Thursday, September 22, 2011

Habib Munzir Berdusta Atas Nama Imam As-Syafii

Terlalu banyak hadits-hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengharamkan menjadikan kuburan sebagai masjid. Akan tetapi hal ini ditentang oleh Habib Munzir. Dan dalam penentangannya itu Habib Munzir berdalil dengan beberapa hadits dan perkataan para ulama.

Akan tetapi sungguh sangat mengejutkan tatkala saya cek langsung perkataan para ulama tersebut ternyata bertentangan dengan apa yang dipahami oleh sang Habib. Ternyata…sang Habib telah melakukan tipu muslihat.



Habib Munzir berkata :

"Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam Syafii rahimahullah : Makruh memuliakan seseorang hingga menjadikan makamnya sebagai masjid (*Imam Syafii tidak mengharamkan memuliakan seseorang hingga membangun kuburnya menjadi masjid, namun beliau mengatakan makruh), karena ditakutkan fitnah atas orang itu atau atas orang lain, dan hal yang tidak diperbolehkan adalah membangun masjid di atas makam setelah jenazah dikuburkan, Namun bila membangun masjid lalu membuat di dekatnya makam untuk pewakafnya maka tak ada larangannya". Demikian ucapan Imam Syafii (Faidhul Qodiir juz 5 hal. 274)"

Demikianlah perkataan Habib Munzir dalam kitabnya Meniti Kesempurnaan Iman hal 30)

Saya akan menunjukkan kepada para pembaca sekalian tentang tipu muslihat yang telah dilakukan oleh sang Habib, dengan menukil langsung teks yang sesungguhnya dari kitab Faidhul Qodiir Syarh al-Jaami' As-Shogiir yang dikarang oleh Al-Munaawi rahimahullah.

Tatkala menjelaskan hadits Nabi shallahu 'alaihi wa sallam

لَعَنَ اللهُ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ وَالْمُتَّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ

"Allah melaknat para wanita penziarah kuburan dan (melaknat) orang-orang yang menjadikan di atas kuburan masjid-masjid dan penerangan"

Al-Munaawi berkata :



(Sabda Nabi) :  وَالْمُتَّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِد"(Allah melaknat orang-orang yang menjadikan masjid-masjid di atas kuburan) karena padanya ada bentuk berlebih-lebihan dalam ta'dziim (pengagungan). Ibnul Qoyyim berkata, "Dan hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya adalah bentuk penjagaan Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam terhadap tauhid agar tidak diikuti oleh kesyirikan dan agar kesyirikan tidak menutup tauhid, dan untuk memurnikan tauhid dan sebagai bentuk kemarahan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena Robnya disamakan dengan selainNya. As-Syafii berkata, "Aku benci diagungkannya seorang makhluk hingga kuburannya akhirnya dijadikan masjid, kawatir fitnah kepadanya dan kepada masyarakat".

Dikatakan bahwasanya yang dicela adalah jika menjadikan mesjid di atas kuburan setelah proses pemakaman, adapun jika ia membangun mesjid kemudian menjadikan di sampingnya kuburan untuk dikuburkan di situ pewaqif masjid atau orang yang lain, maka tidak mengapa.

Zainuddin Al-'Irooqi berkata, "Yang dzohir bahwasanya tidak ada perbedaan antara jika dia membangun masjid dengan niat untuk dikuburkan di sebagian masjid maka termasuk dalam laknat. Bahkan hukumnya haram jika dikubur di masjid. Jika ia mempersyaratkan (tatkala memberi wakaf) agar dikubur di masjid maka persyaratan tersebut tidak sah karena bertentangan dengan kosekuensi wakaf masjidnya". (Faidul Qodiir Syarh Al-Jaami' As-Shogiir 5/274)

Demikianlah teks secara lengkap dari kitab Faidhul Qodiir. Para pembaca yang budiman perhatikanlah teks diatas, ternyata :

Al-Munaawi menukil perkataan Ibnul Qoyyim, yang Ibnul Qoyyim sedang menukil perkataan Imam As-Syafii (perkataan Ibnul Qoyyim ini bisa dilihat di kitab beliau Ighootsah Al-Lahfaan, tahqiq Al-Faqii 1/189), lalu Al-Munawi menyampaikan suatu pendapat lantas kemudian Al-Munawi menukil perkataan Al-'Irooqi yang membantah pendapat tersebut.

Dari sini tampak tipu muslihat Habib Munzir dari beberapa sisi:



Pertama :

Habib Munzir berdusta atas nama Imam As-Syafii dengan menambah perkataan yang bukan perkataan Imam As-Syafii, yaitu perkataan ((dan hal yang tidak diperbolehkan adalah membangun masjid di atas makam setelah jenazah dikuburkan, Namun bila membangun masjid lalu membuat di dekatnya makam untuk pewakafnya maka tak ada larangannya)), yang ini jelas adalah bukan perkataan Imam Syafii, akan tetapi sebuah pendapat yang dinukil oleh Al-Munawi.

Perkataan Imam As-Syafii ini sangatlah masyhuur, perkataan ini telah dinukil oleh Abu Ishaaq Asy-Syiirooziy (wafat 476 H) dalam kitabnya Al-Muhadzdzab fi Fiqhi Al-Imaam Asy-Syaafii, beliau rahimahullah berkata :


"Dan dibenci dibangunnya masjid di atas kuburan, karena hadits yang diriwayatkan oleh Abu Martsad Al-Gonawi bahwasanya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam melarang sholat kearah kuburan dan berkata, "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala (sesembahan), karena sesungguhnya bani Israil telah binasa karena mereka menjadi kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid". As-Syafii berkata, "Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya" (Al-Muhadzdzab 1/456, dengan tahqiq : DR Muhammad Az-Zuhaili)

Perkataan As-Syiirooziy dan perkatan Imam As-Syaafii ini juga dinukil oleh An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab (5/288, tahqiq Muhammad Najiib Al-Muthi'iy). Kemudian An-Nawawi berkata :

"Dan telah sepakat nash-nash dari As-Syafii dan juga para ashaab (para ulama madzhab syafiiyah) akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan, sama saja apakah sang mayat masyhur dengan kesholehan atau selainnya karena keumuman hadits-hadits (yang melarang-pen). Ay-Syafii dan para ashaab berkata, "Dan dibenci sholat ke arah kuburan, sama saja apakah sang mayat orang sholeh ataukah tidak". Al-Haafizh Abu Muusa berkata, "Telah berkata Al-Imaam Abul Hasan Az-Za'farooni rahimhullah : Dan tidak boleh sholat ke arah kuburannya, tidak boleh sholat di sisinya dalam rangka mencari barokah atau dalam rangka mengagungkannya, karena hadits-hadits Nabi, wallahu A'lam".(Demikian perkataan An-Nawawi dalam Al-Majmuu' syarh Al-Muhadzdzab 5/289)

Dan perkataan Imam As-Syaafii yang dinukil oleh Asy-Syiiroozi, An-Nawawi dan Al-Munaawi sesuai dengan penjelasan Imam As-Syafii dalam kitab beliau Al-Umm, dimana beliau tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal, beliau berkata :


"Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan di atas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur (disemen-pen) karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan, dan kematian bukanlah tempat salah satu dari keduanya (hiasan dan kesombongan), dan aku tidak melihat kuburan kaum muhajirin dan kaum anshoor dikapuri" (Al-Umm 2/631, tahqiq DR Rif'at Fauzi Abdul Muththolib, Daar Al-Wafaa')



Kedua :

Habib Munzir tidak amanah dalam penerjemahan, kata qiila (قِيْلَ) yang artinya "dikatakan" tidak diterjemahkan oleh Habib Munzir.




Terjemahan Habib Munzir sbb : "Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam Syafii rahimahullah : Makruh memuliakan seseorang hingga menjadikan makamnya sebagai masjid (*Imam Syafii tidak mengharamkan memuliakan seseorang hingga membangun kuburnya menjadi masjid, namun beliau mengatakan makruh), karena ditakutkan fitnah atas orang itu atau atas orang lain, dan hal yang tidak diperbolehkan adalah membangun masjid di atas makam setelah jenazah dikuburkan, Namun bila membangun masjid lalu membuat di dekatnya makam untuk pewakafnya maka tak ada larangannya". Demikian ucapan Imam Syafii (Faidhul Qodiir juz 5 hal. 274)"

Para pembaca yang budiman perhatikan terjemahan Habib Munzir, seharusnya terjemahan yang benar adalah : "…atau atas orang lain. Dikatakan : dan hal yang tidak…"

Ini jelas sangat merubah makna, karena fungsi dari kalimat qiila (dikatakan) ada dua:

-         Pertama : Menunjukan pemisah antara perkataan Imam Syafii dan perkataan selanjutnya yang bukan merupakan perkataan Imam As-Syafii

-         Kedua : Para penuntut ilmu telah mengerti bahwasanya para ulama tatkala menukil suatu pendapat dan dibuka dengan perkataan "dikatakan" maka ini menunjukkan lemahnya pendapat tersebut.



