Friday, April 22, 2011

Cerita-Cerita Bohong Dalam Ajaran Talmud


Ada banyak sekali bentuk-bentuk kebohongan dan cerita-cerita utopis yang terdapat dalam isi (kandungan) ajaran Talmud. Diantara cerita-cerita bohong ajaran Talmud itu adalah: 


Percaya Bintang-Bintang
Ajaran Talmud menekankan pentingnya ilmu bintang, dan mewajibkan kaum Yahudi untuk mempelajari dan mempercayainya, karena astrologi merupakan penguasa dan penentu kehidupan manusia. Bintang- bintang dalam keyakinan kaum Yahudi, bisa membuat manusia menjadi cerdas (pandai) dan kaya. Rabi Chanina mengatakan: "Pengaruh bintang-bintang itu bisa membuat seseorang menjadi pandai dan cerdas, bintang-bintang juga melahirkan pengaruh yang membuat manusia menjadi kaya. Hidup dan kehidupan bangsa Israel dibawah pengaruh bintang-bintang." Ungkapan rabi Chanina itu mendapat tanggapan keras dari rabi Johannan, ia menandaskan : Bani Israel tidak dibawah pengaruh bintang-bintang, apa dasar argumen orang yang berkata demikian? Rabb (Tuhan) kita telah berfirman : "Jangan menempuh jalan para paganis (penyembah berhala), jangan terperdaya oleh tanda-tanda langit, sesungguhnya para paganis itu, adalah manusia-manusia yang terperdaya tanda-tanda langit" (Armia 10 :2) C l) Talmud rnengatakan : "Sesungguhnya gerhana matahari adalah tanda buruk (Evil-Sign) bagi rakyat, gerhana bulan tanda buruk bagi bani Israel, karena bani Israel menyandarkan keberadaan (hidup) mereka kepada bulan, sedang penduduk bumi lainya menyandarkan hidup mereka kepada matahari"
Sihir
Ajaran Talmud marak dengan beragam ritualitas, seperti sihir, permainan sulap (magic), pertenungan (santet), ramalan bintang dan ilmu-ilmu klenik lainya. Talmud juga mengajarkan untuk percaya dengan eksistensi jin-jin (demons). Rabi Abba Benjamin mengatakan :"Jika manusia diberi kemampuan untuk melihat jin, niscaya tidak ada seorang pun yang berani berdiri dihadapan mereka." rabi Abbai enuturkan : "Para Jin itu jumlah mereka lebih banyak dari jumlah kita (manusia), mereka mengitari kita seperti halnya parit mengitari kebun." Rabi Rav Huna menandaskan: "Masing-masing diantara kita disisi sebelah kanannya ada seribu jin, sedang disisi sebelah kirinya terdapat sepuluh ribu jin." Pendeta Rabba mengatakan : "Kegaduhan yang terjadi ditengah-tengah pembacaan khutbah di sinagog-sinagog adalah disebabkan oleh para jin. Tersingkapnya pakaian para rabi adalah juga disebabkan oleh ulah para jin, kaki-kaki terkilir juga disebabkan para jin. Ketahuilah para jin itu tidak henti-hentinya menggoda manusia."
Ada sebagian para rabi yang memperagakan ritual penyihiran, khususnya bagi mereka yang ingin rnenyaksikan kesejatian komunitas para jin. Kami tidak perlu menerangkan secara detil ritual tersebut, karena akan berdampak negatif bagi ketentrarnan umum. Terkait dengan masalah ini pendeta Rabba menuturkan : Sesungguhnya rabi Rav Bibiba r Abbai, mengikuti prosesi ritual sihir ini, ia lalu. terkena malapetaka dan jatuh sakit, namun para rabi lain berkumpul bersembahyang mendoakan rabi Rav Bibi bar Abbai, hingga akhimya ia bisa sembuh".
Talmud mengajarkan bahwa ruh-ruh jahat (Evil Spirits) para setan (devils),para jin (Goblin) adalah termasuk anak cucu Adam, semua mahluk halus (tidak terlihat) itu terbang di berbagai penjuru arah, mereka mengetahui segala hal yang bakal terjadi di era yang akan datang, dengan cara mencuri pendengaran "ucapan-ucapan langit" secara sembunyi-sembunyi. Mereka makan dan minum seperti manusia, jumlah mereka sangat banyak, kaum Yahudi memparodikan keberadaan mahluk halus itu dengan "Orang-orang yang bermain sulap." Ajaran Talmud melarang manusia untuk menaiki punggung sapi yang sedang diikat di dalam kandangnya, karena setan menari-nari diantara kedua tanduk lembu atau sapi yang sedang diikat tersebut. Talmud juga melarang manusia mengucapkan salam kepada temannya di malam hari, karena ditakutkan uluk salamnya keliru kepada setan atau jin. Talmud mengajarkan untuk membuang sedikit air yang ada digentong sebelum diminurn, demi keselarnatan dari godaan ruh-ruh jahat bagi orang yang hendak meminumnya. Talmud membolehkan manusia untuk berkonsultasi dan meminta petunjuk kepada setan di akhir pekan yaitu hari Jum'at.
Setan dimata orang Yahudi bagaikan malaikat kematian. Namun ada stigma kepercayaan dalam kaum Yahudi, bahwa setan tidak akan merniliki kekuatan dihadapan orang-orang yang rajin rnempelajari qanun Taurat. Talmud banyak mnengupas tipu daya dan seni tipu daya setan, yang membuat banyak ahli hikmah (dengan mediasi tipu daya itu) meninggalkan membaca qanun, bahkan melepaskan diri mereka secara utuh dari nilai- nilai qanun, mereka beralih berprofesi dari penyebar taurat menjadi penyihir manusia dengan seni tipu dayanya.
Talmud juga mengatakan; setiap Jum'at sore, ruh-ruh baru akan masuk ke tubuh para mayat yang ada di pekuburan, ruh-ruh itu akan tetap bersemayam dalam jasad mayat hingga habisnya hari Sabtu, pada akhir hari Sabtu ruh-ruh tersebut meninggalkan jasad mayat yang ada di pekuburan, ada keharusan bagi ruh-ruh itu mendatangi jasad-jasad yang mewadahi mereka (selama di dunia), karena jasad-jasad itu membutuhkan makan danmi nu m di kuburnya. Karenanya kita sering mendapati aliran keagamaan tertentu, yang melakukan tradisi sesajen di kuburan, sama persis dengan keyakinan kaum Yahudi tersebut. Orang Yahudi berkeyakinan, paska meninggalnya manusia (kaum Yahudi) ruhnya meninggalkan jasad mayat selama tiga hari, lalu kembali lagi ke jasadnya, namun setelah ditinggal tiga hari itu ruh mendapati bentuk wajah jasadnya telah berubah, maka ruh itu meninggalkan jasadnya, pergi sejauh-jauhnya meninggalkan jasad! Tatkala ruh meninggalkan jasad menyebabkan lahirnya suara yang menggelegar, tetapi para rabi berdoa kepada Rabb (Tuhan) untuk keselamatan si mayit, sehingga suara itu bisa dihindarkan dari si mayit, suara dahsat itu tidak ada yang menandingi selain suara matahari disaat beredar pada garis rotasinya, atau setara dengan suara (teriakan) seluruh rakyat yang sedang berkumpul di kota Roma.,
Surga Dan Neraka Dalam Pandangan Ajaran Talmud
Ajaran Talmud menjelaskan tentang surga dan neraka itu sebagai berikut : Luas wilayah Mesir itu panjangnya empat ratusm il , lebarnya juga empat ratusm i Bumi Morians enam puluh kali lebih besar dibandingkan Mesir. Bumi Ma'murah enam puluh kali lebih besar dibandingkan Morians. Surga enam puluh kali lebih besar sibandingkan Ma'murah. Neraka enam puluh kali lebih besar dibandingkan surga. Para rabi menyirnpulkan bahwa besar bumi ini seperti tutup gentong air jika dibandingkan dengan besamya neraka. Sebagian para rabi mengatakan besarnya neraka itu tidak terjangkau ukurannya, sebagian rabi lain mengatakan besamya surga tidak mungkin bisa diketahui ukurannya. Salah seorang rabi mengatakan : Surga itu tidak sama dengan bumi ini, karena di dalam surgati da k ada makan dan minum, tidak ada nikah dan beranak pinak, tidak pula ada trafficking (perdagangan), di surga tidak ada dendam kesumat, tidak ada pelecehan, penindasakan, serta kehasudan antar sesama jiwa. Semua penghuninya adalah manusia shaleh yang duduk diatas singgasana, dikepala mereka terdapat mahkota, mereka menikmati kedamaian dan ketenangan yang tiada tara.
Para rabi mewartakan bahwa neraka itu memiliki tiga pintu, satu pintu di darat, satu lagi di laut sedang satunya lagi di Jerussalem. Talmud mengajarkan bahwa api neraka tidak memiliki kuasa atas pelaku dosa Bani Israel, tidak pula punya kuasa terhadap para murid ahli hikmah (para rabi). Namun demikian ada sebagian rabi yang mengatakan : Bani Israel yang melakukan tindak dosa, akan pergi bersama orang- orang asing (maksudnya adalah non Yahudi), ke dalam api neraka, ia akan tinggal di dalam neraka itu selama dua belas bulan, ruh mereka akan terbakar, lalu dihembuskan angin sehingga terhempas di sandal-sandal para shaleh. Adapun para Heretics (orang-orang yang mengingkari adanya hari kiamat) dan para pengikut Epicurians serta para pelaku dosa non Yahudi, mereka akan selalu disiksa dan terus menerus diadzab, seperti halnya cacing (ulat) yang ada dalam tubuh mereka tidak akan pernah mati, kobaran api dalam diri mereka juga tiada pemah padam. Salah seorang pendeta Yahudi menandaskan : Tidak ada hisab (perhitungan) paska terpisahnya ruh dengan jasad, yang bertanggung jawab atas dosa-dosa adalah jasad, ruh tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas dosa-dosa yang dilakukan jasad, akan tetapi pendapat ini ditentang keras oleh para rabi yang lain.
Malaikat Dalam Pandangan Ajaran Talmud
