleh) di bawah dua betis, dan tidak ada hak bagi mata kaki (tertutupi) sarung. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dishohihkan oleh Albany­)
 [HADITS KESEPULUH]

10.      عن زيد بن أسلم: كان ابن عمر يحدث أن النبي صلى الله عليه وسلم رآه وعليه إزار يتقعقع يعني جديدا, فقال: من هذا؟ فقلت: أنا عبد الله. فقال: إن كنت عبد الله فارفع إزارك! قال: فرفعته. قال: زد! قال: فرفعته حتى بلغ نصف الساق. قال: ثم التفت إلى أبي بكر فقال: من جر ثوبه من الخيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. فقال أبو بكر: إنه يسترخي [أحد شقي] إزاري أحيانا [إلا أن أتعاهد ذلك منه]. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لست منهم (رواه أحمد والبخاري)

Zaid bin Aslam mengatakan, Ibnu Umar pernah bercerita: Suatu ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihatnya sedang memakai sarung baru. Beliau bertanya: “Siapakah ini?” Aku menjawab: “Aku Abdullah (Ibnu Umar)”. Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berkata: ”Jika benar kamu Abdullah, maka angkatlah sarungmu!”. (Ibnu Umar) mengatakan: “Aku pun langsung mengangkatnya”. (Nabi) berkata lagi: “Tambah (angkat lagi)!” (Ibnu Umar) mengatakan:  “Maka aku pun mengangkatnya hingga sampai pertengahan betis”. Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menoleh ke Abu Bakar, seraya mengatakan: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat kepadanya ”. Mendengar hal itu, Abu Bakar bertanya: “Sungguh salah satu dari sisi sarungku terkadang terjulur, akan tetapi aku selalu menjaganya agar ia tak terjulur”. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Kamu bukanlah termasuk dari mereka” (HR. Ahmad dan Bukhari)

 [HADITS KESEBELAS]

 ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار ) البخاري رقم 5787


Apa-apa yang di bawah mata kaki dari  sarung maka tempatnya di neraka (HR. Bukhari 5787)


Hadits-hadits tentang Celana سَرَاوِيلَ

صحيح البخاري ٣٥٢: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ الصَّلَاةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ فَقَالَ أَوَكُلُّكُمْ يَجِدُ ثَوْبَيْنِ ثُمَّ سَأَلَ رَجُلٌ عُمَرَ فَقَالَ إِذَا وَسَّعَ اللَّهُ فَأَوْسِعُوا جَمَعَ رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابَهُ صَلَّى رَجُلٌ فِي إِزَارٍ وَرِدَاءٍ فِي إِزَارٍ وَقَمِيصٍ فِي إِزَارٍ وَقَبَاءٍ فِي سَرَاوِيلَ وَرِدَاءٍ فِي سَرَاوِيلَ وَقَمِيصٍ فِي سَرَاوِيلَ وَقَبَاءٍ فِي تُبَّانٍ وَقَبَاءٍ فِي تُبَّانٍ وَقَمِيصٍ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ فِي تُبَّانٍ وَرِدَاءٍ

Shahih Bukhari 352: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Muhammad dari Abu Hurairah berkata, "Seorang laki-laki datang dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang shalat dengan menggunakan satu lembar baju. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Apakah setiap kalian memiliki dua helai baju?" Kemudian ada seseorang bertanya kepada 'Umar, lalu ia menjawab, "Jika Allah memberi kelapangan (kemudahan), maka pergunakanlah." Bila seseorang memiliki banyak pakaian, maka dia shalat dengan pakaiannya itu. Ada yang shalat dengan memakai kain dan rida (selendang besar), ada yang memakai kain dan gamis (baju panjang sampai kaki), ada yang memakai kain dan baju, ada yang memakai celana panjang dan rida', ada yang memakai celana panjang dan gamis, ada yang memakai celana panjang dan baju, ada yang memakai celana pendek dan rida', ada yang memakai celana pendek dan gamis." Abu Hurairah berkata, "Menurutku 'Umar mengatakan, "Dan ada yang memakai celana pendek dan rida'."

صحيح البخاري ٣٥٣: حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ فَقَالَ لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَلَا وَرْسٌ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ
وَعَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Shahih Bukhari 353: Telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin 'Ali berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu 'Umar berkata, "Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Apa yang harus dikenakan oleh seseorang saat ihram?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Dia tidak boleh mengenakan baju, celana, mantel dan tidak boleh pula pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan. Dan siapa yang tidak memiliki sandal, ia boleh mengenakan sepatu tapi hendaklah dipotong hingga berada dibawah mata kaki." Dan dari Nafi' dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti ini juga."

سنن ابن ماجه ٢٩٢٢: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ قَالَ هِشَامٌ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ
و قَالَ هِشَامٌ فِي حَدِيثِهِ فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ إِلَّا أَنْ يَفْقِدَ

Sunan Ibnu Majah 2922: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar dan Muhammad bin Ash Shabbah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid Abu Asy Sya'tsa` dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhu, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah di atas mimbar seraya bersabda: "Barang siapa yang tidak mendapatkan sarung, maka ia dapat memakai celana dan siapa saja yang tidak mendapatkan sepasang sandal, maka ia dapat mengenakan sepatu." Hisyam berkata di dalam Haditsnya; 'Maka ia dapat memakai celana jika ia tidak mendapatkan kain.'

سنن الترمذي ٧٦٤: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُحْرِمُ إِذَا لَمْ يَجِدْ الْإِزَارَ فَلْيَلْبَسْ السَّرَاوِيلَ وَإِذَا لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرٍو نَحْوَهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِذَا لَمْ يَجِدْ الْمُحْرِمُ الْإِزَارَ لَبِسَ السَّرَاوِيلَ وَإِذَا لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ لَبِسَ الْخُفَّيْنِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ و قَالَ بَعْضُهُمْ عَلَى حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيِّ وَبِهِ يَقُولُ مَالِكٌ
Sunan Tirmidzi 764: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin 'Abdah Adl Dlabi Al Basyri telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Ayyub telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas berkata; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang yang ihramjika tidak mendapatkan sarung, hendaknya memakai celana. Jika tidak mendapatkan sandal, maka boleh memakai khuf". Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Amru seperti hadits di atas. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Jabir." Abu 'Isa berkata; "Ini merupakan hadits hasan shahih dan sebagian ulama mengamalkannya. Mereka berkata; 'Jika orang yang ihramtidak mendapatkan sarung, dia boleh memakai celana. Jika tidak memiliki sandal, boleh memakai khuf. Ini juga merupakan perkataan Ahmad. sebagian yang lain berpendapat berdasarkan hadits Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'Siapa yang tidak mendapatkan sandal hendaklah memakai khuf dengan memotong menjadi lebih rendah dari kedua mata kaki. Ini merupakan pendapat Sufyan Ats Tsauri, Syafi'i dan Malik."

صحيح البخاري ١٧١٢: حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ مَنْ لَمْ يَجِدْ الْإِزَارَ فَلْيَلْبَسْ السَّرَاوِيلَ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ

Shahih Bukhari 1712: Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikam khathbah kepada kami, Beliau bersabda: "Barangsiapa yang tidak memiliki  sarung hendaklah dia memakai celana dan barangsiapa yang tidak memiliki sepasang sandal, hendaklah dia mengenakan sepatu".

صحيح البخاري ٥٣٥٧: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ

Shahih Bukhari 5357: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Barangsiapa tidak mendapat sarung (ketika berihram), hendaknya ia mengenakan celana panjang, dan siapa yang tidak mendapatkan sandal, hendaknya ia mengenakan sepatu."

صحيح البخاري ٥٣٥٨: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَأْمُرُنَا أَنْ نَلْبَسَ إِذَا أَحْرَمْنَا قَالَ لَا تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَالسَّرَاوِيلَ وَالْعَمَائِمَ وَالْبَرَانِسَ وَالْخِفَافَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ لَيْسَ لَهُ نَعْلَانِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَلَا تَلْبَسُوا شَيْئًا مِنْ الثِّيَابِ مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ وَلَا وَرْسٌ

Shahih Bukhari 5358: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Nafi' dari Abdullah dia berkata; seorang laki-laki berdiri dan berkata; "Wahai Rasulullah, pakaian apakah yang engkau perintahkan untuk kami kenakan ketika berihram?" beliau bersabda: "Janganlah kalian mengenakan gamis (jubah), celana panjang, surban, baju panjang yang bertutup kepala dan tidak pula sepatu kecuali jika seseorang tidak mendapatkan sandal, maka ia boleh mengenakan sepatu di bawah mata kaki, dan janganlah kalian mengenakan pakaian yang dicampuri dengan minyak za'faran dan tidak juga wars (sejenis tumbuhan yang berwarna kuning atau kunyit)."



سنن النسائي ٢٦٢٢: أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا نَلْبَسُ مِنْ الثِّيَابِ إِذَا أَحْرَمْنَا قَالَ لَا تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَقَالَ عَمْرٌو مَرَّةً أُخْرَى الْقُمُصَ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْخُفَّيْنِ إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ لِأَحَدِكُمْ نَعْلَانِ فَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ وَرْسٌ وَلَا زَعْفَرَانٌ

Sunan Nasa'i 2622: Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin Ali, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah, ia berkata; Nafi' dari Ibnu Umar bahwa seseorang berkata; wahai rasulullah, pakaian apakah yang boleh kami pakai jika kami berihram? Maka beliau bersabda: "Janganlah memakai jubah." Dan 'Amr berkata sekali lagi; tidak jubah, tidak sorban, celana panjang, serta sepatu kecuali salah seorang diantara kalian tidak memiliki sandal maka hendaknya ia memotongnya hingga di bawah kedua mata kaki, dan juga pakaian yang tersentuh waras, serta kunyit.

سنن النسائي ٢٦٢٣: أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ وَهُوَ يَقُولُ السَّرَاوِيلُ لِمَنْ لَا يَجِدُ الْإِزَارَ وَالْخُفَّيْنِ لِمَنْ لَا يَجِدُ النَّعْلَيْنِ لِلْمُحْرِمِ

Sunan Nasa'i 2623: Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari 'Amr dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas, ia berkata; saya pernah mendengar nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah dan beliau mengatakan: "Celana panjang bagi orang yang tidak mendapatkan sarung, dan sepatu bagi orang yang tidak mendapatkan sandal bagi orang yang melakukan ihram."