Ketiga :


Habib Munzir tidak menukil perkataan Al-Munaawi dalam Faidhul Qodiir secara sempurna. Padahal setelah nukilan yang didustakan kepada Imam Syafii tersebut, setelah itu Al-Munawi menukil dari Al-'Irooqi untuk membantah pendapat tersebut. Para pembaca yang budiman perhatikanlah kembali teks perkataan Al-Munawi berikut ini:

Terjemahannya: "Dikatakan bahwasanya yang dicela adalah jika menjadikan mesjid di atas kuburan setelah proses pemakaman, adapun jika ia membangun masjid kemudian menjadikan di sampingnya kuburan untuk dikuburkan di situ pewaqif masjid atau orang yang lain, maka tidak mengapa.

Zainuddin Al-'Irooqi berkata, "Yang dzohir bahwasanya tidak ada perbedaan antara jika dia membangun mesjid dengan niat untuk dikuburkan di sebagian masjid maka termasuk dalam laknat. Bahkan hukumnya haram jika dikubur di masjid. Jika ia mempersyaratkan (tatkala member wakaf) untuk dikubur di masjid maka persyaratan tersebut tidak sah karena bertentangan dengan kosekuensi wakaf masjidnya". (Faidul Qodiir Syarh Al-Jaami' As-Shogiir 5/274)

Maka sungguh saya bertanya kepada Habib Munzir yang mulia…"Kenapa anda begitu tega dan begitu berani memanipulasi perkataan para ulama…??"

Apakah anda tidak takut dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di hari akhirat kelak…???!!! Wallahul must'aaan (Bersambung…)
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 24-10-1432 H / 22 September 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Saturday, September 17, 2011

Mengedarkan Kotak Infak Saat Khatib Berkhutbah Pada Sholat Jum'at

 Dijawab oleh Ustadz Syahrul Fatwa (Pengajar Ma’had Riyadhush Shalihin Pandeglang, Banten dan Pengasuh Majalah Al-Furqon)
 
Tanya:
Assalamu’alaikum. Ustadz, bagaimana hukum menjalankan kotak infaq di masjid pada saat ada khotib naik mimbar atau pada saat pengajian rutin? Jazakallahu khoiron. (Mujiono, Tanjungpinang)

Jawab:
Wa’alaikumussalam warohmatullohi wa barakaatuh.
Pertanyaan ini mengandung dua pertanyaan;
Pertama: Hukum menjalankan kotak infak di masjid saat khotib naik mimbar
Kedua: Hukum menjalankan kotak infak saat pengajian rutin

Adapun jawaban soal pertama, maka sebagaimana kita maklumi bersama bahwa khutbah Jum’at merupakan bagian terpenting dalam pelaksanaan shalat Jum’at. Bahkan mayoritas ulama mengatakan bahwa khutbah jum’at adalah syarat sahnya shalat jum’at. (Lihat Al-Mughni 2/74, Bada’I as-Shona’I 1/262)
Karena urgennya khutbah jum’at maka ada beberapa perkara yang harus di perhatikan oleh para hadirin shalat jum’at. Diantaranya adalah larangan berbicara ketika khotib sedang menyampaikan khutbahnya, berdasarkan hadits;

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
Artinya: “Apabila engkau berkata kepada saudaramu pada hari jum’at: Diamlah!Sedangkan imam sedang berkhutbah maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia. (HR.Bukhari: 934, Muslim: 851)

Demikian pula tidak diperkenankan bagi para hadirin untuk melakukan perbuatan sia-sia seperti bermain-main batu krikil, bermain-main jam dan sebagainya. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
Artinya: “Barangsiapa yang berwudhu dan membagusi wudhunya kemudian mendatangi shalat jum’at dan diam mendengarkan khutbah, maka baginya ampunan antara jumat dengan jum’at berikutnya dan tambahan tiga hari. Barangsiapa yang memegang batu krikil sungguh dia telah berbuat sia-sia. ( HR.Muslim: 857)

Imam an-Nawawi rahimahullahu mengatakan: “Hadits ini berisi larangan dari memegang batu krikil dan selainnya dari jenis-jenis perbuatan yang sia-sia ketika khutbah jum’at. Dan di dalam hadits ini juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat sedang khutbah jum’at”. (Syarah Shohih Muslim 3/229)
Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman:

ومن هذا الباب ما شاهدته من بعض سنوات في بعض مساجد القرى، من الدوران على الناس يوم الجمعة بصندوق لجمع التبرعات والإمام يخطب
 
Artinya: “Dan termasuk dalam bab ini (kesalahan yang berkaitan dengan shalat jumat) apa yang saya saksikan beberapa tahun ini di masjid-masjid pedesaan, dimana mereka menjalankan kotak amal pada hari jumat sedangkan imam dalam keadaan berkhuthbah” (Al-Qaulul Mubin fii Akhthaail Mushalliin hal:340)

Dari sini, maka tidak sepantasnya mengedarkan kotak amal saat khotib naik mimbar. Karena hal itu dapat mengganggu khutbah dan membuyarkan konsentrasi para makmum yang sedang mendengarkan khutbah. Selayaknya kotak amal tersebut diletakkan di depan masjid atau tempat lainnya yang tidak mengganggu jalannya ibadah.

Adapun soal kedua, menjalankan kotak amal saat pengajian rutin maka hukum asalnya adalah boleh, dan saya tidak mengetahui ada dalil yang melarangnya. Allohu A’lam.

Syahrul Fatwa

Friday, September 16, 2011

Empat Golongan Yang Tidak Layak Memiliki Ilmu

Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu yang menyebutkan macam-macam orang yang mempunyai ilmu namun mereka tidak layak untuk memilikinya. Mereka ada empat golongan.

Golongan pertama: yang tidak dapat dipercaya memegang amanah ilmu. Yaitu, orang yang diberi karunia kecerdasan dan hafalan, tapi ia tidak dikaruniai kebersihan hati. Akhirnya ia menjadikan ilmu -yang merupakan alat agama— sebagai alat dunia. Ia mencari dunia dengan ilmu itu. Ia memfungsikan komoditi perdagangan akhirat menjadi alat dagang dunia. Orang seperti ini tidak amanah terhadap ilmu yang ; dimilikinya. Allah subhanahu wata'ala sekali-kali tidak menjadikannya imam bagi ilmu itu. Sebab, orang yang amanah adalah orang yang tidak punya tujuan dan keinginan pribadi selain mengikuti serta mendapatkan kebenaran, sehingga ia tidak memburu kekuasaan dan dunia dengannya. Orang yang telah menjadikan komoditi akhirat sebagai alat dagang dunia telah mengkhianati Allah subhanahu wata'ala, mengkhianati hamba-hamba-Nya, dan mengkhianati agama-Nya. Oleh sebab itu, Imam Ali mengungkapkan orang pertama ini dengan "orang yang tidak amanah atas ilmu."


Perkataan Ali radhiallau anhu selanjutnya, 'ia mengedepankan ilmu -yang merupakan karunia Allah Subhanahu wata'ala- atas kitab-Nya, dan menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya'. Ini adalah karakter pengkhianat tersebut. Apabila dikaruniai nikmat, ia sombong di depan manusia. Apabila menguasai ilmu, ia mengedepankan ilmu itu atas Kitabullah dan menjadikannya pegangan. Ini adalah sikap banyak orang yang telah menguasai suatu ilmu. Mereka merasa cukup dengan ilmu itu, mengutamakannya dan menjadikan Kitabullah sebagai pengikut ilmunya. Ini bukanlah sikap para ulama. Karena orang yang benar-benar alim akan mengedepankan Kitabullah atas segala hal yang lain, dan menjadikannya patokan keputusan hukum dan timbangan atas segala hal, sebagaimana Allah SWT telah menjadikan Al-Qur’an sebagai imam. Jadi, orang yang mengedepankan Al-Qur’an itu adalah orang yang mendapat petunjuk dan berbahagia, sedang yang mengutamakan sesuatu yang lain atasnya adalah orang yang sesat dan celaka. Ini adalah ihwal dan sikap orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu selain Kitabullah, merasa cukup dengannya, dan mengedepankannya serta mengakhirkan Al-Qur'an.

Golongan kedua: orang yang tunduk, tapi hatinya belum mantap. Pengetahuannya terhadap ilmu itu lemah, tapi dia patuh kepada para ulama. Ini adalah keadaan para pengikut kebenaran, yaitu orang-orang yang taklid. Orang-orang ini, meski berada di jalan keselamatan, bukanlah para penyeru (dai) kepada agama. Mereka hanyalah pada posisi serdadu biasa, bukan panglima dan jenderal.

Perkataan Ali radhiallahu anhu, keraguan tertanam di hatinya begitu menjumpai isu meragukan, karena ilmunya lemah dan pengetahuannya minim. Apabila hatinya dilanda keraguan sekecil apa pun, maka ia goyah. Berbeda dengan orang yang kokoh dalam ilmunya. Apabila ia diterpa badai keraguan sekuat hempasan gelombang laut, keyakinannya tidak berubah dan tidak muncul kebimbangan dalam hatinya. Sebab, ia telah kokoh dalam ilmu sehingga keraguan tidak mempermainkannya. Bahkan, apabila keraguan datang, penjagaan 'bala tentara' ilmu mampu menolaknya.