Pandangan Talmud tentang para Malaikat sungguh sangat gharib (aneh), Talmud mengajarkan bahwa hanya malaikat Jibril sajalah yang mengerti semua bahasa, Jibril mengajari Joseph (nabiyullah Yusuf as. dalam pesan Qur'ani), semua bahasa yang ada di dunia ini, yang jumlahnya tujuh puluh bahasa. Talmud mengatakan pemimpin para malaikat itu bernama Metatron, akan tetapi ada malaikat lain yang bernama Ampiel yang memukul Metatron dengan api. Kisah lain yang dituturkan Talmud, bahwa tatkala raja Namrud yang kafir hendak melempar Ibrahim as ke bara api, Malaikat Jibril menghadap Rabb (Tuhan), ia berkata : "Wahai Rabb (Tuhan Pengatur) sekalian alam.! Aku akan turun ke bumi, untuk mendinginkan api dan menyelamatkan1/ orang shaleh" dari kobaran api. .. " Namun Rabb berfirman kepada Jibril : "Aku adalah dzat Yang Esa di alam Ku, dia tunggal di ala mnya, adalah kewajiban yang Esa menolong yang Tunggal yang lain." Akan tetapi Rabb tidak pernah menyimpan berkah dan karunia-Nya kepada yang lain, maka berkatalah Dia kepada Jibril : "Sesunggunya kau akan mampu menolong tiga orang dari keluarga Ku! rabi Simon Shilonite menuturkan: Ketika raja Nebukadnezar yang kafir itu melemparkan para rabi : Hananiah. Mishael dan Azariah, ke dalam kobaran api, tiba- tiba datang Jorkemo pangeran dingin (the Prince of Hail) menghadap Tuhan, memohon kepada-Nya untuk diperkenankan memadamkan api, akan tetapi Jibril mencegahnya sembari berkata : "Sesunggunya kekuatan Allah bukan untuk meladeni urusan kecil seperti itu, sesungguhnya pangeran dingin, dan setiap manusia mengetahui bahwa air dapat memadamkan api. Akan tetapi aku (Jibril) adalah - pangeran api, aku akan pergi kepada mereka, aku akan padamkan api dari dalam diri mereka, dan aku akan nyalakan dari luar diri mereka, aku akan melaksanakan mukjizat di dalam mukjizat. "Maka Allah menginzinkan Jibril ...
Tenung/Sihir (Sulap/Magic)
Tenung atau sihir merupakan aktifitas utama bagi para pendeta Yahudi. Talmud banyak mewartakan aktifitas perklenikan tersebut, dituturkan dalam Talmud banyak diantara para rabi yang mampu menciptakan manusia dan melon! Diwartakan pula ada salah satu rabi yang merubah wujud seorang wanita menjadi seekor keledai betina, kemudian menaikinya untuk pergi ke pasar, ketika sampai di pasar diketahui oleh rabi lain, lalu rabi lain itu mengembalikan wujud keledai betina tersebut kepada wujud (bentuk) aslinya.
Para rabi juga mengklaim bahwa Ibrahim as, adalah manusia yang mahir "bermain sulap", karena dia memberi beberapa hadiah kepada putra-putranya yang mengandung kekuatan sihir, Ibrahim sendiri memakai kalung yang ditengahnya teradapat batu (akik) yang bisa menyembuhkan (memberi pertolongan) siapa saja yang melihat akik dikalungnya. Dalam Talmud dituturkan ada banyak Qishash (kisah- kisah) dan Khurafat (cerita-cerita bohong), tentang mukjizat para rabi, semisal dongeng tentang ular naga, katak, burung bangau,ikan-ikan dan cerita utopis lainya yang tidak pernah habis. Talmud mengkisahkan kepada kita perihal legenda binatang buas yang ada di hutan Hai, yang hendak dilihat Kaisar Roma.
Tatkala sang Kaisar telah menempuh jarak 400 mil dari Roma, binatang buas itu meraung-raung, maka runtuhlah tembok-tembok Roma,ketika ia berada pada jarak 300 mil dari hutan, binatang buas itu meraung-raung lagi, semua manusia terjatuh gigih mereka tanggal dan jatuh ke bumi, sedangkan Kaisar ia terjatuh dari singgasananya, dalam carut marut kehidupan seperti itu Kaisar memerintahkan untuk kembali ke tempatnya semula untuk keamanan diri dan rakyatnya, Kaisar juga menitahkan untuk mengembalikan binatang buas itu ke tempatn ya semula.
Dikisahkan dalam Talmud, ada seekor lembu jantan pada hari pertama paska penciptaannya, besar tubuhnya segede gunung Thur (mount Tabor), karenanya sulit bagi Nuh untuk menyelamatkan salah satu dari lembu-lembu raksasa tersebut, karena kapalnya tidak muat untuk mengangkut salah satunya, maka Nuh mengikat salah satu lembu dengan tanduk lembu tersebut ke bahteranya dengan begitu lembuh itu dapat ikut berlayar bersama Nuh.
Di zaman yang sama, dituturkan dalam Talmud; Og raja Bashan' adalah seorang makhluk yang lahir dari perkawinan antara rnalaikat dan seorang wanita anak turun rnanusia, ia rnemiliki postur tubuh yang amat besar sampai-sampai ia rnengalami kesulitan naik ke bahtera Nabi Nuh, sebelum terjadi badai topan yang amat besar (antediluvian). Karena postur tubuhnya yang amat besar itu akhirnya ia naik diatas punggung sapi. Panjang kaki Og± 40 mil. Ketika kaum Israel dibawah pimpinan Musa menghadapi Og, Ibrahim memakai salah satu gigi taringnya untuk mengusir orang-orang yang jahat terhadap dirinya. Salah seorang Israel ditanya, seberapa besar postur tubuh Og! Orang itu menjawab separuh badannya saja sepanjang 3 mil, ia mampu mengangkat gunung yang tingginya 3 mil, yang dilemparkan ke bani Israel, akan tetapi Rabb meniupkan ke arah Og sekumpulan serangga kecil, serangga itu Ialu menyerang (mengerubuti) Og, yang memaksa dirinya-Tari menghindar. Og akhirnya terperosok ke-dalam sebuah lubang, tubuhnya terpendam hingga leher dan kepalanya saja yang terlihat, kemudian muncul taring panjang dari mulutnya, namun demikian Ibrahim tidak bisa menyelamatkan Og keluar dari liang, ia akhirnya tertimbun gunung! Semua penuturan kisah yang ada di Talmud, secara keseluruhan sangat bertolak belakang (kontradiktif) dengan kisah- kisah yang ada pada kitab Jerussalem Targun untuk detilnya tela'ah kembali Book of NumbersX X I .3 4
Talmud rnewaratakan bahwa Allah menciptakan Adam dengan dua bentuk, disatu sisi berbentuk laki-laki disisi lain berbentuk perempuan, kemudian tubuhnya diparuh, tinggihnya setinggi kubah biru (firmament), akan tetapi paska Adam melakukan kesalahan agung, Allah rnetelakkan tanganNya di kepala Adam, Dia tekan tanganNya di kepala Adarn . hingga Adam menjadi kecil, Adam melakukan kesalahan pada pukul sepuluh (pagi) beberapa sa’at setelah penciptaan dirinya, kemudian diusir dari surga pada pukul dua belas (siang bolong). Talmud juga membuat banyak cerita- cerita bohong tentang Ibrahim as dan istrinya yang bernama Sarah, (yang pesona kecantikkannya memancar jelas dihadapan para petugas bea cukai dan imigrasi Mesir), juga tentang batu mulia (akik) yang dikalungkan dilehernya, serta tentang pembantunya yang bernama Eliadzar yang sering menampakkan kekuatan adikodrati.
Talmud juga banyak bertutur tentang kejadian luar biasa (par excelent) yang keluar dari diri Musa as, juga tentang Matahari, juga tentang mukjizat Manna dan Salwah, makanan yang diturunkan Allah untuk Bani Israel, dimana 'rasa' kedua makarian itu sesuai dengan,‘selera’ yang diinginkan bani Israel, serta tentang Jin, Ruh, dan Setan berikut mahluk-mahluk halus lainya.
Rabi Joshua mengatakan : Sesungguhnya Bani Israel mereka harus menempuh perjalanan dua belas 12 mil setiap Allah memberi mereka satu wasiat, para malaikat penjaga gunung Sinai selalu menggoda bani Israel tatkala mereka menerima wasiat. Para malaikat itu. iri kepada bani Israel karena mereka beroleh wasiat, sedang para malaikat itu tidak diberi Allah wasiat. Talmud juga menjelaskan bahwa sebab utama kenajisan (kekotoran) para Ajnabi (orang-orang asing) adalah karena mereka tidak pernah berdiri (munajat) di gunung Sinai, paska Iblis mengotori Hawa. Adapun bani Israel, mereka telah mensucikan diri mereka dengan berdiri dan bermunajat di gunung Sinai, hanya bangsa Yahudi sajalah yang telah mensucikan diri mereka, hanya bani Israel sajalah yang suci, sedang bangsa-bangsa non Yahudi belum menyucikan diri mereka, karenanya mereka pantas dilabeli 'najis'. Diantara cerita kebohongan yang lain adalah, ketika raja Titus yang najis (kotor) memasuki Haikal (kuil agung), ia mengacung-acungkan pedangnya, ia hunuskan pedang itu ke segala arah, hingga merobek tirai-tirai yang ada di kuil agung tersebut, mengalir darah segar dari balik tirai-tirai kuil agung, Tuhan lalu mengirim lalat untuk menyiksa Titus, lalat itu masuk ke mulut Titus dan menelusup ke otaknya, lalat itu membesar seperti burung merpati, ketika dibuka tengkoraknya didapati lalat itu memiliki mulut dari tembaga sedang taringnya dari besi.(9) Talmud juga banyak bercerita tentang banyak pendeta Yahudi (rabi) yang rakus makan dan suka mabuk-mabukan, sampai-sampai perut para rabi itu buncit, andai perut (usus) besar para rabi itu dikeluarkan niscaya beratnya sepadan dengan usus besar lembu atau sapi. Dalam sebuah riwayat dituturkan, ada salah seorang rabi yang membunuh rabi lain dalam keadaan mabuk, kemudian rabi itu mendatangkan mukjizat hingga kawannya yang meninggal itu bisa dihidupkan kembali, pada tahun berikutnya si rabi mengajak kawannya yang telah dihidupkan kembali itu pesta minuman keras (miras), namun karibnya itu menolak. Sembari berkata kepada kawannya : "Mukjizat tidak terjadi setiap hari"
Para Rabi (Pendeta Yahudi) Takut Mati
Dr. Joseph Barclay, menuturkan realita hakiki hidup dan kehidupan para rabi. Dibalik kewibawaan, kegagahan, kedigdayaan serta kemuliaan mereka dimata anak bangsanya, ternyata jiwa mereka diliputi rasa takut yang mencekam dalam menghadapi kematian, Dr. Joseph Barclay berkata : "Ada banyak penuturan dalam Talmud, tentang keluh kesah (gundah gulana), duka nestapa, rasa takut yang mencekam dalam diri para rabi. Tampilan lahiriyah mereka yang penuh kharisma dan wibawa dimata anak zamannya itu, ternyata jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, ada ketakutkan mencekam menghadapi kematian. Para rabi itu mengganggap diri mereka tidak memiliki tempuhan jalan untuk menggapai keselamatan bagi diri mereka, mereka merasa jalan menuju keselamatan benar-benar telah tertutup, sernentara diri mereka tercekam rasa takut tak bertepi, dimasukkan Tuhan ke bara
Silahkan baca selengkapnya pada link di bawah ini;