مسند أحمد ٤٦٦٤: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَجُلًا نَادَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يَجْتَنِبُ الْمُحْرِمُ مِنْ الثِّيَابِ فَقَالَ لَا يَلْبَسُ السَّرَاوِيلَ وَلَا الْقَمِيصَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ وَلَا وَرْسٌ وَلْيُحْرِمْ أَحَدُكُمْ فِي إِزَارٍ وَرِدَاءٍ وَنَعْلَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسْفَلَ مِنْ الْعَقِبَيْنِ

Musnad Ahmad 4664: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki memanggil seraya berkata, "Wahai Rasulullah, pakaian apa yang harus dihindari seorang yang sedang ihram?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia tidak memakai celana, kemeja, mantel yang terdapat tutup kepalanya, surban dan baju yang telah diolesi za'faran dan wars. Dan hendaklah salah seorang dari kalian melakukan ihram dengan mengenakan sehelai sarung, selendang dan memakai sepasang sandal, jika tidak medapatkan sandal, hendaklah ia memakai sepasang khuf (sepatu) dan potonglah hingga sebatas di bawah mata kaki."


صحيح البخاري ١٣١: حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ فَقَالَ لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الْوَرْسُ أَوْ الزَّعْفَرَانُ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ

Shahih Bukhari 131: Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Nafi' dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa ada seorang laki-laki bertanya, "Apa yang harus dikenakan oleh orang yang melakukan ihram?" Beliau menjawab: "Ia tidak boleh memakai baju, Imamah (surban yang dililitkan pada kepala), celana panjang, mantel, atau pakaian yang diberi minyak wangi atau za'faran. Jika dia tidak mendapatkan sandal, maka ia boleh mengenakan sepatu dengan memotongnya hingga di bawah mata kaki."

صحيح البخاري ١٤٤٢: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنْ الثِّيَابِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَلْبَسُ الْقُمُصَ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْبَرَانِسَ وَلَا الْخِفَافَ إِلَّا أَحَدٌ لَا يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَلَا تَلْبَسُوا مِنْ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ أَوْ وَرْسٌ

Shahih Bukhari 1442: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam: "Pakaian apa yang harus dikenakan oleh seorang muhrim (yang sedang berihram)?. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Dia tidak boleh mengenakan baju, topi (sorban), celana, mantel kecuali sesorang yang tidak memiliki sandal, dia boleh mengenakan sapatu tapi dipotongnya hingga berada dibawah mata kaki dan tidak boleh pula memakai pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan".

Lantas Bagaimana Dengan Kaos Kaki? Bukankah ia Juga termasuk kain dan pakaian?



مسند أحمد ١٧٤٩٦: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي قَيْسٍ عَنْ هُذَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ

Musnad Ahmad 17496: Telah menceritakan kepada kami Waki' Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Qais dari Hudzail bin Syurahbil dari Al Mughirah bin Syu'bah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu dan mengusap kedua kaos kaki dan kedua terompahnya."

سنن الترمذي ٩٢: حَدَّثَنَا هَنَّادٌ وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي قَيْسٍ عَنْ هُزَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ
تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَهُوَ قَوْلُ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ قَالُوا يَمْسَحُ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ نَعْلَيْنِ إِذَا كَانَا ثَخِينَيْنِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ أَبُو عِيسَى سَمِعْت صَالِحَ بْنَ مُحَمَّدٍ التِّرْمِذِيَّ قَال سَمِعْتُ أَبَا مُقَاتِلٍ السَّمَرْقَنْدِيَّ يَقُولُ دَخَلْتُ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ وَعَلَيْهِ جَوْرَبَانِ فَمَسْحَ عَلَيْهِمَا ثُمَّ قَالَ فَعَلْتُ الْيَوْمَ شَيْئًا لَمْ أَكُنْ أَفْعَلُهُ مَسَحْتُ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَهُمَا غَيْرُ مُنَعَّلَيْنِ

Sunan Tirmidzi 92: telah menceritakan kepada kami Hannad dan Mahmud bin Ghailan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Abu Qais dari Huzail bin Syurahbil dari Al Mughirah bin Syu'bah ia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu, mengusap kedua kaus kaki dan kedua sandalnya." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih, dan ini adalah pendapat tidak sedikit dari ahli ilmu. Pendapat ini juga diambil oleh Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Mereka mengatakan; "Seseorang boleh mengusap kedua kaus kaki walaupun bukan sandal jika keduanya tebal." Abu Isa berkata; "Dalam bab ini ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa." Abu Isa berkata; "Aku mendengar Shalih bin Muhammad At Tirmidzi berkata; "Aku mendengar Abu Muqatil As Samarqandi berkata; "Aku datang menemui Abu Hanifah ketika sakit menjelang kematiannya, ia minta untuk diambilkan air, lalu ia berwudlu dalam keadaan memakai kaus kaki. Setelah itu ia mengusap keduanya seraya berkata; "Hari ini aku melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan, aku mengusap kedua kaus kaki, padahal keduanya bukan sandal."

سنن ابن ماجه ٥٥٢: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي قَيْسٍ الْأَوْدِيِّ عَنْ الْهُزَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ

Sunan Ibnu Majah 552: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Qais Al Audi dari Al Huzail bin Syurahbil dari Al Mughirah berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu lalu mengusap kedua kaus kaki dan kedua sandal."

Sekarang okey.....katakanlah "izar" termasuk bermakna "kain" celana, lantas bagaimana dengan celana yang bahannya bukan terbuat dari kain, seperti gambar celana kulit di atas ini. Apakah pantas dikatakan izar juga?







ISBALNYA SORBAN (IMAMAH) BUKAN PADA MATA KAKI



وَفِي تَصْوِير جَرّ الْعِمَامَة نَظَر ، إِلَّا أَنْ يَكُون الْمُرَاد مَا جَرَتْ بِهِ عَادَة الْعَرَب مِنْ إِرْخَاء الْعَذْبَات ، فَمَهْمَا زَادَ عَلَى الْعَادَة فِي ذَلِكَ كَانَ مِنْ الْإِسْبَال

Sedangkan adanya isbal pada imamah adalah suatu hal yang tidak bisa kita bayangkan kecuali dengan mengingat kebiasaan orang Arab yang menjulurkan ujung sorbannya. Sehingga pengertian isbal dalam hal ini adalah ujung sorban yang kelewat panjang melebihi umumnya panjang ujung sorban yang dibiasa dipakai di masyarakat setempat” ( Imam Ibnu Hajar Al Asqalani -Fathul Baari, 16/331)

Isbalnya Imamah bukan dibatasi oleh mata kaki, sebagaimana sarung dan gamis.


Maka tidak ada kata lain apabila ujung sorban (imamah) berlebih-lebihan kelewat panjang dapat disimpulkan SOMBONG. Allahu a'lam.

Ketahuilah...Semua perkara agama telah disampaikan oleh Nabi dan tidak ada yang disembunyikan. Maka apakah mungkin Nabi lupa atau kelupaan menyampaikan amanat Allah.

Sekarang renungkanlah, sejak kapan Nabi ada mengatakan bahwa Isbal itu ada pada celana?

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (Al-Maidah: 67)

Nabi telah menyampaikan amanah dengan penyampaian sempurna, lafadz serta makna. Beliau tinggalkan untuk umat ini kitab Allah (Al Qur`an) secara sempurna tanpa ada tambahan ataupun pengurangan. Ummul Mukminin (ibunda orang-orang beriman) Shiddiqah bintu Shiddiq ‘Aisyah mengatakan: “Siapa yang mengatakan bahwa Muhammad menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan oleh Allah , berarti dia benar-benar telah membuat kedustaan besar terhadap Allah . Padahal Allah telah menegaskan:

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya).”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah sendiri menerangkan tentang kewajibannya ini:

“Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan wajib atasnya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya. Dan umat ini telah dijadikan kebaikannya ada pada (generasi) awalnya. Adapun (generasi) akhirnya (orang-orang yang datang belakangan) akan ditimpa bala` (ujian) dan persoalan-persoalan yang kalian ingkari.” (Shahih, HR. Ahmad dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash )

Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam juga bersabda:

Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allâh perintahkan kepada kamu
kecuali aku telah memerintahkannya, dan tidak pula aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allâh Ta'âla larang kepada kamukecuali aku telah melarangnya.
Hadits Shahîh. Riwayat Ibnu Mâjah no. 43; Ahmad 4/126; dan Ibnu Abi ‘Ashim no. 48, 49.


Perhatikan pendapat-pendapat di bawah ini;



Pertama;

فَإِنَّهُ يَشْمَل جَمِيع ذَلِكَ ، وَفِي تَصْوِير جَرّ الْعِمَامَة نَظَر ، إِلَّا أَنْ يَكُون الْمُرَاد مَا جَرَتْ بِهِ عَادَة الْعَرَب مِنْ إِرْخَاء الْعَذْبَات ، فَمَهْمَا زَادَ عَلَى الْعَادَة فِي ذَلِكَ كَانَ مِنْ الْإِسْبَال

“At Thabari berkata, lafadz-lafadz hadits menggunakan kata izaar karena kebanyakan manusia di masa itu mereka memakai izaar [seperti pakaian bawahan untuk kain ihram] dan rida’ [seperti pakaian atasan untuk kain ihram]. Ketika orang-orang mulai memakai gamis dan jubah, maka hukumnya sama seperti larangan pada sarung. Ibnu Bathal berkata, ini adalah qiyas atau analog yang tepat, andai tidak ada nash yang menggunakan kata tsaub. Karena tsaub itu sudah mencakup semua jenis pakaian [sehingga kita tidak perlu berdalil dengan qiyas, ed]. Sedangkan adanya isbal pada imamah adalah suatu hal yang tidak bisa kita bayangkan kecuali dengan mengingat kebiasaan orang Arab yang menjulurkan ujung sorbannya. Sehingga pengertian isbal dalam hal ini adalah ujung sorban yang kelewat panjang melebihi umumnya panjang ujung sorban yang dibiasa dipakai di masyarakat setempat” (Fathul Baari, 16/331)


Tanggapan:
#lafadz-lafadz hadits menggunakan kata izaar karena kebanyakan manusia di masa itu mereka memakai izaar…..tapi jangan dipungkiri ada hadits yang juga jelas mengunakan kata sirwal (celana) pada jaman Rasulullah…Kalau gamis atau Jubah dan sarung sudah jelas haditsnya….pengertian isbal dalam imamah bahkan bukan yang menyentuh mata kaki, tapi berlebih-lebihan panjang ujung sorbannya. Karena berlebih-lebihan bisa jadi sombong. Pertanyaanya : Mengapa Rasulullah tidak memasukkan celana dalam hadits tsb? Padahal celana sudah ada pada jaman Rasulullah....Apakah Rasulullah telah lupa atau menyembunyikan?