Keraguan itu datang melanda hati dan menghalangi tersingkapnya kebenaran. Selama hati telah tersentuh dengan hakikat ilmu, maka keraguan tidak akan berpengaruh padanya. Bahkan, dengan mengusirnya dan mengetahui kebatilannya, hati bertambah kuat dan keyakinan makin teguh. Sebaliknya jika hakikat ilmu tentang kebenaran belum menyentuh hati, maka sekali muncul keraguan maka ia akan goyah. Syukur bila cepat disadari. Bila tidak, maka ye ang berikutnya akan beruntun susul-menyusul menimpa hati sehingga orang tersebut akhirnya menjadi orang yang peragu dan bimbang.

Hati dilanda oleh dua macam tentara kebatilan yaitu syahwat dan syubhat (keraguan). Setiap hati yang menerima dan menyambutnya akan merekamnya hingga penuh. Pengaruhnya menjalar sampai ke lisan dan organ-organ tubuhnya. Apabila yang merasuki hati adalah syubhat-syubhat batil, maka meledaklah keraguan melalui lisannya. Sehingga, orang yang bodoh menyangka bahwa hal itu karena ilmunya luas. Padahal, itu terjadi akibat dari dia tidak berilmu dan tidak punya keyakinan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata kepadaku -ketika aku terlalu banyak mengemukakan syubhat dan bantahan-bantahan orang, "Janganlah engkau memenuhi hatimu dengan bantahan dan syubhat seperti bunga karang yang selalu menerima dan penuh dengan benda asing, sehingga akhirnya engkau hanya menyebarkan syubhat-syubhat itu. Tapi, jadikanlah hatimu itu seperti kaca bening. Syubhat boleh lewat di luarnya, tapi tidak berdiam di sana. Ia dapat melihat syubhat itu dengan kejernihannya, dan menolaknya dengan kepadatannya. Jika tidak begitu, dan engkau menghirup semua syubhat yang menimpa hatimu, maka hatimu itu akan menjadi tempat bersemayamnya syubhat-syubhat." Wasiat ini amat bermanfaat bagiku dalam menolak syubhat.

Syubhat dinamai demikian karena mengandung ketidakjelasan kebenaran dengan kebatilan. Syubhat membungkus jasad kebatilan dengan baju kebenaran. Sementara itu, kebanyakan manusia melihat kepada kulit penampilan luar yang baik. Maka, orang yang melihat syubhat itu akan melihat baju yang dikenakannya sehingga beranggapan bahwa ia itu benar. Tapi, ulama -orang yang berilmu dan mempunyai keyakinan teguh—tidak terpedaya dengan hal itu. Pandangannya menembus ke batin syubhat dan apa yang di balik bajunya sehingga hakikatnya terungkap di matanya. Permisalan untuk ini adalah dirham (uang perak) palsu. Orang yang tidak mengerti tentang logam mulia akan tertipu karena melihat lapisan peraknya. Tapi orang yang paham dan jeli, pandangannya melampaui kulit luar sehingga ia dapat mengetahui kepalsuannya. Nah, ucapan yang indah dan fasih bagi syubhat adalah seperti lapisan perak bagi dirham palsu. Dan, makna ucapan itu sendiri seperti perunggu yang dibungkus dengan perak itu tadi.

Kalau orang yang berakal dan cerdas memperhatikan dan merenungkan hal ini, ia melihat kebanyakan manusia menerima mazhab dan pendapat dengan suatu lafal dan menolaknya bila diungkapkan dengan lafal lain. Dalam berbagai buku, aku temukan hal seperti ini yang sangat banyak. Betapa banyak kebenaran ditolak orang karena dijelek-jelekkan dengan bungkusan baju kata-kata yang keji.

Dalam hal semacam ini, para imam Ahli Sunnah, di antaranya Imam Ahmad, menyatakan, "Kami tidak menghilangkan salah satu dari sifat Allah subhanahu wata’ala dikarenakan sebuah kekejian yang dibuat suatu pihak." Contohnya, orang-orang Jahmiyyah menamakan pemberian sifat-sifat kesempurnaan untuk Allah subhanahu wata’ala yang berupa hayat, 'Urn, kalam, soma', bashar dan Iain-lain yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan sendiri sebagai tasybih dan tajsim[1], dan menyebut orang yang memberikan sifat itu dengan nama mujassim[2].. Akibat penyebutan yang keji ini, orang-orang yang berpikiran pendek dan pemahamannya dangkal akan menjauhi dan tidak menerima pemberian sifat kesempurnaan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Semua penganut suatu kepercayaan atau aliran membungkus aliran dan pendapat mereka dengan lafal-lafal terbaik semampu mereka; dan membungkus pendapat orang yang berseberangan dengan lafal-lafal yang paling buruk. Orang yang dikaruniai oleh Allah subhanahu wata’ala pemahaman yang dalam mampu mengungkap hakikat kebenaran dan kebatilan di balik lafal-lafal itu. Ia tidak terpedaya dengan lafal.

Maka, apabila Anda ingin mengetahui hakikat sebenarnya dari suatu makna, apakah ia hak atau batil, lepaskan ia dari baju lafalnya dan bersihkan hatimu dari kecenderungan dan kebencian, lalu pikirkanlah dengan dalam dan adil. Jangan seperti orang yang menimbang pendapat para sahabatnya dengan sepenuh hatinya. Tapi, giliran ia menimbang pendapat lawan ia seperti memandang kepada percikan api. Karena, orang yang menimbang dengan hati permusuhan akan melihat kebaikan sebagai sesuatu yang buruk, dan orang yang menimbang dengan hati cinta sebaliknya. Hanyalah orang yang Allah subahanhu wata’ala kehendaki dan ridhai untuk menerima kebenaran yang akan selamat dari aib ini. Ada yang berkata,


"Pandangan ridha mampu menutupi setiap cacat
sebagaimana pandangan benci selalu menampakkan keburukan."

Yang lain berkata,
"Mereka memandang dengan pandangan permusuhan
seandainya dengan pandangan ridha pasti mereka menganggap baik sesuatu yang buruk."

Kalau ini berkaitan dengan penglihatan mata kasat yang menjangkau hal-hal kongkrit yang tidak dilebih-lebihkan, apalagi pandangan mata hati yang menjangkau makna-makna abstrak yang biasanya mudah terkena penyakit pengingkaran. Hanya kepada Allah subhanahu wata’ala kita meminta bimbingan untuk mengetahui dan menerima kebenaran dan menolak kebatilan serta tidak terpedaya dengannya.

Perkataan Ali radhiallahu anhu, begitu menjumpai syubhat, merupakan bukti kelemahan akal dan makrifat orang tersebut, karena dia dapat terpengaruh dan terombang-ambing oleh hal-hal sepele dan kecil. Berbeda dengan orang yang berakal jernih dan teguh, hal-hal kecil tidak dapat mengguncang dan mempermainkannya. Pada awalnya, kebatilan mengejutkan, namun bila hatinya tegar, ia mengusirnya mundur ke belakang.

Allah subhanahu wata’ala mencintai orang yang mempunyai ilmu dan tidak tergesa-gesa. Ia tidak bertindak hingga ia mengetahui dan meyakini apa yang sedang melandanya. Ia tidak terburu-buru mengeluarkan keputusan atau melakukan tindakan sebelum benar-benar mengetahuinya dengan dalam. Ingat, tergesa-gesa adalah dari setan. Maka, orang yang tegar berhadapan dengan guncangan karena hal-hal kecil, ia menghadapi urusannya dengan ilmunya dan ketegasan. Sedangkan, orang yang tidak tegar akan menghadapinya dengan tergesa-gesa dan kacau, akibatnya adalah penyesalan. Orang yang pertama berujung pada keberuntungannya.

Hanya saja orang pertama menghadapi sebuah kekurangan juga. Tapi, selama kekurangan itu diiringi dengan keteguhan dan ketegasan, ia akan selamat darinya. Yaitu, lolosnya godaan tersebut masuk ke dalam hatinya. Tidak ada yang dikhawatirkan dari sikap teguh selain bahaya ini. Akan tetapi, bila dibarengi dengan keteguhan dan ketegasan, maka tidak ada masalah yang timbul. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. berdoa seperti diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa'i,


"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, kemantapan dalam urusanku dan keteguhan dalam kebenaran."


Dua kata ini (tsabat dan 'azimah) adalah inti keberuntungan. Seseorang tidak mendapat celaka dan masalah kecuali karena mengabaikan keduanya atau salah satunya. Seseorang tidak menemui masalah melainkan sebab tergesa-gesa, kacau, dan mudah dipermainkan oleh hal-hal permukaan kecil; atau karena menyepelekan dan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Apabila telah ada kemantapan (tsabat), lalu ada juga keteguhan ('azimah), seseorang tersebut benar-benar beruntung. Wallahu waliyyut taufiq.

Golongan ketiga: orang yang keinginannya mencari kesenangan. la tunduk kepada dorongan nafsu di manapun berada. la tidak dapat memperoleh derajat pewaris para nabi, karena ilmu tidak diraih melainkan dengan meninggalkan kesenangan dan menceraikan kemalasan. Imam Muslim berkata dalam shahihnya bahwa Yahya bin Abi Katsir berkata, "Ilmu tidak didapatkan dengan bersantai-santai."