Wednesday, April 20, 2011

Siapa Idolamu ? Di Akhirat Kelak Engkau Akan Bersama Dengan Orang Yang Engkau Idolakan.

Bagaimana Jika Artis dan Pemain Bola Jadi Idola dan Tambatan Cinta?
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
مَا أَعْدَدْتَ لَهَا
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,
فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”
Anas pun mengatakan,
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Itulah keutamaan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang sholeh, pelaku kebaikan yang masih hidup atau pun yang telah mati. Namun, kecintaan ini dilakukan dengan melakukan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi setiap larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syari’at Islam. (Lihat Syarh Muslim, 8/483)
Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai, diidolakan dan diagungkan adalah para artis dan pemain bola? Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”.
Ditegaskan pula dalam riwayat Thobroni dalam Mu’jamnya, dari ‘Aisyah secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),
لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة
“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 11/164, Asy Syamilah). Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang pelaku maksiat atau orang-orang kafir[?]
Jadikanlah idolamu dan tambatan cintamu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, Utsman, para sahabat lainnya, dan orang sholeh bukan para artis, pemain bola dan pelaku maksiat lainnya. Realisasikan cintamu dengan mengikuti jejak mereka (orang-orang sholeh) dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita bersama para Nabi, shidiqin, syuhada dan orang-orang sholeh.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
_________________________________
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal
Mediu-Jogja, sore hari, 3 Jamadil Awal 1430 H




APAKAH DOSA SYIRIK DIAMPUNI?