Kedua _Penulis Syarh Sunan Abi Daud (9/126) berkata :

فِي هَذَا الْحَدِيث دَلَالَة عَلَى عَدَم اِخْتِصَاص الْإِسْبَال بِالْإِزَارِ بَلْ يَكُون فِي الْقَمِيص وَالْعِمَامَة كَمَا فِي الْحَدِيث .قَالَ اِبْن رَسْلَان : وَالطَّيْلَسَان وَالرِّدَاء وَالشَّمْلَة

“Hadits ini merupakan dalil bahwa isbal tidak khusus pada kain sarung saja, bahkan juga pada gamis dan imamah sebagaimana dalam hadits. Ibnu Ruslan berkata, juga pada thailasan [kain sorban yang disampirkan di pundak], rida’ dan syamlah [kain yang dipakai untuk menutupi bagian atas badan dan dipakai dengan cara berkemul]”

Tanggapan:
#Ibnu Ruslan berkata : Juga pada Thailasan dst…..ini bukan perkataan Nabi, tapi "tambahan" perkataan atau pendapat Ibnu Ruslan sendiri..Ketahuilah, kita beragama bukan berdasarkan pendapat orang, tapi berdasarkan perkataan Rasul.

“Setiap perkataan bisa diterima dan bisa ditolak, selain perkataan penghuni kubur ini (yakni, Rasulullah ).” (Siyar A’lami an-Nubala, 8/93)

Hal yang sama diucapkan pula oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal , “Pendapat seseorang bisa diambil dan ditinggalkan, selain (apa yang dari) Nabi (wajib diterima atau diambil).” (Masa’il al-Imam Ahmad, no. 1786. Lihat Ithafu al-‘Uqul bi Syarhi ats-Tsalatsatil Ushul, asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri, hlm. 9)


Ketiga : Al’Aini dalam ‘Umdatul Qari (31/429) menuturkan:

قوله من جر ثوبه يدخل فيه الإزار والرداء والقميص والسراويل والجبة والقباء وغير ذلك مما يسمى ثوبا بل ورد في الحديث دخول العمامة في ذلك …

“Perkataan Nabi ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya‘ ini mencakup kain sarung, rida’, gamis, sirwal, jubah, qubba’, dan jenis pakaian lain yang masih disebut sebagai pakaian. Bahkan terdapat riwayat yang memasukan imamah dalam hal ini”

Tanggapan:
#‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya" …..ketahuilah, hadits ini berhubungan dengan SOMBONG. Kita tidak membahas mengenai sombong/khuyala.



Keempat ;
Dalam Lisaanul Arab dijelaskan makna izaar:

الإزار : كل من واراكَ وسَتَرَكَ . وتعني أيضا : الملحفة

“Izaar adalah apa saja yang menutupimu, termasuk juga selimut”
-----------------------
Tanggapan :
#Perkataan Rasulullah LEBIH JELAS daripada Kamus Lisanul Arab. Izar yang dimaksud dalam hadits adalah pakaian bawahan ketika berihram atau sholat atau keseharian pada umumnya masyarakat Arab pada waktu itu.
Allahu a'lam.

____________________________________

Perhatikanlah Dengan seksama

Pengertian Izar إِزَار adalah sarung / kain bawahan ihram , bukan termasuk celana adalah sebagaimana bunyi hadits مَنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ sangat jelas ada kata "izar" dan "sarawil" dua subtansi yang berbeda, terlihat sebagaimana keterangan hadits berikut;

صحيح البخاري ٥٣٥٧:

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ

Shahih Bukhari 5357:

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Barangsiapa tidak mendapat sarung (ketika berihram), hendaknya ia mengenakan celana panjang, dan siapa yang tidak mendapatkan sandal, hendaknya ia mengenakan sepatu."

Demikianlah saya tulis pembahasan ini, yang mungkin agak kontroversial dan berbeda sudut pandang, saya mohon ma'af apabila saya keliru mengingat keterbatasan saya dan masih sedikitnya ilmu yang saya ketahui. Segala kesalahan adalah dari saya pribadi yang faqir dan segala kebenaran adalah Hak Mutlak Allah subhanahu wa ta'ala.

Wallahu a'lam

Anwar Baru Belajar
Tepian Mahakam, 12 Dzulhijjah 1423

Friday, November 4, 2011

Berisyarat Dengan Jari Telunjuk Setiap Posisi Duduk Dalam Sholat (Termasuk Semua Duduk Di antara Dua Sujud)

Beribadah Harus Berdasarkan Dalil

Saya (Anwar Baru Belajar: red) karena keterbatasan dan masih sedikitnya ilmu saya, sampai sa'at ini saya belum mendapati dalil yang menerangkan bahwa apabila  dalam posisi duduk pada tasyahud awal atau akhir, mengangkat atau memberi isyarat jari telunjuk bersamaan dengan membaca kalimat :"Asyhadu alla ilaha illallah…dst, seperti yang lelah lazim dilakukan oleh sebagian besar ummat Islam ketika melaksanakan ibadah sholat.


Di dalam keterangan sebuah hadits yang shahih di bawah ini,  malah didapati keterangan bahwa , mengangkat atau memberi isyarat jari telunjuk dilakukan pada posisi di setiap duduk di dalam sholat (termasuk semua duduk di antara dua sujud).

Dalam hadits di Shahih Muslim, Kitâb al-Masâjid wa Mawâdhi’ ash-Shalât, Bâb Shifat al-Julûs… (V/81 no. 1308) disebutkan bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam manakala duduk berdoa saat shalat, beliau mengacungkan jari telunjuknya. Berikut redaksi lengkap hadits tersebut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ”.


Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu’anhuma bertutur, “Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam duduk berdoa, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kirinya, serta mengacungkan jari telunjuknya sembari menggandengkan antara jempol dengan jari tengahnya, dan mencengkeramkan telapak tangan kirinya ke lututnya”.

Keterangan : Duduk berdo'a artinya ketika posisi duduk dan di dalamnya ada pengucapan do'a  (misal : membaca robbygfirly..dst) termasuk membaca tasyahud.

Isyarat Dalam Berdo'a

Rasulullah berdo'a selain mengangkat kedua tangan, beliau juga terkadang menggunakan isyarat dengan jari telunjukknya. Seperti halnya di dalam sholat beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk beliau. Begitu juga ketika beliau menjadi khatib dalam sholat jum'at, ketika berdo'a di khutbah kedua beliau tidak mengangkat kedua tangannya tetapi hanya memberi isyarat dengan jari telunjuk.

Hadits di bawah ini ( silahkan dilihat pada tulisan yang berwarna ); menunjukkan bahwa beliau dalam posisi duduk pada setiap duduk dan sangat jelas duduk beliau adalah duduk di antara dua sujud bukan duduk tasyahud, karena dilanjutkan dengan bersujud. Setiap membaca do'a waktu duduk beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk, kemudian beliau sujud kembali.

 ثُمَّ أَشَارَ بِسَبَّابَتِهِ وَوَضَعَ الْإِبْهَامَ عَلَى الْوُسْطَى وَقَبَضَ سَائِرَ أَصَابِعِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَتْ يَدَاهُ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ

Kalimat " kemudian beliau memberi isyarat dengan telunjuknya dan meletakkan jempol pada jari tengahnya, dan beliau genggam seluruh jarinya, kemudian sujud dan kedua tangannya sejajar kedua telinganya.

Menunjukkan bahwa beliau duduk bukan pada posisi duduk tasyahud awal dan tasyahud akhir. Karena setelah membaca tasyahud beliau tidak langsung berdiri (kalau tasyahud awal) atau tidak mengucapkan salam (kalau tasyahud akhir). Maka dari keterangan hadits tersebut dapat dipahami bahwa mengangkat jati telunjuk atau berisyarat dalam sholat dilakukan pada setiap posisi duduk dalam sholat karena ia merupakan sebuah do'a. 

Allahu a'lam.

Anwar Baru Belajar.
Tepian Mahakam, 06 Nopember 2011, bertepatan dengan waktu wukuf di Arofah

Redaksi hadits selengkapnya:


مسند أحمد ١٨١٠٣: 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ كَبَّرَ يَعْنِي اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ رَكَعَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَسَجَدَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ ذِرَاعَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ أَشَارَ بِسَبَّابَتِهِ وَوَضَعَ الْإِبْهَامَ عَلَى الْوُسْطَى وَقَبَضَ سَائِرَ أَصَابِعِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَتْ يَدَاهُ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ

Musnad Ahmad 18103: 

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah mengabarkan kepada kami Sofyan dari 'Ashim bin Kulaib dari Ayahnya dari Wail bin Hujr mengatakan, Kulihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir, beliau angkat kedua tangannya ketika bertakbir, maksudnya ketika mengawalmulai shalat, beliau angkat kedua tangannya ketika bertakbir, beliau angkat kedua tangannya ketika ruku', beliau angkat kedua tangannya ketika mengucapkan sami'allahu liman hamidah dan sujud, lantas beliau letakkan kedua tangannya sejajar kedua telinganya, kemudian beliau duduk dan menyilangkan kaki kirinya, kemudian beliau letakkan tangan kirinya diatas lutut kirinya, dan beliau letakkan hasta kanannya diatas paha kanannya, kemudian beliau memberi isyarat dengan telunjuknya dan meletakkan jempol pada jari tengahnya, dan beliau genggam seluruh jarinyakemudian sujud dan kedua tangannya sejajar kedua telinganya. (Hadits Shahih)

Para perawi;

  1. Wa'il bin Hajar bin Sa'ad : Seorang tabi'in kalangan pertengahan, nama kunyah Abu Hunaidar hidup di Kufah. Komentar para ulama : beliau termasuk sahabat.
  2. Kulaib bin Syihab bin Al Majnun : Tabi'in kalangan tua, hidup di Kufah. Komentar para ulama; Abu Zur'an : tsiqah. Ibnu Hibban : disebutkan dalam ats Tsiqah. Ibnu Hajar al Asqalani : Tsiqah, ada yang menyebutkan dia seorang sahabat. Az Zahabi : mentsiqahkannya.
  3. Ashim bin Kulaib bin Syihab bin Al Majnun : Tabi'in kalangan biasa, tinggal di Kufah, wafat 173 H. Komentar para ulama : Imam Ahmad : La ba'sa bih. Yahya bin Ma'in : tsiqah. An Nasa'i : taiqah.  Abu Hatim : shalih. Ibnu Hibban : disebutkan dalam at tsiqah. Ibnu Hajar Al Asqalani : tsaduq.
  4. Syufyan bin Sa'id bin Masruq : Tabiut tabiin kalangan tua, kunyah Abu Abdullah tinggal di Kufah, wafat 161 H. Komentar ulama : Malik bin Anaz : Tsiqah. Yahya bin Ma'in : tsiqah. Ibnu Hibban : termasuk dari para huffad mutqin.  Ibnu Hajar Al Asqalani : Tsiqah haffid faqih, imam, hujjah, abid. Az Zahabi : Imam.
  5. Abdur Razzah bin Hammam bin Nafi' : Tabiut tabiin kalangan biasa, kunyah Abu Bakar, hidup di Yaman, wafat 211 H. Komentar para ulama : Abu Dawud : tsiqah. Al 'Ajli : tsiqah. An Nasa'i :tsabat. Ya'qub bin Syaibah : tsiqat tsabat. Ibnu Hibban : tsiqah. Ibnu 'Ady : la ba'sa bih. Ibnu Hajar Al Asqalani : tsiqoh hafidz. Az Zahabi : seorang tokoh. (Sumber : Lidwa)