Ibrahim al-Harby berkata, "Para cendekiawan seluruh umat sepakat bahwa kesenangan tidak dapat diraih dengan kesenangan. Orang yang memilih santai, maka sesuatu yang nikmat akan terlepas darinya."

Jadi, tidak mungkin orang yang mementingkan kenikmatan dan kesenangannya akan mendapat derajat sebagai pewaris para nabi.
"Tinggalkanlah menulis karena engkau bukan ahlinya walaupun engkau hitamkan wajahmu dengan tinta."

Ini karena ilmu adalah aktivitas dan pekerjaan hati. Selama hati tidak mengkonsentrasikan dirinya terhadap aktivitasnya, ia tidak dapat meraihnya. Dan hati hanya punya satu arah kiblat. Kalau ia mengarahkan hatinya ke kesenangan dan nafsu syahwat, ia berpaling dari ilmu. Orang yang tidak memenangkan kenikmatan dan keinginan untuk meraih ilmu, tidak akan pernah memperoleh ilmu itu. Apabila keinginan terhadap kenikmatan ilmu telah menguasai seluruh indera dan raganya, ada harapan ia akan termasuk golongan para ulama.

Kenikmatan ilmu adalah kenikmatan akal dan ruhani, seperti kenikmatan yang dirasakan para malaikat. Sedang nikmatnya karena makan, minum, nikah adalah kenikmatan hewani. Manusia sama dengan hewan dalam masalah itu. Adapun nikmatnya kejahatan, kezaliman, dan kerusakan adalah kenikmatan setan. Para pelakunya sama dengan iblis dan tentara-tentaranya. Seluruh kenikmatan lenyap dengan berpisahnya ruh dari badan, kecuali nikmatnya ilmu dan iman. Kenikmatan ini justru tambah sempurna setelah perpisahan ruh dan badan itu, karena badan dan hal-hal yang dulu menyibukkannya mengurangi, menyedikitkan, dan menghalangi kenikmatannya. Apabila ruh telah terpisah dari badan, ia mencapai kenikmatan utuh dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang ia kerjakan. Maka, orang yang mencari kenikmatan yang paling besar dan mengutamakan kenikmatan yang abadi berada di jalan ilmu dan iman yang menjadi inti sempurnanya kebahagiaan manusia.

Juga, kenikmatan-kenikmatan hewani itu cepat hilang. Apabila telah habis, akan diganti dengan perasaan murung dan sedih. Bukankah orang yang ditimpa musibah seperti itu perlu mengobatinya dengan hal yang sebanding untuk mengusir rasa sakitnya? Mungkin pengobatan itu menyakitkannya dan ia benci, namun ia harus menanggungnya untuk mengobati kesedihannya. Jauh sekali ini dengan kenikmatan ilmu, iman, cinta kepada Allah, dan merasa nikmat dengan zikir. Inilah kenikmatan dan kelezatan hakiki itu.

Golongan keempat: orang yang seluruh keinginannya tercurah pada mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta. Kesenangan dan kenikmatannya ada pada hal-hal tersebut. Ia menghabiskan usia untuk semua itu. Ia tidak melihat adanya sesuatu yang lebih nikmat daripada yang ia senangi itu. Alangkah jauhnya ia dari derajat orang-orang berilmu.

Keempat golongan ini bukanlah termasuk dai-dai agama, atau para pemuka ulama, bukan pula para pencari ilmu. Sebagian dari mereka yang kelihatannya mempunyai ilmu, hanyalah orang-orang yang berpura-pura menjadi ulama, mengklaim diri mereka berilmu tapi sebenarnya tidak punya apa-apa. Bahaya dari orang-orang ini adalah cobaan bagi setiap orang yang lengah. Manusia akan meniru-niru mereka karena menyangka mereka benar-benar berilmu dengan berkata, "Kami tidaklah lebih baik dari mereka dan kami tidak mengutamakan diri kami atas mereka." Jadilah mereka rujukan orang-orang lengah tersebut. Oleh karena itulah, seorang sahabat menyindir mereka dengan ucapannya, "Berhati-hatilah terhadap bahaya orang alim yang berakhlak bejat dan ahli ibadah yang bodoh, karena bahaya mereka berdua adalah cobaan bagi setiap orang yang lengah."

Perkataan Ali radhiallahu anhu, hewan ternak lebih mirip dengan mereka, penyamaan ini diambil dari firman-Nya, "Mereka seperti hewan ternak. Bahkan, mereka lebih buruk lagi." Dalam ayat ini, Allah SWT bukan hanya menyerupakan mereka dengan hewan ternak, melainkan menyatakan mereka lebih sesat.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menyerupakan mereka dengan hewan ternak karena keinginan mereka hanya memburu dunia.

Allah Subhanahu wata’ala menyerupakan orang-orang bodoh dan sesat terkadang dengan (1) hewan ternak, (2) dengan keledai —ini adalah perumpamaan bagi orang yang mempelajari ilmu tapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, ia seperti keledai yang membawa buku—, (3) dan terkadang dengan anjing - ini adalah bagi yang meninggalkan ilmu dan tenggelam dalam nafsu syahwat.


____________________
Catatan Kaki:
[1] Tasybih adalah menyamaka Allah dengan makhluk, Tajsim adalah menganggap Allah mempunya tubuh seperti manusia.
[2] Mujassim adalah orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai tubuh seperti manusia.

Sumber: Mukhtasar MIFTAH DAAR AS-SA'ADAH oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (judul terjemahan: Kunci Kebahagiaan),hal. 266 - 271, Cetakan Pertama, Penerbit Pustaka Akbar, 2004.


Wednesday, September 14, 2011

Mereka Memperingati Maulid Nabi di Gereja (Astagfirullah !)




Upacara Maulid khusus diadakan pada bulan Februari 2010 di sebuah gereja lokal untuk pertama kalinya dalam sejarah Pakistan. Hosted oleh Pendeta Chaman Sardar, ketua Yayasan ibu Teresa Kesejahteraan Masyarakat dan komunitas Kristen di Gereja Baptis di Shahadrah Lahore, upacara itu disebut sebagai Maulid-un-Nabi Konferensi.



Selain agama Sikh, Kristen, Hindu dan para pemimpin komunitas Muslim, berbagai lapisan masyarakat berpartisipasi dalam upacara tersebut.

Dengan bacaan dari Al-Qur'an oleh Qari Nazeer Ahmad Saeedi, proses formal Konferensi Milad  berlangsung. Pendeta membacakan ayat-ayat  dari Alkitab, sedangkan Gereja Baptis menyanyikan lagu perdamaian.

Dalam kata sambutannya, Pendeta Chaman Sardar, tuan rumah upacara, mengatakan bahwa perayaan Maulid di Gereja adalah peristiwa bersejarah dalam sejarah sub-benua. Ini merupakan langkah besar ke depan di jalan menuju dialog antar agama dan harmoni dan akan diperluas ke bagian lain negara. Dia mengatakan bahwa Dr.Muhammad Tahir ul-Qadri-menabur benih harmoni antar agama, yang kini telah tumbuh menjadi pohon. Dia mengatakan bahwa MQI telah mengorganisir program Natal di sekretariatnya pusat setiap tahun dan orang-orang Kristen sekarang akan merayakan Milad Nabi. Ia dihiasi semua tamu dihormati duduk di panggung utama. Sahibzada Husain Mohi-ud-Din menyalakan lilin Qadri perdamaian dengan tangannya untuk menandai suasana yang menyenangkan harmoni antar agama.




Sohail Ahmad Raza, Direktur Hubungan Antar Agama dari MQI, mengatakan bahwa Syaikh-ul-Islam Dr Muhammad Tahir-ul-Qadri adalah bukan hanya pemimpin Umat Muslim. Sebaliknya ia adalah pemimpin yang mengasihi seluruh umat manusia. Perayaan Milad di Gereja membuktikan bahwa komunitas Kristen juga menganggap Dr Tahir-ul-Qadri sebagai pemimpinnya. Dia mengatakan bahwa saudara Kristen pantas penghargaan dan penghormatan untuk mempromosikan toleransi antaragama melalui program ini. Kita perlu mempromosikan tradisi ini. Dia mengucapkan terima kasih Pendeta Chaman Sardar dan seluruh komunitas Kristen tentang pelaksanaan program Milad di Gereja.



Orang Kristen, Sikh, Hindu dan pemimpin Muslim bersama-sama memotong kue ulang tahun Nabi  dan membuat doa khusus pada kesempatan tersebut. Panggilan untuk shalat Ashar dilakukan dalam Gereja dan doa dibacakan.  Selanjutnya  pengaturan untuk pesta Milad setelah akhir program.

_____________________________________

Perhatian ! 
  • Bagi kita ummat muslim hendaknya tidak tertipu dengan propaganda Wihdatul Adyan di atas. Ada baiknya kita baca hasil keputusan Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta' (Saudi Arabia) di bawah ini:


SEPULUH KAIDAH DASAR MENOLAK PAHAM PLURALISME AGAMA[1]


Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta'


Segala puji hanyalah milik Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah atas Rasul penutup -yang tiada rasul sesudahnya- atas keluarga dan segenap sahabat, serta orang-orang yang mengikuti Beliau hingga hari kemudian kelak.
Amma ba’du.