Pertanyaan.
As-salamu’alaikum warahmatulah wabarakatuhu

Segala puji bagi Allah Subahnahu wa Ta'ala Yang telah membimbing dan memberi hidayah kepada kita semua dengan dinul Islam yang haq. Salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , juga keluarga, para sahabat dan orang-orang yang senantiasa berada di jalan mereka. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajukan pertanyaan kepada pengasuh majalah As-Sunah, dengan harapan jawaban itu disertai dalil-dalil syar’i. Adapun pertanyaannya sebagai berikut:



Apakah dosa syirik yang dilakukan oleh seorang muslim tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ? Meskipun muslim itu bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, bahkan muslim itu sempat stress karena memikirkannya. Hal mengenai tidak diampuninya dosa syirik terdapat pada surat An-Nisa’ ayat 48: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Demikianlah pertanyaan dari saya, yang tidak ingin menjadi bodoh karena tidak mau bertanya. Mohon ma’af jika ada kata-kata yang salah dan tidak berkenan. Terimakasih atas perhatiannya. Jazakumullah khairan katsira. Was-salamu’alaikum warahmatulah wabarakatuhu.

Jawaban.
1. Sesungguhnya seluruh dosa, termasuk syirik, akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan syarat jika hamba yang melakukan dosa tersebut bertaubat kepadaNya. Dengarlah firman Allah:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang meĀlampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Az-Zumar/39:53]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini : “Ayat yang mulia ini merupakan seruan kepada orang-orang yang bermaksiat, baik orang-orang kafir atau lainnya, untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah). Ayat ini juga memberitakan bahwa Allah Tabaraka Wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa semuanya bagi orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebutan meninggalkannya, walaupun dosa apapun juga, walaupun dosanya sebanyak buih lautan. Dan tidak benar membawa arti pengampunan Allah (dalam ayat ini) dengan tanpa taubat, karena orang yang tidak bertaubat dari syirik tidak akan diampuni oleh Allah. [Tafsir Ibnu Katsir, surat Az-Zumar: 53]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata mengomentari firman Allah: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”, yaitu dengan syarat taubat. Karena kalau tidak disyaratkan taubat, tentulah syirik termasuk diampuni, tentulah ini tidak benar, karena di sini (ayat 48, surat An-Nisa’) Allah telah memutuskan bahwa Dia tidak akan mengampuni syirik, dan Dia telah memutuskan bahwa Dia akan mengampuni selain syirik bagi orang yang Dia kehendaki, yaitu walaupun pelakunya tidak bertaubat.” [Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Nisa’:48]

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam Tafsir beliau, Taisir Karimir Rahman Fii Tafsiri Kalamil Mannan, surat Az-Zumar : 53, sebagai berikut:

"Allah Ta’ala memberitakan tentang keluasan kemurahanNya kepada hamba-hambaNya yang melewati batas, yaitu orang-orang yang banyak melakukan dosa. Dan Dia mendorong mereka untuk kembali (kepadaNya), sebelum hal itu tidak memungkinkan. (FirmanNya: Katakanlah): wahai Rasul, dan para da’i yang mengajak kepada agama Allah, sampaikanlah berita kepada para hamba dari Rabb mereka: (FirmanNya: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri): dengan mengikuti dosa-dosa yang diserukan oleh hawa-nafsu mereka, dan melakukan perkara-perkara yang menjadikan kemurkaan Allah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. (FirmanNya: janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah): yaitu janganlah kamu terputus asa darinya sehingga kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan kamu mengatakan: “Dosa-dosa kami telah banyak, keburukan kami telah bertumpuk-tumpuk, tidak ada jalan untuk menghilangkannya, tidak ada jalan untuk membuangnya”. Dengan sebab itu kamu tetap terus-menerus melakukan kemaksiatan, kamu membawa bekal yang dimurkai oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah). Tetapi kenalilah Penguasa kamu lewat nama-namaNya yang menunjukkan kemurahanNya. Dan ketahuilah bahwa (FirmanNya: Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya): yang berupa: syirik, pembunuhan, zina, riba, kezhaliman, dan dosa-dosa lainnya, yang besar dan yang kecil. (FirmanNya: Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang): yaitu kedua sifatNya, sifat memberi ampun dan sifat rahmat (kasih sayang), merupakan sifat yang tetap ada pada Allah, tidak pernah terlepas dari DzatNya, dan dampak kedua sifat itu terus ada, terjadi di alam ini, memenuhi makhluk. [Az Zumar : 53]

Tentang diterimanya taubat dari syirik itu lebih jelas lagi Allah sebutkan ketika menjelaskan tentang sifat-sifat ‘ibadurrahman, Dia berfirman:

وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (memunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). [Al Furqaan : 68]

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [ Al-Furqqn : 69-70]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengomentari firman Allah: [kecuali orang-orang yang bertaubat] (Al-Furqaan : 70) “Yaitu bertaubat kepada Allah di dunia dari seluruh dosa tersebut, karena sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya.” [Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, surat Al-Furqan : 70]

2. Bahkan sesungguhnya Allah sangat bergembira dengan taubat seseorang di antara hambaNya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Sesungguhnya Allah lebih sangat gembira dengan taubat hambaNya ketika bertaubat kepadaNya, daripada (gembiranya) seseorang di antara kamu yang berada di atas kendaraannya, di tanah yang gersang. Kemudian kendaraannya lari darinya, sedangkan di atasnya terdapat makanan dan minumannya, sehingga dia putus asa darinya. Lalu dia mendatangi sebuah pohon, kemudian berbaring di bawah naungannya, dia telah putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian tiba-tiba kendaraannya berdiri di dekatnya, lalu dia memegang kendalinya. Kemudian dia berkata karena sangat gembiranya: “Wahai Allah Engkau adalah hambaKu, dan aku adalah RabbMu (TuhanMu)”. Dia keliru berkata sangat gembiranya. [HSR. Bukhari no:6308; Muslim no: 2747, lafazh bagi Muslim]

3. Adapun ayat yang antum sebutkan di atas, adalah bagi orang yang mati dengan tidak bertaubat kepada Allah. Ayat itu lengkapnya sebagai berikut:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An Nisaa : 48]

Ayat semisal ini juga tersebut di dalam surat yang sama ayat 116:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُوَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. [An Nisaa : 116]

Setelah menjelaskan tentang kezhaliman syirik, syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini untuk orang yang tidak bertaubat. Adapaun orang yang bertaubat, maka dosa syirik dan dosanya yang lain akan diampuni, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar :53), yaitu (Allah akan mengampuni semua dosa) bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali kepadaNya [1]

Selain itu, sesungguhnya di antara hikmah diutusnya seluruh para rasul, termasuk Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, adalah untuk memperingatkan kaumnya dari kemusyrikan dan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. [An Nahl : 36]

Jika dosa syirik tidak diampuni dengan taubat, maka seruan para rasul tersebut menjadi sia-sia.

Demikian juga mayoritas bangsa Arab sebelum kedatangan dakwah Nabi Muhamad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang musyrik. Dan mereka berhenti dari kemusyrikan mereka adalah disebabkan keimanan mereka kepada beliau, dan bertaubatnya mereka dari kemusyrikan. Allah berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتَّى يَأْ تِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ رَسُوْلٌ مِّنَ اللهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةً

Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak meninggalkan (kesesatan dan kekafiran mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (Alquran) [Al Bayyinah : 1-2] [2]

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan di dalam Tafsirnya: “Allah Ta’ala berfirman: (Tidaklah orang-orang kafir, yakni ahli kitab) yaitu dari kalangan Yahudi dan Nashara (dan orang-orang musyrik) yaitu dari seluruh jenis bangsa (meninggalkan) dari kesesatan dan kekafiran mereka yang mereka lakukan. Yaitu mereka terus-menerus di dalam kesesatan mereka, berlalunya waktu tidaklah menambahkan mereka kecuali kekafiran. (sampai datang kepada mereka bukti yang nyata) bukti yang jelas dan teng. Kemudian Allah menjelaskan bukti tersebut, Dia berfirman: (seorang Rasul dari Allah (Muhammad n ) yaitu rasul yang diutus oleh Allah, dia mengajak manusia menuju al-haq (kebenaran), diturunkan kitab (Al-Qur’an) kepadanya, dia membacakannya, untuk mengajarkan hikmah kepada manusia, mensucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al-Bayyinah :1-2]

Demikian juga para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka dahulu adalah orang-orang musyrik, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada mereka, sehingga mereka beriman dan menjadi manusia-manusia utama, bahkan generasi manusia terbaik, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi sahabat), kemudian generasi yang mengiringi mereka (generasi tabi'in), kemudian generasi yang mengiringi mereka (generasi tabi'ut tabi'in). [HSR Bukhari Muslim dan lainnya]

4. Janganlah antum stress dan putus asa karena sesungguhnya rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Dan keterangan kami di atas semoga cukup menghilangkan stress dan putus asa tersebut.