Hadits yang senada :

Mushannaf Abd ar-Razzâq, Bâb Takbîrah al-Iftitâh wa Raf’i al-Yadain (II/68 no. 2522), bunyinya:


عن وائل بن حجر قال: “رمقت النبي صلى الله عليه وسلم … ثم جلس فافترش رجله اليسرى، ثم وضع يده اليسرى على ركبته اليسرى، وذراعه اليمنى على فخذه اليمنى، ثم أشار بسبابته، ووضع الابهام على الوسطى حلق بها، وقبض سائر أصابعه، ثم سجد

Wa’il bin Hujur radhiyallahu’anhu bertutur, “Aku memperhatikan Nabi shallallahu’alaihiwasallam (tatkala shalat) … Beliau duduk dan menjulurkan kaki kirinya, sembari meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan lengan kanannya di atas paha kanannya, lalu mengacungkan jarinya dan membuat lingkaran dengan mempertemukan ibu jarinya dengan jari tengah, kemudian beliau sujud 


Catatan : Sebagian ulama mengatakan hadits ini hadits Syâdz. Allahu a'lam.
     
     



    Orang Bodoh, Pandir dan Sok Tahu

    “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ” Sesungguhnya yang berfatwa kepada manusia di setiap apa yang ditanyakan kepadanya, adalah benar-benar orang gila”. (Riwayat shahih oleh ad-Darimi (1/171), ath-Thabarani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 7923, al-Khathib di dalam kitab al-Faqih wa al-mutafaqqih (2/417) dari riwayat al-A’masy dari Abu Wa’il dari Abdulla...h bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).


    Siapapun yang engkau lihat berarti orang bodoh bila ia selalu menjawab segala sesuatu yang ditanyakan kepadanya atau menunjukkan segala sesuatu yang ia saksikan atau menyebut segala yang ia ketahui. [Al Hikam; Ibnu Atha'illah, risalah 8 nomor 70].


    Masruq rahimahullah berkata: ” Kami pernah duduk bersama Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau sambil tiduran di antara kami, lalu datang seorang laki-laki dan berkata: ” Wahai Abu Abdirrahman (panggilan untuk Abdullah bin Mas’ud-pent), ada seorang tukang dongeng di daerah Kindah (sebuah tempat di daerah Kufah-pent) bercerita dan mendakwakan tentang ayat di dalam surat Ad-Dukkan, (bahwa akan ada asap yang datang pada hari kiamat-pent) lalu mencabut jiwa-jiwa orang kafir dan mengambil orang-orang beriman seperti terjadinya flu terhadap mereka, lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu duduk dalam keadaan marah dan berkata: ” Wahai manusia, takutlah kepada Allah, barangsiapa di antara kalian yang mengetahui sesuatu maka katakanlah sesuatu yang dia ketahui saja dan barangsiapa yang tidak mengetahui maka katakanlah: ” Allah a’lam (Allah lebih mengetahui) “, karena sesungguhnya orang yang paling berilmu dari kalian adalah seseorang yang mengatakan terhadap apa yang dia tidak ketahui: “Allah a’lam (Allah lebih mengetahui)”, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Katakanlah (hai Muhammad): ” Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”. (QS. Shaad: 86″. HR. Bukhari, no. 4531 dan Muslim, no. 7244).


    Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya oleh seseorang tentang sebuah permasalahan, beliau menjawab: ” Saya tidak ada ilmu tentang permasalahan itu “, ketika orang tersebut berpaling, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: ” Sungguh baik perkataan Ibnu Umar!!, ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui maka dia mengatakan: ” Saya tidak ada ilmu tentang permasalahan itu “. (Riwayat shahih ad-Darimy (1/no. 179), al-Hakim (3/no. 6378) dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Dimasyq (31/hal. 168) dari riwayat Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma).




    Wallahu a'lam

    Tuesday, November 1, 2011

    Definisi Dan Keutamaan Penyembelihan Dalam Islam Serta Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengannya



    بسم الله الر حمن الر حيم

    Muqaddimah Oleh Hamba yang Faqir kepada Allah Ta`ala Al Qadiir`
    Abdul Qaadir Al Arnaauut.

    إن الحمد لله نحمده, ونستعينه و نستغفره, ونعوذ با الله من شرور أنفسنا, ومن سيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى له, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. وبعد

    Tulisan ini menjelaskan tentang sembelihan/kurban dan hukum hukum yang berhubungan dengannya, ditulis oleh Al Akh fillah-Al Ustadz Abu Sa`id Bal`iid bin Ahmad Al Jazaairiy, semoga Allah membalas kebajikan atasnya-dijelaskan dalam kitab ini : Difinisi qurban/sembelihan, keutamaan sepuluh awal bulan Dzulhijjah, keutamaan hari hari sembelihan, keutamaan mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala dengan sembelihan, hukum sembelihan selain kepada Allah, hikmah dari qurban, hukumnya, pandangan para `ulama dikalangan madzhab yang empat dan selain mereka tentang hukumnya dan seputar sembelian itu, pemaparan dalil dalil tentang sembelihan, sembelihan itu merupakan bantuan terhadap para fuqara`, macam macam hewan yang berhak untuk disembelih dan yang menggantikannya, sebagaimana dia telah memaparkan macam macam hewan sembelihan, kemudian dianjurkan untuk menyembelih hewan yang gemuk supaya bermamfa`at bagi para fuqara`, dan dapat menikmatinya seluruh ahlil bait (satu rumah tangga), bahwasanya satu ekor untuk boleh disembelih oleh tujuh orang, dalam satu riwayat oleh sepuluh orang, kemudian dijelaskan juga waktu, tempat, adab adab sembelihan dan hukum tentang binatang sembelihan yang mati sebelum harinya. Yang keseluruhan itu disokong dengan dalil dalil dari Al Quranul Karim dan As Sunnahtul Muthahharah serta perkataan perkataan `ulama ummat ini dikalangan madzhab yang empat dan selain mereka yang mu`tamad (dijadikan sandaran), agar para penuntut ilmu berada di atas hujjah dalam urusan Din mereka, supaya berdiri di atas kebenaran. Semoga Allah membalas kebajikan atas pengarang yang telah bersusah payah mengumpulkan keterangan keterangan dalam tulisan ini.
    Kita memohon kepada Allah semoga tulisan ini bermamfa`at bagi para pelajar dan kaum Muslimin secara keseluruhannya, dan memberikan rezki buat kita dan penulis tentang ilmu yang bermamfa`at dan mengamalkan amalan yang sholih, supaya Dia memelihara kita seluruhnya dengan `inayah-Nya, bahwa Dia atas segala sesuatu Berkuasa, dan Yang Maha Mampu untuk menunaikan permintaan kita, dan akhir dari do`a kita adalah :


    أن الحمد لله رب العالمين.

    `Abdul Qaadir Al Arnaauut.

    Khadimus Sunnah An Nabawiyah di

    Dimasyq

    Dimasyq : 11 Rabii`ul Awal 1419 H.

    Bertepatan : 5 Juli 1998 M.

    بسم الله الر حمن الرحيم
     
    Pendahuluan

    إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا, وسيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادى له, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.


    (ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون). آل عمران (102).

    Artinya :
    “Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali kali kalian mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali `Imraan : 102).

    (يا أيها الناس اتقوا ربكم الذى خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذى تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا). النساء (1).

    Artinya :
    “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kalian kepada Rab kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari padanya Allah memperkembang biakkan laki laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa : 1)

    (ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاسديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما). الأحزاب : (70-71).

    Artinya :
    “Hai orang orang yang ber-iman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal amalan kamu dan mengampuni bagi kalian dosa dosa kalian. Dan barang siapa yang menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzaab : 70-71).

    Adapun selanjutnya :

    Sesungguhnya sebenar-benar perkataan ialah Kitab Allah, dan sebaik baik petunjuk ialah petunjuk Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam, sejelek jelek urusan ialah yang diperbaharui, setiap yang baru adalah bid`ah, setiap bid`ah ialah sesat, dan setiap kesesatan dalam neraka.
    Tulisan yang saya kemukakan kehadapan para pembaca dan kaum muslimin ini memuat hukum hukum pelaksanaan kurban supaya para pembaca dapat melaksanakan syi`ar kurban ini dengan sebaik baiknya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Ta`ala Insya Allah, seperti yang dijelaskan oleh-Nya dalam Kitab-Nya yang Mulia :

    (الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم الله وأولئك هم أولوا الألباب). الزمر : (18).

    Artinya :
    “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang orang yang mempunyai aqal yang sehat.” (QS. Az Zumar : 18).

    Di ayat lainnya Allah Berfirman :

    (ومن أخسن دينا ممن أسلم وجهه لله وهو محسن واتبع ملة إبراهيم حنيفا واتخذ الله إبراهيم خليلا). النساء : (125).

    Artinya :
    “Dan siapa yang lebih baik Dinnya (agamanya) dari pada orang yang ikhlash menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebajikan, dan ia mengikuti Din (agama) Ibraahim yang lurus? Dan Allah telah menjadikan Ibraahim sebagai kesayangan-Nya.” (QS. An Nisaa : 125).
    Dalam risalah ini memuat jawaban-jawaban yang banyak sekali yang berhubungan dengan masalah `Idul Adhha yang penuh berkah, saya memohon kepada Allah Ta`ala supaya memberikan manfa`at kepada kita seluruhnya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Menunaikan permintaan hamba hamba-Nya.

    Ditulis oleh : Abu Sa`id Bal`iid bin Ahmad

    Madinatul `Iin (Abu Dhobiy), pada hari Senin

    18 Syawwal 1420 H/24/1/2000 M.

    Telah sempurna cetakan risalah ini dengan cetakan yang pertama pada tahun 1415H/1995 M percetakan Daarul Imam Maalik, yang menyebarkan dan membagi bagikannya – Al Jazaair.

    Bab Pertama.


    Awal pembahasan


    Pembahasan pertama :
    Difinisi Qurban.
    Qurban ialah hewan yang disembelih pada hari `Idul Adhha (`Idul Qurban) dari hewan yang telah ditentukan oleh syari`at ini sebagai bukti pendekatan diri kepada Allah Ta`ala, (dan dikatakan sebab dinamakan dengan demikian karena ia disembelih diwaktu Ad Dhuha; waktu matahari mulai naik). Lihat : Al Majmuu` oleh Al Imam An Nawawiy (8/382).