Sesungguhnya Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta’ (Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan kepadanya mengenai beberapa pemikiran dan makalah yang ramai dirilis di media-media informasi, seputar permasalahan seruan kepada wihdah al adyan: agama Islam, agama Yahudi dan agama Nasrani, serta beberapa persoalan yang merupakan dampak dari seruan itu, seperti masalah pembangunan masjid, gereja dan tempat peribadatan Yahudi dalam satu komplek, di lingkungan universitas, pelabuhan udara dan tempat-tempat umum. Berikut juga seruan mencetak Al Qur`an Al Karim, Taurat dan Injil dalam satu jilid. Dan masih banyak lagi dampak propaganda penyatuan agama tersebut. Demikian pula seminar-seminar, perkumpulan-perkumpulan dan yayasan-yayasan di barat dan di timur yang diselenggarakan dan didirikan untuk tujuan tersebut. Setelah mempelajari dan menelitinya, maka Lajnah Daimah memutuskan:

Pertama : Termasuk kaidah dasar aqidah Islamiyah yang dimaklumi secara qath’i oleh segenap kaum muslimin ialah, tidak ada agama yang benar di atas muka bumi selain Dinul Islam. Dinul Islam adalah penutup seluruh agama-agama yang ada dan menghapus agama, syariat dan millah sebelumnya. Tidak ada satu agamapun di atas muka bumi yang boleh dipakai sebagai tatanan beribadah kepada Allah selain Dinul Islam.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ )

"Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" [Ali Imran : 85]
.
Yang disebut dengan agama Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah agama yang Beliau bawa, bukan agama yang lain.

Kedua : Di antara kaidah dasar aqidah Islamiyah, yaitu meyakini bahwa Kitabullah, Al Qur`an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkah Allah Rabbul ‘Alamin. Meyakini Al Qur`an menghapus kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, Injil dan lainnya. Dia juga sebagai standar kebenaran kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satupun kitab suci yang berhak dipakai sebagai acuan dalam beribadah kepada Allah selain Al Qur`an Al Karim.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." [Al Maidah : 48].

Ketiga : Wajib mengimani bahwa kitab Taurat dan Injil telah dihapus dengan Al Qur`an Al Karim. Wajib meyakini, bahwa keduanya telah banyak diselewengkan dan dirubah, ditambah dan dikurangi.

Sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat Al Qur`an, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

"Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat)". [Al Maidah : 13].

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan" [Al Baqarah : 79].

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan : “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui". [Ali Imran : 78].

Oleh karena itu, isi Taurat ataupun Injil yang masih orisinil telah dihapus dengan Islam. Adapun selain itu telah diselewengkan dan dirubah-rubah.

Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahuu alaihi wa sallam bahwa Beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat. Beliau berkata,”Apakah engkau masih ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa q hidup sekarang ini, maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti syariatku. [HR Ahmad, Ad Darimi dan lainnya]

Keempat : Termasuk di antara kaidah dasar aqidah Islamiyah, yaitu meyakini bahwa nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi". [Al Ahzab : 40]

Tidak ada lagi rasul yang wajib diikuti selain Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sekiranya seorang nabi atau rasul selain Beliau hidup pada saat ini, maka tidak ada keluasan bagi mereka kecuali mengkuti Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak ada keluasan juga bagi para pengikut mereka, kecuali mengikuti Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya berikut ini:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman,”Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianku terhadap yang demikian itu.” Mereka menjawab,”Kami mengakui.” Allah berfirman,”Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” [Ali Imran : 81].

Nabi Allah Isa Alaihissallam saat diturunkan pada akhir zaman, juga mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berhukum dengan syariat Beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka". [Al A’raf : 157].

Sebagaimana termasuk dari kaidah dasar aqidah Islamiyah, yaitu meyakini bahwa Nabi Muhammad diutus kepada segenap umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui". [Saba’: 28].

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

"Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”. [Al A’raf : 58].

Kelima : Di antara kaidah dasar agama Islam, yaitu wajib meyakini kekufuran orang-orang yang menolak memeluk Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani maupun yang lainnya. Wajib menamai mereka kafir, meyakini bahwa mereka adalah musuh Allah, RasulNya dan kaum mukminin, serta meyakini bahwa mereka sebagai penduduk Neraka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَة ُ

"Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata". [Al Bayyinah : 1].

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

"Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk". [Al Bayyinah : 6].

Dan yang tersebut dalam ayat-ayat lainnya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya! Tidak ada seorangpun dari umat manusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa, melainkan ia pasti termasuk penduduk neraka.”

Oleh karena itu pula, barangsiapa tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani, maka dia kafir. Sebagai konsekuensi dari kaidah syariat: Barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir.

Keenam : Berdasarkan kaidah-kaidah dasar aqidah Islamiyah tersebut dan berdasarkan hakikat syariat di atas, maka propaganda wihdatul adyan (penyatuan agama, pluralisme agama) dan menampilkannya dalam satu kesatuan adalah propaganda dan makar yang sangat busuk. Misi propaganda itu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, merubuhkan Islam dan menghancurkan pilar-pilarnya serta menyeret pemeluknya kepada kemurtadan.
Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup". [Al Baqarah : 217].

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)". [An Nisa`: 89].

Ketujuh : Di antara dampak negatif propaganda keji tersebut, yaitu hilangnya pembeda antara Islam dengan kekufuran, yang haq dengan yang batil, yang ma’ruf dengan yang mungkar, dan hilangnya batas pemisah antara kaum muslimin dengan kaum kafir. Tidak ada lagi wala’ dan bara’. Tidak ada lagi seruan jihad dan perang demi menegakkan Kalimatullah di atas muka bumi, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk". [At Taubah : 29].

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

"Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa". [At Taubah : 36]

Kedelapan : Apabila propaganda penyatuan agama bersumber dari seorang muslim, maka hal itu jelas termasuk kemurtadan dari Islam, karena jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar aqidah. Propaganda tersebut meridhai kekufuran terhadap Allah, membatalkan kebenaran Al Qur`an, membatalkan fungsinya sebagai penghapus kitab-kitab suci sebelumnya, membatalkan fungsi Islam yang menghapus syariat-syariat dan agama-agama sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, maka pemikiran tersebut secara syar’i tertolak, haram hukumnya berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al Qur`an, As Sunnah dan Ijma’.

Kesembilan : Berdasarkan uraian di atas maka :
1). Seorang muslim yang mengimani Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, Muhammad sebagai nabi dan rasulNya, (maka ia) tidak boleh mengajak orang kepada pemikiran keji tersebut. Tidak boleh pula mendorong orang lain kepadanya dan menggulirkannya di tengah-tengah kaum muslimin; apalagi menyambutnya, mengikuti seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan, atau menggabungkan diri dalam perkumpulan-perkumpulannya.
2). Tidak dibenarkan bagi setiap muslim mencetak Taurat dan Injil, apalagi mencetaknya bersama dengan Al Qur`an dalam satu jilid. Barangsiapa yang melakukannya, maka ia telah jauh tersesat. Karena hal itu berarti mencampuradukkan kebenaran (Al Qur`an) dengan kitab yang telah diselewengkan atau dihapus (Taurat dan Injil).
3). Setiap muslim tidak dibenarkan menyambut ajakan membangun masjid, gereja dan ma’bad (tempat peribadatan Yahudi) dalam satu komplek. Karena hal itu berarti pengakuan bagi agama selain Islam, menghambat tegaknya Dinul Islam atas agama-agama lainnya, dan secara tidak langsung merupakan statement, bahwa agama yang sah itu ada tiga dan (merupakan) pernyataan bahwa penduduk bumi ini boleh memilih salah satu di antaranya, bahwa ketiga agama itu sama dan Islam tidak menghapus agama-agama sebelumnya. Tentu saja, pengakuan, keyakinan dan kerelaan kepada hal semacam itu termasuk kekufuran dan kesesatan, serta sangat bertentangan dengan nash-nash Al Qur`an yang sangat jelas, As Sunnah yang shahih dan Ijma’ kaum muslimin. Secara tidak langsung, hal itu juga merupakan pengakuan, bahwa penyelewengan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu berasal dari Allah. Maha Tinggi Allah dari hal itu. Sebagaimana juga tidak dibenarkan menyebut gereja sebagai rumah Allah, atau mengatakan bahwa ibadah kaum Nasrani kepada Allah di gereja-gereja tersebut diterima di sisi Allah; sebab ibadah mereka itu tidak berdasarkan ajaran Islam, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". [Ali Imran : 85].

Justru gereja-gereja itu adalah rumah kekufuran. Kita berlindung kepada Allah dari kekufuran dan orang-orang kafir. Dalam Majmu’ Fatawa (22/162), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata,”Gereja-gereja dan bi’ah (biara-biara) itu bukanlah rumah Allah. Rumah Allah itu hanyalah masjid. Namun gereja dan biara itu adalah rumah kekufuran, meskipun nama Allah disebut di dalamnya. Rumah itu tergantung kepada pemiliknya, dan pemiliknya adalah orang-orang kafir, maka gereja-gereja itu adalah rumah peribadatan orang-orang kafir”.