Kemudian sesungguhnya memahami kitab Allah, Al-Qur’anul Karim, tidaklah cukup dengan terjemahannya saja, bahkan haruslah meruju kepada para ulama yang terpercaya, sehingga terhindar dari kesalahan di dalam memahaminya. Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita semua di atas jalanNya yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Taisir Karimir Rahman Fii Tafsiri Kalamil Mannan, surat An-Nisa’: 48
[2]. Terjemah saya di atas berbeda dengan terjemah Al-Qur’an Depag. Terjemahan saya di atas, saya anggap lebih tepat maknanya secara zhahir ayat, dan itulah makna ayat tersebut yang dijelaskan oleh Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsirnya. Wallahu a’lam

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/2169/slash/0



Monday, April 18, 2011

Wali Allah, Siapakah Dia?


Ketika disebut kata wali maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah suatu keanehan, ke-nyleneh-an, dan kedigdayaan. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat terhadap wali ini. Maka bila ada orang yang bertingkah aneh, apalagi kalau sudah dikenal sebagai kyai, mempunyai indera keenam sehingga mengerti semua yang belum terjadi, segera disebut sebagai wali. Lalu siapakah wali Allah yang sebenarnya?

Definisi Wali
Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)
Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan Rosul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketaqwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharomkan (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5/8).
Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan: Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.
Wali Allah Adalah yang Beriman Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon hlm. 34 mengatakan: “Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imron: 31)
Hasan Al Bashri berkata: “Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka”.
Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau ShallAllahu ‘alaihi wa sallam maka tidak termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wa sallam.
Maka sangat salah suatu pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu hanya monopoli orang-orang tertentu, semisal ulama, kyai, apalagi hanya terbatas pada orang yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan sampai pada orang yang meninggalkan kewajiban syari’at yang dibebankan padanya. Wallahu a’lam.
(Disarikan dari Majalah Al Furqon Ed.1/Th.III dengan sedikit tambahan)
***
Penulis: Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id




Friday, April 15, 2011

Waspadai terorisme, bom bunuh diri bukan jihad tapi sikap orang yang frustasi

Kaum muslimin –semoga Allah menjaga aqidah kita dari kesalahpahaman- sesungguhnya menunaikan jihad dalam pengertian dan penerapan yang benar termasuk ibadah yang mulia. Sebab Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk berjihad melawan musuh-musuh-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikaplah keras kepada mereka…” (QS. At-Taubah: 9). Karena jihad adalah ibadah, maka untuk melaksanakannya pun harus terpenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas dan (2) sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah fenomena pengeboman yang dilakukan oleh sebagian pemuda Islam di tempat maksiat yang dikunjungi oleh turis asing yang notabene orang-orang kafir.
Benarkah tindakan bom bunuh diri di tempat semacam itu termasuk dalam kategori jihad dan orang yang mati karena aksi tersebut -baik pada saat hari-H maupun karena tertangkap aparat dan dijatuhi hukuman mati- boleh disebut orang yang mati syahid?
Bom Bunuh Diri Bukan Jihad
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun bunuh diri tanpa sengaja maka hal itu diberikan udzur dan pelakunya tidak berdosa berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan tidak ada dosa bagi kalian karena melakukan kesalahan yang tidak kalian sengaja akan tetapi (yang berdosa adalah) yang kalian sengaja dari hati kalian.” (QS. Al-Ahzab: 5). Dengan demikian aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengatasnamakan jihad adalah sebuah penyimpangan (baca: pelanggaran syari’at). Apalagi dengan aksi itu menyebabkan terbunuhnya kaum muslimin atau orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslimin tanpa alasan yang dibenarkan syari’at.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar.” (QS. Al-Israa’: 33)
Membunuh Muslim Dengan Sengaja dan Tidak Sengaja
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan: [1] nyawa dibalas nyawa (qishash), [2] seorang lelaki beristri yang berzina, [3] dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama’ah (murtad).” (HR. Bukhari Muslim)
Beliau juga bersabda, “Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.” (HR. Al-Mundziri, lihat Sahih At-Targhib wa At-Tarhib). Hal ini menunjukkan bahwa membunuh muslim dengan sengaja adalah dosa besar.
Dalam hal membunuh seorang mukmin tanpa kesengajaan, Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat/denda dan kaffarah/tebusan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak sepantasnya bagi orang mukmin membunuh mukmin yang lain kecuali karena tidak sengaja. Maka barangsiapa yang membunuh mukmin karena tidak sengaja maka wajib baginya memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat yang diserahkannya kepada keluarganya, kecuali apabila keluarganya itu berkenan untuk bersedekah (dengan memaafkannya).” (QS. An-Nisaa’: 92). Adapun terbunuhnya sebagian kaum muslimin akibat tindakan bom bunuh diri, maka ini jelas tidak termasuk pembunuhan tanpa sengaja, sehingga hal itu tidak bisa dibenarkan dengan alasan jihad.
Membunuh Orang Kafir Tanpa Hak
Membunuh orang kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man (orang-orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslim), adalah perbuatan yang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh jiwa seorang mu’ahad (orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dengan pemerintah kaum muslimin) maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya surga bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari).
Adapun membunuh orang kafir mu’ahad karena tidak sengaja maka Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat dan kaffarah sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang menjadi musuh kalian (kafir harbi) dan dia adalah orang yang beriman maka kaffarahnya adalah memerdekakan budak yang beriman, adapun apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang memiliki ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka (kafir mu’ahad) maka dia harus membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan budak yang beriman. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut supaya taubatnya diterima oleh Allah. Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 92)
Bolehkah Mengatakan Si Fulan Syahid?
Di dalam kitab Sahihnya yang merupakan kitab paling sahih sesudah Al-Qur’an, Bukhari rahimahullah menulis bab berjudul “Bab. Tidak boleh mengatakan si fulan Syahid” berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang benar-benar berjihad di jalan-Nya, dan Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang terluka di jalan-Nya.” (Sahih Bukhari, cet. Dar Ibnu Hazm, hal. 520)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan (Fath Al-Bari, jilid 6 hal. 90. cet. Dar Al-Ma’rifah Beirut. Asy-Syamilah), “Perkataan beliau ‘Tidak boleh mengatakan si fulan syahid’, maksudnya tidak boleh memastikan perkara itu kecuali didasari dengan wahyu…”
Al-’Aini rahimahullah juga mengatakan, “Maksudnya tidak boleh memastikan hal itu (si fulan syahid, pent) kecuali ada dalil wahyu yang menegaskannya.” (Umdat Al-Qari, jilid 14 hal. 180. Asy-Syamilah)
Nah, sebenarnya perkara ini sudah jelas. Yaitu apabila ada seorang mujahid yang berjihad dengan jihad yang syar’i kemudian dia mati dalam peperangan maka tidak boleh dipastikan bahwa dia mati syahid, kecuali terhadap orang-orang tertentu yang secara tegas disebutkan oleh dalil!
Maka keterangan Bukhari, Ibnu Hajar, dan Al-’Aini -rahimahumullah- di atas dapat kita bandingkan dengan komentar Abu Bakar Ba’asyir -semoga Allah menunjukinya- terhadap para pelaku bom Bali, “… Amrozi dan kawan-kawan ini memperjuangkan keyakinan di jalan Allah karena itu saya yakin dia termasuk mati sahid,” tegasnya dalam orasi di Pondok Pesantren Al Islam, Sabtu (8/11/2008).” (sebagaimana dikutip Okezone.com.news)
Kalau orang yang benar-benar berjihad dengan jihad yang syar’i saja tidak boleh dipastikan sebagai syahid -selama tidak ada dalil khusus yang menegaskannya- lalu bagaimanakah lagi terhadap orang yang melakukan tindak perusakan di muka bumi tanpa hak dengan mengatasnamakan jihad -semoga Allah mengampuni dosa mereka yang sudah meninggal dan menyadarkan pendukungnya yang masih hidup-… Ambillah pelajaran, wahai saudaraku…
Sebagai penutup, kami mengingatkan kepada para pemuda untuk bertakwa kepada Allah dan menjauhkan diri mereka dari tindakan-tindakan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka takutlah kalian terhadap neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Baqarah: 24). Sadarlah wahai saudara-saudaraku dari kelalaian kalian, janganlah kalian menjadi tunggangan syaitan untuk menebarkan kerusakan di atas muka bumi ini. Kami berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar memahamkan kaum muslimin tentang agama mereka, dan menjaga mereka dari fitnah menyesatkan yang tampak ataupun yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya Muhammad, para pengikutnya, dan segenap para sahabatnya.
Diringkas oleh Ari Wahyudi dari penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah dalam kitab beliau Bi ayyi ‘aqlin wa diinin yakuunu tafjir wa tadmir jihaadan?! Waihakum, … Afiiquu yaa syabaab!! (artinya: Menurut akal dan agama siapa; tindakan pengeboman dan penghancuran dinilai sebagai jihad?! Sungguh celaka kalian… Sadarlah hai para pemuda!!) Islamspirit.com. Dengan tambahan keterangan dari sumber lain.
***
Penyusun: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Dikirim ulang oleh : Anwar Baru Belajar