    Pembahasan kedua :
    Keutamaan sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.
    Dari Ibnu `Abbas Radhiallahu `anhuma berkata : Berkata Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :

    ((ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعنى الأيام العشر – قالوا : يا رسول الله، ولا الجهاد فى سبيل الله ؟ قال: ولا الجهاد فى سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشىء)). رواه البخارى، وأبو داود، والترمذى.

    Artinya :
    “Tidak ada hari hari dimana amalan sholih lebih dicintai oleh Allah dari hari hari ini (sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah)- berkata para shahabat : Ya Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam! Tidak juga Al Jihad dijalan Allah? Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : Tidak juga Al Jihad dijalan Allah, kecuali seorang laki laki yang keluar dengan dirinya dan hartanya sendiri kemudian dia tidak kembali sama sekali.” Diriwayatkan oleh : Al Bukhariy, Abu Daawud, At Tirmidziy.

    Sepuluh hari yang pertama ini di dalamnya ada hari arafah dimana seorang muslim disunnahkan/dianjurkan baginya untuk berpuasa (kecuali seseorang yang melaksanakan haji ketika dia sedang wukuf di arafah dan dibenci baginya untuk berpuasa di hari itu), dari Abi Qataadah radhiallahu `anhu berkata : Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berpuasa dihari arafah ? Beliau menjawab :

    ((يكفر السنة الماضية والباقية)). رواه مسلم.

    “Menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Diriwayatkan oleh : Muslim.
    Dari `Abdullah bin Qirth radhiallahu `anhu bahwa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam pernah berkata :

    ((أعظم الأيام عند الله يوم النحر ثم يوم القر)) صحيح. رواه أحمد، وأبو داود، وغيرهما. (صحيح الجامع للألبانى برقم 1075).

    Artinya :
    “Hari-hari yang paling mulia di sisi Allah ialah hari An Nahar ( raya qurban) kemudian hari Al Qirr.” Shohih. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daawud, dan selain mereka berdua. (Shohih Al Jaami`u oleh Al Albaaniy rahimahullahu Ta`ala no. 1075).

    Dinamakan hari Al Qirr yaitu hari setelah hari qurban, karena manusia (para haji) pada hari itu menetap di Mina, setelah mereka selesai melaksanakan Thawwaf Al Ifadhah, Menyembelih Hadyu (Qurban), lantas mereka istirahat di Mina tersebut. Lihat : Nailul Authaar (5/222).

    Pembahasan keempat :
    Keutamaan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara Qurban.

    Tidak ada satu hadist-pun yang shohih menjelaskan tentang keutamaan qurban, (Lihat : As Silsilah Ad Dha`iifah oleh Al Albaabiy, 1/163-165), akan tetapi Allah Subhana wa Ta`ala telah memerintahkan Nabi-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam dan setiap muslim untuk melaksankan sholat ikhlash kepada Allah, menyembelih juga ikhlash kepada Allah, seperti perkataan Allah Ta`ala :

    (فصل لربك وانحر). الكوثر (2).

    Artinya :
    “Maka dirikan sholat karena Rab-mua dan berqurbanlah.” (QS. Al kautsar : 2), dan peribadatan dalam harta benda yang paling mulia ialah : berqurban.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta`ala : “Semulia mulia peribadatan secara fisik ialah : As Sholat, dan harta benda ialah : Berqurban, apa apa yang terkumpul pada seorang hamba dalam sholat tidaklah terkumpul baginya di tempat lain, sebagaimana yang telah diketahui oleh pemilik hati-hati yang hidup, dan apa yang terkumpul bagi dia di saat-saat qurban bila digandengkan olehnya dengan Al Iman, Al Ikhlash yang disertai dengan keyakinan yang kuat dan sangka baik ini merupakan urusan yang `ajib sekali, dan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam banyak melakukan sholat dan qurban.” (Dinukil dari kitab Fathul Maajid).

    Berkata penulis : “Apabila menyembelih qurban itu merupakan semulia-mulia ibadat dalam bentuk harta benda di setiap waktu, bagaimana dengan qurban di hari `Idul Adha yang merupakan hari-hari yang paling mulia disisi Allah, tidak diragukan lagi sudah tentu akan mendapat ganjaran yang sangat besar Insya Allah Ta`ala. Dan dari Abu Bakar As Shiddiiqq Radhiallahu `anhu, bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam pernah ditanya; haji apa yang paling afdhol??

    Beliau menjawab :

    (العج والثج).

    Artinya :
    “Meninggikan suara ketika membaca Talbiyah, dan berqurban dengan fisiknya.” Hadist Hasan. Diriwayatkan oleh : At Tirmidziy, dan selainnya (lihat As Shohihah no. 1500).

    Pembahasan kelima :
    Wajib ikhlash kepada Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam.

    Supaya amalanmu menjadi amalan yang shohih/benar ya akhil muslim, diwajibkan bagimu untuk ikhlash dalam beramal dan selalu menurut sunnah Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam, jauhilah menyembelih selain kepada Allah Ta`ala, seperti yang dijelaskan oleh-Nya :

    (إن صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين). الأنعام 162-163.

    Artinya :
    Katakanlah : “Sesungguhnya sholatku, nusuk (sembelihan) saya, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rab semesta `alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama tama menyerahkan diri kepada-Nya.” (QS. Al An`am : 162-163). Makna kata nusuk disini ialah : sembelihan.

    Jangan kamu hai saudaraku bermaksud dalam sembelihanmu selain kepada Allah sebagaimana seorang yang kaya berbangga-bangga dengan tetangganya dan teman-temannya, atau hanya semata mata dengan tujuan menggembirakan anak-anak saja!!

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu `anhu berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shllallahu `alaihi wa Sallam berkata : Berkata Allah Ta`ala :


    (أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك فيه معى غيرى تركته و شركه). رواه مسلم.

    Artinya :
    “Saya paling tidak menghajatkan terhadap orang yang mensyirikan saya, siapapun yang mengamalkan satu amalan dimana dia mensyirikan Saya dalam amalan itu maka Saya akan tinggalkan dia berserta kesyirikannya.” Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim.

    Pembahasan keenam
    : Hukum sembelihan selain untuk Allah Ta`ala :
    Sembelihan yang dipersembahkan selain kepada Allah Ta`ala hukumnya adalah haram, pelakunya dilaknat oleh Allah, apakah sembelihan itu diperuntukkan untuk nabi, wali, jin, pohon yang dikeramatkan, quburan atau untuk selainnya.

    Dari `Ali bin Abi Tholib Radhiallahu `anhu berkata : Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menyampaikan empat nasehat buat saya :

    (لعن الله من لعن والديه، ولعن الله من ذبح لغير الله، ولعن الله من آوى محدثا، ولعن الله من غير منار الأرض). رواه مسلم.

    Artinya :
    “Allah telah melaknat seseorang yang melaknat kedua orang tuanya, dan melaknat seseorang yang mempersembahkan sembelihannya selain untuk Allah, dan melaknat seseorang yang berniat untuk berbuat bid`ah, dan melaknat seseorang yang merobah-robah batasan batasan Allah.” Diriwayatkan oleh Muslim.

    Peringatan :


    Tidak dibenarkan atas kamu hai sudara muslim yang mulia- mengadakan sembelihan di tempat yang sudah biasa manusia mengadakan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah Ta`ala- walaupun kamu ikhlash kepada Allah dalam sembelihan itu- seperti : sembelihan yang dipersembahkan untuk kubur-kubur para wali, orang-orang sholih, pohon-pohon yang dikeramatkan dimana orang orang yang bodoh menjadikan tempat itu sebagai wasilah guna mendekatkan diri kepada Allah dengan doa-doa, dan menggantungkan senjata mereka di pohon itu untuk mengambil berkah, rezqi, memohon supaya dapat keturunan darinya, dan selainnya dari amalan amalan yang syirik kepada Allah Subhana wa Ta`ala.

    Dari Tsaabit bin Ad Dhohaak radhiallahu `anhu berkata :
    “Seorang lelaki di zaman Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam pernah ber-nadzar untuk menyembelih seekor onta di “Bawwaanah” : (Bawwaanah: satu tempat di Al Hijaaz di belakang Yanbuu`- seperti dijelaskan dalam komentar shohih sunan Abi Daawuud, 2/637), lalu Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

    (هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد؟) قالوا : لا ! قال : (هل كان فيها عيد من أعيادهم ؟) قالوا : لا ! قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : (أوف بنذرك؛ فإنه لا وفاء لنذر فى معصية الله، ولا فيما لا يملك ابن آدم).

    “Apakah di tempat sembelihan itu ada tempat yang biasa digunakan oleh kaum jahiliyah dalam peribadatan mereka ?” Mereka menjawab : Tidak ! Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam melanjutkan : “Apakah di tempat itu biasa digunakan sebagai tempat `iid diantara `iidnya orang jahiliyah ?” Kata mereka : Tidak ! Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam kembali berkata : “Tunaikanlah nadzarmu itu; sesungguhnya tidak perlu ditunaikan nadzar yang maksiat kepada Allah, dan juga apa apa yang tidak dimiliki oleh anak Adam.” Hadist diriwayatkan oleh : Abu Daawuud. Ini merupakan hadist shohih sebagaimana dijelaskan di shohih sunan Abu Daawuud oleh Syaikh Al Albaaniy (2/637).

    Sisi pendalilan dari hadist ini ialah : “Tidak boleh ditunaikan nadzar yang maksiat kepada Allah.” Ini dalil menunjukan bahwa ini merupakan nadzar maksiat, walaupun sesungguhnya terdapat di tempat itu sebahagian dari larangan, dan tidak bisa ditunaikan nadzar maksiat di sana, ini sudah merupakan ijma` dikalangan `ulama. (Fathul Maajid, hal. 166).

    Pembahasan ketujuh
    : Kandungan hikmah daripada Qurban.

    1. Mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala dengan hewan sembelihan.
    2. Bersedekah kepada para fuqara` dan orang yang menghajatkan.
    3. Membina rasa kasih sayang kepada teman teman, kaum kerabat, dengan memberikan hadiah dari daging daging qurban tersebut.
    4. Memakan sebahagian dari hewan qurban itu, refresing terhadap diri dan keluarga, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :

    (أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله).