Kesepuluh : Satu hal yang mesti diketahui, bahwa mendakwahi orang-orang kafir, khususnya ahli kitab meruapakan kewajiban kaum muslimin, berdasarkan nash-nash yang jelas dari Al Qur`an dan As Sunnah. Hendaknya dakwah tersebut dilakukan lewat penjelasan dan dialog dengan cara yang terbaik, serta tidak menanggalkan prinsip-prinsip Islam. Hal itu dilakukan agar mereka menerima Islam dan bersedia memeluknya, atau untuk menegakkan hujjah atas mereka. Sehingga orang yang binasa, maka ia binasa di atas keterangan yang nyata; dan barang siapa yang hidup, maka ia hidup di atas keterangan yang nyata pula.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak pula kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai ilah (sesembahan) selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [Ali Imran : 64]

Adapun dialog, perdebatan ataupun pertemuan dengan mereka hanya untuk mentolelir keinginan mereka, melempangkan misi mereka, mengurai simpul Islam dan mencabut akar keimanan, maka yang demikian itu adalah batil, tidak dikehendaki Allah, RasulNya dan kaum mukminin. Dan Allah sajalah tempat memohon pertolonganNya terhadap apa yang mereka bicarakan. Allahi Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

"Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu". [Al Maidah : 49].

Dengan demikian, Lajnah menegaskan dan menjelaskan kepada kaum muslimin, Lajnah berpesan kepada kaum muslimin umumnya dan kepada ahli ilmu khususnya, agar selalu bertakwa kepada Allah dan tetap muraqabatullah (mendekatkan diri kepada Allah). Hendaknya mereka selalu melindungi Islam dan menjaga aqidah kaum muslimin dari kesesatan dan dari para penyerunya, melindungai kaum muslimin dari kekufuran dan orang-orang kafir. Dan hendaknya memperingatkan mereka dari bahaya propaganda sesat penyatuan agama yang kufur ini, agar mereka tidak terjerat ke dalam jaring-jaringnya. Kita memohon perlindungan kepada Allah agar seorang muslim tidak menjadi sebab masuknya kesesatan ini ke negeri kaum muslimin dan tidak menyebarkannya ke tengah-tengah mereka.

Hanya kepada Allah kita memohon, dengan asma-asmaNya yang husna (baik) dan sifat-sifatNya yang ‘Ula (luhur), agar melindungi kita dari fitnah yang menyesatkan, dan agar menjadikan kita sebagai juru penunjuk kepada hidayah dan sebagai pelindung Dinul Islam di atas cahaya hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, hingga kita bertemu denganNya dalam keadaan ridha kepada kita.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga dan segenap sahabat Beliau.
Wabillahi taufiq.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M, Rubrik Mabhats, Alamat Redaksi : Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo - Solo 57183, Telp. 0271-5891016]
________
Footnote
[1]. Diterjemahkan oleh Abu Hamzah Agus Hasan Bashori Al Sanuwi, dari Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta’, Fatwa No : 19402 tertanggal 25/1/1418 H, yang beranggotakan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua) Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Ali Syaikh (Anggota), Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid (Anggota) Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan (Anggota)

Sumber :

Friday, September 9, 2011

Seberapa Baik Akhlakmu Wahai Saudaraku Yang Telah Lama Ngaji?

“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain,  padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]

“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]
Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji” (ngaji: istilah yang ma’ruf, yaitu seseorang mendapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salafus sholeh, istilah ini juga identik dengan penuntut ilmu agama). Ada yang telah ngaji 3 tahun, 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid
Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang  diperoleh. Lihat bagimana A’isyah rodhiallohu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah rodhiallohu ‘anha berkata,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rohimahullohu menjelaskan hadist ini,
Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]
Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

"Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia" (HR At-Thirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Tingginya ilmu bukan tolak ukur iman dan tauhid
Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk  beramal dan bukan tujuan utama kita.
Oleh karena itu Alloh Azza wa Jalla berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-Waqi’ah: 24]

Alloh TIDAK berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ

“Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”

Dan cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَْ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff : 3)

Dan bisa jadi Ilmunya tinggi karena di karuniai kepintaran dan kedudukan oleh Alloh sehingga mudah memahami, menghapal dan menyerap ilmu.

Ilmu Agama hanya sebagai wawasan ? 
Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga  tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]
Sibuk belajar ilmu fiqh dan Ushul, melupakan ilmu akhlak dan pensucian jiwa 
Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ilmu fiqh, ushul tafsir, ushul fiqh, ilmu mustholah hadist dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ilmu akhlak dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlak kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan Akhlak manusia.
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].

Ahlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah
Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlak mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah. Beliau berkata,
 "Dan mereka (al-firqoh an-najiah ahlus sunnah wal jama'ah) menyeru kepada (penerapan) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka". Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama'ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama'ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan 'Aqiidah al-Waashithiyyah]
Bagi yang sudah “ngaji” Syaitan lebih mengincar akhlak bukan aqidah
Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya insyaAlloh sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.

Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)

Kita butuh teladan akhlak dan takwa
Disaat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ilmu tetapi kita lebih butuh teladan ahklak dan takwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlak dan takwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.

Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adab orang tersebut baru kita mengambil ilmunya. Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’. (Waratsatul Anbiya’, dikutip dari majalah Asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, halaman 76 s.d. 78)
Kemudian pada komentar ketiga,
“Baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat” 

Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulamapun demikian sebagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata,
 “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami  mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]
Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?
Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak.
Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullahu :

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم

“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]
Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.
Imam Al Ghazali rahimahullahu berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” [Thabaqat Asy Syafi’iyah, dinukil dari tulisan ustadz Kholid syamhudi, Lc, majalah Assunah].
Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka insyaAlloh ilmu tersebut akan memperbaiki akhlak kita dan pribadi kita.

Mari kita perbaiki akhlak untuk dakwah
“orang salafi itu ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal tapi keras dan mau menang sendiri” [pengakuan seseorang kepada penyusun]
Karena akhlak buruk, beberapa orang menilai dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklak pelaku dakwah itu sendiri. Padahal rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” [HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmu no.69]

Karena Akhlak yang buruk pula ahlus sunnah berpecah belah, saling tahzir, saling menjauhi yang setelah dilihat-lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya. Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlak pendakwahnya yang mulia.

Jangan lupa berdoa agar akhlak kita menjadi baik
Dari Ali bin Abi Thalib Rodhiallahu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:

,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ
وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ

“Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Dan doa dijauhkan dari akhlak yang buruk,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.


Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
27 Ramadhan 1432 H Bertepatan 27 Agustus 2011
Penyusun: Raehanul Bahraen
Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis dan memperbaiki akhlak kami

Toleransi Para Ekstrimis

TOLERANSI EKSTRIM

Di era globalisasi ini toleransi cenderung ekstrim. Manusia tidak begitu memperhatikan masalah yang bersifat prinsip (menurut agama). Akhirnya dengan alasan toleransi mereka meruntuhkan al wala’ wal bara’. Padahal masalah cinta dan benci ini merupakan prinsip dasar agama Islam.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan prinsip ini dalam ucapan Beliau (yang artinya): “Barangsiapa yang cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka ia telah menyempurnakan keimanannya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah no. 380)

Juga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda bahwa siapa yang telah mencintai Allah dan RasulNya dan tidak cinta kepada siapapun kecuali karena Allah dan benci untuk kembali kepada kekufuran seperti bencinya dia untuk dilempar ke dalam api neraka, maka dia akan merasakan kelezatan iman, sebagaimana hadits berikut (yang artinya): ”Tiga perkara, jika ada tiga perkara tersebut pada seseorang maka ia akan mendapatkan kelezatan iman, yaitu : Menjadikan Allah dan RasulNya yang paling dicintai daripada selain keduanya, dan mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekufuran seperti bencinya dia untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

PERSAUDARAAN ANTAR AGAMA

Dengan toleransi ekstrim tersebut, mereka bersaudara dengan Yahudi dan Nashrani. Bahkan bisa bersaudara dengan kaum musyrikin sekalipun.