Thursday, April 14, 2011

Antara Yahudi, Kristen dan Syi'ah

Mempertanyakan Infiltrasi Yahudi dan Kristen Dalam Doktrin Syi'ah

(Tinjauan Sejarah di Masa Abbasiyah-Umayyah)






Membicarakan sejarah aliran teologi Syi’ah, ternyata banyak litelatur karya ulama’ terdahulu tidak melepaskan dari fenomena hubungannya dengan Yahudi dan Kristen. Apalagi tokoh Abdullah bin Saba’, yang dalam Tarikh Ibnu Asakir, Tarikh Thabari dan kitab-kitab sejarah lainnya disebut sebagai pencetus pemikiran Syi’ah, adalah seorang Yahudi Yaman. Ia tercatat memeluk Islam pada zaman Utsman. Di masa Daulah Abbasiyyah, Dr. Fath Muhammad al-Zaghi menyebut-nyebut penganut Syi’ah kerap bersentuhan dengan orang-orang Yahudi.
Interaksi intens antara kaum Yahudi dan Kristen dengan umat Islam di abad masa kekhalifahan Abbasiyah dan Bani Umayyah, akhirnya berpengaruh terhadap pemikiran Syiah. selama dua masa itu, banyak terjadi proses internalisasi pemikiran Yahudi dan Kristen ke dalam pemeluk Syi’ah. Prose itu terjadi ketika mereka saling berinteraksi dalam kehidupan.
Kamil Sa’fan dalam al-Yahud Tarikhan wa ‘Aqidatan melaporkan, kaum Yahudi mendapatkan kemudahan hidup pada masa kekhalifan Abbasiyah. Tercatat, mereka mendirikan sepuluh sekolah teologi dan 23 tempat Ibadah di Baghdad. Pada masa Umayyah, bahkan ada orang Kristen yang menduduki posisi penting di pemerintahan. Disamping itu, Khalifah memberi kesempatan berdialog dengan kaum muslimin.
Di era pemerintahan Abbasiyyah, ada seorang Yahudi bernama Abdullah bin Ma’mun berpura-pura menjadi muslim. Ia mendakwahkan untuk bersikap lembut kepada Ahlu al-Bait Nabi SAW agar mudah diterima Syi’ah. Kitab Kasyfu Asrari al-Bathiniyyah wa Akhbaru al-Qaramithah merekam sepak terjangnya. Ia membuat fitnah dengan memasukkan metode ta’wil simbolis (ta’wil bathiniyyah) – yaitu metode ta’wil yang hampir sama dengan metode hermeneutika – ke dalam sekte Syi’ah Isma’iliyyah. Konsep ta’wil inilah yang dipraktikkan Syi’ah Isma’iliyyah (Syi’ah Bathiniyyah) dan sekte Syi’ah lainnya.
....Konsep ta’wil simbolis sendiri sesungguhnya adalah buah dari ajaran Kabbalah Yahudi....
Konsep ta’wil simbolis sendiri sesungguhnya adalah buah dari ajaran Kabbalah Yahudi. Menurut kelompok Kabbalah, di samping makna literal, teks kitab Taurat mempunyai makna batin yang hanya diketahui oleh para salikin (peniti jalan batin). Hermeneutika Baruch Spinoza (1632-1677), filosof dan teolog Yahudi penggagas metode kritik Bibel, termasuk banyak dipengaruhi oleh ajaran Kabbalah dalam hal metode ‘tafsir’ ini.
Pada kenyataanya, di masa pemerintahan Abbasiyyah, kaum Kabbalis sudah berinteraksi dengan pengikut Syi’ah. Infiltrasi pemikiran Kabbalis ke dalam pemikir-pemikir muslim secara tidak langsung melalui sekte Yahudi yang bernama al-‘Isawiyyah pada masa Khalifah al-Mansur. Dr. Ali Syami al-Nasyyar mengungkap bahwa para peneliti mengatakan, doktrin utama Syi’ah Isma’iliyyah berasal dari sekte Yahudi al-‘Isawiyyah ini (Nasy atu al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam juz I, hal. 88). Sekte al-‘Isawiyyah meyakini pendirinya bernama Abu Isa Ishaq bin Ya’qub adalah seorang nabi al-Masih yang ditunggu-tunggu. Mereka juga memasukkan konsep penafian sifat-sifat wujudiyyah Tuhan, dan teori hulul kedalam pemikiran Isma’iliyyah.
Al-Nasysyar mengatakan: “Sekte al-‘Isawiyyah ini berperan besar dalam mendirikan sekte Syi’ah Bathiniyyah (Isma’ilyyah). Ada korelasi antara sebagaian sekte-sekte Yahudi dengan sekte Bathiniyyah ini melalui ajaran Kabbalah Yahudi. Sungguh saya melihat Kabbalah Yahudi berpengaruh besar terhadap akidah-akidah Syi’ah Ghulat”. Dan ternyata, ajaran-ajaran tersebut ternyata juga diadopsi oleh sekte Syi’ah lainnya termasuk Syi’ah Istna ‘Asyariyyah.
Sedangkan infiltrasi Kristen banyak terjadi pada masa Umayyah. Orang-orang Kristen pada masa Bani Umayyah sering melakukan diskusi, dialog dan perdebatan dengan orang-orang Islam. Bahkan, toleransi Kekhalifahan Bani Umayyah terhadap kaum Kristen, dimanfaatkan Kristen untuk menarik simpati kaum muslim dengan melakukan kerja kerja sama.
....infiltrasi Kristen banyak terjadi pada masa Umayyah. Seorang ulama’ Syi’ah di Baghdad dalam khutbah jum’at secara terus terang mengakui ada kemiripan Syi’ah dengan Kristen....
Pada kondisi ini, menurut catatan Dr. Fath Muhammad al-Zaghbiy, ajaran Kristen terinternalisasi ke dalam doktrin Syi’ah.
Pada tahun 400 H seorang ulama’ Syi’ah di Baghdad dalam khutbah jum’at secara terus terang mengakui ada kemiripan Syi’ah dengan Kristen, bahwa Imam Ali bin Abi Thalib bisa menghidupkan mayat manusia, menceritakan tentang pemuda Kahfi, sebagaimana Nabi Isa juga melakukannya (al-Hadlarah al-Islamiyyah fi Qarn 4 Jilid I hal. 125).
Memang menurut Alqamah bin Qais, perumpamaan Ali bin Abi Thalib seperti Nabi Isa bin Maryam. Bahkan doktrin ghuluw ini telah dikumandangkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman yang disebut pencetus lahirnya paham Syi’ah. Abdul Qahir al-Baghdadi mencatat, bahwa Abdullah bin Saba’ pernah berkata: “Sesungguhnya Ali telah naik ke langit, sebagaiman Nabi Isa naik ke sana”(al-Farqu bayna al-Firaq, hal. 143).
Ritual-ritual Syi’ah juga disinyalir bersumber dari ajaran Kristen. Seperti diakui oleh Vali Nasr,putra Seyyed Hossein Nasr, ritual Asyura memperingati kematian Husein cucu Nabi, Imam Syi’ah ketiga, bertumpu pada duka cita (Azadari) yang hampir sama dengan ritual di dalam ajaran Katolik Lenten. Katolik Lenten melakukan parade penderitaan Yesus pada hari Minggu Suci (Holy Week) pada empat puluh hari sebelum Paskah.
Bahkan praktik menyakiti diri sendiri pada peringatan duka Asyura dengan menumpahkan darah sendiri melalui sayatan kecil di kepala menurut Vali Nasr menyerupai ritual penyesalan (Panitentes) yang dilakukan di lingkungan Katolik di Iberia. Apalagi ritual menyakiti diri pada Asyura diyakini untuk mempertebal keimanan kaum Syi’ah dan merupakan kesempatan pertobatan kolektif atas dosa-dosa. Ini berarti Syi’ah menjadikan Hussein sebagai penebus dosa, sebagaimana Yesus yang disalib demi menebus dosa kaum Kristiani.
....Syi’ah menjadikan Hussein sebagai penebus dosa, sebagaimana Yesus yang disalib demi menebus dosa kaum Kristiani....
Walhasil, ternyata infiltrasi pandangan hidup Barat Kristen dan Yahudi tidak hanya masuk ke dalam pemikiran muslim liberal, akan tetapi telah lama merasuk ke dalam sekte Syi’ah. Akan tetapi untuk kepentingan dakwah, doktrin-doktrin Syiah terkadang tidak diketengahkan secara lugas dan terang. Ada metode taqiyyah (menyembunyikan identitas pemikiran) untuk keselamatan akidah di tengah mayoritas penganut Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Adagiumnya seperti tersebut dalam kitab Syi’ah, Ushul Kafi Juz II hal. 217; La dina liman la taqiyya lahu”.