    Artinya:
    “Hari-hari Tasyriiq (hari ke-sebelas, dua belas, tiga belas) merupakan hari-hari yang disunnahkan untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allah.” Hadist mutawaatir, diriwayatkan oleh At Thobaariy dalam kitab At Tafsiir, Ibnu Hibbaan, Ahmad, dan selain dari mereka. Seperti yang dijelaskan oleh Al Albaaniy di As Shohihah (1282), dinamakan hari hari At Tasyriiq dikarenakan jema`ah haji pada hari itu menjemur, membentangkan daging-daging qurban tersebut di Mina, maksudnya dijemur oleh mereka di bawah terik sinar matahari.
    5. Meng-isytiyarkan syiar-syiar Islam seperti sholat, qurban, dan selainnya, ini merupakan cara cara untuk meninggikan kalimat Allah Ta`ala.
    6. Mengingatkan kita tentang keadaan imam-imam pembawa petunjuk dari Al Millah Al Hanafiyyah (Agama yang lurus), seperti Ibraahim, Ismaa`il `alaihimas Salaam serta para pengikutnya, mencontoh mereka dalam hal pengorbanan diri diri mereka, harta benda, cara ta`at kepada Allah, kuatnya kesabaran mereka.
    7. Menyerupai perbuatan para jama`ah haji dan merindukan hal-hal yang mereka lakukan selama pelaksanaan haji, oleh karena itu disunnahkan untuk bertakbiir pada hari-hari itu, dan inilah makna perkataan Allah Ta`ala :


    (واذكروا الله فى أيام معدودات). البقرة من الآية 203.

    Artinya :
    “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) nama-nama Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al Baqarah : 203. Disyari`atkan untuk tidak mencukur rambut, memotong kuku bagi yang ingin melaksanakan qurban (sembelihan). Nukiran dari kitab “Hujjatullah Al Baalighah” oleh Ad Dahlawiy (2/30-31) dengan ringkasan dan tambahan. Lihat “`Aaridhatul Ahwadziy” oleh Abu Bakar Ibnul `Arabiy (6/311).


    Bab kedua

    Ahkaamul udhhiyyah

    (Hukum hukum yang berhubungan dengan sembelihan)
    Pembahasan pertama : Hukum qurban.

    Memotong hewan qurban itu merupakan wajib dan difardhukan bagi setiap muslim yang baligh dan muqim (tetap dinegerinya) bukan musaafir, bukan juga seseorang yang kemampuan itu dipaksakan atasnya sehigga dia melalaikan hajat hajatnya yang utama. Dalil dalil yang menunjukan tentang ini akan kami tampilkan dari Al Kitab (Al Quran) dan As Sunnah.


    Pertama : Perkataan Allah Subhaana wa Ta`ala :

    (فصل لربك وانحر). الكوثر (2).


    Artinya :
    “Maka dirikan sholat karena Rab-mu dan berqurbanlah.” Al Kautsar (2).

    Maksudnya ; sembelihlah pada hari raya qurban tersebut. Riwayat ini diriwayatkan oleh : `Ali bin Abi Tholhah, dari Ibnu `Abbaas, `Athaa juga berpandangan seperti ini, Mujaahid dan Jumhur `ulama, seperti dijelaskan dalam “Zaadut Tajsiir (9/249)” oleh Ibnul Jauziy.


    Kalau ada seseorang berkata : Zhohir ayat ini menunjukan perintah kepada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam secara muthlaq untuk melaksanakan sholat, dan menyembelih pada hari qurban, agar seluruh amalan ini dia peruntukkan hanya kepada Allah `Azza wa Jall, bukan kepada selain-Nya.


    Maka jawabannya adalah sebagai berikut : “Walaupun kita mengatakan/berpadangan seperti ini, sesungguhnya apa apa yang dijelaskan oleh As Sunnah tentang hal yang muthlaq ini dengan bentuk khusus maka dia dalam segi hukum tergantung kepada Shollallahu `alaihi wa Sallam.” Ini nukilan dari “Fathul Qadiir” oleh Asy Syaukaaniy (5/503).


    Kedua : Dari Mikhnaf bin Saliim radhiallahu `anhu berkata : Kami wukuf bersama Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam di `Arafah lalu saya mendengar dia berkata :


    (ياأيها الناس إن على أهل كل بيت فى كل عام أضحية وعتيرة، أتدرون ما العتيرة ؟ هذه التى يقول عنها الناس : رجبية).


    Artinya : “Hai sekalian manusia diwajibkan atas setiap ahli rumah untuk menyembelih satu ekor hewan qurban dan `atiirah setiap tahun, tahukan kalian apa yang dimaksud dengan al `atiirah ? Inilah yang dinamakan oleh manusia: “rajabiyyah.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daawuud, dan selain mereka berdua. Hadist ini hadist hasan sebagaimana yang dijelaskan dalam shohih sunan Abi Daawuud (2/537).


    Sisi pendalilan dari hadist ini ialah : “Atas setiap ahli rumah,” artinya diwajibkan atas mereka untuk menyembelih satu ekor hewan qurban. Ini tidak dimansukh-kan sedangkan al `atiirah hukumnya sudah dimansukh-kan.


    Al `Atiirah : Sembelihan yang disembelih oleh orang orang jahiliyah pada sepuluh awal dari bulan Rajab. Lihat : “Nailul Authaar (5/232) dan Al Irwaa` (1180)


    Ketiga : Dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu berkata : Berkata Rasulullah Shollallahu `alahi wa Sallam :


    (من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا).


    Artinya : “Barang siapa yang mempunyai kelapangan dalam rezqinya namun dia tidak berqurban maka jangan sekali kali dia mendekati tempat sholat kami (lapangan).” Hadist diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Maajah, Al Haakim, dan selain dari mereka. Hadist ini hasan sebagaimana diterangkan dalam shohih sunan Ibnu Maajah oleh Al Albaaniy rahimahullah Ta`ala (2/199).


    Sisi pendalilan hadist ini : bahwasanya larangan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam terhadap orang yang mempunyai kemampuan untuk menyembelih hewan qurban akan tetapi dia tidak menyembelihnya, menunjukan bahwa orang tersebut telah meninggalkan sesuatu yang wajib, seolah olah tidak ada paedahnya kalau dia mendekatkan diri pada hari itu sementara dia meninggalkan satu kewajiban. (Nailul Authaar : 5/199).


    Berkata Al Imam As Sindiy : “Bukanlah yang dimaksud disini bahwa keabsahan sholat tergantung dengan qurban, akan tetapi yang demikian itu merupakan saksi bagi dia dengan tertolaknya dari majlis majlis orang orang yang baik, dan ini menunjukan satu amalan yang wajib, Allahu Ta`ala A`lam.” Lihat : Haasyiyah As Sindiy terhadap sunan Ibnu Majah (2/271).


    Keempat : Dari Jundab bin `Abdullah Al Bajaliy radhiallahu `anhu berkata : Saya telah menyaksikan `iidul Ad Dha/hari raya qurban bersama Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :


    ((من ذبح قبل أن يصلى-نصلى-فليذبح مكانها أخرى)).


    Artinya : “Barang yang siapa yang menyembelih sebelum dia sholat atau sebelum kita sholat- hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya.” Diriwayatkan oleh Al Bukhariy, Muslim dan selain mereka berdua.


    Sisi pendalilan dari hadist ini ialah : perintah Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam disini secara zhohir adalah menunjukan kepada wajib, apalagi diiringi dengan perintah mengulang untuk menyembelih kembali. Lihat : As Sailul Jaraar (4/74), oleh As Syaukaaniy.


    Kelima : Dari Jaabir bin `Abdullah radhiallahu `anhuma berkata :


    ((…. فأمر النبى صلىالله عليه وسلم من كان نحر قبله أن يعيد بنحر آخر….))


    Artinya : “….. Kemudian Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam memerintahkan kepada orang orang yang menyembelih sebelum sholat hendaklah ia menyembelih sembelihan lain lagi sebagai gantinya…” Hadits diriwayatkan oleh Muslim.


    Keenam : Dari Anas radhiallahu `anhu berkata : berkata Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam :


    ((من كان ذبح قبل الصلاة فليعد)).


    Artinya : “Barang siapa yang menyembelih sebelum sholat hendaklah dia ganti sembelihannya.” Hadits diriwayatkan oleh Al Bukhariy dan Muslim.


    Sisi pendalilan pada hadits ini adalah : sama dengan hadits yang ke-empat.


    Faedah dari pembahasan ini : Yang berpandangan tentang wajibnya qurban terhadap seorang muslim yang baligh dan muqim serta mampu adalah : Al Imam Abu Hanifah, satu perkataan dari Al Imam Maalik dalam satu riwayat, tetapi tidak dia batasi dengan kata kata muqim, satu riwayat juga dari Ahmad, demikian juga nukilan dari Al Auzaa`iy, Rabii`ah, Al Laits, sama dengan riwayat dari Maalik. Dan dalil dalil mereka telah lewat dijelaskan sebelumnya.


    Adapun pandangan jumhur (kebanyakan) `ulama adalah sunnah muakkadah. Berkata Al Imam Ahmad, dalam satu riwayat yang lain darinya : “Dibenci untuk ditinggalkan jika dia mampu,” dan dari Muhammad bin Al Hasan, “Ini merupakan sunnah tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya.” Salah satu pandangan dari Al Imam As Syafi`I : “Perbuatan ini merupakan bahagian dari fardhu Al Kipaayah.” Lihat : Al Fathu, oleh Al Haafidz Ibnu Hajar (10/2), Al Majmuu`, oleh An Nawawiy (8/385).


    Yang shohih/rojih dalam masalah ini ialah; bahwa hukum qurban adalah wajib atas setiap muslim yang baligh, muqim dan mampu, ini adalah untuk dia dan ahli rumahnya sesuai dengan dalil dalil yang telah lewat. Dan tidak ada dalil yang memalingkan perintah wajib ini kepada yang lain. Akan tetapi kewajiban ini dibatasi dengan yang mempunyai kelapangan, barang siapa yang tidak mempunyai kelapangan maka tidak diwajibkan baginya untuk menyembelih, Allahu A`lam. Lihat : Majmuu`ul Fataawa (23/162-164), As Sailul Jaraar (4/73-76).


    Dan adapun atas seorang musaafir yang tidak mampu, hanya disunnahkan baginya sebagaimana dijelaskan oleh hadits dari jalan Tsaubaan yang akan datang ini. Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta`ala : “Hukum yang shohih mengenai qurban adalah wajib, sesungguhnya ini diantara syi`ar syi`ar Islam yang besar, qurban merupakan ibadat yang umum diseluruh negeri, sebab An Nusuk (sembelihan) digandengkan dengan sholat seperti perkataan Allah Ta`ala :


    ((إن صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين)).


    Artinya : “Sesungguhnya sholat saya, sembelihan saya, hidup saya, dan mati saya semata mata hanyalah untuk Allah saja.”