Dengarlah apa yang dikatakan pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, tentang orang-orang kafir. Dia berkata: [ “Ikhwanul Muslimin tidaklah ditegakkan untuk menghadapi akidah-akidah lain, agama-agama lain atau kelompok-kelompok lain. Karena perasaan yang mendominasi jiwa para tokoh-tokohnya adalah : Kaidah dasar dalam semua risalah (agama) sama-sama terancam -pada hari ini- oleh paham atheisme. Maka bagi para pemeluk yang beriman kepada agamanya, hendaklah saling bahu-membahu dan saling mengerahkan segenap usahanya untuk menyelamatkan umat manusia dari bahaya ini. Ikhwanunl Muslimin tidak membenci orang-orang asing (kafir) yang tinggal di negeri-negeri Islam bahkan Yahudi yang tinggal menetap di negeri ini. Tidak ada antara kita dan mereka kecuali hubungan yang baik.” (Qalifatul Ikhwan oleh As Sisi 1/211) ] (TahafutusySyi’arat, Abdul Aziz bin Sabib, hal. 19 – 20 )

Dalam kesempatan lain, ketika berbicara tentang Palestina, Hasan Al Banna berkata: [ “Saya menetapkan bahwa pertikaian kami dengan Yahudi bukanlah pertikaian agama, karena Al Qur’anul Karim menganjurkan kita untuk bersatu dan berteman dengan mereka. Islam adalah agama ‘kemanusiaan’ sebelum dikatakan ‘kebangsaan’. Al Qur’an telah memuji mereka dan menjadikan antara kita dan mereka kesepakatan : “Janganlah kalian membantah ahli kitab kecuali dengan jalan yang lebih baik.” (Al Ankabut : 46). Dan ketika Al Qur’an akan menghukumi Yahudi dalam satu masalah, ia menghukuminya dari sisi ekonomi. Allah berfirman : “Karena suatu kedhaliman dari orang-orang Yahudi, Kami haramkan kebaikan-kebaikan yang tadinya dihalalkan untuk mereka.” (Ikhwanul Muslimin Ahdats Shana’atit Tarikh 1/409 ]. ( Mauridul Adzbuz Zallal, Ahmad An Najmi, hal. 142 )

Demikianlah, tidak heran kalau tokoh-tokoh Ikhwan yang lain pun mengucapkan kalimat yang senada, bahkan lebih berani. Ucapan Dr. Hasan At Turabi, tokoh Ikhwan, adalah contoh yang paling jelas dalam masalah ini. Ia mulai mengkampanyekan pemikiran ‘reaktualisasi’-nya dengan mengusulkan adanya ‘agama dunia’ yang menyeluruh, mencakup tiga agama samawi : Islam, Kristen, Yahudi. Bahkan ia telah mengadakan berbagai muktamar dalam upaya kampanyenya. Di antaranya muktamar di Sudan pada bulan Oktober 1994 di mana ia mengusulkan untuk membuat Hizb Ibrahimi (partai Ibrahim), dengan alasan tiga agama tersebut sama-sama termasuk milah Ibrahim (agama Nabi Ibrahim).

Oleh karena itu, Dr. At Turabi terus mengadakan usaha pendekatan tiga agama tersebut, di antaranya ia berkata: [ “Sesungguhnya persatuan nasional adalah salah satu dari program-program penting kita. Sesungguhnya kita dalam garis Islam dapat mencapai persatuan nasional tersebut melalui dasar-dasar ‘agama Ibrahim’, yang dapat mengumpulkan kita dengan masihiyyun (orang-orang Kristen) dengan warisan sejarah yang satu. Dengan pantauan sejarah keyakinan dan akhlak, kita tidak menginginkan agama ashabiyah / fanatik dan permusuhan. Tetapi kita menginginkan agama persatuan, persaudaraan dalam ketuhanan Allah yang satu. “ ( Majalah Al Mujtama’ no. 736 tgl. 8 – 10 – 1985 ] ( Munaqasyah Hadi’ah, Muhammad Ahmad hal. 146 )

Sesungguhnya dakwah seperti ini pernah juga didengungkan oleh Muhammad Abduh di Mesir, sebagaimana dikatakan oleh Al Ustadz Muhammad Husein : [ “… Bahwasanyya jalan Muhammad Abduh untuk menegakkan peranannya dalam memberi semangat dalam pemakmuran adalah ‘membuka pintu ijtihad’ dakwah ini memberikan dukungan yang besar tehadap perkembangan Islam dan pendekatan kemajuan dan modernitas Barat. Pendekatan yang dimaksud adalah : Pendekatan antara Islam dan pemikiran Barat serta kemajuan mereka. Usaha ini telah mencapai puncaknya ketika Muhammad Abduh masuk dalam (muwafadhat) bersama pendeta dari Inggris –Ishak Tablur – dalam mengupayakan pendekatan Islam dan Kristen.” (Tarikh Al Ustadz Al Imam, 2/5698) ] (Ibid)

Jadi Dr. Hasan At Turabi tidak membawa sesuatu yang baru. Dia hanya taqlid kepada kaum modernis yang mencita-citakan reaktualisasi hukum-hukum Islam. Al Ahya’ Minhum Wal Anwat.

Di antara pendahulu kaum modernis adalah Dr. Muhammad Ammarah seperti yang diceritakan oleh Al Ustadz Jamal Sulthan: [ “… kemudian Dr. Muhammad mengemukakan pandangannya yang baru. Pandangan yang sungguh mengerikan. Ide yang dia umumkan di bawah bendera ‘persatuan agama Tuhan’. Inilah awal penolakan terhadap pembagian manusia menjadi kafir dan Mukmin di atas dasar yang sesat tadi. Karena pembagian tersebut – katanya – hanya terkait dengan jaman-jaman pertengahan, yaitu jaman-jaman kegelapan.” (Muhammad Amarah dan Misi Kebangkitan Islam, hal. 80 ] (Ibid)

Lihatlah ucapan ini, betapa miripnya istilah-istilah mereka dengan istilah ‘tiga agama satu Tuhan’, dan Abdurrahman Wahid yang mengajak untuk tidak mengkafirkan orang kristen.

Ucapan mereka ini sudah sangat jauh dari prinsip-prinsip Islam dan kaidah-kaidah Al Wala’ wal Bara’. Seakan-akan mereka lupa kalau Yahudi dan Nashrani telah mengucapkan kalimat yang sangat besar, kekafiran yang sangat dahsyat. Hampir-hampir langit terpecah dan gunung-gunung runtuh serta bumi terbelah karena ucapan mereka.

“Besar sekali ucapan yang keluar dari mulut-mulut mereka. Mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.” (Al Kahfi : 5)

“Hampir-hampir langit terpecah, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh ketika mereka menganggap bahwa Allah telah memiliki anak.” (Maryam : 90-91)

Lupakah mereka kalau Yahudi menganggap Uzair anak Allah?

Lupakah mereka kalau Nashrani mengatakan Isa anak Allah?

Lupakah mereka kalau Yahudi dan Nashrani telah menghina Allah Yang Maha Tinggi, Maha Besar?

Apakah pantas orang-orang seperti mereka dianggap sebagai saudara? Diajak bersatu, bekerja sama, apalagi mengganggap sebagai satu agama, yaitu agama Ibrahimiyyah?

Dengarlah nasehat dan fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa-nya : [ “Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mensifati orang-orang kafir –macam apapun kekafirannya, apakah dia Nashrani, Yahudi, Majusi atau pun Atheis– tidak boleh mensifati mereka dengan istilah ‘saudara’ sama sekali. Maka hati-hatilah wahai saudaraku dengan istilah ini. Karena sama sekali tiada persaudaraan antara orang-orang Mukmin dengan orang-orang kafir. Disebut persaudaraan ialah persaudaraan iman sebagaimana Allah katakan (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Al Hujurat : 10)

Kalau persaudaraan nasab (keluarga) dapat lenyap karena perbedaan agama, maka bagaimana mungkin persaudaraan akan terwujud tanpa keIslaman dan kekeluargaan sekaligus. Allah Azza Wa Jalla berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihis Sallam (yang artinya): “Wahai Rabb, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku. Dan sesungguhnya janjimu adalah benar dan Engkau Maha Bijaksana. Allah berfirman : ‘Wahai Nuh, sesungguhnya ia bukan keluargamu. Sesungguhnya amalan dia adalah tidak baik.” (Hud : 45-46)

Maka selamanya tidak akan ada persaudaraan antara mukmin dan kafir. Bahkan, kewajiban bagi seorang Mukmin adalah tidak mengambil mereka sebagai wali, sebagaiman firman Allah (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuhku dan musuh kalian sebagai wali-wali yang kalian berikan pada mereka rasa kasih sayang. Padahal mereka telah kafir dengan kebenaran yang telah datang kepada kalian.” (QS. Mumtahanah : 1)

Siapakah musuh-musuh Allah? Musuh Allah adalah orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil Yahudi dan Nashrani sebagai wali-wali, sebagian kalian menjadi wali sebagian yang lain. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dhalim.” (Al Maidah : 51)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah dan malaikat-malaikatnya, Jibril dan Mikail, maka Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 98) ] (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 3/43)

Demikianlah pernyataan beliau yang melarang mensifati mereka dengan ‘saudara’.
Maka bagaimana pandangan Anda terhadap orang yang mengatakan tidak kafir, atau ‘mereka itu orang beriman’ atau istilah yang populer di negeri kita, ‘semua agama baik’ ? Apalagi yang membebaskan manusia untuk memilih agamanya, sedangkan yang mengatakan harus Islam dikatakan ashabiyyah!
Tentang ucapan yang terakhir ini, Syaikh Utsaimin berfatwa : [ “Sesungguhnya orang yang membebaskan manusia unntuk meyakini agama yang dikehendakinya, maka ia telah kafir. Karena barangsiapa mengatakan bahwa manusia boleh memilih agama selain agama Muhammmad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka ia telah kafir kepada Allah Azza Wa Jalla. Karena Allah telah berfirman (yang artinya): “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan ia di akhirat menjadi orang-orang yang rugi.” (Ali Imran : 85)

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran : 19)

Maka dengan ini, tidak boleh seseorang meyakini bahwa agama selain Islam boleh, yakni boleh bagi manusia untuk beribadah dengan cara agama tersebut. Bahkan jika seseorang memang meyakini demikian, para ulama telah menegaskan bahwa yang demikian adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama.” ] (Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 3/99)

Maka nasehat yang perlu kita perhatikan adalah ucapan beliau di halaman 83 juz 3 dalam buku yang sama : [ “Dengan ini aku mengulangi yang ketiga kalinya agar orang yang mengucapkan seperti ini bertaubat kepada Allah dan agar menerangkan kepada manusia seluruhnya bahwa Yahudi dan Nashrani semuanya kafir, karena hujjah telah ditegakkan atas mereka dan risalah telah sampai kepada mereka, tetapi mereka menantang terang-terangan.