Wallahu a’lam bil showab.
Oleh: Kholili Hasib
Mahasiswa Pascasarjana ISID Gontor
-----------------------------------------------



Innalillahi, Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul!

Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang baru saja digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad.

Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.

Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”

Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.

Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul. (sa/alqimmah/sunni-news/ayandenews)


Sumber :
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/innalillahi-ahmadinejad-menghina-dua-sahabat-rasul.htm


Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad Memiliki Garis Keturunan Yahudi

TEHRAN (Berita SuaraMedia) – Mehdi Khazali, putra tokoh konservatif Ayatollah Abu Al-Kassam Khazali, membuat tulisan mengejutkan di situs internet pribadinya. Dalam tulisannya, dia mengatakan bahwa dirinya mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan. Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad memiliki garis keturunan Yahudi.

Khazali mencatat bahwa Ahmadinejad mengubah nama keluarganya. Aslinya, nama keluarganya adalah Saborjhian, dia mengatakan bahwa akar keluarga Saborjhian di kota Aradan masih harus terus diselidiki.

Khazali mengatakan bahwa Ahmadinejad mengubah nama Yahudinya di kartu tanda pengenal untuk menyembunyikan akar keturunan dan darah Yahudi yang mengalir dalam dirinya.

Para kerabat Ahmadinejad telah mengatakan kepada harian Inggris, The Guardian, sesaat setelah dia terpillih sebagai presiden Iran dulu, bahwa keluarganya memutuskan untuk mengganti nama keluarga. Alasan penggantian nama keluarga tersebut adalah gabungan antara "alasan keagamaan dan alasan ekonomi."

"Dengan pergantian nama keluarga tersebut, nama yang baru seolah mempelihatkan sebuah keluarga Islam taat dari kelas pekerja untuk kepentingan politik populis Ahmadinejad," demikian tulis wartawan Robert Tait di harian The Guardian. Nama Saborjhian sendiri berasal dari kata benang berwarna – berasal dari kata Sabor dalam bahasa Farsi – sebuah pekerjaan yang umum dan sederhana dalam industri karpet di propinsi Semnan, daerah Aradan. Ahmad, sebaliknya, merupakan nama yang juga dipergunakan juga untuk menyebut Nabi Muhammad dan artinya berbudi luhur, nejad berarti ras dalam bahasa Farsi, jadi Ahmadinejad bisa diartikan umat Muhammad yang berbudi luhur.

Meski selama ini dikenal sering melontarkan kata-kata makian yang kasar dan pedas terhadap Yahudi Israel, Khazali mengatakan bahwa presiden Iran tersebut bermaksud menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah seorang yang berdarah Yahudi. Oleh karena itu, Ahmadinejad seringkali "menyerang" Israel dan kaum Yahudi, untuk menciptakan kesan bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang memegang teguh keyakinannya.

Ucapan Khazali tersebut dimuat dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Khazali sendiri yang berjudul, "Yahudi di Iran". Di dalamnya, dia mengatakan bahwa waktunya telah tiba untuk mengungkapkan kebenaran mengenai peranan Yahudi di Iran.

Komunitas Yahudi di Iran merupakan komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah, selain di Israel tentunya, dengan jumlah populasi yang mencapai 20.000 orang. Meski kaum Yahudi hanya hidup dalam standar kehidupan rata-rata, namun mereka sama sekali tidak mau beranjak dari Iran.

Komunitas Yahudi Iran adalah salah satu komunitas Yahudi tertua, dengan sebuah sejarah yang berumur 3.000 tahun lamanya. Yahudi Iran terkonsentrasi di tiga kota, Tehran, Isfahan, dan Shiraz.

Sejumlah besar komunitas Yahudi di Iran menjalankan usaha kecil-keclilan dalam bidang perdagangan dan usaha eceran. Sejumlah Yahudi dipekerjakan oleh pemerintahan atau perusahaan milik negara.

Komunitas Yahudi di Iran telah mengadaptasi era elektronik dan memiliki situs internet khusus untuk membantu komunitas Yahudi Iran dalam menggalang dana untuk memenuhi kebutuhan mereka. Para donatur untuk komunitas Yahudi Iran berasal dari luar negeri, dipimpin oleh Yahudi kaya asal Iran yang pindah dari Iran setelah terjadi revolusi, setiap tahunnya, dia menyumbangkan jutaan dollar kepada komunitas Yahudi Iran.

Sumbangan dana tersebut dipergunakan untuk mendanai biaya operasional 30 buah sinagog dan rumah sakit Yahudi di Tehran. Rumah sakit Yahudi tersebut dipandang oleh warga setempat sebagai rumah sakit yang berkualitas baik di Iran. Sebagian besar staf medisnya adalah Yahudi, dan keseluruhan biaya operasional rumah sakit tersebut mengandalkan pada donasi Yahudi.

Bulan Maret lalu, rumah sakit Yahudi tersebut bahkan mendapatkan sumbangan dana khusus, ketika ditelusuri, dana khusus tersebut berasal dari kantor presiden Iran Mahmud Ahmadinejad.