    Dan sesungguhnya Allah Ta`ala berkata :


    ((فصل لربك وانحر))


    Artinya : “Sholatlah kamu kepada Rab-mu dan menyembelihlah.” Disini Allah Subhaana wa Ta`ala memerintahkan untuk berqurban sebagaimana Dia memerintahkan juga untuk sholat. Dan Allah Subhana wa Ta`ala berkata :


    ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام فإلهكم إله واحد فله أسلموا وبشر المخبتين)). الحج (34)
    . وقال : ((والبدن جعلناها لكم من شعائر الله لكم فيها خير فاذكروا اسم الله عليها صواف، فإذا وجبت جنوبها فكلوا منها وأطيعوا ((ولكل القانع والمعتر، كذلك سخرناها لكم لعلكم تشكرون. لن ينال الله لحومها ولا دماؤها، ولكن يناله التقوى منكم، كذلك سخرها لكم لتكبروا الله على ما هداكم وبشر المحسنين)). الحج (36-37).


    Artinya : “Dan bagi tiap tiap ummat telah Kami syari`atkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Ilah kalian ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kalian kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang tunduk patuh kepada Allah.” (QS. Al Hajj : 34).
    Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dari makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta unta itu kepada kalian, mudah mudahan kalian bersyukur. Daging daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang berbuat baik. Al Hajj (36-37).


    Qur'an ini merupakan millah (Din), ajaran Nabi Ibraahim `alaihis Salaam dan kita diperintahkan untuk mengikutinya, dengan tujuan mengingat kembali kisah sembelihannya terhadap anaknya, bagaimana bisa dibolehkan kepada seluruh kaum muslimin untuk meninggalkannya artinya tidak ada satupun kaum muslimin yang mengamalkannya, kalau kaum muslimin secara keseluruhannya meninggalkan ini maka lebih besar mudharatnya daripada meninggalkan haji disebahagian tahun.


    Dan sesungguhnya ada yang berkata : bahwa haji ini setiap tahun merupakan fardhu kifayah, karena ia merupakan syi`ar Islam, demikian juga mengenai sembelihan, bahkan sembelihan ini dilaksanakan disetiap pelosok negeri di penjuru dunia, sampai sampai sembelihan ini selalu bergandengan pelaksanaannya dengan sholat, ini menampakan ibadah kepada Allah dan mengingat-Nya, sembelihan dipersembahkan untuknya demikian juga qurban, apa yang nampak dihari sembelihan tidak nampak ketika pelaksanaan haji, sebagaimana juga nampak dzikir dan bertakbir kepada Allah di hari hari `iid, dan telah diperjelas oleh hadits hadits dari Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam yang menunjukan perintah terhadap kaum muslimin yang mampu. Telah datang juga keterangan dalam madzhab Al Imam Ahmad tentang wajib hukumnya, satu pandangan di madzhab Abi Hanifah dan Maalik, bahkan dzhohirnya pandangan Al Imam Maalik demikian juga.


    Adapun yang berpandangan tidak wajibnya hukum qurban tersebut mereka tidak mempunyai dalil, pegangan mereka hanya perkataan Shollallahu `alaihi wa Sallam :


    ((من أراد أن يضحى ودخل العشر، فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره)).


    Artinya : “Barang siapa yang ingin berqurban, dan telah masuk sepuluh awal dari bulan dzulhijjah, maka jangan dia menggunting rambut dan kuku kukunya.” Mereka berkata : kewajiban tidak tergantung dengan keinginan, ini merupakan perkataan yang global !!, sesungguhnya kewajiban itu diwakilkan kepada keinginan seorang hamba itu, dikatakan : kalau kamu ingin kerjakanlah, kadang kadang kewajiban itu tergantung kepada syarat untuk menjelaskan satu hukum dari sekian banyak hukum, seperti perkataan Allah Ta`ala :

    ((إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا)). المائدة (6).


    Artinya : “Apabila kalian ingin mendirikan sholat maka cucilah.” Al Maaidah (6). Dan sebenarnya ada kata kata yang disembunyikan disini; apabila kalian ingin mendirikan, demikian juga ditempat yang lain seperti: apabila kamu ingin membaca Al Quran maka berlindung kepada Allah, bersuci itu merupakan kewajiban, dan membaca Al Faatihah dalam sholat juga wajib, seperti yang dikatakan oleh Allah :


    ((إن هو إلا ذكر للعالمين لمن شاء منكم أن يستقيم)). التكوير (27-28).


    Artinya : “Al Quran itu tidak lain tidak bukan ialah peringatan bagi semesta alam, yaitu bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” At Takwiir (27-28). Keinginan untuk istiqomah itu adalah wajib.


    Dan juga perlu diketahui bahwa kewajiban itu bukan dipikulkan atas tiap pribadi, akan tetapi hanya kepada orang yang mampu, dialah yang diwajibkan untuk berqurban, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :


    ((من أراد الحج فليتعجل، فإنه قد تضل الضالة، وتعرض الحاجة)).


    Artinya : “Barang siapa yang ingin melaksanakan haji hendaklah segera dia tunaikan, sebab kadang kadang dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan tidak tahu juga dia akan kebutuhan yang mendesaknya.” Dan haji adalah diwajibkan atas orang yang mampu juga, seperti perkataan :


    ((من أراد أن يضحى))


    Artinya : “Siapapun yang ingin berqurban.” Sama dengan :


    ((من أراد الحج فليتعجل)).


    Artinya : “Siapapun yang ingin melaksanakan haji hendaklah dia laksanakan secepatnya.” Kewajiban haji pada sa`at yang demikian tergantung pada syarat mampu dia untuk melaksanakannya, lebih diutamakan dari kebutuhannya yang pokok, seperti perkataan : “shodaqatul fitri.” (Majmuu`ul Fataawa, 23/162-164).


    Apabila dikatakan : Sesungguhnya tidak ada riwayat dari satu orang shahabatpun yang menunjukan tentang wajibnya qurban tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hazam di “Al Muhallaa” : “Bahkan Abu Bakar, `Umar radhiallahu `anhuma tidak berqurban karena merasa takut orang orang akan mengikuti mereka nantinya,” diriwayatkan oleh Al Baihaqiy, atsar ini shohih sebagaiman diterangkan oleh As Syaikh Al Albaaniy dalam “Irwaaul Ghalil (4/no.1139) dan diriwayatkan juga oleh Al Baihaqiy dari jalan Abi Mas`uud Al Anshoriy, radhiallahu `anhu berkata : “Sebenarnya saya meninggalkan qurban, walaupun saya mampu, saya merasa takut nanti tetangga saya melihat ini lalu diikuti olehnya sebagai satu kewajiban,” berkata As Syaikh Al Baaniy dalam Irwaaul Ghaliil (4/355) : “Sanad hadits ini shohih juga.” Dan seterusnya.


    Kalau hukum qurban ini adalah wajib kenapa para shahabat meninggalkannya ? jawabannya ialah : seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta`ala- berkata : “Boleh diqurbankan satu ekor kambing untuk satu rumah- baik isteri dan anak anaknya, dan orang orang yang bersamanya sebagaimana yang telah dilakukan oleh para shahabat. Adapun yang dinukil dari sebahagian shahabat dimana mereka tidak melaksanakan qurban bahkan mereka hanya membeli daging saja. Sesungguhnya ini merupakan masalah yang dipertikaikan dikalangan shahabat sebagaimana juga mereka ikhtilaf dalam masalah `umrah.


    Mungkin saja yang tidak melaksanakan qurban pada masa itu adalah orang yang tidak memiliki kelapangan, atau tujuannya ialah dalam rangka menghinakan orang orang yang kaya pada masa tersebut berqurban dipersembahkan kepada selain Allah Ta`ala, atau ketika mereka tidak berqurban pada tahun itu dalam rangka pelecehan terhadap mereka tadi, jadi ditinggalkannya kewajiban itu demi kemashlahatan yang jelas. Sebagaimana dikatakan oleh Shollallahu `alaihi wa Sallam :


    ((لقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام، ثم أنطلق معى برجال معهم حزم حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة، فأحرق عليهم بيوتهم بالنار، لو لا ما فى البيوت من النساء والذرية)).


    Artinya : “Saya sangat berkeinginan sekali memerintahkan agar sholat didirikan, kemudian saya berangkat bersama kaum laki laki yang membawa kayu bakar menuju ke rumah orang orang yang tidak menyaksikan sholat berjamaa`ah, akan saya bakar rumah rumah mereka dengan api, kalaulah tidak dikarenakan keberadaan kaum wanita dan anak anak sudah saya bakar rumah rumah tersebut.”


    Hampir hampir beliau meninggalkan Jum`ah dan Jamaa`ah yang wajib disebabkan memberikan `iqab kepada yang meninggalkan Jamaa`ah tersebut, sesungguhnya ini merupakan bagian dari bab jihad yang sempit waktunya, maka lebih didahulukan dari Jum`ah dan Jamaa`ah.


    Kalau seandainya seorang pemimpin-seperti pekerja sebagai amar ma`ruuf nahi munkar dan selainnya terlambat dari menunaikan Jamaa`ah disebahagian waktu dalam rangka memperhatikan dan melihat siapa yang tidak sholat berjamaa`ah maka boleh dia memberikan sangsi padanya. Ini merupakan sebahagian dari `udzur yang dibolehkan untuk meninggalkan jamaa`ah, karena menghukum orang yang meninggalkan jamaa`ah tersebut merupakan kewajiban yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan cara ini, dan Nabi Shollallau `alaihi wa Sallam telah menjelaskan pada kita bahwa tidak disebabkan kaum wanita dan anak anak sudah dia bakar rumah rumah dan seisinya, akan tetapi di dalamnya ada orang orang yang tidak diwajibkan atasnya Jum`at dan Jamaa`ah seperti para wanita dan anak anak, tidak boleh dihukum mereka ini, sebagaiman seorang perempuan yang hamil dari perbuatan zina tidak dirajam dia sampai dia melahirkan sebab membunuh janin yang ada dalam perutnya tidak boleh, (seperti qishah Al Ghamidiyah). Lihat Majmuu`ul Fataawa (23/164-165).


    Pembahasan yang kedua : Hukum qurban atas musafir.

    Adapun seorang musaafir quban hanya disunnahkan baginya jika dia mampu bukan wajib, karena safar menggugurkan kewajiban sholat Jum`at dan sholat `iid (lihat kitab Ahkaamus safar wa Aadaabuhu fil Kitab was Sunnah, oleh pengarang sendiri) atas musafir itu sendiri, dalil dalilnya ialah sebagai berikut :
    1. ((يا ثوبان، أصلح لنا لحم هذه الشاة))

    Artinya : Dari Tsaubaan radhiallahu `anhu berkata : Rasulullah Shollallahu menyembelih qurbanya, kemudian dia berkata : “Ya Tsaubaan, tolong bersihkan untuk kami kambing ini,” masih terus saya memakannya sampai beliau di Madinah.” Diriwayatkan oleh Muslim.