Dulu orang Yahudi telah disifati dengan al maghdubi (yang dimurkai) karena mereka mengetahui yang haq tetapi menyelisihinya. Dan orang-orang Nashrani telah disifati dengan adh dhalin (yang sesat) karena mereka menginginkan al haq tetapi tersesat. Sedangkan sekarang semuanya telah mengetahui kebenaran dan mengenalinya, tetapi menyelisihi kebenaran tersebut. Maka mereka semuanya berhak untuk disebut sebagai al maghdubi ‘alaihim. Saya mengajak Yahudi dan Nashrani untuk beriman kepada Allah dan rasulNya seluruhnya serta mengikuti Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam karena memang inilah yang diperintahkan kepada mereka dalam kitab-kitabnya.” ] Demikian ucapan Syaikh Al Utsaimin.

TOLERANSI ALIRAN

Kita lihat betapa beraninya mereka mengadakan pendekatan dengan agama-agama lain dan meruntuhkan prinsip al wala’ wal bara’. Maka, tentunya mereka lebih berani lagi mengadakan pendekatan dengan aliran-aliran sesat yang masih mengaku Islam.

Dengan dalih ‘mereka Muslimin’ mereka menganggap semua aliran baik dan sama-sama mencari keridhaan Allah. Maka runtuhlah al wala’ wal bara’ dan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagai contoh, kita lihat apa yang dikatakan barisan mudzab-dzab tentang Syiah Rafidhah yang secara jelas mereka telah sesat dan keluar dari garis Islam:

Ismail As Syathi berkata : “Syiah adalah umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Syiah Iran adalah memegang bendera Majusi. Maka tidaklah termasuk al haq kita mendukung umat Majusi dan meninggalkan umat Muhammad.” (Majalah Al Mujtama’ no. 455)

Jasim Al Muhallil. Dia adalah seorang tokoh gerakan Islam ketika berbicara tentang rencana politiknya dalam pemilu dan parlemen : [ “Akan terjadi nanti penyesuaian yang kuat dengan segala macam kelompok-kelompok Islam yang ada di medan dakwah. Dan akan terjadi pula beberapa tanazulat (pengorbanan prinsip) demi tercapainya ‘persatuan’. “ (Jaridatul Anba no. 6693, tgl. 24-12-1994) ] (Tahafutus Syi’arat, Abdul Aziz bin Syahib, hal. 35)
Bahkan dia mengatakan lebih tegas lagi siapa yang dimaksud dengan golongan-golongan Islam : [ Mengapa tidak diadakan pertemuan-pertemuan antara gerakan-gerakan Islam dan gerakan-gerakan kemanusiaan? Demikian pula antara kelompok-kelompok Sunni (Ahlus Sunnah) dengan kelompok-kelompok Syiah? Pertemuan ini dimaksudkan untuk bekerjasama dan saling membantu dalam bidang kemanusiaan yang kita sepakat dengan mereka. Agar dengan ta’awun ini amal lebih meluas, karena gerakan Islam ini bekerja untuk ‘kebaikan’ dan karena ‘kebaikan’ ” ]. Sampai kepada ucapan dia selanjutnya, [ “… kalau di antara kita dan mereka ada beberapa perbedaan seperti masalah Imam Mahdi, wali, pampasan perang yang 1/5 dan lain-lain dari macam-macam perkara yang sulit untuk disepakati oleh kedua belah pihak, maka sesungguhnya di antara kita ada persamaan dan kesepakatan dalam beberapa sisi yang lain. Seperti fahisyah (dosa-dosa khususnya zina) diharamkan oleh semua pihak, riba, dan kejahatan dalam masalah harta, yakni memakan harta manusia dengan kebatilan dan seterusnya, telah disepakati oleh kedua belah pihak keharamannya. Maka apa yang menghalangi gerakan-gerakan Islam Sunni untuk mengadakan kerjasama dengan Syiah dalam masalah-masalah ini.” (Jaridatu Anba’ no. 6707 tgl. 9-1-1995 ]. (Tahafutus Syi’arat, Abdul Aziz bin Syahib, hal. 35-36)

Ini hanyalah satu contoh ucapan mereka yang menunjukkan prinsip mereka dalam ber – ‘toleransi’. Toleransi ekstrim yang mengutamakan ‘persatuan, ukhuwah, ikhwaniyah’ lebih daripada aqidah dasar Islam dan prinsip al wala’ wal bara’ . Adapun bukti pebuatan mereka lebih banyak lagi seperti pertemuan-pertemuan, acara-acara bersama, perayaan-perayaan bersama, atau ceramah-ceramah yang diisi oleh kedua belah pihak.
  • Apakah mereka tidak menyadari bahwa perbedaan antara kaum Muslimin dengan Syiah sangatlah prinsip?
  • Apakah perbedaan kita dengan mereka hanya yang disebut oleh Muhallil di atas?
  • Tidakkah kita ingat bahwa mereka merubah-rubah Al Qur’an, menambahnya dengan surat wilayah dan mengurangi surat Al Lahab?
  • Bukankah mereka menganggap imam-imamnya mengetahui yang ghaib?
  • Bukankah mereka telah mengkafirkan sahabat-sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja dari mereka?
  • Bagaimana dengan laknat mereka terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah dan lain-lain?
  • Bagaiman dengan tuduhan mereka terhadap Aisyah dengan tuduhan pezina, pelacur, dan lain-lain?
  • Apakah fahisyah diharamkan oleh Syiah? Bukankah mereka membolehkan mut’ah (kawin kontrak), bukankah mereka membolehkan homo dan lesbian?
Lihatlah akibat yang fatal dari ucapan bid’ah yang kelihatannya sederhana : “Kita saling tolong menolong dalam apa yang kita sepakati dan saling memaklumi pada apa yang kita berbeda padanya.”

Akhirnya lahirlah dari prinsip tersebut ucapan-ucapan berikut :

“Kita memaklumi perbedaan kita dengan Syiah agar kita bersatu melawan orang-orang kafir.” Seperti ucapan Ikhwanul Muslimin.


“Kita memaklumi Yahudi dan Nashrani yang sama-sama menyembah Allah untuk melawan orang-orang musyrik.” Seperti ucapan Turabiyyun.


“Kita memaklumi perbedaan kita dengan semua agama karena mereka sama-sama menyembah Tuhan untuk bersatu menghadapi bahaya atheisme.” Seperti ucapan Hasan Al Banna.

Berikutnya, tentu saja memaklumi para atheis juga dalam rangka berta’awun dengan mereka dalam bidang yang disepakati yaitu : “kemanusiaan”.

Apa sisanya? Kepada apa kalian mengajak? Tidak mengajak kepada agama tertentu, madzhab tertentu, ataupun prinsip tertentu.

Pernah saya baca di sebuah tanggalan (kalender) yang dikeluarkan oleh salah satu pondok pesantren terkenal di Ponorogo, “Kami berdiri di atas semua golongan.” Ucapan ini sama bahanya dengan prinsip Ikhwan di atas.

Seharusnya kita berprinsip : “ta’awun ‘alal birri wat taqwa.”

Jika ada perbedaan kita berprinsip : “Kembalikanlah perselisihan kepada Allah dan RasulNya.”

Dan jangan kita katakan kita berdiri di atas semua golongan, melainkan : “Berdiri di atas golongan yang telah dipastikan selamat oleh Allah dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wa sallam dan pasti mendapat keridhaan Allah.”
“Dan orang-orang yang terdahulu dalam beriman dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.” (QS. At Taubah : 100)

Sedang dalam hadits (yang artinya): “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengikuti mereka dan kemudian yang mengikuti mereka.” (HR. Bukhari)

Dengan ini kami menasihatkan kepada kaum Muslimin dan seluruhnya untuk meninggalkan prinsip-prinsip bid’ah dan kembali pada prinsip-prinsip yang pasti kebenarannya dari Allah dan RasulNya, buang slogan-slogan dan jargon-jargon bid’ah dan ucapkanlah syiar-syiar Islam :

“Tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.”

“Kembalikanlah perselisihan kepada Allah dan RasulNya.”
“Apa yang berbeda kita harus saling mengingatkan dengan kebenaran dari Al Qur’an dan As Sunnah.”
“Perintahkanlah kebenaran dan laranglah kemungkaran.”
“Kami berdiri di atas golongan yang selamat yaitu para shahabat.”

Dengan prinsip-prinsip ini kita ajak yang kafir kepada Islam dan kita ajak yang sesat dan yang menyimpang kepada jalan sunnah. Wallahuu A’lam Bish Shawab.

(Dikutip dari Majalah SALAFY Edisi 32/1420 H/1999 M. Judul asli : Toleransi Para Ekstrimis. Tulisan al Ustadz Muhammad Umar as Sewed)

Sumber:
http://www.salafy.or.id/?p=196