Masa Lalu Ahmadinejad

Rumah dari Mahmud Saborjhian muda tampak reyot dan tidak layak huni, tamannya sudah ditumbuhi oleh rerumputan liar dan dipergunakan untuk tempat bertenggernya ayam-ayam. Sumur tua yang dulu dipergunakan orangtuanya untuk menimba air minum telah berubah menjadi kering.

Hal tersebut adalah pemandangan masa lalu Iran. Namun bagi masyarakat Iran, pemandangan sekeliling di kota Aradan, yang terletak sekitar 80 mil di sebelah tenggara Tehran dan langsung berhubungan dengan jalur sutra, sangat berarti.

Kota tersebut adalah kota dimana presiden Iran, yang lebih dikenal dengan nama Mahmud Ahmadinejad, tumbuh dewasa. Dia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Keluarga Saborjhian menyewa rumah dua tingkat sebelum meninggalkan kawasan miskin tersebut pada akhir tahun 1950an untuk mencari kemakmuran dan kehidupan baru di Tehran. Ahmadinejad kecil kala itu baru berusia satu tahun lebih beberapa bulan.

"Pindah dari desa ke kota besar adalah sebuah hal yang umum dan biasa terjadi di masa itu, sehingga orang-orang yang tidak ingin menunjukkan silsilah keluarga mereka memutuskan untuk mengubah nama keluarga," kata Mehdi Shahhosseini, putra dari sepupu Ahmadinejad yang masih tinggal di Aradan.

Ahmadinejad memang berulangkali tertangkap basah tengah bertemu dengan para pemimpin Yahudi. Ahmadinejad memiliki hubungan yang harmonis dengan Yahudi. Semasa berada di New York, presiden Iran tersebut terlihat dengan antusias menyambut kedatangan sejumlah Rabbi Yahudi AS. (Visit Video) (dn/rfo/yn/gcu) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Sumber:

http://www.suaramedia.com/berita-dunia/timur-tengah/7874-tanpa-disadari-iran-berada-di-bawah-naungan-presiden-yahudi.html


Wednesday, April 13, 2011

Yasinan Malam Jum'at Secara Berjamaah Adakah Tuntunannya ?

Imam Syafi'i berkata : "Saya memandang SUNAT membaca surah AL KAHFI pada malam JUM'AT dan siangnya, karena telah datang katerangan hadits padanya". (Al Umm terjemahan Jilid 2 hal. 50 terjemahan Prof.TK.H.Ismail Yakub SH.MA.)

Sudah menjadi kebiasaan rutin pada tiap malam Jum'at sebagian ibu-ibu yang tergabung dalam jama'ah pengajian atau arisan RT mengadakan acara yasinan, yaitu membaca surah yasin bersama-sama pada tiap rumah warga setempat secara bergiliran. Biasanya mereka melakukan hal tersebut selain sudah menjadi tradisi juga tidak terlepas untuk meraih fadhilah-fadhilah yang akan didapatkan apabila membaca surat Yasin.


Terkadang dalam moment tertentu partai-partai politik juga ikut bagian memanfaatkan keadaan ini untuk menggalang masa dan dengan gencarnya menghidupkan acara ini. Mereka juga terkadang mencetak buku Yasin dengan gambar atau logo tertentu plus membagi-bagikan selendang atau jilbab dll. Maka jadilah perkumpulan yasinan sebagai komoditi politik.
Membaca al Qur'an itu sangat di anjurkan dan bahkan mendapat pahala. Hanya saja apabila dibuat semacam pengkhususan, seakan-akan membaca surat Yasin pada malam jum'at adalah suatu kewajiban, maka hal tersebut tentunya harus bersandar kepada dalil.
Tidak salah membaca surah Yasin atau surah apapun pada malam jum'at secara sendirian. Dan sangat salah juga kalau melarang seseorang membaca al Qur'an.

Hanya saja kekeliruan anggapan bagusnya membaca surah yasin pada malam jum'at pada sebagian ummat Islam tersebut menjadi timbul karena keliru dalam memahami fadhilah-fadhilah surah Yasin, dan dalam prakteknya surah Yasin tersebut dibaca secara berjama'ah, sehingga tidak ada lagi yang menyimak bacaan tersebut karena masing-masing membaca. Bagi yang kurang bisa membaca al Qur'an biasanya hanya mengikuti membaca bagian ujung pada setiap ayat dengan suara yang keras, sehingga tidak ada yang mengoreksi benar atau salah bacaan tersebut. Padahal alangkah baiknya seandainya membaca alqur'an tersebut secara tartil dan mengerti apa maksud ayat tersebut. Dan hasil investigasi saya (baca : Anwar Baru Belajar) ada di beberapa kelompok jama'ah yasinan yang anggotanya hanya dapat membaca surah Yasin bila membaca huruf latinnya saja (bahasa Arab yang ditulis dengan bahasa Indonesia), tapi ketika di tes membaca sendiri-sendiri langsung memakai teks Arabnya ternyata 1 s/d 3 orang saja yang mampu membaca dengan baik, selebihnya tidak bisa.

Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA ISLAM. Mereka tidak melakukan baca Yasin pada malam Jum'at secara berjama'ah walaupun mungkin sebagian manusia menganggapnya baik.

Pahamilah "Kaidah" yang agung ini;

لو كان خيرا لسبقون اليه
"Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi"


SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI'IN DAN TABIUT TABI'IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU MENGAMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.


Yang perlu diketahui juga, setelah diteliti ternyata hadits-hadits tentang keutamaan surah Yasin, satupun tidak ada yang shahih. Silahkan klik dan baca link ini:

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/hadits-hadits-tentang-keutamaan-surah.html


Bahkan yang dianjurkan malah membaca surah Al Kahfi.

Silahkan klik dan baca link ini:

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/04/sunnah-membaca-surah-al-kahfi-pada.html


Namun ketika dinasehati akan hal tersebut biasanya mereka langsung berdalih dan mengatakan dan bergumam, “Masa baca surat Yasin saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata, “Masa baca dzikir saja dilarang?!

Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah hakikiyah dan idhofiyah.
Bid’ah hakikiyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)
Di antara contoh bid’ah hakikiyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at.
Bid’ah idhofiyah adalah setiap bid’ah yang memiliki 2 sisi yaitu [1] dari satu sisi memiliki dalil, maka dari sisi ini bukanlah bid’ah dan [2] di sisi lain tidak memiliki dalil maka ini sama dengan bid’ah hakikiyah. (Al I’tishom, 1/219)
Jadi bid’ah idhofiyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.
Contohnya bid’ah idhofiyah adalah dzikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjama’ah dengan satu suara. Dzikir adalah suatu yang masyru’ (disyari’atkan), namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini tidak disyari’atkan dan termasuk bid’ah yang menyelisihi sunnah.
Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Begitu pula shalat rogho’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. Kedua contoh ini termasuk bid’ah idhofiyah. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, namun terdapat bid’ah dari sisi pengkhususan zaman, tempat dan tatacara. Tidak ada dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi.
Begitu juga hal ini dalam acara yasinan dan tahlilan. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyari’atkan. Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga. Namun, yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya. Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan laa ilaha illallah, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir. Dalam acara yasinan juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya surat Yasin, bukan surat Al Kahfi, As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Al Qur’an hanyalah surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat Yasin setelah kematian? Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.
Jadi, yang kami permasalahkan adalah bukan puasa, shalat, bacaan Al Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. Akan tetapi, yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya. Manakah dalil yang menunjukkan hal ini?
Sumber:
Dengan sedikit perubahan.
resent by Anwar Baru Belajar

Ada hal yang menarik...silahkan dilihat video di bawah ini, orang Yahudi ketika membaca kitab mereka secara berjama'ah.

http://www.youtube.com/watch?v=QV9x7rFRk20&playnext=1&list=PLC7C31C5D7F7C4D1A