    2. عن ابن عباس رضىالله عنهما قال : ((كنا مع النبى صلىالله عليه وسلم فى سفر، فحضر الأضحى فذبحنا البقرة عن سبعة، والبعير عن عشرة))

    Artinya : Dari Ibnu `Abbaas radhiallahu `anhuma berkata : “Kami pernah safar bersama Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, bertepatan pada masa itu `iidul Adh Dha maka kami menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang, sedangkan onta untuk sepuluh orang. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmidziy, dan selain mereka berdua. Hadits ini shohih sebagaimana dijelaskan dalam shohih sunan At Tirmidziy oleh Al Imam Al Albaaniy (2/89).


    3. عن عاصم بن كليب، عن أبيه قال : كنا فى سفر فحضر الأضحى، فجعل الرجل منا يشترى المسنة بالجذعتين والثلاثة، فقال رجل من مزينة : كنا مع رسول الله صلىالله عليه وسلم فى سفر فحضر هذا اليوم فجعل الرجل يطلب المسنة بالجذعتين والثلاثة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الجذع يوفى مما يوفى منه الثنى)).

    Artinya : Dari `Aashim bin Kulaiib, dari bapaknya berkata : Kami pernah safar takkala itu `iidul Ad Dha, mulailah salah seorang dari kami membeli dua ekor atau tiga ekor kambing yang tua, lantas berkata seorang laki laki dari Muziinah : Kami pernah bersama sama dengan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam safar ketika itu `Iidul Adhha mulailah salah seorang kami mencari dua atau tiga ekor kambing yang sudah tua, maka Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Sesungguhnya kambing yang berumur delapan atau sembilan bulan mencukupi dari apa apa yang mencukupi dari seekor unta yang berumur lima tahun.” Diriwayatkan oleh Abu Daawud, dan selainnya, hadits ini hadits yang shohih sebagaimana dijelaskan dalam Al Jaami`us Shoghiir, no. 1592).


    4. حديث عائشة رضىالله عنها فى حجة الوداع، وفيه قالت : ((فلما كنا بمنى أتيت بلحم بقر، فقلت : ما هذا ؟ قالوا : ضحى رسول الله صلىالله عليه وسلم عن أزواجه بالبقر))


    Artinya : Hadits dari jalan `Aaisyah radhiallahu `anha ketika haji wada` berkata dia : “Tatkala kami di Mina lantas disodorkan kepada saya daging sapi, lalu saya bertanya: Apa ini? Mereka menjawab : “Ini sembelihan Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam seekor sapi diniatkan buat seluruh isterinya.” Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhariy. Berkata Al Haafidz Ibnu Hajar tentang hadits ini : “Zhohir hadits menunjukan bahwa sembelihan yang disebutkan adalah daging sembelihan di hari raya Qurban)), lihat Fathul Baariy (10/4). Faidah hadits ini diantaranya : Disyari`atkannya qurban bagi musaafir, ini pandangan kebanyakan `ulama. Berkata An Nakhaa`iiy dan Abu Hanifah : Tidak diwajibkannya qurban bagi musaafir, diriwayatkan juga dari `Ali radhiallahu `anhu. Berkata Maalik dan sekelompok `ulama : Tidak disyari`atkan di Mina dan Makkah. (Syarhul Muslim oleh An Nawaawiy 13/134). Dan yang shohih diantara pandangan ini ialah Pandangan yang pertama sesuai dengan dalil dalil yang telah lewat, dan seperti ini juga pandangan Ibnu Hazam dalam Al Muhallaa (5/314-315) al masalah no. 909.


    Pembahasan yang ketiga : Pemimpin membantu masyarakat yang tidak mampu dengan cara membagi bagikan hewan qurban.


    Dianjurkan bagi seorang Al Imam (pemimpin satu negeri) untuk membagi bagikan hewan qurban terhadap siapapun yang tidak mampu dikalangan muslimin dengan mengeluarkan dananya dari baitul maal !! sesuai dengan hadits dari `Uqbah bin `Aamir radhiallau `anhu :


    ((أن النبى صلىالله عليه وسلم أعطاه غنما يقسمها على صحابته ضحايا …)).


    Artinya : “Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam pernah memberikan hewan hewan qurban kepadanya untuk dibagikan kepada para sahabatnya…..” Hadits diriwayatkan oleh Al Bukhariy, Muslim, dan selain mereka berdua. Dan berpandangan dengan perkataan seperti ini Al Qurthubiy sebagaiman dijelaskan dalam Al Fathu (10/9).


    Pembahasan yang keempat : Apakah boleh bagi seorang muslim berhutang untuk qurban ?


    Hukum ashol dari pembahasan ini ialah perkataan Allah Ta`ala :


    ((لا يكلف الله نفسا إلا وسعها)). البقرة (286).
    وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((لا ضرر ولا ضرار)).



    Artinya :
    “Allah tidak akan membebankan sesuatu terhadap jiwa tersebut kecuali semampunya.” (QS. Al Baqarah : 286).


    Dan perkataan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam yang artinya : “Janganlah kamu membinaskan diri kamu dan jangan pula orang lain.” Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Hadits ini adalah hadits shohih. Sebagaiman yang telah dijelaskan oleh Al Albaaniy dalam Shohihul Jaami` (7393). Makna hadits di atas ialah: Jangan seseorang itu memudharatkan dirinya dan jangan pula memudharatkan orang lain. Sesungguhnya ini telah dijawab oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Kalau seandainya dia memang mampu untuk membayarnya makan boleh baginya untuk berhutang dan itu baik sekali, akan tetapi tidak wajib baginya hal demikian, Allahu A`laam.” Lihat Majmuu`ul Fataawa (26/305).


    Peringatan : Adapun hadits `Aaisyah radhiallahu `anha, berkata dia : Ya Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam bolehkah saya berhutang untuk berqurban ini ? Beliau menjawab :


    ((نعم، فإنه دين مقضى)).


    Artinya : “Boleh, sesungguhny dia merupakan hutang yang harus dibayar.” Telah berkata tentang hadits ini Al Imam An Nawaawiy dalam Al Majmuu` (8/386) : Diriwayatkan hadits ini oleh Ad Daaruqurniy, Al Baihaqiy, mereka berdua melemahkan hadits ini sambil berkata : Ini hadits mursal.


    Pembahasan kelima : Apakah orang yang punya hutang dibolehkan baginya untuk berqurban ?


    Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menjawab : “Seseorang yang mempunyai hutang dibolehkan baginya untuk berqurban apabila dia tidak dituntut untuk membayarnya sesegera munkin.” Majmuu`ul Fataawa (26/305).


    Pembahasan keenam : Diharamkannya memotong kuku dan rambut bagi yang ingin berqurban sampai dia selesai berqurban.


    Diwajibkan atas seseorang yang ingin berqurban, bila dia mempunyai sembelihan untuk disembelih untuk tidak memotong rambut dan kuku kukunya sedikitpun apabila telah masuk bulan dzul hijjah sampai dia selesai dari menyembelih.


    Dari Ummi Salamah radhiallahu `anha dia berkata : Berkata Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :


    ((من كان له ذبح يذبحه فإذا أهل هلال ذى الحجة فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره شيئا حتى يضحى)).


    Artinya : “Barang siapa yang memiliki hewan qurban untuk dia sembelih, maka apabila telah masuk bulan dzulhijjah jangan sekali kali dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun sampai dia selesai dari menyembelih.” Hadits dikeluarkan oleh Muslim, Abu Daawuud, At Turmudziy, An Nasaaiiy.


    Faidahnya ialah : Berpandangan Sa`iid bin Al Musaiyyib, Rabii`ah bin `Abdur Rahmaan, Ishaaq bin Raahawiyyah, Ahmad bin Hambal, Daawuud, dan sebahagian pengikut As Syaafi`I yaitu diharamkan untuk memotong sedikitpun dari rambut dan kuku atas seseorang yang ingin berqurban apabila telah masuk sepuluh yang awal dari bulan dzulhijjah, berpandangan As Syaafi`i dan pengikutnya, dan sebahagian dari sahabat Al Imam Ahmad, perbuatan itu adalah dibenci sebagai pembersihan, dan juga satu riwayat dari Maalik. Dan berkata Abu Haniifah : Tidak dibenci, satu riwayat dari Maalik. Dan ada riwayat yang ketiga darinya : Diharamkan kalau qurban itu sebagai sunnah namun kalau wajib tidak (Syarhu Muslim An Nawaawiy 13/138) secara ringkas. Dan yang shohih diantara pandangan ini ialah pandangan yang pertama, yaitu perkataan Sa`iid bin Al Musaiyyib, dan orang orang yang bersamanya, lihat keterangan Ibnul Qaiyyim, dalam komentarnya terhadap hadits Ummi Salamah dalam Sunan Abi Daawuud (7/246-249) bersama `Aunul Ma`buud.

    Bab yang ketiga

    Macam macam hewan sembelihan


    Pembahasan pertama : Hewan apa saja yang termasuk kategori hewan sembelihan ?


    Tidak dianggap sah sembelihan seseorang kecuali binatang ternak, seperti onta, sapi, kambing (domba (yang mempunyai banyak bulu), biri biri (yang memiliki banyak rambut).


    Tidak boleh selain dari hewan ternak ini seperti sapi liar, kijang betina, kuda, burung burung dan selainnya walaupun binatang ini dihalalkan.


    Dalil yang menunjukan tentang ini adalah perkataan Allah Ta`ala :


    ((ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام)). الحج (34).


    Artinya : “Dan bagi tiap tiap ummat telah Kami syari`atkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.” (QS. Al Hajj : 34).
    Arti “mansakan” disini ialah : sembelihan dan mengalirkan darah, seperti yang telah dijelaskan oleh Al Imam Mujaahid rahimahullah Ta`ala. Dan Al An`aam disini adalah : onta, sapi, kambing. Sedangkan binatang binatang ternak ialah binatang ternak itu sendiri. Al Qurthubiy telah berpandangan seperti ini dalam Tafsiirnya (12/44), dan sesungguhnya telah dinukil tentang masalah ini ijma` (kesepakatan) para ahli `ilmu, kecuali seperti yang diceritakan dari Al Hasan bin Shoolih bahwa dia berkata : boleh sembelihan tersebut dari sapi yang liar (satu ekor untuk tujuh orang), kijang betina untuk satu orang. Lihat Al Majmuu`u oleh An Nawawiy (8/394), dan Bidaayatul Mujtahid oleh Ibnu Rusyud (1/417).


    Faidahnya : “Tidak diterima sembelihan yang diperanakkan dengan kijang betina, kambing, karena keseluruhan ini bukan termasuk binatang ternak. Dijelaskan ini oleh An Nawawiy di Al Majmuu`u (8/394).
    Sumber: www.tazhimussunnah.com